로그인Mata Rena mendelik tajam. “Saya nggak punya waktu buat tawaran pinjaman lagi, hutang saya sudah banyak! Pergi!”Pria berjas hitam itu memperbaiki posisi kacamatanya. “Saya datang ke sini bukan untuk menawarkan pinjaman,” jawabnya tenang.“Saya anak buah Nona Mia.” Mendengar ucapannya itu sontak membuatku dan Rena saling bertukar pandang bingung, tapi dibandingkan Rena ekspresiku bercampur raut terkejut.“Anak buahku? Apa maksud kamu?” Alisku bertaut keheranan.Pria itu tidak langsung menjawab, dia melangkah masuk tanpa diundang dan langsung memeriksa Ibu Rena. Gerakannya terlatih, jarinya memeriksa denyut nadi, kelopak mata, lalu akhirnya menghela napas berat.“Kondisinya cukup serius,” gumamnya. Pria itu lalu berbalik memberi isyarat ke arah pintu.Dua orang berbadan tegap dengan jas hitam khas pengawal masuk dengan gerakan cepat. Mereka kemudian mengangkat tubuh ibu Rena dengan hati-hati menuju mobil hitam yang terparkir di depan rumah.“Tunggu! Kalian mau bawa Ibu saya ke mana?” Re
Setelah itu, anehnya para tetangga sekitar bergeming. Mereka saling berbisik sebelum akhirnya tiga orang laki-laki bergegas mendekat, mengangkat tubuh gempal itu masuk ke dalam rumahnya sendiri.Tidak ada yang berteriak minta tolong atau memanggil polisi, hanya gumaman pelan dan tatapan penasaran yang mengelilingi Rena. Pemandangan semacam ini seakan sudah menjadi hal biasa.Aku jadi teringat laporan detektif tempo hari, daerah ini memang dikenal sebagai kawasan dengan tingkat kriminalitas tinggi, tempat para preman dan residivis yang sudah keluar-masuk penjara berkumpul. Satu insiden pemukulan menjadi hal yang tidak mengejutkan siapa pun lagi di sini.Aku menghela napas, memutuskan keluar dari persembunyianku.“Rena,” panggilku sembari berjalan mendekat.Rena yang memunggungiku terlihat langsung menegang, tubuhnya langsung berputar cepat dengan wajah pucat. Tangannya yang masih berlumuran darah langsung dia sembunyikan cepat di balik punggung.“N-nyonya! Kenapa nyonya ada di sini?” s
Keesokan paginya setelah Seno berangkat kerja dan Ibu mertuaku mulai sibuk dengan kegiatannya sendiri, aku mulai bergerak.Aku mengenakan pakaian sederhana, sebuah topi, dan masker untuk menutupi wajah. Lalu diam-diam mengikuti mobil angkot yang dinaiki Rena menuju daerah tempat tinggalnya menggunakan taksi.Perjalanan itu membawaku ke sebuah pemukiman padat penduduk yang dindingnya saling menempel satu sama lain. Gang-gangnya yang sempit, jemuran menjuntai rendah hampir menyentuh kepalaku, jalanannya penuh lubang, membuatku harus menyesuaikan langkah agar tidak terinjak kubangan air.Aku mengintip dari balik sudut gang, Rena terlihat melangkah menuju rumah kecil berdinding papan dengan senyum lebar, tidak ada ekspresi canggung atau takut yang tersisa di wajah itu.“Kak Rena!” Seorang bocah laki-laki berlari keluar rumah, langsung memeluk pinggang Rena dengan girang.“Dimas!” Rena tertawa, mengacak rambut anak kecil yang tampaknya adalah adiknya itu penuh sayang.“Kakak bawa oleh-oleh
Hanya butuh tiga hari bagi detektif profesional itu untuk melakukan tugasnya.Siang itu ponselku bergetar pelan tanda satu email masuk, aku yang sebelumnya sedang duduk dengan bosan bersama Ibu Seno yang terus menceramahiku soal anak langsung duduk tegak.“Ibu, aku harus kembali ke kamar,” ucapku memotong ocehannya yang tidak habis-habis.“Heh! Ibu belum selesai ngomong, ya. Tips yang baru aku dapat ini penting banget biar kamu cepat hamil.” Dia mengangkat tangan memberi instruksi agar aku tidak pergi kemanapun.“Tapi aku mau ke toilet, Bu. Emang Ibu mau aku pup di sini?” Aku memegangi perut, bertingkah seperti orang yang habis makan cabe sekilo dan sekarang harus buru-buru menuntaskannya.Ibu Seno langsung menatapku jijik. “Mia! Dasar jorok! Pergi sana.” Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung berlari ke kamar, lalu menguncinya dari dalam.“Fyuh! Ternyata menipu orang tua itu nggak susah, kenapa Mia yang dulu tidak bisa berkutik padanya, ya?” gumamku yang berjalan menuju
Pembahasan tentang dokter Friska dan segala informasi yang ingin ku gali dari Seno berakhir setelah dia menyerahkan alamat praktek wanita itu dengan gerakan enggan.“Nih, tapi kamu nggak perlu terlalu sering ke sana, Mia. Itu bukan tempat nyari kenalan,” sungutnya sambil mengirimkan titik gmaps ke ponselku.“Iya, Mas.” Aku mengecek chat di ponsel, menandainya sebagai pesan penting.Seno berbalik dan merebahkan diri membelakangiku, tampaknya dia sudah tidak punya gairah lagi untuk menggodaku karena terganggu dengan pertanyaanku soal dokter Friska.Tapi untuk saat ini semuanya sudah cukup, dan aku juga sudah dapat apa yang kubutuhkan.***Keesokan paginya, aku sengaja bangun lebih siang karena malas menghadapi mulut pedas Ibu Seno di meja makan. Ketika aku membuka mata Seno sudah terlihat rapi, memasang dasinya di depan cermin besar.“Kamu mau sampai kapan tidur terus? Bisa-bisa Ibu marah lagi kalau lihat kamu malas-malasan,” ucap Seno dingin tanpa menoleh ke arahku.“Aku masih capek ab
Setelah makan malam selesai aku dan Seno kembali ke kamar yang sama, pada titik ini aku harus mengerahkan seluruh kekuatan mentalku untuk menahan rasa risih dan muak yang bergolak dalam dada.Seno berjalan keluar dari kamar mandi mengenakan piyama yang terbuat dari sutra, mengusap rambutnya yang basah dengan handuk, lalu melangkah santai menuju aku yang sedang duduk di tepi ranjang.Dia duduk tepat di sebelahku.“Kamu pasti kangen mau nyentuh aku, kan?” godanya yang terdengar menyebalkan di telingaku. Itu bahkan bukan pertanyaan, tapi lebih seperti pernyataan yang sudah dia yakini sebagai kebenaran mutlak.“I-iya, Mas,” jawabku terpaksa.Tanpa menunggu persetujuan lebih lanjut, Seno meraih tanganku dan mengarahkannya masuk ke dalam kerah piyamanya yang sengaja tidak di kancing, menempelkan telapak tanganku ke dadanya.“Selama ini kamu pasti pengen banget nyentuh dadaku yang berotot ini,” katanya bangga, mengangkat dagunya pongah seperti sedang memamerkan sesuatu yang luar biasa.Aku m







