首頁 / Romansa / Hidup di Dekapan Musuh Suamiku / 61. Memancing Informasi

分享

61. Memancing Informasi

作者: Shyneko
last update publish date: 2026-08-10 21:41:29

Setelah makan malam selesai aku dan Seno kembali ke kamar yang sama, pada titik ini aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku untuk menahan rasa risih dan muak yang bergolak dalam dada.

Seno berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang terbuat dari sutra, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, lalu melangkah santai menuju aku yang sedang duduk di tepi ranjang.

Dia duduk tepat di sebelahku.

“Kamu pasti kangen mau nyentuh aku, kan?” godanya yang terdengar menyebalkan di tel
在 APP 繼續免費閱讀本書
掃碼下載 APP
已鎖定章節

最新章節

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   61. Memancing Informasi

    Setelah makan malam selesai aku dan Seno kembali ke kamar yang sama, pada titik ini aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku untuk menahan rasa risih dan muak yang bergolak dalam dada.Seno berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang terbuat dari sutra, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, lalu melangkah santai menuju aku yang sedang duduk di tepi ranjang.Dia duduk tepat di sebelahku.“Kamu pasti kangen mau nyentuh aku, kan?” godanya yang terdengar menyebalkan di telingaku. Itu bahkan bukan pertanyaan, tapi lebih seperti pernyataan yang sudah dia yakini sebagai kebenaran mutlak.“I-iya, Mas,” jawabku terpaksa.Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Seno meraih tanganku dan mengarahkannya masuk ke dalam kerah piyamanya yang sengaja tidak di kancing, menempelkan telapak tanganku ke dadanya.“Selama ini kamu pasti pengen banget nyentuh dadaku yang berotot ini,” katanya bangga, mengangkat dagunya pongah seperti sedang memamerkan sesuatu yang luar biasa.Aku m

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   60. Target Pertama

    Ruang makan mansion Handoko riuh redam dengan suara pelayan yang melakukan pekerjaan masing-masing, ruangan ini begitu mewah tapi membuatku tidak nyaman karena suasananya yang tidak ramah.Lampu gantung kristalnya berkilau, memantulkan cahaya anggun di meja panjang yang sudah terhidang berbagai menu untuk makan malam.Aku duduk di kursi yang memang sudah jadi tempat dudukku sejak dulu, menunggu dengan mode siaga.Malam ini pertama kalinya aku akan bertemu secara langsung dengan Seno, setelah semua kejadian dan pelarianku ke Lisbon.Pintu ruang makan terbuka tepat pukul tujuh malam, Seno melangkah masuk dengan gaya khasnya yang arogan, jas kerjanya masih terpasang rapi.“Udah pulang kamu,” katanya singkat, tanpa senyum apalagi pelukan. Dia langsung duduk di kursi kepala meja seolah kehadiranku hanya hal remeh yang tidak perlu diperhatikan.“Iya, Mas,” jawabku pelan.Seno mengambil segelas air lalu menyesapnya santai, dia melirikku dari ujung matanya.“Lihat? Benar kan yang aku bilang?

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   59. Menyusun Kembali

    Setelah pertemuan yang dramatis dengan Ibu Seno, aku memutuskan pergi ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat, lalu langsung merebahkan diri di ranjang. Perjalanan belasan jam dan respon penghuni mansion Handoko yang tidak ramah cukup menguras tenagaku.Aku meraih ponsel dari tas, mencari kontak yang kusimpan dengan nama ‘mr.B’, demi menjaga kerahasiaan dari siapa pun yang mungkin saja suatu hari diam-diam mengecek ponselku.Dengan santai aku menekan tombol panggilan video, dan tidak sampai dering ketiga layarku menyala menampilkan wajah Bara yang tersenyum tampan.“Hai, aku udah sampai nih,” sapaku, ikut tersenyum.“Syukurlah, pasti capek ya perjalanan jauh. Istirahat dulu, gih,” balasnya yang terlihat sedang duduk di ruang tengah shared house yang begitu familiar.“MIA?!” Jisoo tiba-tiba muncul di belakang bahu Bara, menyongsong wajahnya masuk ke frame. “Eh! Beneran Mia. Hai! Gimana perjalanannya? Lancar?” tanyanya heboh.“Woy! Gantian dong!” Jiyeon menyusul dan ikut mendorong Bara,

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   58. Kembali ke Jakarta

    "Para penumpang yang terhormat, dari ruang kemudi, saya Kapten James. Kita baru saja memulai proses penurunan ketinggian menuju Bandara Internasional Soekarno Hatta. Perkiraan waktu mendarat kita adalah dua puluh menit dari sekarang. Cuaca di Jakarta dilaporkan cerah berawan dengan suhu udara 28 derajat Celsius. Atas nama seluruh kru, terima kasih telah terbang bersama kami. Silakan nikmati sisa perjalanan ini.”Aku membuka mata perlahan saat suara pengumuman pilot menggema dari pengeras suara pesawat. Pipiku basah tanpa sadar, air mata menetes diam-diam saat aku tertidur. Dalam mimpiku, kenangan menyakitkan tentang masa laluku dan Bara tergambar dengan jelas.Ku usap air mata di pipi, menatap pantulan diriku sendiri di jendela pesawat yang menyajikan pemandangan indah.Mengingat kilas balik itu membuatku sadar bahwa selama ini aku bukanlah orang yang lemah. Mia yang asli adalah wanita berani, yang melakukan apa pun sesuai kemauannya sendiri tanpa takut pada siapa pun.Entah sejak kap

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   57. Happy Ending?

    “Aku nggak akan berubah, aku bisa janjiin itu kalau kamu mau,” ucapku berusaha meyakinkannya, memecah keheningan yang menggantung di antara kami.Jujur aku sendiri tidak tahu bagaimana meyakinkan Bara yang ternyata selama ini menyimpan trauma, kata-kata saja tentu tidak cukup untuk meyakinkannya.Tapi semuanya terasa buntu, hanya waktu yang bisa membuktikan kalau janjiku padanya benar.“Hatiku nggak pernah pergi atau berpindah dari kamu, Bara. Dari dulu sampai sekarang nggak pernah berubah,” lanjutku bersungguh-sungguh.“Tapi pada kenyataannya, selama beberapa bulan ini kamu berubah, Mia,” balasnya, napasnya tercekat seperti menelan pil pahit.Kalimat itu menghantamku telak bagai sebuah tamparan, tidak ku sangka semua usahaku selama ini yang ku anggap sebagai pengorbanan cinta, malah berakhir jadi bumerang untuk diriku sendiri.Aku menjauh untuk melindunginya, tapi dengan ironis keputusan itu malah menjadi bukti bahwa perasaanku memang bisa berubah kapan pun. Tanpa sadar aku sudah men

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   56. Tidak Bisa Mundur

    Aku menyodorkan gagang pisau ke tangan Bara, memaksanya menggenggam benda dingin itu meski dia menggeleng berontak.“Kamu tahu? Saat aku dengar kecelakaanmu hari itu, jantungku rasanya berhenti, entah berapa lama,” kataku dingin dengan mata yang mulai berkaca-kaca.“Mia, taruh benda ini!” seru Bara panik, tangannya yang ku paksa menggenggam pisau itu gemetar hebat. Jika kondisinya sedang sehat mungkin dia akan bisa melepaskan diri dengan mudah.Tapi kali ini dia tidak berdaya di bawah tanganku, yang menahan jari-jarinya dengan seluruh tenaga.Kemudian, aku mengarahkan ujung pisau yang masih dalam genggaman tangan kami itu menuju leherku sendiri.“Mia!” Untuk pertama kalinya aku mendengar suaranya yang meninggi, tapi aku tidak peduli dan terus mendorong pisau itu semakin mendekat.“Berhenti, Mia. Please! Jangan begini.” Suaranya lirih memohon sambil mencoba menarik tangan menjauh.Tapi aku lebih dulu mengumpulkan seluruh kekuatan, lalu dengan satu tarikan kuat memaksa tangannya bergera

更多章節
探索並免費閱讀 優質小說
GoodNovel APP 免費暢讀海量優秀小說,下載喜歡的書籍,隨時隨地閱讀。
在 APP 免費閱讀書籍
掃碼在 APP 閱讀
DMCA.com Protection Status