Mag-log in“Di mana alamat vila kamu?” tanya Kalla begitu Reyga naik ke jok belakang motornya. Dia tidak mengizinkan Reyga yang menyetir, tidak mau mereka nyungsep. Kalla tidak pernah melihat lelaki itu mengendarai motor. “Di Tirta Nadi Villa Asoka,” sahut Reyga agak kencang, lantaran angin suka membawa kabur suaranya tanpa permisi. Kalla cukup kencang mengendarai motor. Oh Kalla tahu. Jadi selama ini Reyga tinggal di sana. Tidak jauh dari Tukad Bilok tempatnya tinggal. “Tapi aku lapar. Aku boleh menagih utangmu sekarang?” tanya lelaki itu setengah berteriak. Embusan napas Kalla terdengar lelah. Sambil terus mengawasi jalanan malam dia mengemudikan motornya menuju kafe terdekat. Berharap setelah ini urusannya dengan Reyga selesai. “Sebenarnya dari kemarin aku pengin ketemu kamu, tapi banyak yang harus aku urus,” ujar Reyga setelah mereka berdua berhasil duduk di salah satu meja. “Keluargaku sudah kembali ke Jakarta tadi pagi. Kael juga ikut pulang bersama Kiana.” Memanggil pelayan, Ka
Ini mungkin kekonyolan lain yang Kalla lakukan. Bisa-bisanya mempercayai ucapan duda nyebelin itu. Kalla mengangkut napas dalam-dalam sebelum memutuskan kembali ke kafe yang sama seperti kemarin malam. “Nggak. Gue ke sini mau isi perut, bukan karena hal lain,” gumamnya pada diri sendiri sambil membuka buku menu. Jika kemarin dia memesan udang saus tiram, kali ini dia memesan cumi bakar. “Ada yang lain, Kak?” tanya waiter yang melayaninya. Waiter yang sama seperti kemarin malam juga. “Itu aja dulu.” “Baik.” Kalla mulai merebahkan punggungnya ke sandaran kursi rotan. Sesekali matanya mengedar ke setiap penjuru kafe, seperti tengah mencari seseorang. Tapi detik berikutnya dia menggeleng kencang. “Bego, apa yang gue cari coba? Kebetulan nggak mungkin terjadi dua kali kan,” gumamnya lagi lalu bergerak meraih ponsel di tas. Lebih baik melakukan pekerjaan yang lebih berguna. Mantau komoditas misalnya. Namun sampai makanan datang, juga setelah dirinya berhasil menandaskan isi pir
Kalla mengumpat lirih ketika ujung matanya melirik waiter yang menuju ke mejanya. Pesanannya sudah keburu datang sebelum dia berhasil kabur dari Reyga. Perutnya yang memang sudah lapar dari kantor mendadak makin keruyukan ketika hidungnya menghirup aroma yang menguar dari udang saus tiram pesanannya. “Silakan, Kak,” ujar waiter tersebut setelah sukses membuat lidah Kalla memproduksi air liur lebih banyak. “Mau dilihatin aja?” Mata Kalla mengerjap saat mendapat teguran yang berasal dari Reyga.“Lapar kan?” Secara otomatis Kalla menatap perutnya yang berbunyi tak tahu malu. Dia berdeham dengan wajah memerah, lalu beringsut duduk kembali. Kampret lah! Kenapa pula nih perut pake berisik segala. “Kamu sendirian?” tanya Reyga lagi. “Menurut ngana?” Tawa kecil pria itu meluncur. Dia melipat lengan di dada sambil menatap wajah jutek wanita itu. Kiana benar, Kalla makin cantik dan lebih terlihat dewasa, pun dengan cara berpakaiannya. “Boleh aku duduk di sini?” Otak Kalla menyuruhnya a
SEBELUM REYGA BERTEMU KALLA=====================Cade dan Kael tengah konsentrasi di depan bangunan Jenga saat Kiana dan Raven datang bersama putrinya. Sementara Reyga tampak duduk di sofa seraya serius menatap laptop di pangkuannya. “Coba tebak siapa yang aku temui di Blossom tadi?” seru Kiana, tapi sayang tidak ada yang tampak tertarik. Semua sibuk dengan fokusnya masing-masing. “Serius kalian nggak penasaran?” “Yes!” seru Kael saat berhasil menarik balok Jenga, tanpa merobohkan bangunan. Kiana memandang sang suami dengan wajah kesal ketika tidak ada yang memperhatikannya. Raven tersenyum, mengusap pipi istrinya. “Nggak apa-apa. Nanti mereka juga nyesel nggak dengerin kamu. Khususnya si kunyuk.”“Ih, ngomongnya dijaga. Nanti Kyoka denger.” Kyoka adalah anak perempuan Kiana yang berusia empat tahun, menuju lima tahun beberapa bulan lagi. Lagi aktif-aktifnya. Sekarang saja gadis kecil itu sedang—Praaakkk! Kiana dan Raven kontan menoleh mendapati suara gaduh itu, pun dengan Rey
“Ntar malam mau makan di mana?” tanya Wima ketika pria itu mengantar Kalla kembali ke apartemen. “Aku makan di unit aja, Kak. Pengin tidur cepat.” “Yakin nggak butuh teman?” “Apaan sih, Kak. Jangan mulai deh. Aku nggak apa-apa.” Wima tidak berkomentar lagi. Mungkin Kalla memang sedang lelah saja. Dia mengulurkan tangan, menepuk kepala wanita itu dan tersenyum. “Oke, istirahat. Kalau butuh teman kamu bisa telpon, mumpung aku masih di sini. Besok aku sudah harus business trip lagi ke Thailand.” “Gimana mau dapat jodoh kalau kerjaannya keluyuran ke negara orang terus,” cibir Kalla, membuat Wima kontan terkekeh. “Ya kali aja jodohku dari negeri orang.” “Iya juga ya.” Kadang Kalla kesal sama diri sendiri. Wima sudah sebaik itu tapi kenapa hatinya belum juga bisa luluh? Setidaknya tersentuh deh. Namun sekuat apapun usahanya, Kalla tetap tidak bisa. Sesulit itu. Sama sulitnya seperti melupakan tentang Reyga. Reyga mungkin bukan cinta pertamanya, tapi pria itu yang pertama menyentu
Aktivitas tambahan Kalla kalau Wima datang ke Bali, dia akan menemani lelaki itu jalan-jalan. Alih-alih mengaudit pekerjaan, Wima malah menyeret Kalla berwisata dengannya. Bos mah bebas.Mulai cari lukisan, atau bahkan furniture khas Bali pesenan ibu pria itu. Setelah muter-muter lihat lukisan, Wima mengajak Kalla makan siang ke tempat favoritnya di Sanur. Dan ini yang Kalla tunggu. Bersama Wima dia tidak perlu terserang migren dadakan masuk ke restoran yang terkenal dengan kualitas steaknya ini. Meskipun Kalla sudah bisa menghasilkan uang sendiri, tapi untuk merogoh kocek dalam-dalam hanya demi sepotong daging sapi impor, rasanya masih belum ikhlas. Harga semahal itu kalau dibawa ke rumah makan Padang bisa dapat rendang sepuluh baskom. “Caviar di sini enak. Kamu belum coba kan?” “Enggak, makasih. Aku mau—”“Miyazaki, Kogosima—”Kalla mengangkat tangan dengan mata melotot. “Roasted duck. Jus jeruk, dan onion rings. Udah.”“Kamu bisa pesan baluga, Wagyu atau apa pun. Aku nggak akan
Reyga terkejut ketika membuka mata dan menemukan dirinya berada di kamar apartemen. Dia bangun cepat, tapi meringis ketika merasakan sakit mendera kepalanya dengan sangat. Sesuatu yang harus dia pastikan membuatnya terpaksa meninggalkan ranjang tidur. Dia mencari analgesik untuk meredakan sakit ke
Reyga mengibas-ngibaskan kepala saat pandangannya agak buyar. Kalla di depannya seperti terbelah jadi tiga. Efek alkohol, menguasai telak isi kepalanya. Pusingnya reda, tapi kepalanya melayang-layang. Di depannya Kalla menatap malas lelaki itu. Sesekali mendorong bahu lebar itu ketika Reyga akan ja
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan. Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut
“Enak banget!” Kael mengacungkan dua jempolnya, dan mendapat senyum dari Kalla. Di sisi anak itu Reyga pun melakukan hal sama, tapi cuma dibalas lirikan singkat tanpa senyum dari Kalla. Akhirnya Kalla membuat dua porsi macaroni schotel. Porsi besar dan kecil. Sementara Cade memilih makan nasi uduk







