MasukHening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi
“Siapa nama panjangmu?” tanya Kakek setelah hening beberapa detik.“Seno Handoko, Kek,” jawab Seno pelan, terlihat ragu-ragu.Kakek Garry tampak mengingat-ingat, matanya menerawang sejenak ke arah langit-langit. “Kamu anak mendiang Bimo Handoko?”Aku memperhatikan ekspresi Seno dengan seksama, dia terlihat menelan ludah sebelum menjawab. Kenapa tiba-tiba Kakek menanyakan tentang orang tua Seno? Apa mereka aslinya sudah saling mengenal?“Benar, Kek.” Seno berkata seperti baru mengakui aib yang harus ditutupi. Riak tenang di mata Kakek Garry mulai berubah lebih keruh.“Saya turut berduka cita atas kematian ayahmu.” Beliau diam sejenak, auranya terasa mengintimidasi. “Penembaknya sudah ditemukan?”Pertanyaan Kakek membuatku terkesiap, baru tahu fakta tentang ayah Seno yang ternyata tidak berpulang dengan cara wajar.Selama hubungan kami, Seno memang jarang sekali mau membahas tentang orang tua apalagi ayahnya. Kami lebih sering berbincang tentang diri kami sendiri, sesekali tentang Ibu S
Aku berdiri di depan mansion megah keluarga Askara, menatap rumah besar itu dengan rasa rindu sekaligus rasa bersalah. Dari gerak-gerik serta kendali tubuh yang tidak sepenuhnya bisa kukuasai, aku yakin sedang berada di alam mimpi.Tanpa sadar aku mencengkeram rok berwarna khaki yang kukenakan.Apa aku benar harus masuk sekarang? Kalau nanti malah di usir sama Kakek, gimana?“Mia, aku udah selesai parkirin mobil. Kita masuk sekarang?” Suara yang tidak asing itu menyapa telingaku, membuatku menoleh. Seno berdiri tepat di sampingku dengan ekspresi gugup.“Aku deg-degan, Mas,” ucapku jujur, yang membuat Seno langsung menyusupkan jari-jarinya di antara jariku seakan memberi kekuatan.“Aku juga, tapi kalau kita hadapin sama-sama. Kita pasti bisa melewati semuanya.”Aku yang tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri, mengeluh dari alam bawah sadar. Lihatlah betapa manisnya mulut berbisa itu.Masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku tujuan kami datang ke tempat ini. Beberapa hari yang lalu
“Jangan bicara kayak orang yang kehilangan akal sehat, Mas!” seruku, tidak mengerti arah pikirannya sama sekali. “Apa lagi yang harus dipertahankan dari hubungan kita yang sudah serusak ini? Kita cuma akan saling menyakiti kalau memaksa bertahan!”Aku berusaha bangkit meski dengan kaki sedikit gemetar, tidak lagi peduli dengan telapak tangan yang lecet.“Nggak ada lagi cinta dan kepercayaan di antara kita. Semuanya sudah runtuh lama tanpa kita sadari, dan karena sekarang kita udah nggak bisa memperbaiki apa pun,” Aku menelan ludah sebelum berkata dengan nada final. “Kita harus berpisah.”Seno mendekat seperti beruang terluka, gerakannya begitu cepat hingga aku tidak sempat mundur atau lari. Tangannya mencengkeram rahangku dengan satu tangan, mengapit pipiku begitu keras hingga rasa sakit menjalar sampai ke gigi.“Sekali aku bilang tidak, ya tidak!” desisnya, tatapan itu begitu gelap hingga rasanya aku tidak mengenalinya lagi.Orang yang dulu pernah kucintai dengan seluruh hidupku, asl
“A-aku nggak ngerti maksud kamu,” jawab Seno sedikit terbata, mengalihkan pandangannya menuju air mancur di tengah taman.“Berhenti pura-pura, Mas! Aku udah tahu soal obat yang Friska buat khusus untuk kamu, juga kegiatan ranjang kalian. Wanita itu udah membocorkan semuanya,” tegasku, melangkah maju satu langkah.Seno masih tidak mau mengaku, kukuh mempertahankan rahasia yang sudah terbongkar sebegitu jelas. Bahkan, bukannya merasa takut atau bersalah ekspresinya justru penuh emosi hingga giginya bergemeretak.“Kamu sendiri, sudah berapa kali tidur dengan Bara Askara?” Dia balik menyerangku dengan pertanyaan balasan. “Pasti sekarang kamu udah nggak perawan lagi, kan? Bajingan itu pasti udah mengotori kamu!” hinanya dengan senyum miring.Aku meremas kain celanaku, menatapnya tanpa sedikit pun rasa gentar. Rupanya dia sudah tahu kedekatanku dengan Bara.“Aku tahu tadi malam kamu dibawa pergi sama dia dan setelahnya kamu menghilang semalaman. Kalian pasti sudah berbuat sesuatu, kan?” des
“Semua obrolan kita dan pengakuan kamu hari ini, akan jadi bukti yang menarik banget di sidang perceraian nanti,” ucapku, memasukkan ponsel kembali ke dalam tas.Friska mendengus. “Tanpa rekaman itu pun, aku akan dengan senang hati memberikan kesaksian di pengadilan perceraian kalian. Kamu nggak perlu repot-repot begitu, Kak,” sahut Friska ketus.“Well, manusia itu sifatnya dinamis. Kita nggak tahu apa yang akan dilakukan atau dipikirkan orang lain di kemudian hari,” kataku santai, berbalik menuju pintu keluar.Aku mulai melangkah ke pintu itu dan membukanya, menoleh sejenak pada Friska yang berdiri menatapku. Setelah ketegangan di tubuh dan pikiranku menurun, baru aku baru sadar ruangannya punya bau khas parfum mahal bercampur antiseptik di detik terakhir pertemuan ini.“Terima kasih sudah merebut sampah yang selama ini sangat ingin ku buang, Dokter Friska. Nikmatilah laki-laki bekasanku itu.” Aku berkata cukup keras agar tidak hanya dia yang mendengarnya.Dan benar saja, orang-orang







