Home / Romansa / Hello, Nanny! / 69. Rambut Baru

Share

69. Rambut Baru

last update publish date: 2026-03-25 10:55:46
Hal yang tidak Reyga sangka, tapi harus pasrah menerima adalah hukuman yang Kalla beri. Meski ada hati yang tidak rela, dia tidak bisa menolak. Matanya melirik horor peralatan yang Kalla siapkan.

Setelah tiga tahun nyaman dengan model rambut semi panjangnya ini, dia terpaksa harus merelakan rambut itu dieksekusi demi mendapat maaf dari sang kekasih.

“Mukanya biasa aja. Potong rambut nggak akan bikin kamu mati,” ujar Kalla tak berperasaan sambil membentangkan kain putih.

Dia membungkus badan R
Yuli F. Riyadi

Hay! Ada yang belum mampir review di cover depan? Ayo Gaes, bantu bintang Kalla menyala. 🔥⭐

| 21
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Heeeeh! Wkwk
goodnovel comment avatar
Yuli F. Riyadi
Cusss Kak kemarin aku udah wkwk
goodnovel comment avatar
Abhizar Ananda Ghaisan
jdi PNGN punya 1 Kya reyga wkwkwk
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hello, Nanny!   249. Baikan Lagi

    Menyendiri bersama jus stroberi dan sepotong roti abon, Kalla menatap pemandangan pantai yang masih sangat alami di depannya. Pulau ini seperti sengaja diciptakan bagi orang-orang yang lelah dengan hiruk pikuk keramaian kota. Udaranya masih sangat segar. Angin semilir membuat suasana makin adem dan nyaman. Sangat kontras dengan hati Kalla, yang tengah dirundung emosi. Menjauh sejenak memang keputusan tepat, sebelum kepalanya meledak. Kabar baik tentang kehamilannya ternyata tidak sepenuhnya bisa meredakan emosi keduanya. Kalla menghela napas panjang. Tangannya iseng memainkan sedotan jus yang agak malas dia minum. Ujung matanya melirik ponsel yang tergeletak di meja, dan ajaibnya benda itu langsung menyala, menampilkan nama Wima. Pria itu menelepon lagi. “Ya, halo?” sapa Kalla saat menerima panggilan tersebut.“Kalla, kamu baik-baik aja?”“Aku … baik.” Lalu hening. Sampai Kalla harus menjauhkan ponsel dan melihat layarnya. Siapa tahu tiba-tiba mati. Tapi ternyata panggilan itu m

  • Hello, Nanny!   248. Telepon Wima

    Sudut bibir Reyga naik sebelah, matanya melirik tajam ke layar ponsel Kalla yang bergetar menampilkan nama Wima. Sementara tangannya masih sibuk menyuapi sang istri. “Itu boleh aku angkat?” tanya Kalla ragu, takut mengundang kemarahan suaminya lagi. “Biar aku yang angkat.” Meletakkan mangkok dan sendok, Reyga meraih ponsel tersebut. Di posisinya Kalla mendadak cemas, takut suaminya itu mengucapkan hal yang tidak baik. “Aku lagi hamil, Rey. Jadi tolong jaga ucapan kamu nanti.”“Iya, takut banget sih.” Reyga menyeringai, menampakkan gigi-giginya yang putih dan rapi. Dia menggeser ikon hijau sebelum mendekatkan benda pipih itu ke telinga. “Halo, ada yang bisa saya bantu, Pak Wima?” tanya Reyga sembari tersenyum menatap muka khawatir sang istri. “Reyga?” Suara Wima terdengar ragu. “Iya, saya Reyga. Suaminya Kalla.”“Ini nomor Kalla kan?”“Iya, benar.”“Lalu kenapa Anda yang angkat?”“Kan saya suaminya. Ada masalah?”Reyga kembali menyeringai puas ketika di sana Wima menggeram. “Bi

  • Hello, Nanny!   247. Jaga Bersama

    Rambut pria itu yang sedikit panjang berterbangan diterpa angin. Tubuh dan pandangannya menghadap laut sepenuhnya. Seolah di sana ada sesuatu yang menarik. Menghela napas, Kalla pun beranjak turun. Kakinya yang mengenakan alas tipis terayun perlahan dan hati-hati. Melewati semak pepohonan, dia langsung bisa menapakkan kaki di pasir putih. Pria itu tetap diam. Tidak menyadari kedatangan sang istri. Kalla memang sengaja tidak menimbulkan suara. Dia berniat memeluk Reyga dari belakang. Begitu berdiri tepat di belakang punggung Reyga, Kalla mengulurkan dua tangannya, mendekap lelaki itu. Dia bisa merasakan tubuh Reyga berjengit sesaat. Menandakan lelaki itu benar-benar tidak menyadari kemunculannya. Kalla menempelkan pipi ke punggung Reyga. "Rey, aku minta maaf," ucapnya. "Tadi itu aku nggak ada maksud menyinggung kamu. Aku cuma sedikit excited aja. Nggak ada niat apa pun." Reyga bergeming. Meski kesal dia tidak bisa marah. Lelaki itu melepas tangan Kalla, lalu berbalik, menghadap lan

  • Hello, Nanny!   246. Gawat! Siaga Satu!

    Kalla memilih tempat sarapan mereka di hot sea spot. Di sana dia bisa sarapan sembari menikmati views lautan yang cantik dan penampakan gugus pulau lain dari kejauhan. Pagi ini dia tampak cantik dengan rambut tergerai dan juga ikat kepala. Mengenakan kemeja biru muda tanpa lengan dengan aksen garis vertikal. Sebagai bawahan, wanita itu memilih celana pendek longgar di atas lutut. Penampilan yang sangat santai tapi tetap anggun. Reyga sendiri mengenakan kemeja warna senada, yang kancingnya terbuka. Dia mengenakan dalaman kaos putih, serta celana pendek juga. Sekali pandang saja, semua tahu kalau mereka pasangan bahagia yang sangat serasi. “Mau teh atau kopi?” tanya Kalla mengangkat pitcher kaca di sebelahnya. “Aku kopi aja, Sayang.” “Okeh.” Kalla meraih french press dan menuang cairan hitam ke cangkir putih yang tersedia. “Krimer, gula?” “Nggak.” Reyga mengucapkan terima kasih saat kopi sudah tersaji. Istrinya kembali mengangkat pitcher kaca berisi teh dan menuang ke cangkirnya

  • Hello, Nanny!   245. Sensitif

    Perut lapar, makan. Mata ngantuk, tidur. Makan, tidur, main, bercinta. Empat kegiatan rutin yang Kalla lakukan selama di Pulau Cempedak. Seperti tidak ada dunia lain yang Kalla pikirkan. Reyga mengerang di atas Kalla. Dia menghantamkan pinggul beberapa kali, sebelum akhirnya ambruk di sebelah istrinya dengan napas terengah. Seperti hari sebelumnya, mereka akan bercinta hebat sebelum melakukan aktifitas pagi. “Mau ke mana?” tanya Reyga saat Kalla beranjak bangun. Wanita itu mengenakan kaos tanpa menggunakan bra. “Mau ke bawah sebentar.”Reyga mengangguk sebelum memejamkan mata lagi. Setelah tenaganya terkuras, dia membutuhkan istirahat beberapa lama lagi. Sebelum turun untuk sarapan nanti. Sementara di lantai bawah, Kalla mengutak-atik ponsel, menghubungi Kael. Saat ini masih pukul tujuh pagi, yang artinya di Jepang sana sudah pukul sembilan pagi, lantaran waktunya lebih cepat dua jam dari Waktu Indonesia Barat. Kael pasti sudah bangun. Hanya beberapa kali nada sambung terdengar, d

  • Hello, Nanny!   244. Kamu ... Seksi

    Selagi Kalla masih tidur siang, Reyga duduk merebah di sunbed, menikmati matahari sore seraya membaca buku. Lama sekali dirinya tidak menemukan ketenangan seperti ini. Kerjaan yang menumpuk, ekspansi proyek, berusaha selalu memenangkan tender potensial, benar-benar menyita waktu. Perusahaan yang masih berkembang butuh banyak perhatian darinya sebagai pemimpin. Dia tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mempercayainya sebagai pengelola. Sedang seru-serunya membaca, pergerakan kaki seseorang membuat fokusnya teralihkan. Kepala Reyga otomatis memutar, saat melihat sepasang kaki telanjang tidak jauh dari tempatnya duduk. Pandangannya perlahan naik, hingga dia menemukan sang istri yang ternyata sudah bangun dari tidur. Kalla mengenakan kemeja lengan panjang miliknya, yang memanjang sampai paha. Wanita itu tidak mengenakan celana atau bawahan apa pun lagi.Rambut Kalla sedikit berantakan, dan muka bantalnya terlihat sangat menggemaskan. “Kenapa nggak bangunin aku sih?” tanya wa

  • Hello, Nanny!   30. Bar

    Kael menggerakkan jempol ke bawah mengiringi kepergian Gatra. Sementara Reyga melambaikan tangannya, merasa menang. Lalu Kalla? Dia dengan buru-buru menjauh dari Reyga, menyingkirkan lengan lelaki itu dari pinggangnya. Tindakannya kontan membuat Reyga menoleh. Lelaki itu mengangkat alis saat Kalla

  • Hello, Nanny!   29. Pecundang

    “Jadi sekarang Lo di Bali?”“Hu-um.”“Buset, belum apa-apa udah honeymoon.” “Honeymoon pale Lo.” Di ujung telepon sana Moya tergelak. “Jadi baby sitter anaknya orang tajir mah beda ya. Jalan-jalan aja pake jet pribadi. Nginepnya di vila mahal. Mana bapaknya duda lagi. Lo banyak-banyak bersyukur tu

  • Hello, Nanny!   27. Duda Meresahkan

    Setelah berhasil membuat jantung Kalla mau lepas dan lutut terasa lemas, Reyga pergi begitu saja. Kurang ajar! Bahkan tangan Kalla masih gemetar. Dia sampai perlu waktu beberapa saat untuk memegang pisau lagi. Inhale-exhale. Kalla melakukan senam pernapasan sambil menyentuh dadanya yang masih bert

  • Hello, Nanny!   25. Nggak Ingin Bertemu

    Kalla kontan mencengkeram tangan Moya erat, dan mendelik seraya mendesis. “Ssst, mulut Lo jangan berisik!” tegurnya lirih. Matanya melirik kanan-kiri, memperhatikan sekitar. Banyak yang nengok ke arah mejanya. Tapi hanya sebentar. Setelah situasi kembali ke kondusif, dua sahabat itu saling tatap.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status