Home / Romansa / Hello, Nanny! / 139. Jangan Nunggu Aku

Share

139. Jangan Nunggu Aku

last update publish date: 2026-04-27 18:51:39

Aktivitas tambahan Kalla kalau Wima datang ke Bali, dia akan menemani lelaki itu jalan-jalan. Alih-alih mengaudit pekerjaan, Wima malah menyeret Kalla berwisata dengannya. Bos mah bebas.

Mulai cari lukisan, atau bahkan furniture khas Bali pesenan ibu pria itu. Setelah muter-muter lihat lukisan, Wima mengajak Kalla makan siang ke tempat favoritnya di Sanur.

Dan ini yang Kalla tunggu. Bersama Wima dia tidak perlu terserang migren dadakan masuk ke restoran yang terkenal dengan kualitas steaknya i
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (12)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Yuk baca bab berikutnya kak,,, cusss
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Putusnya karena prasangka jadinya begitu deh
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Bener apalagi kalo udah kena api cemburu
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   252. Kenangan

    “Apartemen?” Kening Kalla berkerut samar saat SUV milik Reyga memasuki kawasan apartemennya di Sudirman. Sudah lama sekali dia tidak berkunjung ke apartemen ini. “Kamu nggak kangen tempat ini?” tanya Reyga sesaat setelah dirinya memarkirkan mobil di basement. “Tempat ini banyak kenangan kita.”“Aku pikir kamu udah menjualnya.”“Belum aku jual. Belum ada tawaran yang bagus.” Reyga membuka tangan. Meminta Kalla menggenggamnya. Keduanya lantas berjalan ke lift yang langsung menghubungkan ke lantai unitnya berada. “Kenapa tiba-tiba kamu bawa aku ke sini?” “Nggak apa-apa. Aku mau kasih tau si kembar kalau cinta mama papanya berawal dari sini.” Pria itu mendekat dan berbisik tepat ke telinga Kalla. “Di sini juga tempat pertama kali kita bercinta.”Spontan Kalla mendorong wajah suaminya menjauh. Matanya memelotot sebal. “Apaan sih?” Namun Reyga malah terkekeh. Dia menowel pipi istrinya yang memerah. Tepat saat itu, pintu lift terbuka. Dengan tak sabar Reyga menarik tangan Kalla, keluar

  • Hello, Nanny!   251. Ramuan Tokcer

    Ibu langsung memeluk Kalla saat diberitahu tentang kehamilan putrinya. Wanita paruh baya itu bahkan sampai meneteskan air mata. Akhirnya impian memiliki cucu akan terwujud. “Ibu tahu, kata dokter bayinya kembar. Ada dua janin di perut Kalla, Bu.”Untuk kedua kalinya ibu dibuat terkejut dengan kabar dari putrinya itu. “Beneran? Jadi ibu mau punya cucu kembar?” rasa haru kontan menyeruak. Hatinya bukan berbunga-bunga lagi, tapi seperti melambung ke atas awan. Ibu mengucapkan syukurnya sambil memeluk sang putri sekali lagi. “Ibu jangan sebarin ini ke teman-teman ibu dulu ya. Biar mereka tahu nanti saja waktu syukuran empat bulanan.” Kalla tersenyum ketika ibu sepakat. Tapi sebagai wujud rasa syukur, ibu berniat masak makanan lezat hari ini untuk makan malam. Kalla tentu tidak melarangnya. “Biar Kalla bantu, Bu.” “Nggak usah. Kamu istirahat aja. Uhm, telepon Moya suruh dia makan malam sama kita,” sahut ibu segera menuju dapur. Dia mengangkat tangan, mewanti-wanti putrinya agar tidak

  • Hello, Nanny!   250. Babies

    Meskipun beberapa kali Kael menelepon, Kalla tidak memberitahukan apapun pada anak itu tentang kehamilannya. Dia ingin memastikan lebih dulu. Dan kabar baik itu akan lebih sempurna jika disampaikan secara langsung ketika mereka berkumpul nanti. Kru Pulau Cempedak mengantar kepulangan Kalla dan Reyga hingga ke dermaga. Sungguh, Kalla merasa istimewa diperlakukan seramah ini. Pelayanan semua staf benar-benar baik selama dirinya dan Reyga liburan di sana. Sudah seperti keluarga sendiri. Sebelum ke bandara Raja Haji Fisabilillah, Reyga membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia sudah tidak sabar ingin melihat isi perut sang istri. Bahkan dia sudah membuat janji temu dengan dokter sehari sebelumnya. Sehingga begitu sampai di poli kandungan, mereka mendapat antrian pertama. Ini bukan pertama kalinya Reyga membawa istrinya ke dokter kandungan. Tapi tetap saja rasanya deg-degan. Tapi lelaki itu tahu yang jauh lebih berdebar pasti Kalla. Baik dirinya ataupun sang istri merapal doa dalam

  • Hello, Nanny!   249. Baikan Lagi

    Menyendiri bersama jus stroberi dan sepotong roti abon, Kalla menatap pemandangan pantai yang masih sangat alami di depannya. Pulau ini seperti sengaja diciptakan bagi orang-orang yang lelah dengan hiruk pikuk keramaian kota. Udaranya masih sangat segar. Angin semilir membuat suasana makin adem dan nyaman. Sangat kontras dengan hati Kalla, yang tengah dirundung emosi. Menjauh sejenak memang keputusan tepat, sebelum kepalanya meledak. Kabar baik tentang kehamilannya ternyata tidak sepenuhnya bisa meredakan emosi keduanya. Kalla menghela napas panjang. Tangannya iseng memainkan sedotan jus yang agak malas dia minum. Ujung matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja, dan ajaibnya benda itu langsung menyala, menampilkan nama Wima. Pria itu menelepon lagi. “Ya, halo?” sapa Kalla saat menerima panggilan tersebut.“Kalla, kamu baik-baik aja?”“Aku … baik.” Lalu hening. Sampai Kalla harus menjauhkan ponsel dan melihat layarnya. Siapa tahu tiba-tiba mati. Tapi ternyata panggilan itu m

  • Hello, Nanny!   248. Telepon Wima

    Sudut bibir Reyga naik sebelah, matanya melirik tajam ke layar ponsel Kalla yang bergetar menampilkan nama Wima. Sementara tangannya masih sibuk menyuapi sang istri. “Itu boleh aku angkat?” tanya Kalla ragu, takut mengundang kemarahan suaminya lagi. “Biar aku yang angkat.” Meletakkan mangkok dan sendok, Reyga meraih ponsel tersebut. Di posisinya Kalla mendadak cemas, takut suaminya itu mengucapkan hal yang tidak baik. “Aku lagi hamil, Rey. Jadi tolong jaga ucapan kamu nanti.”“Iya, takut banget sih.” Reyga menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Dia menggeser ikon hijau sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinga. “Halo, ada yang bisa saya bantu, Pak Wima?” tanya Reyga sembari tersenyum menatap muka khawatir sang istri. “Reyga?” Suara Wima terdengar ragu. “Iya, saya Reyga. Suaminya Kalla.”“Ini nomor Kalla kan?”“Iya, benar.”“Lalu kenapa Anda yang angkat?”“Kan saya suaminya. Ada masalah?”Reyga kembali menyeringai puas ketika di sana Wima menggeram. “Bi

  • Hello, Nanny!   247. Jaga Bersama

    Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik. Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih. Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang. Begitu berdiri tepat di belakang punggung Reyga, Kalla mengulurkan dua tangannya, mendekap lelaki itu. Dia bisa merasakan tubuh Reyga berjengit sesaat. Menandakan lelaki itu benar-benar tidak menyadari kemunculannya. Kalla menempelkan pipi ke punggung Reyga. "Rey, aku minta maaf," ucapnya. "Tadi itu aku nggak ada maksud menyinggung kamu. Aku cuma sedikit excited aja. Nggak ada niat apa pun." Reyga bergeming. Meski kesal dia tidak bisa marah. Lelaki itu melepas tangan Kalla, lalu berbalik, menghadap lan

  • Hello, Nanny!   201. Anak Manis

    “Bukan lamaran resmi datang ke rumah orang tua gue sih. Ini lamaran personal gitu di fine dining. Ya ampun, Kalla…” Mata Moya berkaca-kaca seraya menggenggam tangan Kalla. Dia seperti tidak menyangka akan sampai di titik di mana akhirnya dirinya dilamar seseorang. “Selamat ya, Moy. Nggak ada Oppa

  • Hello, Nanny!   200. John Foster

    “Lo kenal John?” Raven menatap pria yang duduk di depannya sambil memutar-mutar kursi. “Harusnya kenal. Kan satu angkatan sama lo.”Kening Reyga mengernyit dalam. Dia sama sekali tidak ingat. “Satu angkatan itu ratusan. Gimana gue bisa ingat?” “Lebih spesifik lagi, dia teman satu kelas sama lo. Mas

  • Hello, Nanny!   199. Bukan Karena Itu...

    “Setelah orang tua Dilla meninggal. Mereka kayaknya pisah. Dilla ikut tantenya dari pihak ibu. Ninda ikut saudara ayahnya ke Palembang. Gue nggak tau banyak, hanya sebatas itu. Tapi dulu mereka pernah sempat bertemu.” Reyga tercenung mendengar penjelasan Raven. Tidak banyak membantu, tapi setidakn

  • Hello, Nanny!   198. Perkara Adik Kael

    Dada Kalla mengembang seiring dengan senyumnya yang terulas melihat bayi kecil di dalam timangannya. Bayi laki-laki berusia dua bulan dengan mata cokelat yang terus berkedip perlahan. Masih bayi saja wajahnya sudah sangat tampan. Benar-benar perpaduan ibu dan ayahnya sejati. Dan itu membuat keingi

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status