Beranda / Urban / Hestia / Chapter 30 - Words of Affirmation

Share

Chapter 30 - Words of Affirmation

Penulis: Dyara
last update Tanggal publikasi: 2026-03-19 16:38:30

Patra mengecek ulang titik-titik biru penanda kegiatan selain bekerja di kalender pada layar ponselnya. Malam ini, ia ingin makan nasi pecel pinggir jalan dekat apartemennya. Dikarenakan Talia harus menghitung pemasukan dan memberi arah tambahan ke dua karyawan lain di salon, Patra memperkirakan ia akan tiba lebih dulu.

Jam dinding divisinya menunjukkan pukul lima sore kurang dua menit. Aplikasi absen kantor sudah terbuka dan Patra segera membiarkan fitur scan menangkap sisi depan wajahnya. Ke
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hestia   Chapter 41 - Love in Paradise

    Ketika kepercayaan membayangi setiap langkah Patra, tidak terasa tujuh bulan berlalu. Selama itu ia mengikat pikiran, hati, dan tubuhnya untuk Hestia. Oh, salah. Talia. Patra terlalu serius tenggelam dalam sajak-sajak Nikita Gill. Dagu Patra mendongak ke belakang—jam dinding di ruang divisi PR kantornya. Masih agensi yang sama. Pandangan mata Patra yang berbinar karena jam sudah menunjukkan waktu pulang kerja, beralih ke mejanya. Ada sebuah plakat kecil bertuliskan Manajer PR. Patra terbiasa menyembunyikan benda yang terasa menggemakan jabatannya itu di dalam laci meja, tetapi Hardi memperingatkan agar jangan disembunyikan. ‘Mimpin yang humble itu emang bener, Pat, tapi lo kasih batas, ingetin anak-anak divisi lo untuk tau batas dan ngehargain kepala divisi mereka.’ Patra sudah meninggalkan keyakinan bahwa ia masih memiliki harga diri, sejak empat, atau lima tahun lalu. Kepala Patra sudah semakin lelah mengumandangkan nama pelaku yang bebas dari hukum tahanan. Talia menghargai bat

  • Hestia   Chapter 40 - Your Honesty is An Excuse

    “Kita berdua udah punya komitmen masing-masing,” pungkas Patra sembari bangun dari posisi duduknya, “dan gue punya pengalaman buruk sama cowok. Jadi, jangan lewatin batas lagi. Gue risih. Gue nggak masalah bertemen sama biseks, gay, apapun itu. Tapi, gue nggak mau punya temen baru yang … asal selingkuh kayak orang nggak punya nalar.” Nero yang memang tidak duduk, tetap di posisi berdiri, menatap balik Patra tanpa ekspresi marah atau kaget. Patra sendiri sudah menduga Nero akan menepis prasangka. Lagipula Patra sudah mulai terbiasa melihat seseorang, seperti Nero, selalu bertingkah defensif. “Orang yang bahasa citanya afirmasi … selalu jujur sebrutal ini ya.” Mata Nero menjelajah jauh ke setiap orang atau elemen tempat yang berada di belakang Patra—jalan perumahan, wanita yang mendorong stroller bayinya, dan anak-anak yang mengejar kucing. “Memang iya, jujur itu akarnya afirmasi, dan lo harusnya bisa mencoba ngerti situa–” Sayangnya jawaban Patra dipotong kejujuran seorang Nero.

  • Hestia   Chapter 39 - We Should Be More Honest, from the start

    “Lo kayak nenek-nenek, Pat,” kekeh Nero di belakang dua kursi bersebelahan yang diduduki Patra dan Shannon. Talia meninggalkan Patra yang rambutnya sudah digulung rod kecil dan sedang, untuk mencari krim pengeriting atau obat perming. Sementara itu, rambut kekasih Nero sedang digunting oleh Ifa. “Awas lo, ya, liat aja nanti pas gue udah ganteng!” geram Patra pura-pura marah dengan senyum jenaka terselip pada Shannon yang tertawa di sampingnya. Patra pun berakhir terkekeh. Sampai Talia kembali dari balik lemari penyimpan botol-botol krim dan cairan obat atau pewarna rambut.Gerak manik mata ragu dan tenggorokan Patra yang menelan saliva berkali-kali tidak luput dari pandangan Nero. Begitu juga dengan pertanyaan Talia yang tertangkap sebagai aba-abai bagi Nero. “Siap?” Patra mengangguk sebagai jawaban. Nero memang sudah mengetahui sejak lama tentang sensitivitas kepala dan rambut Patra. Dari mulut laki-laki itu sendiri. Jadi, ia paham ekspresi Patra memejamkan mata—tetapi bukan gestur

  • Hestia   Chapter 38 - Curl Them All

    Giliran Patra yang membulatkan mata. “Emang lo nggak merasa ganteng?”“Lo muji gue?” tanya Nero lagi. Benar-benar kelihatan ingin memastikan. Tidak bisa Patra pungkiri. Wajah kaget Nero barusan karena ia sebut ganteng cukup menghiburnya. “Gue nggak kepikiran kasih lo afirmasi, Ro … kan lo emang ganteng. Buktinya bisa main-main sama banyak cewek.”Binar di kedua mata Nero langsung lenyap. “Sialan,” ujarnya berbalik masuk ke toko. Meninggalkan Patra yang gantian mendengus puas bisa menyentil rekam jejak Nero. “Kadang Nero nggak nyadar aja, Kak,” ucap Shannon berjalan perlahan dari balik rolling door. Membawa uang kembalian untuk Patra. “Dia nggak nyadar dan nggak mau ngaku … kalau kadang dia juga enjoy afirmasi, atau dipuji.” Patra mengangguk-angguk kecil. Tadinya tidak berminat bertanya lebih jauh. Akan tetapi, Nero pernah menanyakan apa bagusnya words of affirmation—yang menurut Patra justru sangat perlu di dalam hubungan. “Lo juga gantian nginep di rumah Nero?” Sebelum perkataanny

  • Hestia   Chapter 37 - You Don't Think You're Handsome?

    Rumah baru Talia sedikit mirip seperti rumah susun. Akan tetapi, sejauh mata Patra memandang tempat baru pacarnya, suasananya lebih tenang. Bukan hanya karena penyewaan rumah vertikal Boris operasikan bersama sebuah organisasi di dalam perumahan—yang memiliki taman bersama, dekat stasiun kereta, dan kolam renang umum.Mungkin karena desainnya yang lebih minimalis, hanya terdiri dari tiga lantai dengan sembilan kamar. Jangan lupa book cafe yang menemani teras rumah vertikal, yang kata Boris, tadinya hanya dihias jalan setapak, kolam ikan, dan pot-pot berisi tanaman hias. Ruang yang sudah menjelma menjadi kafe penuh rak-rak buku tadinya adalah sebuah bengkel. Bengkel bekas pemilik lama rumah itu. Setidaknya hanya itu sejarah dari cerita Talia usai Boris sekeluarga pulang setelah membantunya pindahan—yang Patra ingat. Patra menghabiskan tiga jam lebih lama daripada kehadiran Boris, Patra, dan Cherry yang berkeliling melihat-lihat isi kamar Talia. Selepas mengeringkan tubuhnya yang berk

  • Hestia   Chapter 36 - Jamie once says, ‘You’re not interesting enough.”

    “Tante Talia bisa pacaran? Sejak kapan?”Patra melenguh seraya meregangkan otot-otot dan sendi tubuhnya. Laki-laki itu mendorong sedikit kedua tangan Talia yang bergelung di bawah kepala dan lehernya. Ketika kedua kelopak mata Patra terbuka, seorang remaja laki-laki berpakaian kemeja cokelat polos dengan jins berdiri menjulang di atas wajahnya.‘Mukanya kayak pernah liat,’ pikir Patra. “Aku Jamie, kalau Om Patra lupa,” ujar remaja laki-laki itu. Sesaat kemudian, kedua mata Patra membeliak dan ia langsung terbangun dari posisi tidur di ruang tamu. Jamie sendiri tetap pada posisi berdirinya sejak tadi. Kedua tangan anak laki-laki di usia tanggung itu terselip di saku celana jins. Air muka Jamie menatap bergantian Patra yang menyibak selimut dan Talia yang masih tertidur. Tampak bosan dan tidak tertarik, tetapi jauh berbeda dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut bocah itu. “Om pacaran sama tante buat main-main doang, atau serius sampe jadi orang tua?” Patra meneguk saliva susah

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status