Home / Romansa / Hidup di Dekapan Musuh Suamiku / 2. Ancaman Yang Menyiksa

Share

2. Ancaman Yang Menyiksa

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-06-22 15:03:39

“Aku mau cerai, Mas Seno,” ulangku lebih pelan tapi lebih tegas.

“Lagipula memang itu yang diinginkan keluargamu selama ini kan? Jadi kalian nggak perlu menunggu lebih lama karena aku yang minta duluan.”

Aku menghela nafas agar suaraku tidak bergetar, sebelum melanjutkan kalimatku.

“Kemarin aku dengar obrolan Mas sama ibu soal kamu yang harus cepat-cepat ceraikan aku karena sudah tiga tahun gagal. Bahkan ibumu sudah mencari penggantiku sejak jauh hari. Putri anak pak Wirawan kan, Mas?”

Bisa kudengar dengus nafas tidak suka dari Seno.

“Kamu nggak seharusnya menguping pembicaraan orang lain,” ucapnya tegas.

“Oh ya? Lalu kalau aku nggak tahu, akan jadi gimana akhirnya? Kamu bakal jadikan dia istri kedua di tengah ketidakmampuan kamu itu? Harus berapa banyak wanita jadi korban cuma karena harga dirimu?” jawabku dengan suara sedikit meninggi.

“Kamu mulai keterlaluan Mia.” Suaranya datar tapi bisa kurasakan amarah dalam mata Seno.

“Aku nggak mau diduakan, Mas. Lebih baik kamu lepaskan aku dan nikahi anak Pak Wirawan itu.”

Ruangan itu sangat sepi selama beberapa detik.

“Kamu pikir kamu sedang di posisi bisa minta cerai?”

Aku terdiam.

“Kamu nggak punya apa-apa, orang tuamu udah meninggal dan perusahaan keluarga kamu udah nggak ada. Kamu masuk ke keluarga ini dengan tangan kosong dan selama tiga tahun aku yang menanggung semuanya.”

Perkataannya yang sinis benar-benar membuat telingaku panas.

“Kamu yang nanggung? Perusahaan keluargaku nggak ada karena keluarga kamu yang menyerap semuanya, lalu aku menanggung semua pertanyaan soal keturunan, tidak pernah diperlakukan adil, tidak pendapat pembelaan sekalipun dari suami sendiri, tatapan keluargamu yang menganggap aku menjijikan, dan sekarang kamu bilang kamu yang-“

“DIAM!” bentaknya memotong ucapanku.

Nada peringatan akhirnya muncul. Suara keras yang familiar itu akhirnya keluar ketika menurutnya aku mulai melewati batas.

“Nggak akan pernah ada cerai antara kita, bahkan dalam mimpimu.”

“Kenapa? Bukannya kamu bilang nggak mencintai aku lagi? Harusnya itu sudah jadi alasan kuat untuk kita berpisah.”

Hening. Dia diam lama. Hingga akhirnya aku menyadari sesuatu.

“Ah, sekarang aku mengerti. Apa karena aku memegang rahasiamu yang paling memalukan itu sampai kamu tetap mau aku di sini?”

Kilat mata Seno menjawab semuanya. Kalimatku nampak benar-benar melukai harga dirinya.

“Kalau kamu nggak setuju bercerai, maka aku akan bilang ke keluargamu. Nggak, tapi ke seluruh dunia kalau yang mandul itu bukan aku, tapi kamu!”

Seno menggebrak meja hingga gelas juga sendok garpu berjatuhan.

PRAK!

Suara keras menggema di ruangan yang sepenuhnya berlantai keramik.

Aku tidak sempat bereaksi saat Seno dengan cepat menghampiriku dan langsung mengarahkan tangan ke leher.

Jari-jarinya melingkar, memotong pasokan udara sebelum aku sempat menarik napas penuh.

Tubuhku membentur dinding dan terangkat sepenuhnya dengan tangan Seno masih mencengkram kuat, aku mendengar suara tenggorokanku sendiri yang mati-matian mencari udara, nafasku semakin pendek dan putus apalagi sekarang kakiku kehilangan pijakan.

“Mandul? Kamu mau bilang ke siapa kalau aku mandul, HAH?!”

Matanya menatapku dengan cara yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Aku mencengkram pergelangan tangannya sambil berusaha mencuri napas, paru-paruku terasa terbakar.

“Kamu pikir aku akan membiarkan kamu melakukan itu?!” bisiknya bengis.

Tekananan tangannya mengencang membuat dunia mulai berputar di tepi pandanganku.

“Daripada kamu hidup dan buka mulut, LEBIH BAIK KAMU MATI MIA!” Mataku mulai memutih dengan pandangan hampir sepenuhnya gelap, tanganku yang mencengkram pergelangannya sudah tidak punya tenaga.

Hingga akhirnya Seno tiba-tiba melepaskan cengkramannya di leherku, membuatku jatuh membentur lantai dengan keras.

BRUK!

Udara masuk ke paru-paru dengan cara yang sangat menyakitkan, batuk hebat tak tertahankan.

“Uhuk … uhuk …hah ….”

Dia masih berdiri di hadapanku dengan napas memburu dan tangan yang mengepal di sisi tubuh, aku tidak bisa melihat ekspresinya karena pandanganku terlalu berair untuk melihat dengan jelas.

Kemudian dia berbalik, meninggalkanku tanpa menoleh dan mengatakan apapun.

Aku masih terbatuk di lantai memegangi leher yang panas dan nyeri, juga tubuh yang gemetar dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Tiga tahun pernikahan itu benar-benar runtuh, sekarang aku benar-benar tidak mengenal sosok suamiku lagi

“Kamu gila, Mas!”

***

Sejak hari itu kehidupanku di rumah ini semakin buruk.

Tidak ada lagi tidur satu ranjang. Kamarku dipindahkan sepihak atas perintah Seno ke kamar yang sempit dan sangat dekat dengan gudang. Bahkan kamar pelayan mungkin lebih layak.

“Kenapa semua barangku dipindah? Siapa yang nyuruh kalian?” tanyaku pada beberapa pelayan yang mengangkat barangku tanpa meminta persetujuan lebih dulu.

“Tuan Seno langsung yang minta,” balasnya singkat.

“Tunggu sampai Seno pulang dulu, aku akan bicara sama dia nanti.” Seakan tidak mendengar ucapanku, mereka tetap bergerak gesit bahkan hampir menabrakku yang berusaha menghalangi mereka.

“Tidak, perintah tuan Seno sudah jelas. Lagipula kami tidak punya kewajiban menurut pada Nyonya.”

Aku terdiam, bahkan pelayan tidak punya rasa hormat lagi padaku.

Setelah semua barang dipindahkan ke kamar yang baru, aku mulai menjalani hari-hari bak di penjara.

Aku bahkan tidak lagi diizinkan keluar rumah bahkan hanya untuk sekedar menyiram bunga di taman belakang.

Pun sekarang sarapanku dibedakan jamnya. Aku hanya boleh datang ke meja makan jika Seno dan ibunya sudah tidak berada di sana.

Suatu pagi aku lupa jadwal yang sudah ditentukan.

“Ngapain kamu di sini?” ucap Ibu Seno langsung mendongak dari kopinya.

Seno juga ada disana, tapi mengabaikanku sepenuhnya.

“Mia cuma mau ambil minum, Bu,”

“Air minum udah ada di belakang,” suaranya tajam. “Atau perlu aku antar

langsung supaya kamu nggak salah jalan?”

Aku mundur tanpa membalas, kembali ke kamar dengan tenggorokan kering.

Minggu pertama sangat menyiksa. Efek dari cekikan hari itu membekas meninggalkan lebam biru yang ngilu jika disentuh. Demam juga mulai menyerang.

Dengan kondisi payah aku mendatangi salah satu pelayan dengan suara yang kupaksa tetap tenang.

“Bisa tolong ambilkan obat penurun panas? Di lemari obat dekat dapur.”

Pelayan itu menatapku dari atas ke bawah, nampak terganggu.

“Ambil sendiri, kek.” Dia berbalik melanjutkan pekerjaannya. “Saya bukan suruhan Nyonya.”

“Aku lagi demam, nggak kuat jalan jauh,” suaraku akhirnya pecah karena pusing yang semakin parah.

“Demam ya demam aja, semua orang juga pernah sakit.” Dia berdecak jelas di telingaku.

“Lagian buat apa juga capek-capek bantu, toh Ibu bilang Nyonya udah nggak dianggap di rumah ini.”

Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari demam yang menyerang tubuhku.

“Tolong,” ucapku memohon. “Cuma satu butir.”

Dia menatapku sebentar dengan tatapan antara malas dan tidak peduli, kemudian pergi tanpa menjawab. Dua puluh menit kemudian ia kembali dengan sebutir obat yang dilempar persis mengenai wajahku.

Seperti memberi makan hewan peliharaan yang tidak dia suka.

“Lain kali jangan ganggu saya kerja cuma gara-gara sakit kecil,” dengusnya sebelum keluar kamar.

Aku menelan obat itu dengan air keran dari kamar mandi karena sejak dua hari lalu persediaan air minum habis, sambil menangis dalam diam supaya tidak ada yang mendengar betapa kecilnya aku sekarang di rumah ini, bahkan di mata seorang pelayan.

Selama hampir dua minggu aku tidak pernah melihat Seno bahkan berpapasan dengannya. Dia seakan menciptakan tembok tinggi yang tidak bisa kulewati.

Malam demi malam tidur meringkuk karena dingin yang menusuk tulang, tidak ada kasur empuk dan selimut yang hangat.

Aku sudah dibuang.

“Jadi, begini akhirnya?” gumamku lirih dengan pandangan putus asa.

Pada akhirnya mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku di sini sambil menatap Seno membangun keluarga baru di atas atap yang sama.

Namun di titik keputusasaan itu hampir berubah menjadi penerimaan, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamar.

Seno berdiri di sana setelah dua minggu memperlakukanku seperti barang yang tidak lagi berguna.

“Mia, aku minta maaf,” ucapnya tenang, menatap wajahku dengan tatapan yang jauh berbeda dari yang terakhir kulihat.

Aku yang terkejut mundur dua langkah. Trauma atas kejadian itu masih begitu membekas. Menatapnya saja membuat tubuhku gemetar ketakutan, padahal Seno adalah suamiku sendiri.

“Maaf selama ini aku mengurung kamu di sini. Aku cuma pengen ngasih kamu teguran Mia, nggak lebih.”

Suaranya terdengar lembut, persis seperti saat masih pacaran dulu. Nada suara yang hampir kulupakan.

“Kemarin kamu keterlaluan. Aku cuma nggak mau kamu jadi pembangkang. Pas kamu bilang mau cerai sama aku, rasanya sakit banget.” Perlahan dia mengulurkan tangan dan menyentuh pipiku.

Sedangkan aku yang tidak punya keberanian lagi di hadapannya hanya bisa diam.

“Sekarang kamu udah ngerti kan? Besok-besok jangan begitu lagi ya. Kalau kamu nggak bertingkah, aku nggak bakal nyakitin kamu kok.”

Aku mengangguk pelan karena tidak punya pilihan dan menyerah pada keadaan.

Seno tersenyum lebar.

Sekarang resmi sudah dia memiliki semuanya, termasuk hidupku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
hhmm kelakuan nya Seno sudah benar² yah kaya sifat² sadis untuk menundukkan istrinya,suami macam ni emang ada kelainan dan enggk jauh dri kelakuan aneh orang kaya yg kadang kalu nyiksa orang enggak punya perasaan,,
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   92. Tempat Bersandar

    Hujan deras langsung menyambutku tanpa peringatan ketika melangkah keluar dari rumah megah Tante Ratih.Gaun hitamku basah kuyup dalam hitungan detik, kain berat itu menempel di kulit membuat langkahku melambat. Riasan gothic yang tadinya begitu rapi kini luntur perlahan mengikuti aliran hujan yang membasahi wajahku.Aku terus berjalan menyusuri jalan setapak taman yang luas menuju gerbang depan, sepatu boots yang kukenakan mulai terasa licin di atas paving basah membuat langkahku goyah beberapa kali.Akhirnya dengan kesabaran yang sudah habis total sejak di pesta tadi, aku berhenti sejenak lalu membungkuk, melepas sepatu itu satu per satu dan melemparkannya sembarangan ke rerumputan di sisi jalan.Aku mengumpat.Dengan kaki telanjang aku terus berjalan menapaki aspal yang dingin dan basah, kerikil-kerikil kecil menusuk kulitku, tapi aku tidak lagi peduli.Semuanya sudah berjalan sesuai rencana, pesta malam ini benar-benar berubah menjadi kacau dan pasti akan meninggalkan jejak yang p

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   91. Kenyataan

    Seno menatapku antara sangsi dan murka, saat ini dia pasti takut aku membocorkan rahasianya di depan orang banyak.“JAGA MULUT KAMU!” Ibu Seno lebih dulu berteriak sebelum Seno melangkah maju. “Jangan sok-sokan merasa kamu tahu segalanya tentang Seno! Aku Ibunya jauh lebih tahu tentang dia dan semua rahasianya.”Aku tersenyum miring mendengar pembelaan yang buta itu. Di mata mertuaku, Seno adalah seorang malaikat yang tidak pernah salah dalam hal apa pun.“Aku istri Mas Seno, Bu. Tidak mungkin aku nggak mengetahui apa-apa tentang dia.” Pandanganku tertuju pada sosok Seno yang mendekat dengan hati-hati, memberiku isyarat agar tidak bicara lebih jauh dari apa yang sudah ku katakan.Tapi aku tidak mau menuruti kehendaknya.“Orang yang Ibu banggakan selama ini, sebenarnya…”“Cukup, Mia!” potong Seno cepat, mengangkat tangannya berusaha menghentikanku. “Sekali lagi kamu bicara, urusan di antara kita nggak akan berakhir mudah!”Aku mendengus, lihatlah orang-orang ini. Aku berdiri di tengah

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   90. Melawan

    Begitu Friska berpaling sejenak untuk menyapa tamu lain yang mendekat, Seno buru-buru meraih lenganku dan menariknya menuju sudut yang lebih sepi. Kami berdiri di dekat pilar besar berukir yang menjulang di tepi aula.“Mia, kamu gila, ya?!” desis Seno, suaranya ditekan serendah mungkin agar tidak terdengar tamu lain. “Ngapain kamu dandan kayak gini?! Bikin aku malu tahu nggak!” Mata Seno menyala marah.“Emang kenapa kalau aku pakai gaun ini?” tanyaku, mengangkat dagu seolah balik menantangnya. “Toh aku suka. Bukannya nggak ada aturan resmi soal tamu harus pakai gaun kayak apa?”“Mia!” bentaknya.“Ini pesta ulang tahun Mas, bukan fashion show yang punya dress code ketat.” potongku dengan suara tenang. “Aku mau pakai apa yang aku suka.”Seno menggertakkan gigi dengan kedua tangan mengepal, dia jelas ingin membentakku dengan keras tapi tertahan karena tidak ingin menarik perhatian orang-orang. Dia menatapku lama, wajahnya memerah menahan emosi.Pada akhirnya Seno hanya bisa mendengus kas

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   89. Pesta Dimulai

    Halaman rumah megah bergaya klasik eropa milik tante ratih dipenuhi lampu taman yang berkelap-kelip. Valet parkir terlihat sibuk mengarahkan mobil-mobil yang masuk, salah satunya mobil Friska yang melaju pelan berjejer rapi dengan mobil lainnya.Aku dan Friska melangkah keluar mobil hampir bersamaan, menciptakan pemandangan yang cukup dramatis. Dan detik itu juga, seluruh mata yang berkumpul di teras langsung berpaling ke arah kami.Semua ini tentu saja bukan hanya karena penampilanku yang mencolok, tapi karena kejomplangan yang begitu jelas antara pakaianku dan Friska. Gaun dusty pink lembut yang dikenakan Friska membuatnya terlihat bagai tokoh utama dalam drama romansa.Sementara aku, berdiri di sampingnya bagaikan antagonis yang sengaja muncul untuk merusak suasana bahagia.Beberapa tamu berbisik-bisik, ada juga yang terlihat cekikikan. Tapi aku tidak peduli.Aku melangkah maju dengan percaya diri, sepatu boots-ku mengetuk pelan di anak tangga marmer, pesta ini benar-benar sama per

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   88. Persiapan Pesta

    Ponselku bergetar di atas meja salon, menampilkan nama Seno di layarnya. Aku menekan tombol jawab sambil memperhatikan kukuku yang baru selesai dipasangi kuku palsu.“Halo.”“Mia, kamu masih lama nggak? Aku sama Ibu udah mau berangkat, nih.” Suara Seno di seberang sana terdengar tidak sabaran.Aku sedikit memiringkan kepala, membuat make-up artis yang sedang mengaplikasikan eyeliner tebal di sudut mataku berhenti sebentar. “Aku masih di salon, Mas.”Seno mendesah gusar. “Kamu lambat, aku nggak mau nungguin kamu, Mia. Aku berangkat duluan aja sama Ibu!” gerutu Seno, aku yang tidak terlalu peduli dengan hal itu menoleh pada make-up artis di sebelahku, mengangguk padanya agar melanjutkan pekerjaan.“Iya, iya… Kamu sama Ibu duluan aja,” jawabku tenang.“Kamu jangan sampai telat. Jangan bikin malu di depan keluarga besar!” ucap Seno bersungut-sungut.Bikin malu? Yang ada aku yang bakal di permalukan di sana. Kalian semua sengaja membawaku ke pesta itu hanya untuk jadi bahan olok-olok.“Iya

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   87. Seno Marah

    Friska sudah pulang satu jam sebelum waktu makan malam.Suara sendok beradu di piring porselen, gelas kristal sesekali terdengar berdenting. Keheningan seperti biasa menghiasi meja makan panjang keluarga Handoko, hanya ada selingan suara pelayan yang sesekali datang mengganti hidangan.Aku duduk di posisi biasa, menyendok sup ayam perlahan karena panas. Sementara Seno di kursi kepala keluarga sibuk menggulir ponsel di sela suapannya.Hingga Ibu Seno tiba-tiba memecah keheningan.“Seno, Ibu baru aja ngundang satu orang lagi buat pesta ulang tahun Tante Ratih lusa.” Dia berkata dengan nada senang. “Orang ini bukan orang biasa, lho.”Seno mendongak dari ponselnya dengan gerakan malas, mendesah berat. “Bu, undangan udah disebar banyak banget. Kolega, teman arisan Ibu, ketua yayasan, sekarang siapa lagi yang mau Ibu undang?”“Tapi rasanya sayang banget kalau nggak ngundang dia,” ucap Ibu Seno sambil mengangkat dagu sedikit bangga, lalu menoleh tajam ke arahku. “Entah gimana caranya Mia bis

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status