Share

Dasar Bocah

Author: Money Angel
last update publish date: 2026-05-31 16:50:30

Tatapan Evelyn bergeser pada Ethan selama beberapa detik. Dan anehnya… anak kecil itu tetap diam tanpa membantah sedikit pun.

“Namun,” Evelyn memotong keheningan dengan nada tenang, “aku juga sudah mengatakan bahwa Ethan tetap salah karena merusak fasilitas kelas dan menggunakan kekerasan. Di Arden Hall, semua anak tetap akan ditegur jika terbukti bersalah. Termasuk Ethan Starling.”

Alexander, yang sejak tadi diam mengamati dari ambang pintu, akhirnya sedikit mengangkat alis tipisnya. Tatapan tajam sang CEO jatuh pada Evelyn beberapa detik lebih lama, menilai keberanian wanita itu yang tidak pandang bulu dalam menegakkan aturan di sekolahnya sendiri.

Sementara itu, Nathaniel perlahan mulai memahami situasinya. Wanita di hadapannya ini benar-benar tidak sedang berusaha menjilat Sterling Global demi keuntungan finansial. 

Dia memang berdiri di atas fakta, dan justru objektivitas yang dingin itulah yang membuatnya menjadi sosok yang teramat sulit dilawan.

“Kak,” Nathaniel akhirnya membuka suara pelan, mencoba meredam suasana.

Sonya Carter langsung menoleh dengan wajah kesal, “Apalagi, Nathaniel?”

“Sudahlah.”

“Apa maksudmu sudahlah?! Putraku diperlakukan tidak adil di sini!”

Nathaniel menghela napas tipis. Tatapannya sekilas bergerak pada Alexander Sterling yang masih berdiri diam dengan aura dingin yang sanggup menekan atmosfer seluruh ruangan. Pria itu kemudian kembali menatap kakaknya, “Liam memang yang memulai kekacauan ini lebih dulu.”

“Kau membela mereka sekarang?” Sonya menatap adiknya dengan pandangan tidak percaya.

“Aku membela logika.” Jawaban Nathaniel terdengar tenang, namun bobot kata-katanya cukup membuat kakaknya terdiam seketika.

Pria itu lalu merendahkan suaranya sedikit, mengikis jarak agar hanya terdengar oleh Sonya, “Dan berurusan dengan Sterling Global hanya karena pertengkaran anak-anak bukanlah sebuah keputusan yang cerdas. Baik keluarga kita atau kakak ipar, semuanya akan merasakan akibat buruknya jika pria itu bertindak.”

Kalimat itu langsung membuat ekspresi Sonya Carter berubah drastis. Kebongakan dan amarahnya mendadak surut, digantikan oleh rasa ngeri yang samar. 

Bagaimanapun, semua orang di Silvercrest City tahu satu hukum tidak tertulis bahwa Sterling Global bukanlah keluarga yang bisa dicari masalahnya secara sembarangan, apalagi hanya demi mempertahankan ego harga diri yang terluka.

Nathaniel kembali menatap Liam yang masih sesenggukan, “Minta maaflah.”

“Apa?!”

“Sekarang, Liam.”

Liam tampak sangat tidak rela. Namun, melihat perubahan wajah ibunya yang memucat dan mendengar nada bicara pamannya yang tidak bisa dibantah, anak kecil itu akhirnya menunduk kesal.

“Hmm… Maaf.”

Ethan diam selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pendek tanpa minat, “Hm.”

Itu bahkan tidak bisa disebut sebagai jawaban maaf yang sungguhan. Namun, setidaknya hal tersebut sudah cukup untuk membuat situasi yang semula tegang menjadi mereda.

Evelyn hampir terkekeh melihat ekspresi kesal Liam dan wajah Ethan yang tetap sedingin batu. 'Hah… dasar bocah,' batinnya geli.

Namun, saat Evelyn hendak menyudahi pertemuan itu dan menyuruh semua orang keluar, jemari kecil Ethan kembali menarik ujung coat putih tulangnya dengan gerakan pelan.

Evelyn menunduk, menatap bocah itu, “Apa lagi?”

Ethan menatapnya datar tanpa rasa bersalah sedikit pun, “Dia tidak tulus.”

Hening sepersekian detik. Nathaniel terpaksa berdehem demi menahan tawa yang nyaris sembur melihat kepolosan Ethan yang terlalu jujur. Sementara Alexander, untuk pertama kalinya hari itu, benar-benar terlihat hampir menyunggingkan senyuman tipis.

Namun, ekspresi mikro itu menghilang dengan cepat saat Alexander menatap putranya lagi, “Ethan…” Nada suaranya rendah dan penuh peringatan, “Kita pulang.”

Anak kecil itu langsung menoleh pada ayahnya, “Tapi dia memang tidak tulus, Papa.”

“Ethan.” Kali ini nada bicara Alexander sedikit lebih tegas. Dan seperti biasa, Ethan akhirnya memilih diam.

Evelyn memperhatikan interaksi unik antara ayah dan anak itu sambil menyandarkan tubuhnya dengan santai ke tepian meja kerja. 

Entah kenapa, melihat Ethan yang berkepribadian keras kepala namun langsung patuh pada Alexander terasa sedikit lucu baginya. Setidaknya masih ada satu orang di dunia ini yang bisa mengendalikan anak aneh itu.

Alexander kembali menatap Liam dan keluarganya singkat sebelum akhirnya angkat bicara dengan nada tenang yang otomatis mengunci pergerakan di dalam ruangan.

“Masalah anak-anak sudah selesai,” ucapnya dengan intonasi bariton yang datar namun mutlak, cukup untuk membuat semua orang menutup mulut. Tatapan dingin CEO Sterling Global itu menyapu seluruh ruangan sekali lagi, “Tidak perlu dibesar-besarkan.”

Nathaniel langsung mengangguk kecil, sangat memahami arah pembicaraan dan peringatan terselubung dari pria berkuasa itu. Sementara kakaknya, Sonya, akhirnya memilih bungkam seribu bahasa walau raut wajahnya masih menampakkan ketidakrelaan yang mendalam.

Alexander kemudian melirik Ethan lagi, “Ucapkan selesai.”

Ethan tampak tidak suka, namun beberapa detik kemudian ia tetap menjawab pendek, “…Selesai.”

“Bagus.”

Suasana ruangan akhirnya benar-benar mereda. Para guru dan staf administrasi yang berdiri di sudut ruangan diam-diam ingin menangis lega karena drama menegangkan hari ini akhirnya berakhir tanpa memicu perang terbuka antar-keluarga konglomerat.

Alexander berbalik pelan, bersiap membawa Ethan keluar dari kantor. Namun, sebelum mereka benar-benar melangkah pergi, Nathaniel tiba-tiba mengambil inisiatif maju dan mendekati meja Evelyn.

“Aku masih sulit percaya…” pria itu tersenyum tipis, matanya menatap Evelyn dengan binar rumit. “Kita bisa bertemu lagi dalam situasi seperti ini.”

Evelyn hanya menatapnya datar. Jujur saja, jiwa Scarlett di dalam raga ini sama sekali tidak tertarik dengan romansa masa lalu maupun nostalgia cinta monyet milik Evelyn Ashford. Pria di depannya ini terlalu lambat menyadari perubahan situasi.

Namun, Nathaniel tampaknya belum menyerah untuk mencari perhatiannya, “Eve…”

Panggilan intim dari masa lalu itu membuat langkah kaki Alexander Sterling terhenti sepersekian detik tepat di dekat pintu. Tatapan mata sang CEO tidak berubah, namun pendengarannya yang tajam jelas menangkap segalanya dengan sempurna.

Nathaniel berdiri sedikit lebih dekat ke arah Evelyn. Nada suaranya melembut, sangat kontras jika dibandingkan dengan ketegangannya saat berhadapan dengan Alexander tadi. 

“Bisa kita bicara berdua? Di luar atau di tempat yang lebih nyaman, mungkin?”

Tatapan mata Evelyn langsung berubah tipis, dipenuhi kilat rasa malas yang teramat kentara.

Sementara Nathaniel terus melanjutkan dengan suara yang kian rendah, “Kurasa kita memang harus bicara tentang… hari itu.”

Hening singkat melingkupi ruangan, dan entah kenapa, udara di sekitar mereka mendadak berubah menjadi lebih pekat. Alexander masih berdiri membelakangi mereka bersama Ethan. 

Namun, entah mengapa sejak melangkah masuk ke ruangan ini, pria tersebut mulai benar-benar memperhatikan eksistensi seorang Nathaniel Carter, pria yang bahkan di setiap pertemuan asosiasi pengusaha selalu diabaikan oleh radarnya. Lebih tepatnya, Alexander memperhatikan cara pria itu memandang Evelyn. 

Sebuah tatapan yang terlalu familiar, terlalu pribadi, dan cukup jelas menunjukkan bahwa lembaran sejarah di antara mereka tidak sesederhana hubungan kenalan biasa.

Sementara itu, Ethan yang berdiri di samping Alexander justru langsung memeluk kaki ayahnya pelan sembari menatap Nathaniel dengan wajah dingin kecilnya.

“Aku tidak suka dia.”

Alexander menunduk singkat pada putranya. Lalu, tanpa sadar, tatapannya kembali bergerak ke arah Evelyn dan Nathaniel sekali lagi.

“Lalu?” tanya Alexander pelan.

Mendengar respons ayahnya, tangan kecil Ethan tiba-tiba mengendur dari kaki Alexander. Bocah itu justru kembali melangkah mendekati Evelyn dan dengan sigap mencengkeram ujung coat wanita itu lagi.

Seluruh pasang mata di dalam ruangan otomatis menoleh tak percaya.

Evelyn menunduk, menghela napas lelah, “Kenapa lagi, Ethan?”

Ethan menatap wanita itu selama beberapa detik, lalu berkata dengan intonasi datar tanpa beban, “Aku tidak mau pulang. Aku mau di sini.”

Para guru yang menyaksikan hal itu langsung terperangah dengan mulut setengah terbuka. Evelyn memejamkan matanya sesaat, mencoba mengumpulkan sisa kesabarannya, “Tidak.”

“Aku akan diam,” jawab Ethan langsung, mencoba bernegosiasi.

“Tidak.”

“Aku tidak akan merusak apa pun,” anak itu mulai menawar lagi.

“Tidak.”

“Aku bisa duduk di pojok ruangan saja.” Lagi-lagi tawaran meluncur dari bibir kecilnya.

“Tidak.”

Ethan tetap teguh tidak melepaskan cengkeramannya pada coat Evelyn, dan Evelyn mulai merasakan denyut sakit kepala yang nyata menjalar di pelipisnya.

Sementara itu, Nathaniel dan kakaknya, Sonya, melongo hebat melihat pemandangan ajaib tersebut. Karena seorang Ethan Sterling—bocah yang terkenal anti-sosial dan membenci interaksi dengan orang asing, saat ini sedang memohon secara terang-terangan. 

Meski tentu saja, itu adalah versi memohon yang dingin khas miliknya sendiri.

Saat itulah, suara berat Alexander akhirnya kembali terdengar dari arah belakang, “Ethan.”

Semua orang menoleh ke arah CEO Sterling Global yang berdiri tegap di ambang pintu. Tatapannya jatuh lurus pada tangan kecil Ethan yang masih mencengkeram erat pakaian Evelyn, lalu beralih pada wajah Scarlett sendiri, dan terakhir mengunci sosok Nathaniel Carter. 

Alexander tidak mengatakan kalimat ancaman apa pun, namun entah kenapa suhu di dalam ruangan itu mendadak terasa turun beberapa derajat.

“Aku tidak mau pulang, Papa,” Ethan mengulang kalimatnya dengan keras kepala.

Alexander mengangkat sebelah alisnya, “Lalu?”

“Aku mau pindah.”

“Pindah ke mana?”

Ethan mengangkat tangan kecilnya, menunjuk tanpa ragu, “Ke ruangan ini.”

Semua orang kembali terperanjat mendengar kepolosan yang ekstrem itu, termasuk Evelyn sendiri.

“Mustahil,” sangkal Evelyn cepat, “ini adalah ruang kerjaku.”

“Aku bisa jadi patung di sini.”

“Tetap tidak boleh.”

Alexander memperhatikan perdebatan kecil itu selama beberapa detik. Lalu, sudut bibir tipisnya bergerak membentuk senyuman misterius yang teramat samar, nyaris tidak terlihat jika tidak diperhatikan dengan saksama.

“Menurutku, itu adalah ide yang buruk,” ucap Alexander.

Evelyn langsung mengangguk setuju, merasa mendapat sekutu, “Terima kasih, Tuan Sterling. Akhirnya ada satu orang normal yang berpikir logis di ruangan ini.”

Namun, kalimat Alexander berikutnya yang meluncur dengan santai langsung membuat kepala Evelyn menoleh patah-patah, “Tapi, kemungkinan besar dia akan tetap datang mencarimu besok.”

Ethan mengangguk penuh semangat setuju dengan ucapan ayahnya, lalu mendongak menatap Evelyn, “Boleh aku ikut denganmu, Mama?”

Boom!!!

Dan saat itu juga, Evelyn benar-benar merasa ingin mengusir seluruh anggota keluarga Sterling sekaligus dari wilayah sekolahnya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Hanya Aku Yang Hancur

    Alexander tertawa renyah mendengarnya. "Anak pintar! Paman memang yang paling tampan... setidaknya di mata istri Paman." Pikiran Alexander mendadak terlempar pada ingatan masa lalu. Suara Evelyn kembali terngiang di kepalanya. ‘Suamiku memang yang paling tampan di dunia!’ "Mama juga selalu bilang begitu padaku. Katanya aku anak paling tampan di dunia. Bahkan kata Mama, ketampanan Daddy saja masih kalah denganku," cerocos Xander percaya diri. "Oh, ya? Tentu saja kau yang paling tampan. Tapi... kenapa wajahmu terasa sangat mirip dengan Paman? Kau tidak merasa kita mirip?" Alexander mengutarakan rasa penasaran yang menggantung di hatinya. "Sepertinya begitu, tapi itu belum cukup buat jadi bukti. Tunggu sebentar, boleh aku lihat ponsel Paman?" pinta Xander mengatur. "Untuk apa?" tanya Alexander heran. "Foto bersama, apalagi? Dengan begitu kita bisa tahu sia

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Duka Keluarga O'Conner

    "Kakek, aku pulang..." bisik Evelyn lembut seraya berlutut dan mengecup buku-buku jari sang kakek buyut. Di sisi lain ranjang, Xavier memeriksa indikator medis dan denyut nadi Jenderal Raymond O'Conner dengan cermat. Kondisi sang Jenderal sangat kritis. Organ tubuhnya mengalami kegagalan fungsi akibat usia yang terlampau senja. "Kakek, bertahanlah... Jangan seperti ini," isak Evelyn, mencoba menahan air mata seraya menuntun Xander mendekat. "Lihat, Kek. Ini Xander..." Jenderal Raymond membuka kelopak matanya yang berat dengan perlahan. "Evelyn... kau sudah kembali, Nak?" sahutnya lemas. "Dan ini si kecil Xander? Kemarilah, Nak... mendekat pada Kakek Buyut..." Xander mendongak menatap ibunya. Usai Evelyn mengangguk lembut, si cilik genius itu mendekat dan membiarkan jemari renta Kakek Buyut menyentuh pipinya. Suasana kamar perawatan berubah kelabu. Sophia terisak dalam pelukan Jenderal Arthur, sementara tangis Ethan pecah ditahan di samping sang ibu. Pintu kamar terbuka t

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Sang Jenderal Kritis

    Sementara itu, di markas militer Silvercrest... "Kakek Buyut, ini Ethan," panggil Ethan Sterling lembut pada sang Jenderal yang terbaring lemah di ranang perawatannya. "Ethan... kau datang, Nak?" balas Jenderal Raymond O'Conner dengan suara serak dan napas yang pendek. "Apa Papamu ikut ke sini juga?" "Aku di sini, Tuan Jenderal. Bagaimana keadaan Anda?" Alexander melangkah mendekat, berdiri di sisi ranjang dengan raut khawatir. "Dasar keras kepala! Berapa kali harus kukatakan... panggil aku Kakek. Kau adalah bagian dari keluarga ini, Alexander!" omel sang Jenderal di sela napasnya yang terasa makin berat. "Baiklah, Kek," jawab Alexander tanpa membantah. "Sebaiknya Kakek istirahat lagi. Aku dan Ethan akan menunggu di luar." Sang Jenderal menggeleng pelan, seolah masih ada hal penting yang menuntut untuk disampaikan. "Sebelum aku memejamkan mata, maukah kau menjawab pertanyaan orang tua ini, Nak?" "Kapan pun Kakek ingin, aku akan menjawabnya. Kakek tidak boleh bicara s

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Panggilan Ke Silvercrest

    Bagaimana bisa Evelyn melupakan sosok Alexander Sterling—pria yang begitu ia cintai hingga detik ini? Walau bibir dan pikirannya keras menolak untuk mengingat kembali kenangan itu, hatinya tidak bisa dibodohi. Rasa cinta itu masih tersimpan rapi, terbawa ke mana pun ia melangkah. ‘Alexander, aku dan anak kita bahagia di sini... walau nyatanya, kebahagiaan ini terasa semu bagiku tanpamu. Lalu, bagaimana denganmu di sana?’ bisik batin Evelyn seraya menatap langit senja yang luas dari pekarangan rumahnya di Riverside City. Di bawah naungan langit yang sama di daratan Silvercrest, seorang pria bertubuh tegap dengan garis wajah tegas yang kini menapak usia akhir tiga puluhan, tengah berbaring di kursi santai tepi kolam renang. Kedua tangannya mendekap erat sebuah figura foto berukuran kecil di dada. Kacamata hitam yang bertengger di pangkal hidungnya hanyalah sebuah alibi—alibi sederhana untuk menyembunyikan sepasang mata yang sembab dan memerah setelah meluapkan rasa rindu yang tak

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Berapa Lama Lagi

    Xavier kemudian berdiri tegak dan menatap Kepala Sekolah serta wali kelas dengan ketenangan penuh wibawa. "Baiklah. Saya sebagai ayahnya Xander akan membawa putra kami pulang dan akan mempertimbangkan dengan saksama seluruh saran dari Bapak Kepala Sekolah dan Ibu Wali Kelas. Terima kasih atas waktunya, dan mohon dimaklumi kekhawatiran istri saya saat ini. Kami permisi," ucap Xavier tegas dan lugas. Dalam satu keputusan mantap, Xavier mengakhiri pertemuan tersebut tanpa memberi ruang untuk perdebatan lebih panjang. Ia merangkul Evelyn dan menggandeng tangan Xander keluar dari ruangan. Pembawaannya yang tenang dan berwibawa seketika meyakinkan kedua pengajar tersebut, meninggalkan Evelyn yang hanya bisa menghela napas pasrah melihat kekompakan Xavier dan Xander yang lagi-lagi memenangkan situasi. "Sav, kau sudah gila! Kenapa membawaku keluar dari sana? Aku ingin membujuk mereka agar tetap menerima Xander bersekolah di sana!" cetus Evelyn meluapkan kekesalannya begitu mereka bert

  • Hidup Kedua Ibu Pewaris Yang Terbuang   Ulah Xander

    "Bisakah kau mengatakan padaku, berapa hasil dari lima puluh tujuh dikali seratus tiga puluh lima?" tanya guru tersebut seraya tersenyum miring. Xander mendesah pelan. Karena merasa jenuh, ia sengaja menunda jawabannya beberapa detik. Namun, jeda singkat itu ditafsirkan berbeda oleh gurunya. Sang guru mengira Xander telah terpojok dan segera bersiap melempar pertanyaan itu ke murid lain untuk mempermalukannya. "Baiklah! Siapa yang—" "Tujuh ribu enam ratus sembilan puluh lima. Akar kuadratnya adalah delapan puluh tujuh koma dan seterusnya," potong Xander telak sebelum sang guru menyelesaikan kalimatnya.Bukannya berhasil mempermalukan Xander, sang guru justru merasa dipermainkan. Dengan tangan yang sedikit bergetar, ia mengambil kalkulator di atas mejanya dan menghitung sendiri pertanyaan yang baru saja ia lontarkan. Mata wali kelas itu membelalak sempurna saat melihat hasil di layar kalkulator persis dengan angka yang disebutkan Xander. ‘Dunia benar-benar sudah gila...’ ba

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status