ログイン
Hari ini, dengan satu ucapan saja aku akan menghancurkan suamiku dan ibu mertuaku yang angkuh. Aku akan membuat mereka bersujud padaku dengan seluruh penyesalan dan keputusasaan yang tersisa di hidup mereka.
Semua bencana dalam pernikahanku berawal dari malam pertama kami.
Bukan hal besar jika dilihat dari kacamata orang awam. Bahkan mungkin aku sendiri tidak menyadarinya saat itu.
Aku menganggap hal tersebut bisa saja dialami setiap orang di malam pengantin mereka, entah karena gugup atau kelelahan. Tapi jujur, terlalu banyak membaca novel romantis yang sedikit vulgar membuatku mengharapkan sesuatu yang mungkin sedikit tidak realistis.
Tapi malam kedua, sama.
Seno, suamiku memulai dengan ciuman yang kering, sedikit tergesa-gesa, sedikit mencumbu kemudian saat aku mulai berusaha menikmati, dia berhenti.
“Selamat malam, Mia.”
Seno mengecup pucuk kepalaku, menarik selimutnya dan membalik badan meninggalkanku yang menatap langit-langit kamar dengan tubuh setengah telanjang.
Kami baru menikah saat itu, tapi pertanyaan besar sudah muncul di kepalaku bahkan di hari-hari pertama kami menikah.
Aku dan Seno bertemu dan jatuh cinta seperti kebanyakan orang, tapi yang berbeda mungkin kadar cintaku padanya yang terlalu besar.
Kelembutannya, suaranya yang tidak pernah meninggi ketika kami bahkan sedang dalam pertengkaran, bahu yang selalu siap menjadi sandaranku ketika menangis, itulah Seno saat kami masih menjadi sepasang kekasih.
Namun benar kata pepatah, rahasia dan sifat seseorang akan terlihat aslinya hanya ketika sudah menikah.
Satu minggu pernikahan kami akhirnya aku menyadari ada yang berbeda dari Seno. Sesuatu di tubuhnya yang seharusnya beraksi ketika mendapat sentuhan, tidak merespon. Layu seperti bunga yang tidak mendapat sinar matahari.
“Aku nggak mungkin ngaku kalau punya kekurangan ini pas kita masih pacaran Mia, malu,” ucapnya jujur di satu malam di atas ranjang kami.
“Mas, aku terima kamu apa adanya, mau gimanapun keadaan kamu, kita cari solusi dan obatnya. Aku yakin kamu bakal sembuh,” sahutku sambil menatapnya dengan lembut.
Malam itu Seno tersenyum lega, memelukku erat.
“Tapi jangan sampai ada yang tahu ya, terutama ibuku,” bisik Seno.
“Bukannya kalau ibu tahu beliau bisa bantu cari solusi, Mas?” Aku melepas pelukan itu, lalu kembali menatapnya dengan bingung.
Jika orang tua kami tahu, mereka pasti akan membantu memberi dukukan pada kami, kan?
Setidaknya itu juga akan mengurangi beban mental kami karena tidak akan sering ada pertanyaan soal momongan, seperti pasangan-pasangan baru biasanya.
“Mia, ibuku bukan orang yang seperti itu. Baginya martabat adalah segalanya. Gimana kalau nanti orang lain atau keluarga nggak sengaja tahu? Itu bakal bikin ibu terpukul banget.” Seno menghela napas, lalu menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang.
Aku ikut menghela napas. Memang benar, ibu mertuaku memang agak keras dan sedikit kolot, sedangkan Seno sangat bergantung dan manja pada ibunya bahkan setelah menikah.
“Iya, Mas. Aku janji akan jaga rahasia ini, selamanya kalau perlu,” kataku akhirnya.
Pada kenyataannya, kata lebih mudah diucapkan ketimbang dilakukan.
Menjelang satu tahun pernikahan, sindiran-sindiran mulai berdatangan dari keluarga Seno.
Kapan ngisi?
Udah setahun loh ini, kok belum hamil?
Kasian loh Seno, pasti pengen banget punya anak.
Aku menelan semuanya, demi Seno yang kucintai.
Sedangkan Seno tidak melakukan apapun untuk setidaknya membelaku di depan keluarganya.
Tidak apa-apa, hanya perlu waktu, hanya perlu obat yang manjur, hanya perlu dokter yang hebat.
Selama Seno masih mencintaiku, aku akan baik-baik saja.
Hingga tahun kedua pernikahan aku masih teguh memegang janji, menjaga rahasia dan melindungi ego dan harga dirinya.
Siapa bilang keretakan rumah tangga hanya bisa datang dari ekonomi dan perselingkuhan?
Ketidakhadiran di ranjang yang terus menerus, hubungan intim suami istri yang seharusnya menjadi aktivitas rutin bisa menjadi bom waktu jika tidak dilakukan bertahun-tahun.
Dan lebih dari itu, tidak adanya dukungan dari pasangan ketika banyak orang memojokkan pun menjadi beban berat yang sekali lagi harus kupikul sendirian.
“Kok bisa sih Seno nikah sama perempuan bermasalah ini?” Ibu mertuaku murka. Pagi itu sama seperti pagi lainnya, penuh cacian dan hinaan. “Yatim piatu, nggak becus ngurus suami, nggak bisa ngasih keturunan.”
Seno tidak memberikan respon ketika ibunya berkata jahat, hanya santai menghabiskan sisa sarapannya sambil menatap layar ponsel.
“Seno itu pemimpin perusahaan besar. Handoko Grup perlu penerus, tapi sial dia malah terjebak dengan orang cacat rahim.”
Aku hanya tertunduk di hadapan piring yang kosong. Pembantu tidak lagi menyediakan porsi makan untukku, atau sudah lupa dan menganggap aku setara dengan mereka.
Baju lusuh karena tidak pernah diberikan uang untuk belanja, rambut tidak terawat, juga wajah yang kusam tidak pernah tersentuh treatment apapun.
Berbanding terbalik dengan ibu Seno yang wajahnya semulus porselen.
“Bu, kami masih berusaha. Mohon doanya untuk aku dan Mas Seno,” jawabku membela diri.
“Orang lain juga berusaha, tapi sudah terlihat hasilnya. Aku sudah tahu, menikahimu adalah kesalahan besar anakku!”
“Tapi, Bu….”
“Tidak usah tapi-tapi! Kau memang tidak berhasil membawa kebahagian dalam keluarga ini. Benar-benar lambang kegagalan Seno!”
Aku memutuskan untuk diam. Seperti wanita bodoh yang tidak punya harga diri, lagi-lagi aku menelan pil pahit hinaan itu tanpa bisa berbagi dengan Seno hanya karena aku takut.
Takut dibuang, takut tidak bisa hidup di luar sana sendirian, takut kehilangan Seno karena hanya dia satu-satunya orang yang ku punya di dunia.
Diam dan menerima adalah satu-satunya caraku mencintai Seno juga menjaga harga dirinya
Bodohnya aku yang tidak tahu bahwa diam itu bukan bentuk melindungi.
Hingga akhirnya di tahun ketiga pernikahan, aku mulai menyerah.
“Ibu marah lagi gara-gara kamu mulai berani bersuara di depan dia,” keluh pria itu.
Seno menatapku yang tengah meminum kopi buatanku sendiri. Hanya ada kami di meja makan.
“Bagus, setidaknya ibu batal makan pagi ini karena nggak mau liat mukaku,” jawabku seadanya.
“Mia, kamu nggak usah begitu sama orang tua, mending kamu minta maaf sama ibu dan mengaku salah.” Nada bicara Seno sedikit meninggi dan menatapku tajam.
“Terus kamu sendiri kapan ngaku?” balasku dengan suara setenang mungkin.
“Apa?” Dia nampak menerka arah pembicaraan.
“Kapan kamu ngaku ke ibu kalau kamu impoten?”
“Mia!” bentak Seno tanpa menahan amarahnya lagi. Kini kuyakin ibunya bisa mendengar perkelahian kami.
“Kamu nggak seharusnya bahas itu di sini! Kalau ada yang dengar gimana?” kudengar kepanikan di suaranya.
Aku tersenyum miring, begitulah Seno dan harga dirinya yang setinggi langit. Tidak pernah berubah selama tiga tahun ini.
“Mas, kamu nggak bisa menyembunyikan itu selamanya, dan aku nggak mau lagi menerima hinaan dari keluarga kamu karena sejak awal ini semua bukan salahku.”
Seno terlihat mengepalkan tangannya di atas meja dan aku berusaha tidak gentar melihat tatapannya yang menakutkan.
“Kalau kamu cinta sama aku dan masih mau hubungan ini lanjut, kamu harus ngaku, Mas,” tawarku yang sebenarnya nggak perlu. Jujur itu kewajibannya.
Hening sejenak, Seno menghela nafas sambil menatapku dingin.
“Mia, aku udah nggak cinta sama kamu, aku biarkan kamu masih tinggal di sini cuma karena kasian dengan keadaanmu yang sebatang kara dan nggak punya apa-apa.”
Kalimat itu keluar dengan mudah sekali dari mulutnya.
“Kamu bilang apa?”
“Kamu mendengarku jelas kok.”
Sesuatu patah dalam hatiku. Bukan dengan suara keras, namun menusuk dengan sangat menyakitkan.
Aku bertahan selama ini karena mencintai Seno, tapi dia tidak mencintaiku.
Panas langsung menjalar di belakang mata namun ku tahan. Ku perintahkan pada diriku untuk tidak menangis setelah melewati ribuan tangis memilukan di dalam rumah ini.
Mata kami bertemu, ekspresi Seno tidak berubah. Dan dari sejauh aku mengenalnya, tatapan itu selalu bermakna dia sedang berkata jujur.
Akhirnya aku mengangguk pelan, meyakinkan diri sendiri.
“Kalau begitu faktanya, maka semua yang kita pertahankan selama ini disudahi saja, Mas.” Aku berkata dengan satu tarikan napas.
“Aku mau cerai.”
“Uhuk! Uhuk!” Aku batuk beberapa kali, tidak perlu berakting lebih meyakinkan karena kondisiku yang memang sudah buruk.“Maaf Tuan jika saya terlihat tidak sopan, tapi saya sedang kurang sehat. Kalau berbalik dan terlalu dekat dengan Tuan, takutnya virusnya menyebar,” ucapku beralasan, Seno tidak mengatakan apapun selama beberapa detik.Keheningan yang membuat suasana semakin menegangkan.“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.“R-rena, Tuan,” jawabku gugup.“Kalau sedang sakit, istirahat saja. Jangan menyebar penyakitmu ke pelayan lain, nanti seisi rumah jadi repot.” Seno terdengar mendengus, kalimat itu jelas bukan bentuk perhatian melainkan hanya antisipasi.“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi.” Aku menunduk sekali lagi, bersiap mengambil langkah seribu menuju dapur, ketegangan ini benar-bener membuat perutku mual.Tapi suara ketukan sepatu hak tinggi tiba-tiba terdengar mendekat.“Lagi ngobrol sama siapa, Kak?” tanya Friska pada Seno, aku sempat meliriknya sebentar. Wanita itu meling
Aku tidak sanggup mengatakan apapun hingga bibirku bergetar, semua kata yang ingin ku sampaikan pada Rena tertahan di ujung tenggorokan. Perasaanku bercampur tidak karuan antara sedih, terharu, juga marah pada keadaan.Apa aku pantas mendapat pengorbanan seperti ini dari orang-orang terdekatku? Mau bagaimanapun, semua bencana yang membakar hampir semua orang ini berawal dariku yang memilih Seno sebagai suami.Aku harusnya ikut hancur dan terbakar bersama Seno, kan? Tapi kenapa…“Nyonya! Tidak ada waktu lagi, saya mohon bergeraklah.” Rena mau tidak mau menarikku yang terus diam di tempat, aku yang kembali sadar mengedipkan mata beberapa kali.“Rena, kamu yakin?” tanyaku untuk terakhir kalinya, lebih seperti meyakinkan diriku sendiri.“Saya lebih dari sekadar yakin, Nyonya, Saya siap.” Rena meraih tanganku yang sudah berdiri di sisi ranjang, lalu kami berjalan menuju sudut kamar mandi agar tidak terlihat oleh penjaga di luar.“Tuan Bara Askara sudah menunggu di gerbang, Nyonya bisa perg
Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”“Benar, Nyonya. Namanya terdengar tidak asing, saya pernah mendengar nama itu beberapa kali di berita dan majalah-majalah. Apa dia benar orang terdekat Anda? Saya yakin dia bukan orang biasa.” Aku mengangguk cepat, membenarkan.“Benar, dia memang orang terdekatku dan kamu tidak sedang kena telepon scam,” ucapku sambil menggenggam ujung selimut yang menutupi pangkuan, tanpa sadar meremasnya erat-erat. “Aku yang kasih nomor kamu ke dia beberapa hari yang lalu.”Rencana B.Aku memejamkan mata sejenak, menyerahkan
Ketika Ibu Seno hendak membuka mulut, suara ketukan di pintu membuyarkan percakapan kami.“Bu, tamu Ibu udah dateng tuh, nungguin di ruang tamu.” Aku dan Ibu Seno menoleh hampir bersamaan, Seno berdiri di ambang pintu.“Oh, Friska, ya?” Ibu Seno memperbaiki posisi berdirinya, mengusap pelan rambut bersanggul yang sudah sangat rapi itu. “Dia sih bukan tamu, tapi calon istri kamu,” selorohnya, terkekeh.“Bu, please, deh. Jangan ngomong begitu di depan Mia, dia itu masih istri sahku,” protes Seno, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar di salah satu sisi pintu. “Ucapan Ibu tadi jangan terlalu dipikirin, ya. Kamu tahu sendiri kan Ibu orangnya emang gitu.”Aku mendelik, menatapnya dengan tatapan muak. “Aku juga nggak peduli dia benar calon istri kamu atau bukan, keluar dari penjara ini jauh lebih penting dari itu.”Seno tersenyum, menggeleng pelan. “Kalau kamu menarik ucapan kamu kemarin, aku akan dengan senang hati membebaskan kamu sekarang juga.”“Ucapan apa? Tentang aku yang
Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa
Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi







