Home / Romansa / Hello, Nanny! / 7. Tidak Seburuk Dugaannya

Share

7. Tidak Seburuk Dugaannya

last update publish date: 2026-02-12 21:28:32

Melihat reaksi Cade, Kalla menghela napas. Mungkin bagi lelaki itu, tawaran ini tidak bergengsi. Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya jadi pengasuh bocah? 

Masalahnya, Kalla benar-benar putus asa saat ini. 

"Good," ucap Cade kemudian. Tapi senyumnya tidak selebar sebelumnya. Ekspresi meremehkannya tercetak jelas. "Atau Lo mau kerja di tempat gue? Gue bisa—" 

"10 juta per bulan. Gue ditawari gaji awal segitu," potong Kalla cepat. Dia tahu maksud Cade baik, tapi pantang bagi Kalla masuk pake orang dalam. 

"Wow." Dua alis tebal pria berwajah pucat itu naik. "Anaknya 'spesial'?" 

Kalla menggeleng. Rata-rata gaji pengasuh ada di kisaran 2-3 juta, kalau nginep bisa sampai 5 juta, tergantung agen. Pertanyaan yang wajar kalau yang diasuh bukan anak sultan. 

"Enggak juga. Dia anak baik dan manis. Mungkin karena dia anak orang tajir yang lagi putus asa nyari pengasuh lalu kebetulan ketemu gue yang akrab sama anaknya. Terus bapaknya tau latar belakang pendidikan gue, jadi dia kasih gue penawaran tinggi di awal." 

"Begitu ya?" 

Kalla mengangguk. Tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal lagi.  

"Kalau kamu memang nggak keberatan, kenapa nggak? Ibu Lo pas—" Cade kontan mingkem saat Kalla tiba-tiba mengangkat tangan. Lalu merapatkan telunjuk ke bibir. Wanita itu menoleh ke belakang. 

"Ibu nggak boleh tau," ujar Kalla berbisik, seolah takut ada yang mendengar obrolan mereka. 

"Loh kenapa?" 

"Gue nggak mau ibu kecewa. Ibu udah susah payah nyekolahin gue. Kalau denger gue cuma jadi pengasuh, aduuuh. Gue nggak bisa bayangin reaksinya."

Pria yang masih berdiri di luar jendela kamar Kalla menarik napas panjang. "Tapi bohong juga nggak baik, kan?" 

"Gue nggak akan bohong. Gue cuma perlu bilang kalau udah dapat kerja. Dan gue harap Lo nggak ngasih tau apa pun juga sama ibu." 

"Jadi apa yang bikin Lo bingung? Udah jelas kan hati Lo terima tawaran itu?" 

Seperti tersedot kembali kesadarannya, Kalla pun tercenung. Sebenarnya dia butuh satu dukungan lagi untuk membuat dirinya yakin. "Gue cuma males ketemu bapaknya anak itu. Orangnya nyebelin, songong, dan sombong." 

"Dia kerja kan? Lo cuma perlu datang pas dia berangkat, pulang sebelum bapak si anak pulang." 

Sesimpel itu, tapi kenapa otak Kalla tidak sampai ke sana? Wanita bermata bulat itu menyeringai kecil. "Iya juga ya." 

Seperti mendapat secercah harapan, Kalla pun kembali bersemangat. 

"Thanks, Oppa. Kalau gitu gue bakal telepon orangnya!" 

Senyum lebar Kalla menulari Cade seketika. Wanita itu lebih cocok tersenyum daripada manyun. Secara refleks tangan Cade terulur, melewati kusen jendela dan menyisir rambut Kalla yang berantakan dengan lima jemarinya. 

"Lo perlu sampoan lagi dan harus pake conditioner." 

Sebenarnya itu tindakan sederhana yang sepertinya tidak berarti apa-apa. Namun tidak bagi Kalla. Dia sempat tertegun beberapa saat. Terkejut dengan tindakan Cade yang di luar kebiasaan. 

"Oke, gue balik ke rumah dulu ya." 

Kalla masih terbengong di tempat ketika Cade bergerak mundur, dan melambaikan tangan padanya, memberi gerakan semangat. Entah untuk alasan apa, Kalla baru sadar ternyata Cade sekeren itu. 

"Pantas aja, Moya kepincut berat," gumamnya, lantas menggeleng sambil mengulum senyum. 

*** 

Dengan malas Kalla duduk di depan pria tampan yang setengah jam lalu diteleponnya perkara kerjaan. Siapa lagi kalau bukan bapaknya Kael alias  Reyga?

Pria itu mengenakan setelan santai. Tidak seperti waktu bertemu tempo hari atau pas mewawancarai Kalla, rapi dan berpomade, kali ini rambutnya yang panjang dibiarkan terurai, dan sedikit berantakan. Namun anehnya, itu malah tampak keren dan makin terlihat tampan. 

Kalla sampai harus berdeham beberapa kali untuk meredam perasaannya yang tanpa sebab malah  gugup. Beruntung dia terngiang kembali ucapan menyebalkan pria itu saat interview. 

"Kenapa harus ketemu sih, Pak? Apa lewat telepon belum cukup?" tanya Kalla pasang muka masam begitu menjatuhkan bokongnya di sofa. Dia terpaksa keluar malam, dan harus naik kereta karena Reyga meminta bertemu secara langsung untuk membicarakan pekerjaan. 

Tidak langsung menjawab, Reyga malah mengeluarkan sebundel kertas. "Ini surat perjanjian kerja. Kamu tanda tangani kalau setuju." 

Kening Kalla otomatis mengerut. Dia tidak menyangka kalau jadi pengasuh pun harus ada perjanjian kerja. "Emang ini perlu?" tanya Kalla agak bingung. 

"Tidak perlu, tapi wajib. Yang sudah-sudah tanpa perjanjian mereka  berhenti sesuka hati. Dan sekarang saya tidak mau kejadian itu terulang lagi. Kamu bisa baca dulu. Kalau ada poin tambahan, silakan ajukan." 

Reyga mendorong dokumen yang sudah disusun asistennya atas perintahnya. Lantas menyandarkan punggung ke sofa dan menatap lurus-lurus wanita di depannya seraya bersedekap tangan. 

Menghela napas, Kalla pun menarik dokumen itu. Ini seperti pekerjaan serius. Ya, wajar sih. Orang mana yang ingin membuang uang 10 juta dengan percuma? 

Kalimat demi kalimat Kalla baca dengan tenang. Sejauh ini tidak ada poin yang merugikan. Selain gaji, di sana tertulis jam kerja. Reyga menuntut pukul tujuh pagi Kalla harus sudah sampai tempatnya. Pukul empat sore sudah bisa pulang. Lebih dari itu dianggap lembur yang dihitung per jam. Jatah libur Kalla hanya satu hari dalam seminggu, yaitu hari Minggu. Saat Reyga off bekerja. 

"Ada yang ingin kamu tanyakan?" tanya Reyga setelah merasa memberi waktu cukup. 

"Kontrak kerja saya 3 bulan?" tanya Kalla, ini seperti sedang training saja. 

Reyga mengangguk. "Tiap tiga bulan kontrak akan diperbarui. Saya tidak langsung memberi waktu panjang karena yang sebelum-sebelumnya paling lama cuma bertahan satu bulan."

"Satu bulan?" Kalla melotot. Kepalanya langsung menyemburkan tanya. Apa yang membuat mereka cuma bertahan sebentar saat mengasuh anak sebaik Kael? 

"Kael bukan anak yang mudah ditangani," ucap Reyga kemudian, seolah mengerti isi kepala Kalla. "Kamu akan lihat sendiri nanti." 

Benarkah sesulit itu?

Kembali Kalla berdeham. Bola mata legamnya bergulir menatap kertas di tangannya lagi. "Saya nggak harus pake seragam suster kan, Pak?"

"Soal itu... " Reyga memindai penampilan Kalla. Wanita itu memakai outfit kasual yang cukup sopan. Tidak berlebihan. Ciri khas gadis muda. "Tidak masalah kalau kamu tidak mau pakai seragam. Asal pakaianmu tetap sopan." 

Tanpa sadar Kalla mengembangkan senyum. Ada rasa lega yang menyusup. Dia tidak harus memakai seragam yang pasti akan membuat ibu curiga soal profesinya. Jika dia sedang bersama Kael pun, tidak begitu terlihat kesenjangannya.

"Maaf, Pak. Saya boleh minta satu tambahan poin lagi?" 

"Apa itu?" 

"Saya minta gajiannya dibuat mingguan aja, Pak. Dua minggu sekali begitu." 

"Oke, tidak masalah." 

"Kalau begitu deal!" 

"Silakan tanda tangan di sana." 

Dalam hati Kalla merapalkan doa. Semoga ini adalah keputusan terbaik. Seperti kata Moya, anggap saja pekerjaan ini sebagai batu loncatan untuk menuju kesuksesan. Tanpa ragu, Kalla membubuhkan tanda tangan di atas materai. 

"Sudah selesai, Pak. Jadi mulai besok saya sudah bisa kerja?" tanya Kalla sembari mendorong kertas dokumen itu ke tengah meja. 

"Ya. Jangan telat. Telat lima menit masih bisa ditolerir, lebih dari itu—" 

"Saya nggak mau ada punishment potong gaji," sambar Kalla cepat. Membuat Reyga kontan tercenung selama beberapa saat. 

Pria itu lantas membuang napas. Lalu memberi keputusan final. "Telat sepuluh menit, lembur tanpa dibayar satu jam." 

Lebih baik seperti itu daripada potong gaji. "Oke. Kalau itu nggak apa-apa," Kalla nyengir. Senang rasanya orang seperti Reyga bisa diajak kompromi.  

Pria itu tidak seburuk dugaannya. 

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Titik Haryani
cint segiriga
goodnovel comment avatar
Eliyen Author
Jadi, ini bakalan cinta segitiga atau gak? Aing tim Cade!
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   S2.59. Pacar

    INI BAB PAMUNGKAS YA TEMAN-TEMAN, SETELAH INI TIDAK ADA EXTRA PART. =============Bibir Rere melengkung sempurna ketika melihat pemandangan di halaman rumah Kael. Sesekali dia akan tertawa melihat kekonyolan di sana. Pemandangan Cade dan Reyga yang berkolaborasi menyalakan kembang api hingga langit gelap kampung tampak begitu meriah. Lalu anak-anak mereka akan bersorak bahagia ketika kembang api meledak. Sementara di kursi panjang, Rere melihat Kalla dan Ceci tengah tertawa bersama. Sungguh pemandangan keluarga utuh yang bahagia. Membuat hati kecilnya iri. Andai mama masih hidup, apa Rere akan bahagia seperti itu juga? Dia menghela napas panjang. Bahkan dalam mimpi pun dia tidak bisa bermimpi indah seperti itu. Sentuhan di bahu membuat Rere tersentak. Dia refleks memutar kepala dan menemukan Kael. “Kenapa cuma berdiri di sini? Ayo, ke sana!” Rere tersenyum tipis, dan mengamini ajakan laki-laki itu. “Kembang apinya stop dulu ya! Nanti lanjut lagi,” seru Kael selagi membawa cake

  • Hello, Nanny!   S2.58. Belum Halal~

    Rumah ramai. Di halaman depan juga. Reyga mengadakan pesta barbeque kecil-kecilan sekalian camping di halaman rumah. Bahkan dua tenda Apernaz sudah didirikan. Namun pesta kecil itu ternyata kedatangan tamu tak diundang, dan suasana sontak berubah jadi riuh. Siapa lagi kalau bukan Cade dan anak istrinya? “AChen!” seru si kembar saat melihat saudara sepupunya keluar dari mobil. Keduanya langsung meninggalkan mama papanya, dan menghambur menghampiri AChen. Sementara Kalla, juga tampak heboh saat melihat Ceci. Di depan tempat bebakaran, Rere melihat itu agak terkagum-kagum. Terlebih dengan wanita tinggi bermata sipit yang sedang ngobrol dengan Tante Kalla. “Itu … istri Om Cade?” tanya gadis itu pada Kael yang sibuk mengipas dan membolak-balik sate. “Iya. Namanya Aunty Cecilia.” “Dia… cantik banget.”Kael mengangkat wajah dan ikut melihat ke arah Tante Ceci. “Kelihatannya juga smart. Dia … bukan Chindo ya?” “Yang Chindo putranya. Tuh yang lagi sama si kembar. Namanya AChen. Kalau Au

  • Hello, Nanny!   S2.57. Gelang

    Gara-gara gelang, Kael membawa Rere ke sebuah toko aksesoris. Rere pikir lelaki itu akan membelikannya gelang. Namun Kael malah mengambil beberapa tali warna hitam yang tergantung di etalase toko. Kael menarik tangan Rere untuk duduk di kursi tinggi tepat di depan counter. “Mbak, ada manik-manik?” tanya Kael seraya tersenyum. “Ada, Mas.” Mbak-mbak penjaga toko lantas mengeluarkan dua kotak bersekat yang berisi segala macam manik-manik dari yang bentuknya bulat hingga kotak. Ada juga manik inisial, manik berbentuk bunga, bintang, dan love. “Kamu mau bikin apa?” tanya Rere penasaran ketika Kael menyusun tali kecil berukuran panjang menjadi empat bagian. “Nanti kamu juga tau.” Sedikit mengabaikan Rere, Kael mulai fokus dengan apa yang dia kerjakan. Wajahnya berubah serius, tapi jari-jarinya bergerak lincah. Mengepang, melipat, menarik. Begitu secara berulang hingga tali panjang itu memiliki bentuk baru. “Kamu bisa nganyam?” tanya Rere takjub. “Bukan hal yang sulit. Kamu m

  • Hello, Nanny!   S2.56. LDR Kita Nih?

    “Aku makan kue ini aja, boleh?” tanya Lior sambil menyentuh boks mika berisi kue dari Rere. Wajahnya nyengir. Dia sudah mencicipi kue buatannya sendiri dan saudara kembarnya. Itu sama sekali tidak enak. Rasanya bisa merusak mood. Dua kembar itu merasa bersalah banget sudah membuat mama dan papanya makan. “Boleh, dong.” Boks mika itu dibuka Kael, lalu dipotong Kalla dengan pisau yang sudah disediakan. “Maafin kami, ya, Ma. Gagal bikin kejutan buat mama papa,” ucap Kaia malu-malu, tapi merasa bersalah juga. “Kenapa minta maaf? Kalian udah berusaha banget. Mama bangga sama usaha kalian, ya meskipun hasilnya kurang memuaskan.” Satu per satu paper plate terisi dengan kue yang sudah dipotong. Rere membuat black forest sebagai hadiah anniversary Kalla dan Reyga. Dan berada dalam satu meja yang sama, mereka menikmati kue itu. “Mmm, ini sih rasanya sekelas bakery ternama, iya, nggak sih, Pa?” Kalla memejamkan mata saat merasakan kelezatan di lidah. Reyga mengamini. “Kamu beli di mana,

  • Hello, Nanny!   S2.55. Kue Gosong

    Kalla kecewa saat sampai bandara hanya menemukan Pak Sato yang menjemput. Dia berharap anak-anaknya datang lantaran sudah begitu rindu ingin memeluk. Ingin mencium aroma tubuh mereka. “Kok cuma Pak Sato doang sih, Rey? Mereka pada ke mana?” keluh Kalla kecewa seraya berjalan pelan di sisi suaminya. Tidak seperti Kalla yang gusar, Reyga terlihat santai. “Nanti di rumah juga ketemu.” “I-ih, beda lagi itu dong. Emang mereka nggak kangen kita?” Reyga terkekeh melihat sang istri merajuk. Dia merangkul pundak wanita itu dan menenangkan. “Sebentar lagi loh kita sampai rumah.” “Iya, kalau nggak macet.” Kalla menghentakkan kaki, lalu menyingkirkan tangan Reyga dari bahunya. “Selamat siang, Pak, Bu. Gimana penerbangannya?” tanya Pak Sato sopan begitu kedua suami istri itu sampai di depannya. “Capek yang pasti, Pak,” sahut Reyga seraya terkekeh. “Pak Sato sehat?” “Alhamdulillah, Pak Rey.” “Anak-anak gimana, Pak? Kenapa mereka nggak ikut jemput kami?” sela Kalla yang sudah terlanjur

  • Hello, Nanny!   S2.54. First Kiss

    Sudah pukul tujuh malam ketika Kael keluar dari kamar dan melihat Rere masih di rumahnya. Di depan sebuah meja pendek, gadis itu duduk beralaskan karpet. Terlihat sibuk mengerjakan tugas sekolah. Mungkin PR. Wajahnya begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Kael. Biasanya gadis itu akan menguncir atau mencepol rambutnya. Namun malam ini rambutnya yang lurus dibiarkan tergerai, melewati bahu. Kael tersenyum sebelum beranjak ke dapur untuk mengambil air minum. Saat melihat jus kemasan kotak di kulkas, dia mengambilnya. Dari dapur laki-laki itu bergerak menghampiri Rere. Ikut duduk bersila di depan gadis itu. Barulah Rere menyadari kehadirannya. Gadis itu mengangkat wajah sejenak sebelum kembali ke buku dan alat tulisnya. “Belum selesai?” tanya Kael melirik apa yang sedang Rere kerjakan. “Belum, sedikit lagi,” sahut Rere tanpa menoleh. Namun ketika sebuah jus kemasan tiba-tiba ada di depan matanya, dia kembali mendongak. “Emang nggak capek? Jagain si kembar, bantu mereka buat

  • Hello, Nanny!   10. Sudah Jatuh, Ketimpa Tangga

    Kalla menyempatkan diri mampir ke mini market sebelum kembali ke apartemen. Dan baru saja dirinya akan mengambil beberapa lolipop kesukaannya, bunyi notifikasi ponsel terdengar. Sebuah pesan masuk dari Reyga 'Ingat, jangan kasih Kael makanan atau snack sembarangan.'Secara otomatis Kalla menarik

  • Hello, Nanny!   9. Hello, Nanny!

    Kael hanya bersekolah sampai hari Jumat dengan tiga seragam yang berbeda. Di salah satu sekolah internasional yang Kalla tahu SPP bulanannya ngalahin UMR Jakarta. Artinya hari weekend anak itu akan full di rumah. Kecuali hari ini, Reyga menuntut Kalla harus membuatkan breakfast dan bekal untuk boc

  • Hello, Nanny!   8. Beautiful Nanny!

    Tidak ada rencana telat di hari pertama kerja. Namun itu yang Kalla alami. Rencananya pukul enam pagi dia sudah harus ada di stasiun, tapi kenyataannya sudah setengah tujuh lebih dia baru keluar kamar. Dengan langkah tergesa dia menghampiri ibunya yang sedang berkutat di dapur. Bahkan ibu pun belum

  • Hello, Nanny!   6. Menggalau

    Untuk beberapa saat Kalla terbengong mendengar pertanyaan pria sombong di depannya. Namun tiba-tiba hatinya merasa tersentil dan sedikit tersinggung. Oke, fine! Kalla bilang dirinya tidak mempersoalkan pekerjaan apa pun, meski itu bukan dari jenis bidang yang dia pelajari di perguruan tinggi. Tapi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status