LOGIN“Aku mau cerai, Mas Seno,” ulangku lebih pelan tapi lebih tegas.
“Lagipula memang itu yang diinginkan keluargamu selama ini kan? Jadi kalian nggak perlu menunggu lebih lama karena aku yang minta duluan.”
Aku menghela nafas agar suaraku tidak bergetar, sebelum melanjutkan kalimatku.
“Kemarin aku dengar obrolan Mas sama ibu soal kamu yang harus cepat-cepat ceraikan aku karena sudah tiga tahun gagal. Bahkan ibumu sudah mencari penggantiku sejak jauh hari. Putri anak pak Wirawan kan, Mas?”
Bisa kudengar dengus nafas tidak suka dari Seno.
“Kamu nggak seharusnya menguping pembicaraan orang lain,” ucapnya tegas.
“Oh ya? Lalu kalau aku nggak tahu, akan jadi gimana akhirnya? Kamu bakal jadikan dia istri kedua di tengah ketidakmampuan kamu itu? Harus berapa banyak wanita jadi korban cuma karena harga dirimu?” jawabku dengan suara sedikit meninggi.
“Kamu mulai keterlaluan Mia.” Suaranya datar tapi bisa kurasakan amarah dalam mata Seno.
“Aku nggak mau diduakan, Mas. Lebih baik kamu lepaskan aku dan nikahi anak Pak Wirawan itu.”
Ruangan itu sangat sepi selama beberapa detik.
“Kamu pikir kamu sedang di posisi bisa minta cerai?”
Aku terdiam.
“Kamu nggak punya apa-apa, orang tuamu udah meninggal dan perusahaan keluarga kamu udah nggak ada. Kamu masuk ke keluarga ini dengan tangan kosong dan selama tiga tahun aku yang menanggung semuanya.”
Perkataannya yang sinis benar-benar membuat telingaku panas.
“Kamu yang nanggung? Perusahaan keluargaku nggak ada karena keluarga kamu yang menyerap semuanya, lalu aku menanggung semua pertanyaan soal keturunan, tidak pernah diperlakukan adil, tidak pendapat pembelaan sekalipun dari suami sendiri, tatapan keluargamu yang menganggap aku menjijikan, dan sekarang kamu bilang kamu yang-“
“DIAM!” bentaknya memotong ucapanku.
Nada peringatan akhirnya muncul. Suara keras yang familiar itu akhirnya keluar ketika menurutnya aku mulai melewati batas.
“Nggak akan pernah ada cerai antara kita, bahkan dalam mimpimu.”
“Kenapa? Bukannya kamu bilang nggak mencintai aku lagi? Harusnya itu sudah jadi alasan kuat untuk kita berpisah.”
Hening. Dia diam lama. Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu.
“Ah, sekarang aku mengerti. Apa karena aku memegang rahasiamu yang paling memalukan itu sampai kamu tetap mau aku di sini?”
Kilat mata Seno menjawab semuanya. Kalimatku nampak benar-benar melukai harga dirinya.
“Kalau kamu nggak setuju bercerai, maka aku akan bilang ke keluargamu. Nggak, tapi ke seluruh dunia kalau yang mandul itu bukan aku, tapi kamu!”
Seno menggebrak meja hingga gelas juga sendok garpu berjatuhan.
PRAK!
Suara keras menggema di ruangan yang sepenuhnya berlantai keramik.
Aku tidak sempat bereaksi saat Seno dengan cepat menghampiriku dan langsung mengarahkan tangan ke leher.
Jari-jarinya melingkar, memotong pasokan udara sebelum aku sempat menarik napas penuh.
Tubuhku membentur dinding dan terangkat sepenuhnya dengan tangan Seno masih mencengkram kuat, aku mendengar suara tenggorokanku sendiri yang mati-matian mencari udara, nafasku semakin pendek dan putus apalagi sekarang kakiku kehilangan pijakan.
“Mandul? Kamu mau bilang ke siapa kalau aku mandul, HAH?!”
Matanya menatapku dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku mencengkram pergelangan tangannya sambil berusaha mencuri napas, paru-paruku terasa terbakar.
“Kamu pikir aku akan membiarkan kamu melakukan itu?!” bisiknya bengis.
Tekananan tangannya mengencang membuat dunia mulai berputar di tepi pandanganku.
“Daripada kamu hidup dan buka mulut, LEBIH BAIK KAMU MATI MIA!” Mataku mulai memutih dengan pandangan hampir sepenuhnya gelap, tanganku yang mencengkram pergelangannya sudah tidak punya tenaga.
Hingga akhirnya Seno tiba-tiba melepaskan cengkramannya di leherku, membuatku jatuh membentur lantai dengan keras.
BRUK!
Udara masuk ke paru-paru dengan cara yang sangat menyakitkan, batuk hebat tak tertahankan.
“Uhuk … uhuk …hah ….”
Dia masih berdiri di hadapanku dengan napas memburu dan tangan yang mengepal di sisi tubuh, aku tidak bisa melihat ekspresinya karena pandanganku terlalu berair untuk melihat dengan jelas.
Kemudian dia berbalik, meninggalkanku tanpa menoleh dan mengatakan apapun.
Aku masih terbatuk di lantai memegangi leher yang panas dan nyeri, juga tubuh yang gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.
Tiga tahun pernikahan itu benar-benar runtuh, sekarang aku benar-benar tidak mengenal sosok suamiku lagi
“Kamu gila, Mas!”
***
Sejak hari itu kehidupanku di rumah ini semakin buruk.
Tidak ada lagi tidur satu ranjang. Kamarku dipindahkan sepihak atas perintah Seno ke kamar yang sempit dan sangat dekat dengan gudang. Bahkan kamar pelayan mungkin lebih layak.
“Kenapa semua barangku dipindah? Siapa yang nyuruh kalian?” tanyaku pada beberapa pelayan yang mengangkat barangku tanpa meminta persetujuan lebih dulu.
“Tuan Seno langsung yang minta,” balasnya singkat.
“Tunggu sampai Seno pulang dulu, aku akan bicara sama dia nanti.” Seakan tidak mendengar ucapanku, mereka tetap bergerak gesit bahkan hampir menabrakku yang berusaha menghalangi mereka.
“Tidak, perintah tuan Seno sudah jelas. Lagipula kami tidak punya kewajiban menurut pada Nyonya.”
Aku terdiam, bahkan pelayan tidak punya rasa hormat lagi padaku.
Setelah semua barang dipindahkan ke kamar yang baru, aku mulai menjalani hari-hari bak di penjara.
Aku bahkan tidak lagi diizinkan keluar rumah bahkan hanya untuk sekedar menyiram bunga di taman belakang.
Pun sekarang sarapanku dibedakan jamnya. Aku hanya boleh datang ke meja makan jika Seno dan ibunya sudah tidak berada di sana.
Suatu pagi aku lupa jadwal yang sudah ditentukan.
“Ngapain kamu di sini?” ucap Ibu Seno langsung mendongak dari kopinya.
Seno juga ada disana, tapi mengabaikanku sepenuhnya.
“Mia cuma mau ambil minum, Bu,”
“Air minum udah ada di belakang,” suaranya tajam. “Atau perlu aku antar
langsung supaya kamu nggak salah jalan?”
Aku mundur tanpa membalas, kembali ke kamar dengan tenggorokan kering.
Minggu pertama sangat menyiksa. Efek dari cekikan hari itu membekas meninggalkan lebam biru yang ngilu jika disentuh. Demam juga mulai menyerang.
Dengan kondisi payah aku mendatangi salah satu pelayan dengan suara yang kupaksa tetap tenang.
“Bisa tolong ambilkan obat penurun panas? Di lemari obat dekat dapur.”
Pelayan itu menatapku dari atas ke bawah, nampak terganggu.
“Ambil sendiri, kek.” Dia berbalik melanjutkan pekerjaannya. “Saya bukan suruhan Nyonya.”
“Aku lagi demam, nggak kuat jalan jauh,” suaraku akhirnya pecah karena pusing yang semakin parah.
“Demam ya demam aja, semua orang juga pernah sakit.” Dia berdecak jelas di telingaku.
“Lagian buat apa juga capek-capek bantu, toh Ibu bilang Nyonya udah nggak dianggap di rumah ini.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari demam yang menyerang tubuhku.
“Tolong,” ucapku memohon. “Cuma satu butir.”
Dia menatapku sebentar dengan tatapan antara malas dan tidak peduli, kemudian pergi tanpa menjawab. Dua puluh menit kemudian ia kembali dengan sebutir obat yang dilempar persis mengenai wajahku.
Seperti memberi makan hewan peliharaan yang tidak dia suka.
“Lain kali jangan ganggu saya kerja cuma gara-gara sakit kecil,” dengusnya sebelum keluar kamar.
Aku menelan obat itu dengan air keran dari kamar mandi karena sejak dua hari lalu persediaan air minum habis, sambil menangis dalam diam supaya tidak ada yang mendengar betapa kecilnya aku sekarang di rumah ini, bahkan di mata seorang pelayan.
Selama hampir dua minggu aku tidak pernah melihat Seno bahkan berpapasan dengannya. Dia seakan menciptakan tembok tinggi yang tidak bisa kulewati.
Malam demi malam tidur meringkuk karena dingin yang menusuk tulang, tidak ada kasur empuk dan selimut yang hangat.
Aku sudah dibuang.
“Jadi, begini akhirnya?” gumamku lirih dengan pandangan putus asa.
Pada akhirnya mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini sambil menatap Seno membangun keluarga baru di atas atap yang sama.
Namun di titik keputusasaan itu hampir berubah menjadi penerimaan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar.
Seno berdiri di sana setelah dua minggu memperlakukanku seperti barang yang tidak lagi berguna.
“Mia, aku minta maaf,” ucapnya tenang, menatap wajahku dengan tatapan yang jauh berbeda dari yang terakhir kulihat.
Aku yang terkejut mundur dua langkah. Trauma atas kejadian itu masih begitu membekas. Menatapnya saja membuat tubuhku gemetar ketakutan, padahal Seno adalah suamiku sendiri.
“Maaf selama ini aku mengurung kamu di sini. Aku cuma pengen ngasih kamu teguran Mia, nggak lebih.”
Suaranya terdengar lembut, persis seperti saat masih pacaran dulu. Nada suara yang hampir kulupakan.
“Kemarin kamu keterlaluan. Aku cuma nggak mau kamu jadi pembangkang. Pas kamu bilang mau cerai sama aku, rasanya sakit banget.” Perlahan dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipiku.
Sedangkan aku yang tidak punya keberanian lagi di hadapannya hanya bisa diam.
“Sekarang kamu udah ngerti kan? Besok-besok jangan begitu lagi ya. Kalau kamu nggak bertingkah, aku nggak bakal nyakitin kamu kok.”
Aku mengangguk pelan karena tidak punya pilihan dan menyerah pada keadaan.
Seno tersenyum lebar.
Sekarang resmi sudah dia memiliki semuanya, termasuk hidupku.
“Uhuk! Uhuk!” Aku batuk beberapa kali, tidak perlu berakting lebih meyakinkan karena kondisiku yang memang sudah buruk.“Maaf Tuan jika saya terlihat tidak sopan, tapi saya sedang kurang sehat. Kalau berbalik dan terlalu dekat dengan Tuan, takutnya virusnya menyebar,” ucapku beralasan, Seno tidak mengatakan apapun selama beberapa detik.Keheningan yang membuat suasana semakin menegangkan.“Siapa namamu?” tanyanya akhirnya.“R-rena, Tuan,” jawabku gugup.“Kalau sedang sakit, istirahat saja. Jangan menyebar penyakitmu ke pelayan lain, nanti seisi rumah jadi repot.” Seno terdengar mendengus, kalimat itu jelas bukan bentuk perhatian melainkan hanya antisipasi.“Baik Tuan, kalau begitu saya permisi.” Aku menunduk sekali lagi, bersiap mengambil langkah seribu menuju dapur, ketegangan ini benar-bener membuat perutku mual.Tapi suara ketukan sepatu hak tinggi tiba-tiba terdengar mendekat.“Lagi ngobrol sama siapa, Kak?” tanya Friska pada Seno, aku sempat meliriknya sebentar. Wanita itu meling
Aku tidak sanggup mengatakan apapun hingga bibirku bergetar, semua kata yang ingin ku sampaikan pada Rena tertahan di ujung tenggorokan. Perasaanku bercampur tidak karuan antara sedih, terharu, juga marah pada keadaan.Apa aku pantas mendapat pengorbanan seperti ini dari orang-orang terdekatku? Mau bagaimanapun, semua bencana yang membakar hampir semua orang ini berawal dariku yang memilih Seno sebagai suami.Aku harusnya ikut hancur dan terbakar bersama Seno, kan? Tapi kenapa…“Nyonya! Tidak ada waktu lagi, saya mohon bergeraklah.” Rena mau tidak mau menarikku yang terus diam di tempat, aku yang kembali sadar mengedipkan mata beberapa kali.“Rena, kamu yakin?” tanyaku untuk terakhir kalinya, lebih seperti meyakinkan diriku sendiri.“Saya lebih dari sekadar yakin, Nyonya, Saya siap.” Rena meraih tanganku yang sudah berdiri di sisi ranjang, lalu kami berjalan menuju sudut kamar mandi agar tidak terlihat oleh penjaga di luar.“Tuan Bara Askara sudah menunggu di gerbang, Nyonya bisa perg
Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”“Benar, Nyonya. Namanya terdengar tidak asing, saya pernah mendengar nama itu beberapa kali di berita dan majalah-majalah. Apa dia benar orang terdekat Anda? Saya yakin dia bukan orang biasa.” Aku mengangguk cepat, membenarkan.“Benar, dia memang orang terdekatku dan kamu tidak sedang kena telepon scam,” ucapku sambil menggenggam ujung selimut yang menutupi pangkuan, tanpa sadar meremasnya erat-erat. “Aku yang kasih nomor kamu ke dia beberapa hari yang lalu.”Rencana B.Aku memejamkan mata sejenak, menyerahkan
Ketika Ibu Seno hendak membuka mulut, suara ketukan di pintu membuyarkan percakapan kami.“Bu, tamu Ibu udah dateng tuh, nungguin di ruang tamu.” Aku dan Ibu Seno menoleh hampir bersamaan, Seno berdiri di ambang pintu.“Oh, Friska, ya?” Ibu Seno memperbaiki posisi berdirinya, mengusap pelan rambut bersanggul yang sudah sangat rapi itu. “Dia sih bukan tamu, tapi calon istri kamu,” selorohnya, terkekeh.“Bu, please, deh. Jangan ngomong begitu di depan Mia, dia itu masih istri sahku,” protes Seno, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar di salah satu sisi pintu. “Ucapan Ibu tadi jangan terlalu dipikirin, ya. Kamu tahu sendiri kan Ibu orangnya emang gitu.”Aku mendelik, menatapnya dengan tatapan muak. “Aku juga nggak peduli dia benar calon istri kamu atau bukan, keluar dari penjara ini jauh lebih penting dari itu.”Seno tersenyum, menggeleng pelan. “Kalau kamu menarik ucapan kamu kemarin, aku akan dengan senang hati membebaskan kamu sekarang juga.”“Ucapan apa? Tentang aku yang
Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa
Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi







