Share

Bab 2 : Pertemuan Dua Keluarga

Seorang laki-laki dengan kemeja tangan panjang yang ia gulung sampai sikut, melenggang masuk ke dalam sebuah rumah besar yang di dalamnya hanya di huni oleh dirinya dan sang papah. Laki-laki itu adalah Reyvan Anggara, seorang dosen di kampus negeri ternama di kota Bandung. Usianya hampir menginjak kepala tiga, tapi ia belum memikirkan soal pernikahan.

“Papah udah punya calon istri untuk kamu, Rey!” Pernyataan sang papah siang itu bagaikan petir di siang bolong. Reyvan yang baru saja pulang mengajar dari kampusnya, tersentak tidak percaya mendengar pernyataan papahnya barusan. Tiba-tiba kepalanya berdenyut nyeri mendengar ucapan papahnya itu.

“Aku belum mau menikah, Pah,” ucap Reyvan mengelak. Ia menghempaskan tubuhnya kasar di atas sofa yang berada di ruang tamu.

“Apa lagi yang kamu tunggu, Rey?” tanya Reza Baskara—papah Reyvan.

Reyvan terdiam. Entah apa lagi yang membuatnya enggan menikah. Ia mempunyai pekerjaan yang mapan karena karier di kampusnya sangat bagus. Apabila ia sudah tidak ingin menjadi dosen, ia bahkan bisa mengurus Resort papahnya yang berada di Bali.

“Udah lama Papah ingin kamu belajar mengurus Resort di Bali, tapi kamu selalu menolak,” kata Reza menatap wajah anaknya yang terdiam, “tapi kamu malah memilih bekerja sebagai seorang dosen, yang Papah tau gajinya kecil jika dibandingkan kamu bekerja di Resort. Itu Resort keluarga kita, Rey. Kalau bukan kamu yang mengurusnya, lantas siapa lagi? Anak Papah ‘kan cuma kamu. Andaikan Papah punya anak laki-laki lain!” cerocosnya lagi.

“Kalau begitu, Papah menikah lagi saja untuk mendapatkan anak laki-laki lain,” ucap Reyvan datar. Ia melonggarkan dasi yang masih melingkar di lehernya yang terasa mencekik saat sang papah membicarakan soal pernikahan.

“Kamu ngomong apa? Walaupun mamah kamu sudah lama meninggalkan kita, tapi Papah tidak berniat menikah lagi dari dulu. Papah ini tipe suami setia.”

“Kalau begitu, jangan paksa aku untuk bekerja di Resort Papah! Aku mau menjadi orang sukses atas usahaku sendiri. Bukan karena ada Papah di belakang aku!” ujar Reyvan kesal. Sudah berapa kali papahnya itu membahas hal yang sama, dan jawaban Reyvani tetap tidak. Ia tidak mau berdiri di belakang nama besar papahnya itu—Reza Baskara, pemilik beberapa Resort yang tersebar di Indonesia. Dan Resort yang kini sedang ia kembangkan berada di Bali. Reza ingin putranya mengurusi Resort itu karena usianya sudah tidak muda lagi untuk bolak-balik Bandung-Bali. Ia ingin Reyvan menetap di Bali untuk mengurusi Resort-nya

“Kamu ini bodoh atau apa, sih?” tanya Reza, ia memicingkan matanya di balik kaca mata yang ia pakai, “banyak orang yang menginginkan berada di posisi kamu, tapi kamu malah menyia-nyiakan kesempatan ini,” lanjutnya lagi sambil menggelengkan kepala, heran dengan pemikiran anaknya sendiri.

“Aku udah bosen bahas hal ini sama Papah,” ujar Reyvan sambil menghela napas berat, ”soal perjodohan tadi, anak gadis mana yang mau Papah tumbalin untuk memperbesar Resort Papah?” sarkasnya. Reyvan menyadari obsesi papahnya yang ingin membuat Resort miliknya semakin besar dan banyak lagi.

“Hahaha ….” Reza tertawa kencang. “Papah lakukan semua ini untuk kamu juga, Rey. Untuk kelangsungan hidup kamu ke depannya.”

Mata Reyvan melebar seketika. “Papah lakukan semua ini demi memuaskan obsesi Papah, bukan semata-mata untuk kebahagiaan aku,” ujarnya datar.

Reza terkekeh kecil. “Suatu hari nanti kamu pasti akan berterimakasih pada Papah.”

Reyvan menghela napas panjang. “Siapa perempuan yang mau Papah jodohin sama aku?” tanyanya kemudian.

Reza mengeluarkan selembar foto dari dalam saku jas yang dipakainya lalu melemparkannya ke atas meja, tepat di depan putra semata wayangnya itu.

Reyvan melihat sekilas perempuan yang ada di dalam foto tersebut. Seorang gadis berambut panjang dengan seragam putih abu-abunya yang sedang menatap kamera dengan garis bibirnya yang melengkung ke atas.

“Ya Tuhan, apa gadis ini masih sekolah, Pah?” tanya Reyvan tidak percaya. Tidak percaya karena papahnya menyodorkan perempuan yang masih belia untuk menjadi istrinya.

Reza buru-buru menggeleng. “Gadis itu baru saja lulus dari bangku SMA. Dia adalah mahasiswi baru jurusan Psikologi di kampus kamu,” katanya menjelaskan.

“Yang benar saja, Pah? Kenapa aku harus menikahi gadis di bawah umur seperti dia?” tanya Reyvan tidak percaya.

“Papah dan papih gadis itu menjalin kerja sama sekarang. Perusahaan papihnya yang bergerak di bidang property akan sangat menguntungkan untuk perusahaan kita apabila kedua perusahaan kami bergabung. Agar saling percaya, maka kami sudah memutuskan untuk menikahkan anak-anak kami. Karena anak Papah cuma kamu, jadi kamu lah yang harus menikahinya,” kata Reza menjelaskan

Reyvan menggelengkan kepalanya tidak percaya. Apa jadinya nanti jika menjalani sebuah pernikahan karena obsesi kedua orang tua mereka?

“Tapi tidak dengan gadis di bawah umur, Pah! Gadis itu bahkan cocoknya menjadi adikku, bukan istriku!” Reyvan menentang keras. Ia takut terkena pasal asusila karena menikahi gadis di bawah umur walaupun umur gadis itu menginjak dua puluh tahun. Tapi tetap saja Reyvan merasa gadis itu masih di bawah umur.

Reza menghela napas panjang, mencoba untuk tetap tenang menghadapi sifat keras kepala anaknya. Sifat keras kepala putranya memang diturunkan darinya.

“Sekeras apapun kamu menolak, pernikahan kalian akan tetap dilaksanakan dua bulan lagi, Rey. Jadi, cobalah membuka hati untuk gadis itu. Masih ada waktu dua bulan untuk kalian saling mengenal. Cinta akan datang karena terbiasa. Apalagi kamu akan sering bertemu gadis itu karena kalian satu kampus. Tidak akan sulit untuk kalian jatuh cinta,” tekad Reza, ia bangkit dari duduknya. “Bersiaplah, nanti malam kita akan pergi ke rumah gadis itu agar kalian saling mengenal satu sama lain,” lanjutnya lagi sambil melangkah pergi keluar dari ruang tamu menuju ruang kerjanya di lantai atas.

Reyvan menghembuskan napas frustasi, tiba-tiba dadanya terasa sesak. Ia sudah tidak bisa menolak perjodohan itu. Perintah sang papah adalah hal yang mutlak, yang tidak bisa ia langgar seenaknya. Papahnya adalah sosok yang keras kepala, seperti dirinya. Sifat keras kepala yang dimiliki Reyvan memang diturunkan oleh papahnya. Jadi akan sia-sia saja jika Reyvan mencoba membantah dengan cara apapun.

***

Sesuai dengan yang dijanjikan, malam ini kedua keluarga akan bertemu. Mereka akan mempertemukan kedua anak mereka untuk pertama kalinya agar saling mengenal. Masih ada waktu dua bulan sebelum hari pernikahan dilaksanakan.

Alia tengah mematut di depan cermin besar yang terletak di sudut kamarnya. Ia sedang memperhatikan penampilannya yang sangat cantik malam ini. Melati sengaja mendatangkan MUA alias make up artis untuk meng-make over anak gadisnya.

“Kamu cantik banget, Al!” seru Melati, ia sudah berada di kamar Alia sejak beberapa menit yang lalu sambil menatap kagum ke arah anak gadisnya.

“Apa ini nggak terlalu berlebihan, Mih?” tanya Alia masih memperhatikan riasan di wajahnya. Malam ini ‘kan hanya perkenalan saja, bukan lamaran apalagi pernikahan. Kenapa dirinya harus berdandan seheboh ini? ‘Mamih lebay!’ pikirnya.

“Memangnya kenapa, Al?” tanya Melati tidak mengerti.

“Kenapa Alia harus dandan segala, Mih? Malam ini hanya perkenalan aja, kan?” heran Alia.

“Iya, malam ini hanya perkenalan kamu sama calon suami kamu aja. Kamu berdandan begini agar calon suami kamu terpesona pada pandangan pertama, Al ...” ujar Melati sambil tertawa kecil. Lagu kali ah!

Alia mencebikkan bibirnya. Padahal ia berharap kalau calon suaminya itu akan merasa illfeel saat melihat dirinya tampil kucel bin kumel. Tapi kalau ia berdandan cantik seperti ini, laki-laki mana yang sanggup menolak pesona kecantikan dirinya?

‘Bisa gawat, nih!’ batin Alia bergejolak.

“Al,” panggil Bagas sambil melongokkan sedikit kepalanya dari balik pintu kamar Alia.

Alia menengok ke arah sang papih, “Iya, Pih.”

“Kamu udah siap belum?” tanya Bagas masih berdiri di ambang pintu kamar Alia.

“Udah, Pih.”

“Kalau gitu, ayo keluar. Keluarga calon suami kamu udah datang,” ujar Bagas memberi tahu.

“Eh ... iya, Pih. Sebentar lagi Alia keluar sama Mamih,” sahut Alia. Mendengar calon suaminya itu sudah datang membuat jantung Alia berdetak sangat kencang tidak karuan. Ia meremas kedua tangannya gugup.

“Jangan gugup ya, Al. kalau nanti ternyata kamu merasa nggak cocok, kamu boleh menolak perjodohan ini. Pasti papih akan mengerti dan nggak akan maksa kamu,” kata Melati mengusap punggung Alia pelan, “yuk, kita keluar!” ajaknya sambil menggandeng tangan Alia untuk segera keluar dari kamar.

Alia keluar kamar dengan di gandeng oleh Melati. Malam ini ia memakai dress lengan panjang dengan kerah agak pendek untuk sedikit menonjolkan dadanya yg rata. Panjang dress itu hanya sebatas lututnya sehingga menampilkan kakinya yang jenjang. Di usianya yang belum genap dua puluh tahun, tinggi badannya sudah mencapai 167 cm. Ia mewarisi gen tinggi dari sang papih.

Alia menuruni anak tangga satu persatu dengan hati-hati. Semakin mendekati ruang tamu, jantungnya semakin cepat berdetak. Ia pun penasaran, seperti apa rupa dari calon suaminya. Semoga laki-laki itu berparas buruk rupa agar Alia bisa dengan berani menolak pernikahan mereka.

“Duduk sini, Al,” kata Bagas sambil menepuk sofa di sebelah kanan dirinya duduk saat Alia tiba di ruang tamu.

Alia duduk di samping papihnya dan Melati duduk di samping kiri Alia. Ia menundukkan kepalanya, belum mau menatap sang calon suami.

“Ini anak saya, Pak Reza. Namanya Aliandra Cessa, biasa dipanggil Alia,” ucap Bagas memperkenalkan putrinya.

“Halo, Alia ...” sapa Reza ramah pada calon menantunya.

“Halo juga, Om,” balas Alia, ia memberanikan diri mengangkat kepalanya dengan menyunggingkan senyum lebar. Seketika tatapannya bertemu dengan tatapan calon suaminya yang ternyata dari tadi sedang memandanginya juga.

Alia langsung memalingkan muka. ‘Ganteng juga,’ batinnya.

“Alia, ini anak Om. Namanya Reyvan Anggara. Reyvan ini dosen di kampus kamu, lho,” kata Reza yang seketika membuat Alia tercengang.

‘Apa? Jadi calon suami gue ini dosen di kampus? Gawat, bisa ketemu tiap hari dong!’ tanpa sadar Alia menepuk jidatnya sendiri. Refleks.

“Kenapa, Al?” tanya Reza heran saat melihat calon menantunya menepuk jidatnya sendiri.

“Eh ... nggak, Om. Ta—tadi ada nyamuk di kening aku kayanya,” kilah Alia terbata.

“Oh,” Reza tertawa kecil.

Alia kembali menundukkan kepalanya. Sesekali ia mencuri pandang ke arah Reyvan yang sedang asik berbincang dengan kedua orang tuanya.

Menurut Alia, Reyvan adalah paket sempurna. Tampan dan gagah. Perawakannya yang tinggi beberapa inci dari tubuhnya. Bulu-bulu tipis terlihat menghiasai dagunya yang putih dan bersih. Tubuhnya yang kekar dibalut kemeja warna Navy yang dipadu padankan dengan celana panjang warna putih. Wajahnya tampan dengan alis tebal yang membingkai wajahnya. Garis rahang yang tegas dengan bibir tipis yang merah alami. Dari bibirnya saja ia tahu jika Reyvan tidak merokok. Hal itu bisa dilihat dari warna merah di bibirnya. Dan yang paling penting adalah wajah tampan Reyvan seperti Oppa-Oppa Korea—Lee Min Hoo, aktor favorit Alia.

Setelah satu jam berbincang di ruang tamu, waktunya makan malam tiba. Mereka duduk di ruang makan dengan hening. Kebiasaan dari kedua keluarga bahwa tidak boleh berbicara ketika sedang makan. Makanan yang disajikan oleh keluarga Alia adalah nasi kebuli kesukaan Reza lengkap dengan lauk pauk pendukungnya. Melati sengaja memesan nasi kebuli di Restauran langganannya yang menyediakan makanan itu untuk menjamu calon besannya.

Setelah acara makan malam selesai, waktunya acara santai. Para orang tua yang terdiri dari Melati, Bagas, dan Reza bercengkrama di ruang tamu. Sedangkan Alia dan Reyvan sedang berada di taman belakang yang terdapat kolam renang di sana.

Alia melepaskan sepatu heels yang ia pakai dari tadi, kemudian ia duduk di tepian kolam renang dengan menceburkan kedua kakinya ke dalam sana. Ia merasa kikuk, tidak tahu harus memulai obrolan dari mana dengan calon suaminya.

Alia memainkan kedua kakinya, mengangkatnya ke atas ke bawah silih bergantian untuk menghalau rasa gugupnya.

“Al,” panggil Reyvan.

Alia yang merasa namanya dipanggil, segera menoleh. “Iya.”

Reyvan mendekati Alia di tepi kolam renang, membuka sepatu pantofelnya, menggulung celana putihnya sedikit kemudian ikut menceburkan kedua kakinya.

Kini mereka duduk berdampingan yang membuat jantung Alia semakin berdetak kencang. Padahal dirinya tadi sudah bisa mengontrol jantungnya yang bertalu-talu seperti mau keluar dari tempatnya. Aroma tubuh maskulin dengan parfume Burgary menggelitik indera penciumannya yang menguar dari tubuh Reyvan. Untuk sesaat, ia merasa nyaman berdekatan dengan calon suaminya itu.

“Al, kenapa kamu mau menerima perjodohan ini?” tanya Reyvan to the poin, tanpa basa-basi terlebih dahulu. Dirinya heran, kenapa gadis seusia Alia yang notabenenya masih ingin merasakan masa remajanya dengan suka rela mau menerima sebuah perjodohan dengan laki-laki yang belum dikenalnya bahkan dengan rentang usia yang cukup berbeda jauh?!

Alia menunduk, ia tidah berani bersitatap dengan Reyvan dalam jarak sedekat ini. Ia terlihat menghembuskan napas panjang. “Aku ingin bikin mamih dan papih bahagia,” jawabnya dengan singkat.

“Hanya itu?” tanya Reyvan tidak percaya.

Alia mengangguk. “Kalau perjodohan ini bisa bikin kedua orang tua kita bahagia, kenapa nggak?!” ujarnya sepenuh hati. Ia sudah merelakan masa remajanya untuk repot mengurusi ‘om-om’ itu nantinya.

“Umur kita berbeda jauh, Al. Kamu tau, kan?” tanya Reyvan lagi.

“Nggak masalah, aku akan belajar jadi istri yang baik buat Om,” sahut Alia.

“Apa? Om?” Reyvan membulatkan kedua matanya. “Kamu panggil saya Om?”

“Maaf, aku bingung harus panggil Pak dosen dengan sebutan apa,” ujar Alia lirih.

Reyvan menatap Alia yang masih betah menunduk dari samping. “Saya seperti akan menikahi seorang anak kecil,” dengusnya pelan, namun masih bisa didengar oleh Alia yang duduk di sampingnya.

Dari kejahuan, terlihat para orang tua sedang mengintip anak-anaknya dari balik jendela ruang keluarga yang terhubung langsung ke taman belakang. Mereka bahagia kalau kedua anak mereka akhirnya merasa cocok satu sama lain.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status