Beranda / Urban / Hestia / Chapter 8 - Heart to Heart

Share

Chapter 8 - Heart to Heart

Penulis: Dyara
last update Tanggal publikasi: 2026-02-20 11:50:31

Archie terlelap dengan posisi telentang di atas karpet. Karpet ruang tamu tempat Archie dan kedua ibunya menginap. Usai berjuang keras mengimbangi skor dengan kedua orang dewasa di atas papan cookie box, anak laki-laki SD itu lelah.

Patra hanya tertawa saat Talia menyarankan Archie agar bocah itu jangan terlalu bersemangat. Terlalu seneng main bikin ngompol pas malem, loh, ucap Talia di awal permainan. Seperti Archie juga pernah ditegur orang tuanya saat mengompol, anak laki-laki itu langsung
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Hestia   Chapter 67 - What Makes A Marriage

    Patra tidak langsung menjawab permintaan Nero malam itu. Ia hanya berdiri di ambang pintu flatnya, memandangi laki-laki yang tampak lebih kecil dari biasanya—bukan secara tubuh, melainkan cara Nero menundukkan kepala seperti seseorang yang kehabisan tempat pulang.Akhirnya Patra bergeser memberi jalan.“Cuma semalam,” ucapnya pelan.Nero mengangguk tanpa banyak bicara. Sepasang matanya masih sembap, dan untuk pertama kalinya Patra tidak melihat kesan menantang di sana.Yang ada hanya lelah.Malam itu mereka tidak melakukan apa-apa. Tidak ada ciuman, tidak ada sentuhan yang menuntut balasan.Nero hanya mandi, meminjam kaus lama Patra, lalu tertidur di sofa dengan tubuh meringkuk seperti anak kecil yang takut jatuh dari tempat tidur.Patra memandanginya cukup lama dari ambang kamar, dan untuk pertama kalinya, ia tidak merasa diinginkan. Ia merasa dibutuhkan.Pagi harinya, Nero pergi sebelum Talia datang menjemput Patra. Hanya meninggalkan satu gelas kopi setengah habis dan pesan singkat

  • Hestia   Chapter 66 - Engagement Talk

    Patra akhirnya memutuskan keluar flat menjelang siang. Demamnya memang sudah turun sedikit setelah tidur dan minum obat, tetapi tubuhnya masih terasa berat seperti dipenuhi pasir basah.Ketika Talia mengirim pesan menanyakan apakah ia mau ditemani makan di apartemen, Patra justru membalas ajakan lain. Ia ingin makan di luar. Sesekali, katanya, biar tidak merasa seperti orang sakit yang terjebak di kamar.Talia datang dua puluh menit kemudian dengan motor dan helm cadangan. Tidak banyak komentar selain menyuruh Patra pakai jaket karena angin siang Jakarta masih cukup menusuk tubuh yang sedang demam.Patra duduk di belakang Talia sepanjang perjalanan. Biasanya ia menjaga jarak, membiarkan tangannya hanya memegang ujung jaket perempuan itu.Hari itu berbeda. Kepalanya bersandar penuh di punggung Talia. Tangannya melingkar pelan di pinggang sang kekasih. Talia sempat menoleh sedikit. “Masih pusing?”Patra mengangguk kecil, dagunya menekan bahu Talia. “Lumayan.” Motor kembali melaju. Talia

  • Hestia   Chapter 65 - The Body Keeps Score

    Patra menatap Nero yang berada di dalam lemari bajunya, cukup lama. Sampai si tamu kebingungan dengan sikap Patra. “Tutup aja,” ucap Nero sambil menyingkirkan tangan Patra yang masih memegang daun pintu lemari ragu. “Sana, pacar lo udah nungguin.”Ketika lemarinya tertutup, Patra berbalik keluar kamar. Ia sempat menoleh sebentar ke Nero yang tetap diam di dalam lemari. Sebelum akhirnya kembali ke lorong menuju meja makan dekat dapur. Baru saja Patra berpikir, haruskah ia membuat bibirnya belepotan sarapan agar Talia tidak curiga, suara ketukan pintu terdengar. Tiga kali. Pelan, tetapi cukup membuat bahu Patra refleks menegang. Di belakangnya, Nero masih bersembunyi di dalam lemari pakaian dengan napas yang bahkan tidak terdengar.“Pat?” suara Talia terdengar dari luar. “Aku masuk, ya?”Patra buru-buru mengusap wajahnya sendiri. Telapak tangannya dingin. Ia melirik sekilas ke arah kamar sebelum membuka pintu flat miliknya sedikit lebih lebar.Talia berdiri sambil membawa tote bag kai

  • Hestia   Chapter 64 - Borrowed Warmth

    Begitu pintu flat tertutup, Patra terkesiap karena Nero langsung menyerbu bibirnya. Melahapnya rakus sampai tuan rumah harus menginjak punggung kaki tamunya. “Gue lagi sakit…!” bentak Patra. Lantas buru-buru mengatupkan mulutnya. ‘Shannon udah … pergi, kan?’ Nero terdiam beberapa detik. Napasnya masih berat, wajahnya terlalu dekat sampai Patra bisa mencium aroma kopi basi dan sabun mandi dari tubuh laki-laki itu.“Gue kangen. Maaf kalau gue lancang ngasih tau lo, kayak begini,” ucap Nero singkat. Tangannya turun dari rahang Patra, tapi tidak sepenuhnya menjauh.Patra mengusap bibirnya kasar. “Lo apaan, sih?”Nero menyandarkan punggung ke pintu kamar Patra yang terbuka, lalu tertawa kecil tanpa rasa bersalah. Menghadap Patra yang duduk kembali melanjutkan sarapannya. “Seberapa sering Shannon curhat kayak tadi sama lo?”Patra memicingkan mata. Kepalanya berdenyut lebih sakit dari tadi pagi. Tubuhnya menggigil bukan karena marah, tetapi karena demam yang dari tadi ia paksa abaikan.Flat

  • Hestia   Chapter 63 - Longing for Language

    Tepat dua hari setelah meninggalkan Nero malam itu, sekaligus usai menuntaskan konfrontasinya pada Athen—Patra demam. Padahal ia sudah bangun dari subuh. Lebih tepatnya pukul dua dini hari. Ketika bersusah payah menenggelamkan otaknya ke alam bawah sadar, Patra tetap terbangun di jam empat. Isi kepala Patra seperti diaduk-aduk bak bubur saat kedua kakinya baru menjejak lantai kamar. Walaupun kedua mata Patra terpejam erat, lalu ia buka—terus dilakukan beberapa kali, sisa sakit masih berdenyut di bagian ubun-ubun dan tempurung belakang. Kedua ibu jari Talia beberapa kali tergelincir ketika mengetikkan pesan di grup whatsapp divisinya. ‘Lho? Kok minta izin, Pak?’ balas Jamal salah satu anak PR di bawah bimbingannya. ‘Kan, biasanya bapak yang kasih izin ke kita wkakka’ sambut bubble chat Bertha. Sisa anggota dalam, group chat itu mendoakannya agar segera sembuh sebelum rapat bulanan dan presentasi daftar klien baru.Setelah mengetik ‘terima kasih untuk pengertiannya’ ke group chat, i

  • Hestia   Chapter 62 - Why Do We Need Kids?

    “Apa lo punya rencana bikin anak sama Talia, Kak?” tanya laki-laki yang sudah membiarkan telunjuknya menari—dengan gerakan spiral di atas lengan Patra. Patra yang masih dalam keadaan polos di balik selimut, bersama tubuh laki-laki tadi, mengernyitkan dahi. Permintaannya untuk tidur sebentar setelah pergulatan panas mereka tidak dihiraukan. Ia justru dijatuhi pertanyaan yang sebenarnya … hanya boleh diketahui Talia dan dirinya. “Kenapa lo pingin tau?” Patra balik bertanya. Hatinya merapal doa agar kedua matanya segera berat, dan tertidur di tengah Nero menjawabnya. Gerakan jemari Nero berhenti, Bukannya menuntaskan dahaga penasaran Patra, tangan Nero satunya lagi menelusup dari cikut ke belakang kepala kekasih mantannya. Tidak lupa bibir Nero yang langsung mencuri kesempatan mengendus ceruk leher Patra. “Gue juga nggak tau, Kak, kenapa nanya begituan, hmh…!” erang Nero di sela kesibukannya membubuhkan kecupan kupu-kupu di dagu, jakun, hidung, pipi, lalu kedua kelopak mata Patra. P

  • Hestia   Chapter 34 - Love Thru Trust

    “Gue susah definisiin situasi lo … maaf ya, gue nggak pernah punya pengalaman sama orang yang nggak terlalu intim—tapi gue bisa bantu lo fokus bersyukur sama keadaan sekarang,” komentar Tashi sambil mengunyah keripik kentang, kudapan Cherry, anak perempuannya yang sedang bermain dengan Archie. Pere

  • Hestia   Chapter 21 - Only Her Can Hear His Sighs

    Sepulang menjemputnya dari kantor, Patra kembali berkunjung ke rumah Artemis. Bukan untuk bertamu. Talia akhirnya memilih menumpang tinggal dan makan di sana. “Aku males harus tebak-tebakan sama diri sendiri—si Polo ada atau nggak di rumah. Mending di sini aja, aku hidup tenang,” cerita Talia samb

  • Hestia   Chapter 7 - Uninvited Guest

    Patra melirik jam tangan baby blue sebelum kembali menghempaskan kembali punggungnya ke kepala sofa lobi kampus. Universitas Moonsheer terlihat sangat sepi di akhir pekan, setidaknya itu yang dikatakan satpam pada Patra. Dikarenakan ia bukan mahasiswa dengan ID card, laki-laki itu tidak bisa naik k

  • Hestia   Chapter 6 - Twenty Minutes of Torture

    Tanpa Patra duga, Talia mengeluarkan sarung tangan plastik dari salah satu laci dekat rak botol-botol cat rambut. “Gue udah ngobrol sama ChatGPT, siapa tau kulit lo termasuk yang sensitif. Tangan gue juga dingin, lama-lama di bawah AC sini dari sia—”“Bukan itu!” Patra reflek menepis sepasang sarun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status