Share

45. Ciuman Lolipop

Penulis: Shyneko
last update Tanggal publikasi: 2026-07-28 19:36:47

“Kaburnya cepat amat, kayak kelinci,” ucap Bara sambil berjalan menghampiriku dengan senyum sumringah, pipinya sedikit memerah mungkin efek dari alkohol.

“Nggak kok, perasaan kamu aja itu,” sanggahku berusaha mengelak, padahal aku sendiri sadar kalau tadi lari secepat orang kebelet pup.

Tapi pada akhirnya tetap ketangkep juga, tuh. Tetap disamperin.

“Aku juga mau hirup udara segar dulu, deh. Lumayan sumpek di dalam.” Bara ikut menyenderkan tubuhnya ke dinding tepat di sebelahku.

Kami membiarkan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (2)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
ini sih mewakili banget ciuman lolipop termanis tahun 2026 ...
goodnovel comment avatar
Nani Sore
oke² tenangkan dirimu pelan² aku tahu ini situasi yang sangat nikmat dan pikiran sudah kmna² kan ...... tpi Mia malah bilang " apa itu normal?" ya ampun Mia dengan pernyataan Mia bikin aku penasaran dengan si seno² brrti emang enggk beres sama anu nya ... malah Mia jdi terkesan polos ...
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   78. Bye,Pengkhianat!

    “Lihat, bahkan Ibu sudah mengakuinya,” ucapku dingin ke arah Bibi Sona. “Jadi, lebih baik Bibi juga mengaku sekarang kalau Bibi lah yang mencuri kotak perhiasan Ibu.”Bibi Sona mundur dua langkah, dia tidak bisa lagi melakukan alibi apa pun, sedangkan suami Bibi Sona mendekat ke arahku dengan wajah marah.“Berani-beraninya kamu menuduh istri saya! Ini jelas-jelas jebakan!” serunya tidak terima dengan perkataanku.“Siapa yang menjebak? Buktinya sudah sejelas itu, kok! Kapan sih kalian orang-orang kepala batu berhenti denial?” Aku sama sekali tidak gentar melihat ekspresi suami Bibi Sona yang sudah seperti beruang terluka, bersiap hendak menyerangku.“Dasar wanita sialan!”Tiba-tiba suami Bibi Sona menghambur ke arahku, tangannya terjulur hendak mencengkram leherku.“Tahan, Pak!” Dua atau tiga orang pelayan langsung bergerak melindungiku, membentuk pagar dengan tubuh mereka. “Tidak boleh ada kekerasan di sini, mau bagaimana pun juga Nyonya Mia itu majikan kita.”Tanganku gemetar pelan,

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   77. Bukti Jelas

    Kembali ke waktu sekarang, di ruang aula tempat semua orang berkumpul.“Pencuri perhiasan itu, adalah orang ini,” suaraku menggema jelas di seluruh ruangan.“Bibi Sona.”Semua orang seketika diam, atmosfer ruangan terasa penuh dengan ketegangan dan rasa terkejut yang pekat. Rasanya begitu hening tapi sesak, aku bahkan sampai bisa mendengar detak jantung sendiri.Sampai tiba-tiba tawa Ibu Seno terdengar memecah keheningan. Suara tawa yang begitu sinis dan meremehkan.“Ha ha ha… Astaga, Mia. Apa kamu udah sebegitu putus asanya mau mempermalukan Bibi Sona sampai-sampai berani ngomong hal yang nggak masuk akal kayak gini?” katanya menggeleng-gelengkan kepala, menyeka sudut mata seolah menahan air mata karena terlalu geli.Beberapa pelayan ikut tertawa mengejek, jelas sengaja menunjukkan keberpihakan mereka. Tapi ada pula pelayan lainnya yang justru diam, mereka tidak ikut tertawa dan malah menyipitkan mata penuh curiga, tanda bahwa suara di antara para pelayan mulai terbelah.Bibi Sona mu

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   76. Rangkaian Rencana

    Aku bergerak cepat mencari tempat persembunyian, menyelipkan diri di balik tirai besar yang menggantung dekat jendela koridor. Langkah kaki orang itu membuatku menahan napas, tubuhku menempel serapat mungkin dengan dinding.Semoga dia tidak menyadari keberadaanku di sini.Suami Bibi Sona akhirnya melintas di depanku, rasanya begitu dekat hingga aku bisa mencium samar aroma rokok yang menempel di seragamnya.Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga dia tidak menoleh dan menyadari keberadaanku yang bagai gundukan kecil di balik tirai ini.Beberapa detik terasa seperti satu abad lamanya, hingga akhirnya suara langkah itu terdengar menjauh.Aku memberanikan diri mengintip sedikit, suami Bibi Sona terlihat membuka pintu ruang keamanan tanpa sedikit pun rasa curiga, lalu menutupnya dengan santai.Aku menghela napas panjang sembari memegangi dada yang masih berdegup liar. Setelah memastikan koridor benar-benar aman, aku melangkah keluar dari balik tirai itu dengan langkah super hati-hat

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   75. Aksi yang Beresiko

    Perkataan Bara membuatku sedikit bingung. “Maksud kamu?”Bara mulai menjelaskan idenya, suaranya yang bersemangat membuatku mendengarkan setiap detailnya tanpa mau melewatkan sedikit pun. Penjelasan itu terus mengalir dan semakin lama Bara bicara, mataku semakin membulat karena berbagai ide mulai bermunculan di kepalaku.“Bara,” ucapku sambil tersenyum lebar. “Aku rasa… Aku udah punya gambaran rencana yang lebih baik setelah mendengar saran dari kamu.”“Oh ya? baguslah kalau gitu.” Bara terdengar senang.“Iya, hanya tinggal satu hal lagi,” kataku sengaja menggantung kalimat.“Apa itu?” tanya Bara penasaran.“Kayaknya aku butuh satu alat buat menunjang rencana ini biar berhasil. Kamu bisa bantu aku?”“Tentu, bilang aja apa yang kamu butuhin, Mia,” balas Bara, aku langsung menyebut nama barang itu yang membuat dia terkekeh pelan.“Oke, itu bukan permintaan yang sulit.” Aku menghela napas lega mendengarnya.“Makasih banyak, Bara,” ucapku tulus.“Anytime, Mia. Semoga rencana kamu berhasil

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   74. Aku Tahu Siapa Pencurinya

    Bibi Sona tidak langsung menjawab, matanya bergerak liar ke sana kemari berusaha menghindar. Dia hanya bisa duduk di kursinya dengan jemari yang saling meremas gelisah. Aku yang tidak mau menunggu jawaban Bibi Sona lebih lama berbalik menatap Ibu Seno lekat-lekat, telunjukku terangkat langsung ke arahnya. “Ibu pasti sudah tahu kalau ada kejanggalan dari rekaman ini, kan? Tapi Ibu tetap pakai rekaman konyol ini buat bikin aku disalahkan atas sesuatu yang nggak pernah ku lakuin.” Detik itu juga Ibu Seno langsung membuang muka dengan rahang mengeras, matanya menghindari tatapanku seperti Bibi Sona. Niat busuknya itu baru saja terbongkar. “Dan Bibi,” Aku melotot kembali menatapnya, bahunya tampak menegang. “Bisa-bisanya Bibi segitu pedenya ngasih rekaman palsu ini di tengah banyak orang, pasti karena Bibi ngira gimana pun jadinya, aku bakal tetap ngerasa bersalah dan pasrah, begitu?!” Mulut Bibi Sona megap-megap, jelas hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun kata yang sangg

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   73. Rekaman CCTV

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Ibu Seno, pertemuan itu dilangsungkan pagi-pagi sekali di aula mansion. Para pelayan mulai berdatangan, berjejer rapi memenuhi ruangan yang biasanya sering digunakan untuk pertemuan penting, perayaan, atau pesta itu.Tapi hari ini, suasananya berubah seolah menjadi tempat penghakiman.“Mia, Seno sudah bicara denganku tadi malam.” Ibu Seno mendatangiku yang sedang berdiri di lorong lantai dua, melihat riuh rendah para pelayan yang tampak tidak sabaran.Bibi Sona mengikuti di belakangnya.“Dia ingin aku membatalkan pertemuan ini, tapi aku menolaknya. Jadi dia merajuk dan pergi ke kantor tanpa berpamitan,” Aku berdecak pelan mendengar ucapan Ibu Seno.Dasar anak mami.“Apa yang mau Ibu lakukan denganku di depan orang sebanyak ini?” tanyaku dengan nada datar.“Aku mau kamu mengakui perbuatan bodohmu itu dan dipermalukan di depan semua orang agar jera. Itu yang aku mau,” Ibu Seno mengangkat dagu pongah.“Tapi gimana kalau aku punya bukti bahwa aku

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status