Share

76. Rangkaian Rencana

Penulis: Shyneko
last update Tanggal publikasi: 2026-08-19 23:48:57

Aku bergerak cepat mencari tempat persembunyian, menyelipkan diri di balik tirai besar yang menggantung dekat jendela koridor. Langkah kaki orang itu membuatku menahan napas, tubuhku menempel serapat mungkin dengan dinding.

Semoga dia tidak menyadari keberadaanku di sini.

Suami Bibi Sona akhirnya melintas di depanku, rasanya begitu dekat hingga aku bisa mencium samar aroma rokok yang menempel di seragamnya.

Aku memejamkan mata, berdoa dalam hati semoga dia tidak menoleh dan menyadari keberadaan
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nani Sore
enggk sabar menyaksikan balik kehancuran bibi Sona hahaha kek orang jahat aja aku ketawa ... tpi disini tuh aku ketawa puas aja gitu kaya sama kek Mia merasa puas dan masuk perangkap si bibi Sona itu ...‍...️
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   131. Lapangan Tembak

    Taksi yang kutumpangi sudah dua kali melewati perempatan yang sama sebelum aku sadar belum memberikan tujuan yang jelas pada sopir.“Mbak, jadinya mau kemana ya ini?” tanyanya sambil melirik dari kaca spion.“Sebentar, Pak.”Aku menunduk membuka ponsel, jari-jariku masih agak dingin meski AC taksi tidak terlalu kencang. Pulang ke apartemen jelas pilihan paling masuk akal, tapi membayangkan duduk lagi di ruangan sunyi itu membuatku sesak. Apalagi sekarang memikirkan kemana hilangnya Friska membuat kepalaku penuh.Di saat seperti ini aku butuh seseorang untuk bicara, dan aku juga ingin melihat wajah tampan Bara untuk membuatku merasa lebih tenang.Aku mengetik pesan ke Paul, sengaja tidak menghubungi Bara secara langsung karena takut dia sedang merajuk karena aku tidak menurut padanya dan berkeliaran di luar apartemen.‘Paul, kamu tahu Bara di mana?’Balasannya masuk kurang dari semenit. ‘Tuan Bara sedang berada di lapangan tembak, Nyonya.’Aku bergumam pelan. ‘Bisa kirim alamatnya? Keb

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   130. Kemana Friska?

    Klinik Friska berada di jalan kecil di daerah yang tenang tapi tetap strategis, hanya berjarak lima belas menit dari pusat kota kalau lalu lintas sedang bersahabat. Aku turun dari taksi dan berjalan sedikit menunduk. Matahari yang terik langsung menyambutku dengan keringat mulai keluar dari dahi.Bangunannya masih sama seperti terakhir kali aku datang ke sini, ada papan nama bertuliskan Klinik dr. Friska beserta hari dan jam operasionalnya. Tapi tidak seperti biasanya, pintu klinik hari ini tertutup rapat.Aku berhenti di depan pintu dan mendorongnya pelan. Terkunci.“Apa lagi jam istirahat? Tapi tirai kacanya ditutup dan lampu di dalam kayaknya mati,” gumamku, lalu melihat jam diponsel. Pukul dua belas kurang sedikit.Tidak ingin usahaku datang ke sini jadi sia-sia, aku memutuskan menuggu di bawah kanopi sambil pura-pura bermain ponsel. Lima menit, sepuluh menit, bahkan hampir satu jam tidak ada tanda-tanda orang yang akan keluar atau masuk.Pukul satu lewat tiga puluh, aku mulai gel

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   129. Keluar Tanpa Izin

    “Beberapa rencana? Berarti ada lebih dari satu?” Bara mengangguk sebagai jawaban. Aku yang melihat itu merasa seperti diterpa angin segar.“Ayo cepat kasih tahu aku rencananya, siapa tahu aku bisa bantu,” kataku bersemangat.Tapi Bara malah menghela napas tipis. “Aku belum bisa ngasih tahu semuanya sekarang.”“Lho, kenapa gitu?” keluhku dengan nada kecewa.“Karena…” Bara mengambil ponsel yang tadi dia letakkan di sofa, menyalakan layar dan menghadapkan benda itu padaku. “Sudah lewat tengah malam, kamu harus istirahat.”Aku mengaduh pelan.“Ayolah… Sebentar lagi aja, aku nggak bisa tidur dalam kondisi penasaran,” bujukku, berharap bisa mengulur waktu lebih lama.Tapi Bara menggeleng cepat. “Kamu udah lupa kata dokter? Dokter bilang jangan begadang.”“Aku nggak ngantuk,” kataku berkelit.“Kamu udah nguap tiga kali dari tadi,” sahut Bara tidak mau kalah, membuatku mengerang kesal.“Mia, kita masih punya waktu. Santai aja, oke? Aku janji bakal ngasih tahu kamu semua rencanaku asal kamu ma

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   128. Jangan Khawatir

    “Kamu kelihatannya menikmati banget ya dipuji sama cewek-cewek rahim anget.” Aku mendelik dengan nada jutek, lalu menarik ponselku menjauh dari Bara.“Kenapa? Kamu cemburu ya?” goda Bara.Aku melotot, memasang wajah pura-pura garang. “Nggak! Ngapain juga aku cemburu sama orang-orang random di internet.”“Iya deh, iya. Aku percaya kok.” Bara mengangguk-angguk dengan senyum tipis yang jelas-jelas tidak percaya. Pria ini memang selalu punya banyak cara untuk menggoda dan bertingkah jahil padaku.Aku menarik selimut sampai menutupi separuh wajah. “Kamu nyebelin.”Bara hanya tertawa kecil mendengar itu.Setelahnya kami diam sebentar. Aku menutup aplikasi dan meletakkan ponsel di dadaku, menatap langit-langit apartemen yang berwarna putih dengan sedikit baluran hitam. Ibu jari Bara menyentuh pergelangan kakiku, lalu menekan pelan di titik yang membuat bulu kudukku naik.Aku berusaha mencari topik lain agar tidak terlaru larut pada sentuhannya yang memabukkan. “Bara, kamu pernah buka dan bac

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   127. Komentar Netizen

    Kami makan dengan santai sekitar hampir tiga puluh menit, masakanku yang sebelumnya jelas-jelas gagal total sekarang berubah jadi menu yang lezat. Ternyata selain jago memasak sendiri, Bara juga jago mengkreasikan makanan menggunakan bahan seadanya.Aku makan dengan lahap, hanya tersisa sedikit sisa kuah dari sup telur yang sudah dingin karena perutku sudah menyerah duluan. Sekarang jam sebelas lewat, jam rawan dan tidak sehat untuk makan malam. Tapi mau bagaimana lagi? Aku lapar banget, apalagi saat mencicipi sup telur super gurih itu, aku benar-benar kalap.Di luar sana gerimis terlihat turun, membuat kaca jendela besar penuh bintik-bintik air yang memantulkan cahaya kota.Setelah beres membereskan sisa makan malam dan dapur, aku dan Bara memutuskan bersantai sejenak di ruang tengah alih-alih langsung pergi tidur.Bara duduk di ujung sofa, menyandarkan punggungnya dengan kaki yang menapak di lantai. Sementara aku sendiri rebahan di sisi satunya, bantal sofa kujadikan sandaran kepala

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   126. Pengakuan Hati

    Belum sempat aku membuka aplikasi pesan antar, tangan Bara yang besar itu lebih dulu menutupi layar. “Nggak perlu, omelet ini masih bisa dimakan, kok.”Aku mematikan layar ponsel, memasukkannya kembali ke kantong piyama. “Hah? Yang bener aja, rasanya asin banget gini mana bisa dinikmatin.”Bara tersenyum, lalu berjalan menuju kulkas. “Kalau omelet yang sekarang nggak bisa dinikmati, kita masih bisa bikin menu baru dengan bahan dasar masakan kamu.”Aku menatap Bara bingung, tapi membiarkannya mengambil bahan-bahan yang dibutuhkan dari dalam kulkas. Bawang bombai, daun bawang, juga kentang dan wortel sudah tersusun rapi di meja konter dapur.“Kamu pernah makan sup telur?” tanya Bara sembari mengenakan celemek lucunya yang bermotif anak ayam berwarna kuning. Aku mengangguk tipis.“Kita bikin versi kreasinya, khas bikinan sendiri.” Dengan gerakan cepat dan telaten Bara mulai mencuci dan memotong semua bahan, meletakkan panci sup dan memasukkan air ke dalamnya. Kompor yang menyala memberik

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status