Share

Bab 7

Author: Bhay Hamid
last update Last Updated: 2025-02-19 12:16:32

Pagi di bawah pohon rindang dan dingin tiga bersaudari dan Raka sudah membuka lapaknya serta sudah siap membakar ikan hasil tangkapan mereka di sebelah lapak Raka ada seorang penjual ikan juga. Dan di depannya ada penjual jeruk.

Suasana pasar sangat ramai pagi ini karena para pekerja baru dapat upah hasil pekerjaan mereka.

Ikan-bakar ikan bakar satu sen per ekor..suara itu terus menggema di hiruk pikuk suasana pasar.

Tidak lama kemudian mereka para pengunjung berkerumun. Ada yang bilang” Bagaimana bisa ikan menjadi enak setelah hanya di panggang dan dilumuri kecap serta rempah begitu saja.”

Pengunjung yang lainya.” Nona aku mau mencicipi nya terlebih dahulu bolehkah.”

“Boleh tuan silahkan dicicipi jika tidak enak tuan tidak perlu membelinya.” Baik kesepakatan yang bagus.

“Wah ini enak sekali aku beli sepuluh saja.” Ini sepuluh sen nya besok aku akan kemari lagi.

Langsung para pengunjung membeli satu demi satu hasil panggangan ikan Raka.

“Kamu memang cocok diposisi itu Aini.” Ujar Raka terimakasih kanda.

Tinggal berapa setok ikan kita ujar Aina.

Tinggal tujuh ekor kak.” Wah kita banyak mendapatkan ikan hari ini. Kita sudah mendapat 43 sen dan 20 sen bonus dari pengunjung. Total kita mendapatkan 63 sen hari ini.

Wah kalau begitu kitab isa kaya dalam satu bulan ini Kanda.

Heemmm benar bahkan kita harus bisa menghasilkan lebih banyak ikan. Dan menghasilkan lebih banyak uang lagi.’’ Ujar Raka

“Benar kanda kita harus menghasilkan banyak uang karena rumah kita harus diperbaiki untuk menghadapi musim dingin.” Tukas Andini

****

Kalau begitu kita akan berbelanja hari ini. Kita beli tepung dan beberapa bumbu serta perlengkapan untuk menangkap ikan agar lebih cepat mendapatkan ikan dengan banyak.

Dipasar mereka semakin membicarakan pedagang baru. Yang langsung mendapatkan keuntungan begitu banyak bahkan pedagang di pasar untuk mendapatkan begitu banyak uang harus memerlukan satu bulan penuh berdagang.

“Pemuda itu memiliki keterampilan diatas rata-rata ujar pedagang jeruk.” Coba kalian rasakan ini. Ikan ini jadi hidangan mewah dan nikmat di tangan pemuda itu.

“Iya benar ikan ini sangat lezat.” Dari mana asal pemuda itu?”

“Aku dengar sih dari desa Petir.”

Hahahahaaha mereka terbahak desa petir. Mereka berasal dari desa para pengemis. Sungguh miris dan mengenaskan ternyata di desa petir ada orang yang memiliki bakat.” Ujar kerumunan pedagang di pasar.

Iya benar sekali, mereka sangat mahir dalam menarik minat pelanggan dan hanya sekejap saja dagangan mereka ludes. Sungguh Teknik Ajaib

“salah satu dari mereka berujar aku mendengar dari tetua desa Anggur bahwa nanti di negeri ini akan lahir seorang yang pandai disegala bidang dan pemuda itu juga sangat cerdas.” Mungkinkah pemuda ini yang di maksud.

Ahhhh jangan bercanda bung. Bukanya pemuda yang dimaksud adalah Aryo Wiroguno pemuda yang berbagakat dan memiliki kepintaran diatas pemuda-pemuda di kota kecamatan ini.”

Aiihhh benar juga. Anak pak lurah itu juga sangat berbakat tapi dia terlalu sombong. Ujar kerumunan mereka sambil mengemasi dagangan mereka.

Di pasar bagian utara Raka dan ketiga istrinya segera membeli beberpa kebutuhan untuk mereka berjualan besok. Minyak, tepung, telur, margarin, keju dan beras sudah mereka dapatkan.

“wah belanja hari ini sangat banyak sekali.” Bagaimana kita membawanya ke desa.

“Oh tenang kita sewa kereta kuda untuk membawa barang-barang ini.” Ujar Raka kepada istri-istrinya

Setelah mereka selesai berbelanja. Mereka pulang menuju desa dengan kepala tegak karena mereka dalam satu hari ini sudah menjadi perbincangan diseluruh pasar dan menjadi gossip di desa karena berhasil menjual ikan panggang dengan begitu cepat.

Sesampainya di desa warga banyak yang iri dengan pencapaian Raka yang tadinya tidak memiliki penghasilan menjadi memiliki penghasilan. Sebelum Raka dan tiga bersaudari menurunkan barang belanjaan mereka.

“Kak Raka baiar aku saja yang menurunkannya.” Ujar Roni dan Riko

“Oh iya ujar Aina sambil menatap Raka yang kebingungan. Aina berbisik ( Kanda mereka ini anaknya paman Zeno.

“Baiklah kebetulan sekali kalian kemari nanti ada hal yang ingin aku kerjakan.” Ucap Raka

“Raka…Raka tolong lah aku ini. Istriku akan melahirkan ucap Alvaro

Siapa lagi ini. Ini keponakan paman Vano yang sudah meninggal beberpa tahun lalu dan mereka merupakan kerabat Raka dari pihak ibunya.

Satu hari ini Raka banyak dikejutkan oleh orang-orang baru yang segera membantunya dalam segala hal sehingga membuatnya menjadi canggung. Namun hal itu tidak begitu asing karena ada tiga bersaudari yang menjelaskan kepada Raka hingga raka Kembali mengingat mereka semua.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 322

    Sepanjang jalur dari Savana Kidu menuju perbatasan Trigantara, ribuan prajurit elit berjalan dengan kepala tegak. Di barisan paling depan, pasukan penabuh genderang memukul kulit perkamen dengan irama yang mantap dan berwibawa. Dung! Dung! Tak! Irama itu bukan sekadar musik, melainkan denyut nadi kemenangan yang menyebar ke seluruh penjuru Benua Hijau.Rakyat dari desa-desa terpencil keluar ke tepi jalan. Mereka melemparkan bunga-bunga liar ke arah rombongan Raka. "Hidup Raja Raka! Hidup Trigantara!" teriakan itu bersahutan, mengalahkan suara angin musim semi.Raka, yang menunggangi kuda hitamnya, tidak menampakkan keangkuhan. Ia sesekali mengangguk pada rakyatnya, meski hatinya masih menyimpan duka bagi mereka yang gugur di medan laga.Saat puncak-puncak menara Istana Giri Amerta mulai terlihat di ufuk, suasana semakin meriah. Gerbang raksasa yang terbuat dari kayu jati berlapis tembaga itu terbuka lebar. Ribuan warga kota berkumpul, membentuk lautan manusia yang menyambut sang pahla

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 321

    Langkah kuda-kuda elit itu berhenti tepat di pinggir Savana Kidu, sebuah padang rumput tersembunyi yang dikelilingi tebing curam. Di sana, sisa-sisa pasukan Yandi yang kelelahan sedang beristirahat. Saat melihat panji Trigantara muncul, kegaduhan singkat pecah, namun seketika berubah menjadi keheningan yang mematikan.Prajurit Negeri Angin yang tersisa memandang rombongan Raka dengan lutut gemetar. Mereka telah mendengar tentang hancurnya armada laut mereka dan kehebatan kavaleri Raka. Di mata mereka, Raka bukan lagi sekadar raja musuh, melainkan malaikat maut yang datang menjemput janji."Jangan ada yang bergerak!" perintah seorang jenderal Yandi dengan suara bergetar. Ia tahu, satu gerakan salah akan memicu pembantaian di padang sempit ini.Raka maju perlahan, kudanya melangkah anggun di tengah kerumunan musuh yang membelah jalan karena takut. Di ujung savana, Yandi berdiri tegak. Zirah peraknya kini penuh goresan dan noda darah kering, namun matanya masih memancarkan api harga diri

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 320

    Tiga minggu telah berlalu sejak dentuman meriam pertama meledak. Lembah yang dulunya hijau kini berubah warna menjadi kelabu akibat abu pembakaran dan merah karena darah yang meresap ke dalam pori-pori tanah. Aroma musim semi telah lama sirna, digantikan oleh bau anyir dan kematian yang menyengat.Setiap hari, bentrokan kecil hingga skala besar pecah di celah-celah bukit. Ribuan nyawa telah melayang. Tangisan prajurit yang terluka menjadi musik latar yang mengerikan di setiap malam yang dingin."Gusti Raka," bisik Sabda di dalam tenda yang kini penuh dengan peta bertanda silang merah. "Kita kehilangan lima ratus orang lagi di sektor timur tadi siang. Pasukan sudah kelelahan."Raka, dengan mata yang tampak cekung karena kurang tidur, hanya mengangguk pelan. "Aku tahu, Sabda. Tapi lihat ke seberang sana. Mereka lebih menderita daripada kita."Kunci bertahan hidup Trigantara bukan hanya pada pedang mereka, melainkan pada perut mereka. Garis pertahanan Raka terhubung langsung dengan Kemus

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 319

    "Besok, di bawah kaki Bukit Mala, aku akan menemuinya," ucap Raka memecah kesunyian.Panglima kepercayaannya, Sabda, mengerutkan kening. "Yandi bukan orang yang mudah diajak bicara, Gusti. Dia membawa dendam yang lebih tajam dari pedangnya."Raka menatap kobaran api dengan tatapan kosong. "Aku tahu. Tapi ribuan nyawa prajurit Trigantara ada di pundakku. Jika ada satu persen kemungkinan untuk menghindari banjir darah, aku akan mengambilnya. Persiapkan segalanya. Kita berangkat saat fajar menyingsing."Fajar menyingsing dengan warna keunguan yang indah, namun aura di bawah Bukit Mala terasa mencekam. Di hamparan savana yang luas, dua sosok penunggang kuda berdiri saling berhadapan. Raka di atas kuda hitamnya, dan Yandi yang mengenakan zirah perak mengkilap di atas kuda putihnya.Di belakang mereka, jenderal-jenderal elit berdiri kaku seperti patung, tangan mereka tak pernah jauh dari hulu pedang.Raka memacu kudanya selangkah lebih maju, memecah kesunyian. "Yandi, sudah lama kita tidak

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 318

    Di gerbang selatan, Raka berdiri melepas satu legiun tempur terbaiknya. Di bawah panji naga emas, pasukan itu bersiap melakukan perjalanan jauh melintasi gurun."Bawa pesan ini kepada Sultan Malikh di Negeri Pasir," ujar Raka kepada panglimanya. Suaranya rendah namun tajam. "Katakan padanya, matahari tidak akan terbit dua kali untuk mereka yang ragu. Aku tidak butuh janji di atas kertas, aku butuh kavaleri mereka di sayap kiri perbatasan Kemusuk."Panglima itu membungkuk dalam. "Bagaimana jika mereka menolak, Gusti Prabu?"Raka menatap cakrawala yang mulai memerah. "Jika mereka menolak menjadi kawan dalam perang, maka setelah debu pertempuran ini reda, mereka akan melihat Trigantara sebagai tuan yang baru. Negeri Pasir harus memilih: berdiri bersama kita atau terkubur di bawah pasir mereka sendiri."Malamnya, di balkon istana yang menghadap ke arah lembah, Raka berdiri bersama Maha Patih Tomi. Mereka terdiam, menatap kerlip lampu pemukiman rakyat yang kini begitu luas."Masih ingat ba

  • Hidup Kembali di Zaman Kuno   Bab 317

    Langit di atas ibu kota Trigantara tidak pernah tampak sesuram ini. Meski pasar tetap ramai dan emas tetap mengalir, ada getaran dingin yang merayap di lorong-lorong istana.Di atas singgasana kayu jati berukir naga, Raka duduk dengan dahi berkerut. Di tangannya, sebuah gulungan surat dengan segel lilin bergambar elang badai—lambang Negeri Angin—telah hancur diremas.Maha Patih Tomi berdiri di hadapan Raka, tangannya tertumpu pada gagang pedang. Suasana ruang sidang itu begitu hening, hingga suara tetesan air hujan di luar terdengar seperti derap kaki kuda pasukan musuh."Gusti Prabu," suara Tomi berat, "Kaisar Yandi telah menggerakkan panji-panjinya. Ini bukan lagi sekadar gertakan di perbatasan. Ini adalah genderang perang. Tahta Trigantara yang baru saja bersinar ini, kini menjadi sasaran utama mata panah mereka."Raka menatap kosong ke arah aula besar. "Tahta ini memang indah, Tomi. Tapi aromanya selalu bau darah. Aku membangun kemakmuran bukan untuk mengundang perang, tapi sepert

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status