Mag-log inChapter 104 — What Do You Call Home? Sabtu pagi itu, Talia dan Patra berangkat lebih awal dibanding biasanya. Matahari bahkan belum terlalu tinggi ketika mereka sudah duduk berdampingan di atas motor, membawa dua botol minum dan map berisi catatan rumah-rumah kontrakan yang ingin mereka lihat. Sebelum keluar rumah, Patra sempat memotret hampir seluruh sudut hunian vertikal milik Talia. Ia juga membuka folder lama berisi foto-foto apartemen yang sudah lama ia tinggalkan dan menyusun keduanya dalam satu kolase sederhana. “Aku pengin rumah kita nanti ada campuran dua-duanya,” ujar Patra sambil menunjukkan layar ponselnya. “Nggak harus mewah, tapi ada bagian yang ngingetin aku sama kamu.” Talia memperhatikan kolase itu cukup lama. Lalu ia mengangguk pelan sambil menyimpan ponsel Patra ke tas kecilnya agar tidak jatuh selama perjalanan. Daerah pertama yang mereka datangi berada di Petojo Utara. Rumahnya cukup besar, bahkan dari luar saja Patra sudah bisa melihat halaman depan yang mam
Patra tidak menyangka dirinya benar-benar datang ke kantor pusat Intimate Beauty seminggu kemudian. Padahal saat Nero mengajaknya ikut rapat desain kemasan, ia sempat berpikir untuk menolak dan pura-pura sibuk. Namun, Odi yang terlalu antusias justru mendaftarkan nama Patra sebagai konsultan copywriting tambahan tanpa meminta izin lebih dulu.“Kalau nanti mereka butuh jasa agensi kita, lumayan,” ujar Odi pagi itu sambil menyodorkan kopi. Patra hanya mendesah panjang sebelum menerima gelas kertas tersebut. Semakin hari, ia merasa Odi memiliki bakat alami untuk menyeret orang lain ke situasi yang tidak mereka inginkan.Gedung Intimate Beauty terlihat lebih ramai dibandingkan biasanya. Banyak karyawan berlalu-lalang dengan tote bag berisi sampel produk baru. Di beberapa sudut bahkan terlihat meja-meja display yang dipenuhi sabun batang, body wash, dan rangkaian sampo yang belum resmi diluncurkan.Nero berjalan beberapa langkah di depan Patra. Sesekali laki-laki itu menyapa orang-orang ya
Masih berada di kamar mandi lantai dua Salon Hestia, Talia mulai menceritakan ada salah satu karyawan laki-laki yang hobi cross-dressing yang suka meminta tolong padanya untuk mengepang rambut. Rambut laki-laki itu bahkan lebih panjang dibandingkan milik Talia, menjuntai hampir menyentuh bagian belakang lututnya. Patra yang masih duduk di dalam bathub mengangkat alis sambil membilas busa di lengannya.“Dia divisi operasional juga?” tanya Patra penasaran. Air hangat yang mulai mendingin membuat tubuhnya sedikit menggigil. Namun, perhatian laki-laki itu sudah teralihkan sepenuhnya ke cerita Talia.Talia menggeleng pelan. Ia sedang membilas sisa sampo dari rambut Patra yang mengambang di permukaan air. “Marketing sama partnership. Duduknya deket sama tim yang sering rapat sama aku.”“Terus kenapa tiba-tiba cerita dia?”“Soalnya Stella bikin hidup dia susah.”Patra langsung diam. Nama itu lagi.Talia menghela napas panjang sambil memeras handuk kecil. “Setiap rapat partnership, Stella sel
Talia menggelar tikar lipat di lantai salon setelah seluruh lampu depan dimatikan. Hanya tersisa cahaya kuning hangat dari ruang staf yang memantul di kaca-kaca besar dan cermin yang berjajar sepanjang dinding. Di atas tikar itu, ia memasang dua kasur angin yang ukurannya nyaris membuat mereka harus tidur saling bersentuhan.Perempuan itu berdiri cukup lama sambil memandangi hasil kerjanya sendiri. Jarak antara dua bantal terasa terlalu dekat untuk disebut kebetulan. Jarak itu juga terlalu jauh untuk disebut pasangan yang sedang belajar hidup bersama.“Tal!”Suara Patra menggema dari kamar mandi. Talia langsung menoleh dan mendapati pintu kamar mandi terbuka sedikit. Ujung rambut Patra yang basah bahkan sempat muncul dari balik celah pintu.“Apa?”“Tolong keramasin aku.”Talia berkedip beberapa kali. Permintaan itu terdengar begitu biasa dari mulut Patra akhir-akhir ini. Namun, setiap kali mendengarnya, tetap ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa gugup.“Aku masuk, ya?”“Masuk aj
Patra sudah duduk hampir dua puluh menit di kafe dekat kantor Talia ketika barista memanggil nomor pesanannya. Hari itu mereka berencana mampir ke salon cabang tempat Jose dan Ifa bekerja karena Talia ingin mengecek rekap pekerjaan dua karyawannya. Setidaknya sebelum akhir bulan. Patra menunggu tunangannya selesai meeting, sambil membuka laptop dan mencoba merapikan proposal kelas storytelling yang baru saja ia bahas bersama Artemis.Bel pintu kafe berdenting pelan ketika seseorang masuk dan langsung menuju kasir. Patra tidak terlalu memperhatikan sampai suara perempuan itu terdengar memesan kopi dengan nada yang familiar. Patra mendongak dan mendapati Stella berdiri beberapa meter darinya dengan pakaian kantor yang masih rapi.Stella juga melihatnya. “Eh, Kak Patra,” sapanya sambil tersenyum tipis dan membawa kopinya ke meja Patra tanpa benar-benar meminta izin. Patra menutup laptopnya dan membalas senyum sopan. “Lagi nunggu Talia?”“Iya,” jawab Patra singkat. “Katanya bentar lag
Patra hampir menolak ajakan Artemis ketika pesan itu masuk menjelang siang. Hari itu jadwalnya cukup padat karena dua editor sedang meminta revisi naskah dan satu klien baru ingin melakukan konsultasi dadakan mengenai konsep buku memoir bisnisnya. Namun, kalimat terakhir yang dikirim Artemis berhasil membuat rasa penasaran Patra menang. "Ada tiga orang yang mungkin bisa bantu bisnis lo berkembang." Karena itulah, dua jam kemudian Patra sudah duduk di sebuah restoran kecil yang menempel pada kompleks studio tempat Artemis biasa bekerja. Tangannya sibuk membolak-balik menu, sementara Artemis duduk di depannya dengan ekspresi puas seperti seseorang yang sedang menyembunyikan kejutan. "Gue benci ekspresi muka lo." Artemis tertawa kecil. "Padahal gue belum ngomong apa-apa." "Itu masalahnya." Artemis baru akan membalas ketika tiga orang lain menghampiri meja mereka. Seorang perempuan berhijab dengan kacamata bulat, seorang perempuan berambut pendek sebahu, dan seorang lagi yang membaw
Begitu pintu flat tertutup, Patra terkesiap karena Nero langsung menyerbu bibirnya. Melahapnya rakus sampai tuan rumah harus menginjak punggung kaki tamunya. “Gue lagi sakit…!” bentak Patra. Lantas buru-buru mengatupkan mulutnya. ‘Shannon udah … pergi, kan?’ Nero terdiam beberapa detik. Napasnya m
Patra melempar tatapan judes sebelum akhirnya merangsek masuk ke dalam kamar Nero. “Kan, lo bikin diri sendiri jadi jomblo, udah bener tanggepin aja cewek-cowok yang suka sama lo.” Suara pintu berdebum di belakang Patra. Tidak ada suara langkah mendekat, tetapi tangan yang menelusup dari leher ke b
Tiga minggu berlalu, sejak Boris kedatangan keluarga besar di rumah vertikal yang ia kelola. Boris sibuk membuka cabang lainnya di wilayah-wilayah dekat spot perkantoran, ditemani Tashi dan Cherry beserta babysitternya. Patra dan tamu-tamu lain pun memiliki kesempatan untuk menjenguk keluarga mere
Setelah satu kali Patra membiarkan Nero melewati batas yang selama ini ia bangun, setiap porsi pekerjaan utamanya berkurang—kepala divisi PR sebuah agensi itu akan kembali bekerja di kafe. Tidak lupa, Patra mengecek dulu apakah Shannon meninggalkan ruang divisi. Ia tidak ingin mereka kembali berpap







