LOGINMelihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah?
Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini.
"Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi meremehkannya tercetak jelas. "Atau Lo mau kerja di tempat gue? Gue bisa—"
"10 juta per bulan. Gue ditawari gaji awal segitu," potong Kalla cepat. Dia tahu maksud Cade baik, tapi pantang bagi Kalla masuk pake orang dalam.
"Wow." Dua alis tebal pria berwajah pucat itu naik. "Anaknya 'spesial'?"
Kalla menggeleng. Rata-rata gaji pengasuh ada di kisaran 2-3 juta, kalau nginep bisa sampai 5 juta, tergantung agen. Pertanyaan yang wajar kalau yang diasuh bukan anak sultan.
"Enggak juga. Dia anak baik dan manis. Mungkin karena dia anak orang tajir yang lagi putus asa nyari pengasuh lalu kebetulan ketemu gue yang akrab sama anaknya. Terus bapaknya tau latar belakang pendidikan gue, jadi dia kasih gue penawaran tinggi di awal."
"Begitu ya?"
Kalla mengangguk. Tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal lagi.
"Kalau kamu memang nggak keberatan, kenapa nggak? Ibu Lo pas—" Cade kontan mingkem saat Kalla tiba-tiba mengangkat tangan. Lalu merapatkan telunjuk ke bibir. Wanita itu menoleh ke belakang.
"Ibu nggak boleh tau," ujar Kalla berbisik, seolah takut ada yang mendengar obrolan mereka.
"Loh kenapa?"
"Gue nggak mau ibu kecewa. Ibu udah susah payah nyekolahin gue. Kalau denger gue cuma jadi pengasuh, aduuuh. Gue nggak bisa bayangin reaksinya."
Pria yang masih berdiri di luar jendela kamar Kalla menarik napas panjang. "Tapi bohong juga nggak baik, kan?"
"Gue nggak akan bohong. Gue cuma perlu bilang kalau udah dapat kerja. Dan gue harap Lo nggak ngasih tau apa pun juga sama ibu."
"Jadi apa yang bikin Lo bingung? Udah jelas kan hati Lo terima tawaran itu?"
Seperti tersedot kembali kesadarannya, Kalla pun tercenung. Sebenarnya dia butuh satu dukungan lagi untuk membuat dirinya yakin. "Gue cuma males ketemu bapaknya anak itu. Orangnya nyebelin, songong, dan sombong."
"Dia kerja kan? Lo cuma perlu datang pas dia berangkat, pulang sebelum bapak si anak pulang."
Sesimpel itu, tapi kenapa otak Kalla tidak sampai ke sana? Wanita bermata bulat itu menyeringai kecil. "Iya juga ya."
Seperti mendapat secercah harapan, Kalla pun kembali bersemangat.
"Thanks, Oppa. Kalau gitu gue bakal telepon orangnya!"
Senyum lebar Kalla menulari Cade seketika. Wanita itu lebih cocok tersenyum daripada manyun. Secara refleks tangan Cade terulur, melewati kusen jendela dan menyisir rambut Kalla yang berantakan dengan lima jemarinya.
"Lo perlu sampoan lagi dan harus pake conditioner."
Sebenarnya itu tindakan sederhana yang sepertinya tidak berarti apa-apa. Namun tidak bagi Kalla. Dia sempat tertegun beberapa saat. Terkejut dengan tindakan Cade yang di luar kebiasaan.
"Oke, gue balik ke rumah dulu ya."
Kalla masih terbengong di tempat ketika Cade bergerak mundur, dan melambaikan tangan padanya, memberi gerakan semangat. Entah untuk alasan apa, Kalla baru sadar ternyata Cade sekeren itu.
"Pantas aja, Moya kepincut berat," gumamnya, lantas menggeleng sambil mengulum senyum.
***
Dengan malas Kalla duduk di depan pria tampan yang setengah jam lalu diteleponnya perkara kerjaan. Siapa lagi kalau bukan bapaknya Kael alias Reyga?
Pria itu mengenakan setelan santai. Tidak seperti waktu bertemu tempo hari atau pas mewawancarai Kalla, rapi dan berpomade, kali ini rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan sedikit berantakan. Namun anehnya, itu malah tampak keren dan makin terlihat tampan.
Kalla sampai harus berdeham beberapa kali untuk meredam perasaannya yang tanpa sebab malah gugup. Beruntung dia terngiang kembali ucapan menyebalkan pria itu saat interview.
"Kenapa harus ketemu sih, Pak? Apa lewat telepon belum cukup?" tanya Kalla pasang muka masam begitu menjatuhkan bokongnya di sofa. Dia terpaksa keluar malam, dan harus naik kereta karena Reyga meminta bertemu secara langsung untuk membicarakan pekerjaan.
Tidak langsung menjawab, Reyga malah mengeluarkan sebundel kertas. "Ini surat perjanjian kerja. Kamu tanda tangani kalau setuju."
Kening Kalla otomatis mengerut. Dia tidak menyangka kalau jadi pengasuh pun harus ada perjanjian kerja. "Emang ini perlu?" tanya Kalla agak bingung.
"Tidak perlu, tapi wajib. Yang sudah-sudah tanpa perjanjian mereka berhenti sesuka hati. Dan sekarang saya tidak mau kejadian itu terulang lagi. Kamu bisa baca dulu. Kalau ada poin tambahan, silakan ajukan."
Reyga mendorong dokumen yang sudah disusun asistennya atas perintahnya. Lantas menyandarkan punggung ke sofa dan menatap lurus-lurus wanita di depannya seraya bersedekap tangan.
Menghela napas, Kalla pun menarik dokumen itu. Ini seperti pekerjaan serius. Ya, wajar sih. Orang mana yang ingin membuang uang 10 juta dengan percuma?
Kalimat demi kalimat Kalla baca dengan tenang. Sejauh ini tidak ada poin yang merugikan. Selain gaji, di sana tertulis jam kerja. Reyga menuntut pukul tujuh pagi Kalla harus sudah sampai tempatnya. Pukul empat sore sudah bisa pulang. Lebih dari itu dianggap lembur yang dihitung per jam. Jatah libur Kalla hanya satu hari dalam seminggu, yaitu hari Minggu. Saat Reyga off bekerja.
"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Reyga setelah merasa memberi waktu cukup.
"Kontrak kerja saya 3 bulan?" tanya Kalla, ini seperti sedang training saja.
Reyga mengangguk. "Tiap tiga bulan kontrak akan diperbarui. Saya tidak langsung memberi waktu panjang karena yang sebelum-sebelumnya paling lama cuma bertahan satu bulan."
"Satu bulan?" Kalla melotot. Kepalanya langsung menyemburkan tanya. Apa yang membuat mereka cuma bertahan sebentar saat mengasuh anak sebaik Kael?
"Kael bukan anak yang mudah ditangani," ucap Reyga kemudian, seolah mengerti isi kepala Kalla. "Kamu akan lihat sendiri nanti."
Benarkah sesulit itu?
Kembali Kalla berdeham. Bola mata legamnya bergulir menatap kertas di tangannya lagi. "Saya nggak harus pake seragam suster kan, Pak?"
"Soal itu... " Reyga memindai penampilan Kalla. Wanita itu memakai outfit kasual yang cukup sopan. Tidak berlebihan. Ciri khas gadis muda. "Tidak masalah kalau kamu tidak mau pakai seragam. Asal pakaianmu tetap sopan."
Tanpa sadar Kalla mengembangkan senyum. Ada rasa lega yang menyusup. Dia tidak harus memakai seragam yang pasti akan membuat ibu curiga soal profesinya. Jika dia sedang bersama Kael pun, tidak begitu terlihat kesenjangannya.
"Maaf, Pak. Saya boleh minta satu tambahan poin lagi?"
"Apa itu?"
"Saya minta gajiannya dibuat mingguan aja, Pak. Dua minggu sekali begitu."
"Oke, tidak masalah."
"Kalau begitu deal!"
"Silakan tanda tangan di sana."
Dalam hati Kalla merapalkan doa. Semoga ini adalah keputusan terbaik. Seperti kata Moya, anggap saja pekerjaan ini sebagai batu loncatan untuk menuju kesuksesan. Tanpa ragu, Kalla membubuhkan tanda tangan di atas materai.
"Sudah selesai, Pak. Jadi mulai besok saya sudah bisa kerja?" tanya Kalla sembari mendorong kertas dokumen itu ke tengah meja.
"Ya. Jangan telat. Telat lima menit masih bisa ditolerir, lebih dari itu—"
"Saya nggak mau ada punishment potong gaji," sambar Kalla cepat. Membuat Reyga kontan tercenung selama beberapa saat.
Pria itu lantas membuang napas. Lalu memberi keputusan final. "Telat sepuluh menit, lembur tanpa dibayar satu jam."
Lebih baik seperti itu daripada potong gaji. "Oke. Kalau itu nggak apa-apa," Kalla nyengir. Senang rasanya orang seperti Reyga bisa diajak kompromi.
Pria itu tidak seburuk dugaannya.
“Cuma segini aja barang bawaan kamu?” Reyga menyambar travel bag berukuran sedang yang sudah Kalla persiapkan. Besok wanita itu sudah akan kembali ke Jakarta dengan tiket yang Reyga booking. Ya siapa yang tahu ternyata lelaki itu memesan tiket buat dirinya sendiri juga? “Barangku emang nggak banyak. Kemarin-kemarin juga udah duluan aku kirim kan.” Kalla menjatuhkan diri ke sofa. Nyaris pukul 12 malam baru sampai ke apartemen. Reyga menyusul duduk di sebelahnya. Duduk menyamping. Sikut kirinya bertumpu di sandaran sofa, dan tangannya menyangga kepala. Dia menatap Kalla yang tengah memejamkan mata, dengan punggung merebah di sandaran sofa. “Ada apa? Kok kayaknya nggak seneng gitu?” tanya Reyga, tangannya yang bebas terulur menyingkirkan anak rambut Kalla yang berantakan. “Bukan nggak seneng, lebih ke sedih karena besok aku resmi jadi pengangguran.” Wanita itu menghela napas kasar, melirik Reyga. “Dulu aku susah payah banget nyari kerja. Sampai dapat kesempatan sekolah dan dapat ke
“Maaf aku nggak bisa ikut sepertinya.”Kalla mendesah mendengar penolakan yang dikatakan secara halus itu. “Tapi kalian bisa melakukannya di bar & lounge punyaku di Sanur. Sudah aku bilang ke stafnya. Kalian tinggal pesan menu ntar. Nggak usah mikir soal membayar. Itu gampang.” Sudah cintanya ditolak, resign karena nikah, mau mengadakan firewall party pun harus Wima turun tangan. Nggak tau diri lo, Kal. Kalla mengusap dahi mendengar setan dalam hatinya misuh-misuh. “Nggak bisa gitu dong, Kak. Tetep harus bayar. Aku nggak mau punya utang.”Di ujung telepon sana Wima tertawa. “Kalau gitu terserah kamu deh. Yang penting kamu senang.”“Tapi kamu beneran nggak bisa dateng, Kak?” tanya Kalla memastikan lagi. “Nggak, Kalla. Selain masih ada urusan di Jakarta, aku juga nggak benar-benar firewall sama kamu kan? Kita bahkan masih bisa ketemu di Jakarta. Kalau mereka kan belum tentu.”Wima benar. Tapi kalau pria itu tahu dirinya akan menikah, mungkinkah Wima mau menemuinya lagi? “Uhm oke.”
Sebulan setelah masa cuti Kalla mengajukan surat resign. Dan itu cukup menghebohkan orang-orang yang selama ini bekerja dengannya. Padahal dia sudah berusaha tidak bersuara soal keputusan resign ini. “Bu, padahal gaji sama jabatan udah lumayan.” “Mbak sayang banget nggak sih? “Terus Pak Wima gimana? Kalla sampai pusing ngadepin para stafnya. Dia cuma bisa melirik Danesh dengan sebal. Siapa lagi kalau bukan dia biang rusuhnya. “Kan biar mereka siap-siap. Biar bisa kuat mental meskipun Lo udah nggak di sini.” Ngeles aja kayak bajai. “Lagian kenapa sih abis cuti Lo tiba-tiba resign? Jangan-jangan di Jakarta sana Lo diem-diem interview di perusahaan lain.” Kalla mendesah. Lalu melirik malas rekannya itu. “Nggak ada. Gue kasian sama ibu gue. Udah lama banget gue ngebiarin ibu sendirian. Soal kerjaan gampanglah, ntar gue bisa cari lagi.” “Itu bisa Lo omongin sama Pak Wima, Kal. Nggak harus sampe resign segala. Gue yakin dia bakal setuju kalau lo minta mutasi ke Jakarta.” “U
Kegiatan pengambilan gambar dan video terselesaikan dalam waktu dua hari satu malam saja. Kafi dan Jani memilih langsung pulang ke Jakarta karena masih ada job lain yang harus mereka selesaikan. Sementara Reyga dan Kalla memutuskan menginap satu malam lagi di pulau. “Ah, akhirnya pengganggu itu pulang juga,” ucap Reyga seraya melingkarkan lengan ke bahu Kalla sesaat setelah boat yang membawa rombongan Kafi dan Jani berlayar. “Mereka membantu prewed kita loh. Bisa-bisanya kamu sebut pengganggu,” sahut Kalla tak habis pikir. “Nyesel aku pakai jasa mereka.”“Jangan menggerutu, nanti hasilnya nggak sesuai harapan kita.” “Pekerjaan mereka terkenal bagus sih. Udah taraf internasional, tapi tetap aja bikin aku kesal.” Reyga menatap Kalla. Matanya menyipit, memperingatkan wanita itu. “Sayang, jangan gampang akrab lagi sama laki-laki lain. Aku nggak suka.” Kalla terkekeh, melingkari pinggang Reyga. “Iya, Bapak pocecip.” Lalu mengajak pria itu berjalan menjauhi dermaga untuk kembali ke re
Jangankan senyum, menarik garis bibir saja tidak. Reyga konstan memasang wajah datar. Bahkan tampak tidak senang dengan kehadiran Kalla. Dia meraih botol bir, lalu menenggak isinya. “Kenapa kamu ke sini? Di sini dingin,” katanya. Nadanya datar dan tanpa ekspresi. “Aku ke sini nyari kamu, Rey. Kamu marah kenapa?” tanya Kalla berusaha sabar. Minimal dia harus melakukan saran dari Moya. “Aku nggak marah.” “Kamu nggak niat diemin aku sampai pemotretan selesai kan?” “Aku nggak diemin kamu. Aku cuma—” suara Reyga berhenti. Lalu kembali menenggak birnya. Seperti malas menjelaskan apapun. “Cuma apa?” Masih terus menatap lelaki tantrum itu, Kalla menaikkan alisnya. “Cuma nyuekin aku?” desaknya lagi. “Aku nggak nyuekin kamu, Kalla.” “Jelas-jelas kamu nyuekin aku.” Wanita bergaun putih itu bersandar pada bean bag, dan bersedekap tangan. Sesekali ujung matanya masih melirik pria itu diam-diam. “Aku cuma lagi nggak mood,” sahut Reyga lagi. Terlalu gengsi mengungkap apa yang sebenarn
“Mau minum?” “Nggak usah.” “Buah?” “Nggak perlu.” Daripada menghadapi tawaran Kalla, Reyga memilih fokus main game di ponselnya sambil rebahan di sofa. Sejak pulang dari pantai dengan take terakhir naik canoe di tengah sunset, Reyga berubah aneh. Bukannya Kalla tak tahu kalau lelaki itu tiba-tiba diam. Tapi dia terlalu malas ngadepin orang yang mendiamkannya tanpa sebab. Please deh, mereka bukan remaja lagi. Apa salah kalau Kalla ingin hubungan yang low maintenance? “Ya udah ini buat Kael aja.” Ujung mata Reyga melirik sekilas, lantas kesal sendiri ketika Kalla malah pergi meninggalkannya. Dia beranjak duduk dan mengacak rambut. “Dasar nggak peka!” gerutunya, membuang napas kasar. “Siapa yang nggak peka?” Reyga menoleh, dan spontan berdecak ketika melihat Kafi memasuki villanya sambil menenteng laptop yang terbuka. “Ngapain Lo ke sini? Take kan masih ntar, pas dinner,” tanya Reyga dengan raut tak bersahabat. “Ada yang mau gue kasih liat ke lo.” Tanpa dipersilah
Kaki Kalla menghantam ke samping. Posisi tidurnya berubah dan seketika matanya memicing ketika cahaya menerpa wajahnya. Dia kembali membalik posisi dengan malas. Tapi samar-samar matanya menangkap bayang-bayang orang duduk di depannya. Secara perlahan dan terpaksa, dia membuka mata. Satu lelaki dew
Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla
“Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu
“Kamu ternyata masih muda. Apa Kael dan Reyga memperlakukanmu dengan baik?” Pertanyaan tak terduga meluncur dari wanita anggun itu. Kalla tersenyum kaku, matanya sempat melirik Reyga di ujung sofa yang masih saja memperhatikannya. Boleh jujur enggak sih? “Kael baik banget,” ucap Kalla sambil men







