แชร์

Hidup di Dekapan Musuh Suamiku
Hidup di Dekapan Musuh Suamiku
ผู้แต่ง: Shyneko

1. Awal Mula Bencana

ผู้เขียน: Shyneko
last update วันที่เผยแพร่: 2026-06-22 14:44:10

Hari ini, dengan satu ucapan saja aku akan menghancurkan suamiku dan ibu mertuaku yang angkuh. Aku akan membuat mereka bersujud padaku dengan seluruh penyesalan dan keputusasaan yang tersisa di hidup mereka.

Semua bencana dalam pernikahanku berawal dari malam pertama kami.

Bukan hal besar jika dilihat dari kacamata orang awam. Bahkan mungkin aku sendiri tidak menyadarinya saat itu.

Aku menganggap hal tersebut bisa saja dialami setiap orang di malam pengantin mereka, entah karena gugup atau kelelahan. Tapi jujur, terlalu banyak membaca novel romantis yang sedikit vulgar membuatku mengharapkan sesuatu yang mungkin sedikit tidak realistis.

Tapi malam kedua, sama.

Seno, suamiku memulai dengan ciuman yang kering, sedikit tergesa-gesa, sedikit mencumbu kemudian saat aku mulai berusaha menikmati, dia berhenti.

“Selamat malam, Mia.”

Seno mengecup pucuk kepalaku, menarik selimutnya dan membalik badan meninggalkanku yang menatap langit-langit kamar dengan tubuh setengah telanjang.

Kami baru menikah saat itu, tapi pertanyaan besar sudah muncul di kepalaku bahkan di hari-hari pertama kami menikah.

Aku dan Seno bertemu dan jatuh cinta seperti kebanyakan orang, tapi yang berbeda mungkin kadar cintaku padanya yang terlalu besar.

Kelembutannya, suaranya yang tidak pernah meninggi ketika kami bahkan sedang dalam pertengkaran, bahu yang selalu siap menjadi sandaranku ketika menangis, itulah Seno saat kami masih menjadi sepasang kekasih.

Namun benar kata pepatah, rahasia dan sifat seseorang akan terlihat aslinya hanya ketika sudah menikah.

Satu minggu pernikahan kami akhirnya aku menyadari ada yang berbeda dari Seno. Sesuatu di tubuhnya yang seharusnya beraksi ketika mendapat sentuhan, tidak merespon. Layu seperti bunga yang tidak mendapat sinar matahari.

“Aku nggak mungkin ngaku kalau punya kekurangan ini pas kita masih pacaran Mia, malu,” ucapnya jujur di satu malam di atas ranjang kami.

“Mas, aku terima kamu apa adanya, mau gimanapun keadaan kamu, kita cari solusi dan obatnya. Aku yakin kamu bakal sembuh,” sahutku sambil menatapnya dengan lembut.

Malam itu Seno tersenyum lega, memelukku erat.

“Tapi jangan sampai ada yang tahu ya, terutama ibuku,” bisik Seno.

“Bukannya kalau ibu tahu beliau bisa bantu cari solusi, Mas?” Aku melepas pelukan itu, lalu kembali menatapnya dengan bingung.

Jika orang tua kami tahu, mereka pasti akan membantu memberi dukukan pada kami, kan?

Setidaknya itu juga akan mengurangi beban mental kami karena tidak akan sering ada pertanyaan soal momongan, seperti pasangan-pasangan baru biasanya.

“Mia, ibuku bukan orang yang seperti itu. Baginya martabat adalah segalanya. Gimana kalau nanti orang lain atau keluarga nggak sengaja tahu? Itu bakal bikin ibu terpukul banget.” Seno menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.

Aku ikut menghela napas. Memang benar, ibu mertuaku memang agak keras dan sedikit kolot, sedangkan Seno sangat bergantung dan manja pada ibunya bahkan setelah menikah.

“Iya, Mas. Aku janji akan jaga rahasia ini, selamanya kalau perlu,” kataku akhirnya.

Pada kenyataannya, kata lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.

Menjelang satu tahun pernikahan, sindiran-sindiran mulai berdatangan dari keluarga Seno.

Kapan ngisi?

Udah setahun loh ini, kok belum hamil?

Kasian loh Seno, pasti pengen banget punya anak.

Aku menelan semuanya, demi Seno yang kucintai.

Sedangkan Seno tidak melakukan apapun untuk setidaknya membelaku di depan keluarganya.

Tidak apa-apa, hanya perlu waktu, hanya perlu obat yang manjur, hanya perlu dokter yang hebat.

Selama Seno masih mencintaiku, aku akan baik-baik saja.

Hingga tahun kedua pernikahan aku masih teguh memegang janji, menjaga rahasia dan melindungi ego dan harga dirinya.

Siapa bilang keretakan rumah tangga hanya bisa datang dari ekonomi dan perselingkuhan?

Ketidakhadiran di ranjang yang terus menerus, hubungan intim suami istri yang seharusnya menjadi aktivitas rutin bisa menjadi bom waktu jika tidak dilakukan bertahun-tahun.

Dan lebih dari itu, tidak adanya dukungan dari pasangan ketika banyak orang memojokkan pun menjadi beban berat yang sekali lagi harus kupikul sendirian.

“Kok bisa sih Seno nikah sama perempuan bermasalah ini?” Ibu mertuaku murka. Pagi itu sama seperti pagi lainnya, penuh cacian dan hinaan. “Yatim piatu, nggak becus ngurus suami, nggak bisa ngasih keturunan.”

Seno tidak memberikan respon ketika ibunya berkata jahat, hanya santai menghabiskan sisa sarapannya sambil menatap layar ponsel.

“Seno itu pemimpin perusahaan besar. Handoko Grup perlu penerus, tapi sial dia malah terjebak dengan orang cacat rahim.”

Aku hanya tertunduk di hadapan piring yang kosong. Pembantu tidak lagi menyediakan porsi makan untukku, atau sudah lupa dan menganggap aku setara dengan mereka.

Baju lusuh karena tidak pernah diberikan uang untuk belanja, rambut tidak terawat, juga wajah yang kusam tidak pernah tersentuh treatment apapun.

Berbanding terbalik dengan ibu Seno yang wajahnya semulus porselen.

“Bu, kami masih berusaha. Mohon doanya untuk aku dan Mas Seno,” jawabku membela diri.

“Orang lain juga berusaha, tapi sudah terlihat hasilnya. Aku sudah tahu, menikahimu adalah kesalahan besar anakku!”

“Tapi, Bu….”

“Tidak usah tapi-tapi! Kau memang tidak berhasil membawa kebahagian dalam keluarga ini. Benar-benar lambang kegagalan Seno!”

Aku memutuskan untuk diam. Seperti wanita bodoh yang tidak punya harga diri, lagi-lagi aku menelan pil pahit hinaan itu tanpa bisa berbagi dengan Seno hanya karena aku takut.

Takut dibuang, takut tidak bisa hidup di luar sana sendirian, takut kehilangan Seno karena hanya dia satu-satunya orang yang ku punya di dunia.

Diam dan menerima adalah satu-satunya caraku mencintai Seno juga menjaga harga dirinya

Bodohnya aku yang tidak tahu bahwa diam itu bukan bentuk melindungi.

Hingga akhirnya di tahun ketiga pernikahan, aku mulai menyerah.

“Ibu marah lagi gara-gara kamu mulai berani bersuara di depan dia,” keluh pria itu.

Seno menatapku yang tengah meminum kopi buatanku sendiri. Hanya ada kami di meja makan.

“Bagus, setidaknya ibu batal makan pagi ini karena nggak mau liat mukaku,” jawabku seadanya.

“Mia, kamu nggak usah begitu sama orang tua, mending kamu minta maaf sama ibu dan mengaku salah.” Nada bicara Seno sedikit meninggi dan menatapku tajam.

“Terus kamu sendiri kapan ngaku?” balasku dengan suara setenang mungkin.

“Apa?” Dia nampak menerka arah pembicaraan.

“Kapan kamu ngaku ke ibu kalau kamu impoten?”

“Mia!” bentak Seno tanpa menahan amarahnya lagi. Kini kuyakin ibunya bisa mendengar perkelahian kami.

“Kamu nggak seharusnya bahas itu di sini! Kalau ada yang dengar gimana?” kudengar kepanikan di suaranya.

Aku tersenyum miring, begitulah Seno dan harga dirinya yang setinggi langit. Tidak pernah berubah selama tiga tahun ini.

“Mas, kamu nggak bisa menyembunyikan itu selamanya, dan aku nggak mau lagi menerima hinaan dari keluarga kamu karena sejak awal ini semua bukan salahku.”

Seno terlihat mengepalkan tangannya di atas meja dan aku berusaha tidak gentar melihat tatapannya yang menakutkan.

“Kalau kamu cinta sama aku dan masih mau hubungan ini lanjut, kamu harus ngaku, Mas,” tawarku yang sebenarnya nggak perlu. Jujur itu kewajibannya.

Hening sejenak, Seno menghela nafas sambil menatapku dingin.

“Mia, aku udah nggak cinta sama kamu, aku biarkan kamu masih tinggal di sini cuma karena kasian dengan keadaanmu yang sebatang kara dan nggak punya apa-apa.”

Kalimat itu keluar dengan mudah sekali dari mulutnya.

“Kamu bilang apa?”

“Kamu mendengarku jelas kok.”

Sesuatu patah dalam hatiku. Bukan dengan suara keras, namun menusuk dengan sangat menyakitkan.

Aku bertahan selama ini karena mencintai Seno, tapi dia tidak mencintaiku.

Panas langsung menjalar di belakang mata namun ku tahan. Ku perintahkan pada diriku untuk tidak menangis setelah melewati ribuan tangis memilukan di dalam rumah ini.

Mata kami bertemu, ekspresi Seno tidak berubah. Dan dari sejauh aku mengenalnya, tatapan itu selalu bermakna dia sedang berkata jujur.

Akhirnya aku mengangguk pelan, meyakinkan diri sendiri.

“Kalau begitu faktanya, maka semua yang kita pertahankan selama ini disudahi saja, Mas.” Aku berkata dengan satu tarikan napas.

“Aku mau cerai.”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
ความคิดเห็น (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
Seperti tidak ada ujung dri permasalahan rumah tangga antara mia dan seno,Seno yg tidak tegas membuat makin rumit,, kalu aku diposisi itu mungkin aku mengambil langkah yg sama seperti Mia tpi terkadang banyak diluar sana mungkin memilih bertahan karna takut dan memilih diam bertahun-tahun lamanya,,
ดูความคิดเห็นทั้งหมด

บทล่าสุด

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   124. Apa yang Dia Sembunyikan?

    “Malam ini mau makan malam apa, Mia? Biar aku masakin.”Bara bertanya sembari mengemudikan mobil Ferarri-nya di tengah jalanan yang cukup macet, kemeja dan celana yang sebelumnya basah kuyup sudah diganti dengan kaos putih dan celana pendek yang lebih santai.Matahari sudah tenggelam beberapa menit yang lalu, meninggalkan semburat biru tua dan keunguan di tepi cakrawala. Cahaya matahari mulai digantikan dengan lampu-lampu terang dari gedung-gedung, jalanan, serta kendaraan-kendaraan di sekitar kami.Aku menatap lurus-lurus ke depan dengan pikiran yang melayang jauh sekali. Kejadian anak tenggelam di danau sore ini benar-benar mengingatkanku akan sesuatu di kehidupanku yang lalu.Rasanya, aku pernah melihat anak laki-laki yang diselamatkan Bara. Tapi di mana? Kapan?“Mia?” tanya Bara, menoleh kepadaku saat berhenti di lampu merah.Aku yang terlalu sibuk berkutat dengan pikiranku sendiri bahkan tidak sempat merespons Bara meski mendengar suaranya dengan jelas, membiarkannya memanggilku

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   123. Ketenangan yang Seperti Roller Coaster

    Aku menatap tangan Bara yang terlihat besar dan kokoh, jauh berbeda dengan tanganku yang seakan 'tertelan' dalam genggamannya.Sejak kehidupan pertama bahkan ketika mendapat kehidupan kedua sekalipun, pria ini lah yang selalu menjaga dan melindungiku, berkorban begitu banyak hingga rasanya aku sama sekali tidak pantas menerimanya.Tanpa sadar mataku memanas, satu tetes air mata lolos begitu saja hingga menetes ke pipiku.“Mia? Kamu kenapa?” Melihat kondisiku Bara terlihat sedikit panik, dia mengeluarkan sapu tangan dari saku celananya dan memberikannya padaku.Aku menerima sapu tangan itu, mengusapkannya ke pipi sambil menikmati wangi Bara yang menempel di sana.“Bara, makasih ya buat semuanya, dan maaf aku udah bikin banyak masalah buat kamu,” ucapku dengan suara serak.“Kamu sama sekali nggak bikin masalah,” sanggah Bara. “Sejak awal kamu memang sudah seharusnya pergi dari hubungan toxic itu dengan atau tanpa bantuanku, karena kelakuan Seno memang keterlaluan.”“Tapi, aku kesal!” su

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   122. Bara yang Tenang

    “Lagi liatin apa sih? Fokus banget.” Aku tersentak ketika mendengar Bara yang tanpa ku sadari sudah berdiri di sampingku. Aku mendongak, menatapnya sambil tersenyum kikuk. “Eh, nggak lagi liatin apa-apa kok, cuma penasaran aja sama pasien yang baru lewat tadi. Kayaknya kondisi orang itu gawat banget.” “Oh, ya?” Bara menoleh ke arah lorong, ikut penasaran. “Aku nggak sadar tadi ada pasien lewat.” “Udah masuk ruang ICU dari tadi,” sahutku, berdiri sambil sedikit meregangkan otot-otot yang terasa kaku. “Oh, okey. Kalo gitu kita pulang sekarang?” tawar Bara. Aku mengangguk, kami berjalan bersisian menuju pintu keluar rumah sakit, mobil ferarri Bara sudah terparkir rapi di parkiran. “Kayaknya aku harus ganti mobil lagi abis ini,” ucap Bara saat kami sudah berada di dalam mobil. “Lho, kenapa? Bukannya ini mobil baru?” tanyaku sembari memakai sabuk pengaman. Bara menekan tombol Start Engine, gerung mobil yang khas langsung terdengar. “Ada yang sengaja membocorkan foto mobilku ke media

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   121. Ide yang Buntu

    Paul terdiam lama setelah mendengar ucapanku, wajahnya yang biasanya datar kali ini berubah sedikit putus asa. Dia melepas kacamata sejenak, memejamkan mata sambil memijat pangkal hidungnya.“Kalau demikian, maka mendapatkan ponsel berisi bukti itu tidak akan mudah.” Paul memasang kembali kacamatanya.Aku berusaha memutar otak, mencari rencana.“Bagaimana kalau salah satu anak buahmu menyusup ke mansion? Ini mungkin terdengar gila, tapi siapa tahu berhasil,” usulku yang juga merasa kehilangan jalan keluar. Berharap ada cara untuk mengambil benda itu dengan cara apa pun.Paul menggeleng. “Saya tidak bisa melakukan itu. Selain karena peluang berhasilnya kecil. Pak Seno juga bisa melaporkan dan menuntut pihak kita ke polisi soal pembobolan dan pencurian,” ucapnya, menghela napas sejenak.“Jika hal itu sampai terjadi, maka pihak yang paling dirugikan tidak hanya Anda, tapi juga Tuan Bara.”Aku menggigit bibir dan merutuki diri sendiri. Apa yang dikatakan Paul benar, aku harus mencari cara

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   120. Opini Publik

    “Lalu apa yang akan Anda lakukan terhadap kejadian ini, Pak Seno? Apa Anda akan membawa masalah ini ke jalur hukum?” Salah satu wartawan di pojok kanan bertanya dengan suara yang sedikit nyaring agar tetap terdengar di ruangan yang cukup riuh itu.“Untuk saat ini, saya tidak akan melakukannya karena tidak ingin istri saya terlibat masalah yang kemungkinan akan membuatnya kesulitan di kemudian hari. Saya sangat peduli dengan kenyamanan dan keamanan istri saya.”Aku yang mendengar ucapan itu keluar dari mulut Seno yang berbisa seketika menggertakkan gigi karena menahan emosi. Orang ini sangat pandai berakting, semua kata-katanya benar-benar terdengar seperti kebenaran.Dia benar-benar sudah mengelabui dan membodohi semua orang.“Saya sangat terharu sekaligus kagum pada Pak Seno. Di saat istri Anda dibawa lari oleh laki-laki lain, Anda malah memilih berbesar hati dan terus mencari keberadaan istri Anda,” puji wartawan wanita yang tampaknya sudah terhasut tipu daya Seno, wartawan wanita i

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   119. Serangan Publik

    Rena langsung menghambur ke arahku ketika melihatku merentangkan kedua tangan menyambut kedatangannya. Dia menunduk sejenak saat tiba di hadapanku sebagai tanda hormat, lalu memelukku hangat.“Aku senang banget kamu selamat,” ucapku sambil mengelus punggungnya dengan gerakan naik-turun. Lalu menarik diri sedikit agar bisa melihat keadaannya lebih jelas.“Kamu nggak terluka parah, kan? Kamu diapain aja sama Seno dan penjaganya?”Rena menggeleng pelan, tersenyum ceria. “Saya baik-baik saja, Nyonya. Hanya sempat terluka kecil karena tersandung saat pelarian bersama Pak Paul.” Gadis itu melirik Paul yang berdiri tidak jauh di belakangnya, lalu kembali menatapku.“Terima kasih atas bantuannya, Nyonya. Saya tidak menyangka bantuan akan datang secepat itu,” katanya dengan nada lega, menyelipkan anak rambutnya ke sisi telinga.“Aku sendiri juga nggak nyangka bakal ada bantuan secepat dan seterang-terangan itu, Rena. Bara dan anak buahnya bergerak di luar perkiraan kita berdua.” Aku ikut meli

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status