공유

73. Rekaman CCTV

작가: Shyneko
last update 게시일: 2026-08-18 17:01:21

Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Ibu Seno, pertemuan itu dilangsungkan pagi-pagi sekali di aula mansion. Para pelayan mulai berdatangan, berjejer rapi memenuhi ruangan yang biasanya sering digunakan untuk pertemuan penting, perayaan, atau pesta itu.

Tapi hari ini, suasananya berubah seolah menjadi tempat penghakiman.

“Mia, Seno sudah bicara denganku tadi malam.” Ibu Seno mendatangiku yang sedang berdiri di lorong lantai dua, melihat riuh rendah para pelayan yang tampak tidak sabaran.

Bi
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   74. Aku Tahu Siapa Pencurinya

    Bibi Sona tidak langsung menjawab, matanya bergerak liar ke sana kemari berusaha menghindar. Dia hanya bisa duduk di kursinya dengan jemari yang saling meremas gelisah.Aku yang tidak mau menunggu jawaban Bibi Sona lebih lama berbalik menatap Ibu Seno lekat-lekat, telunjukku terangkat langsung ke arahnya.“Ibu pasti sudah tahu kalau ada kejanggalan dari rekaman ini, kan? Tapi Ibu tetap pakai rekaman konyol ini buat bikin aku disalahkan atas sesuatu yang nggak pernah ku lakuin.”Detik itu juga Ibu Seno langsung membuang muka dengan rahang mengeras, matanya menghindari tatapanku seperti Bibi Sona. Niat busuknya itu baru saja terbongkar.“Dan Bibi,” Aku melotot kembali menatapnya, bahunya tampak menegang.“Bisa-bisanya Bibi segitu pedenya ngasih rekaman palsu ini di tengah banyak orang, pasti karena Bibi ngira gimana pun jadinya, aku bakal tetap ngerasa bersalah dan pasrah, begitu?!”Mulut Bibi Sona megap-megap, jelas hendak mengatakan sesuatu tapi tidak ada satu pun kata yang sanggup ke

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   73. Rekaman CCTV

    Sesuai jadwal yang sudah ditentukan oleh Ibu Seno, pertemuan itu dilangsungkan pagi-pagi sekali di aula mansion. Para pelayan mulai berdatangan, berjejer rapi memenuhi ruangan yang biasanya sering digunakan untuk pertemuan penting, perayaan, atau pesta itu.Tapi hari ini, suasananya berubah seolah menjadi tempat penghakiman.“Mia, Seno sudah bicara denganku tadi malam.” Ibu Seno mendatangiku yang sedang berdiri di lorong lantai dua, melihat riuh rendah para pelayan yang tampak tidak sabaran.Bibi Sona mengikuti di belakangnya.“Dia ingin aku membatalkan pertemuan ini, tapi aku menolaknya. Jadi dia merajuk dan pergi ke kantor tanpa berpamitan,” Aku berdecak pelan mendengar ucapan Ibu Seno.Dasar anak mami.“Apa yang mau Ibu lakukan denganku di depan orang sebanyak ini?” tanyaku dengan nada datar.“Aku mau kamu mengakui perbuatan bodohmu itu dan dipermalukan di depan semua orang agar jera. Itu yang aku mau,” Ibu Seno mengangkat dagu pongah.“Tapi gimana kalau aku punya bukti bahwa aku

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   72. Tuduhan Palsu

    Puncak kekacauan itu akhirnya terjadi sore ini.Sebuah jeritan nyaring menggema hingga seluruh penjuru mansion, membuat semua orang yang beraktivitas seketika berhenti.“PERHIASANKU HILANG!” Teriakan itu berasal Ibu Seno.Aku bergegas keluar kamar, menuju kamar Ibu Seno yang sudah dipenuhi kerumunan pelayan yang panik, semua mata tertuju padanya yang mengobrak-abrik kamarnya sendiri menjadi tidak karuan.Ibu Seno histeris, tangannya terus menggeledah setiap sudut berharap barang berharga yang dicarinya itu tiba-tiba muncul kembali.“Semua perhiasan berhargaku ada di sana! Kalung warisan nenek, cincin almarhum suamiku. Semuanya lenyap!” pekik Ibu Seno, mengacak rambutnya frustasi.“Nyonya, apa yang Anda maksud peti ini?” Bibi Sona tergopoh menghampiri Ibu Seno, menunjuk peti jati berukuran cukup besar di pojok ruangan.Ibu Seno menggeleng. “Bukan! itu peti berisi perhiasan biasa, yang hilang adalah perhiasan paling mahal dan berharga milik leluhurku. Aku selalu menaruhnya di kotak khus

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   71. Rena Pergi

    Sama seperti yang terjadi dulu, Bibi Sona langsung menunjukkan taringnya tidak lama setelah resmi menjadi kepala pelayan.Dan target pertamanya, tentu saja Rena.Hari ini Seno dan Ibunya pergi menghadiri undangan mitra bisnis, meninggalkan aku sendirian di mansion yang sudah seperti sangkar emas ini.Jendela kamar ku biarkan terbuka lebar, membawa gerimis kecil membasahi gorden dan lantai, hawa sejuk mulai mengisi ruangan yang sepi.Aku membuka halaman di buku catatan usang, meletakkan jari di salah satu tanggal yang baru saja ku tulis.Hari ini akan terjadi kekacauan, dan satu pelayan akan meninggalkan rumah ini.Dulu aku sama sekali tidak tahu namanya, bahkan hanya melihat punggungnya ketika berjalan di tengah hujan yang lebat, tapi hari ini aku tahu persis siapa orang itu.Aku memutuskan turun menuju meja makan untuk menyantap sarapan yang belum ku sentuh sejak pagi, sampai tiba-tiba terdengar teriakan membahana dari arah dapur. Aku bergegas ke sana. Rena berdiri di tengah dapur, d

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   70. Permainan di Mulai

    Aku langsung menghampiri mereka ke tengah taman. Keributan yang terjadi karena teriakan Bibi Sona juga mulai mengundang perhatian pelayan lain. Mereka mulai berkumpul membentuk lingkaran.“Ada apa ini?” tanyaku berusaha melerai Bibi Sona yang hendak menampar Rena. Sedangkan Seno sudah berdiri di belakangku.“Nyonya, anak ini kerjanya nggak karuan. Masa saya yang sedang menyiram tanaman di sini ditabrak sampai terjerembab? Dia pasti sengaja mau mencelakai saya!” tuduh Bibi Sona, menunjuk langsung ke wajah Rena.“Saya tidak sengaja, Nyonya. Tadi saat menyapu taman, saya tidak sengaja melihat serangga besar dan langsung lari karena panik, lalu tidak sengaja menyenggol Bibi Sona dan membuatnya jatuh,” Rena berusaha membela diri.“Halah! Bohong kamu. Itu cuma alasan kamu aja, kan? Kamu itu nggak pernah takut serangga apa pun!”“Sudah! Cukup!” Seno berseru, mengangkat tangannya.“Cuma hal kecil begini kalian ributnya minta ampun! Aku perlu tenang di hari libur kerja, paham?!” Bibi Sona dan

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   69. Tidak akan Kehilangan Apa pun

    “Kamu tetap mau kerja di mansion, kan?” tanyaku, Rena mengangguk mantap.“Tentu saja, Nyonya.”“Kalau begitu, jalan satu-satunya adalah menyingkirkan orang tua itu.” Aku menatap lurus ke mata Rena.“Tapi, menyingkirkan calon kepala pelayan bukan hal yang mudah bagi kita berdua yang tidak punya kekuatan besar.” Dia terlihat mulai ragu.“Soal itu tidak perlu kamu pikirkan terlalu jauh, aku sudah menyusun rencana. Tapi akan selalu ada risiko dalam setiap rencana yang kita jalankan nanti.” Aku mengetuk-ngetuk pelan tepi meja.“Dan risiko terbesarnya adalah, kamu tidak bisa bekerja lagi di mansion keluarga Handoko untuk selamanya. Apa kamu siap?” tanyaku tegas, Rena langsung mengangguk tanpa sedikit pun keraguan.“Sesuai janji saya, apa pun akan saya lakukan sesuai perintah Nyonya.” Aku tersenyum puas lalu melambaikan satu jari, memberi isyarat agar Rena mendekat. Dia mendekatkan telinga sebelum aku mulai berbisik memberitahu rencana apa yang ingin ku lakukan.Rahang Rena jatuh, mulutnya m

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status