Home / Romansa / Hidup di Dekapan Musuh Suamiku / 110. Rencana yang Berisiko

Share

110. Rencana yang Berisiko

Author: Shyneko
last update publish date: 2026-09-27 23:39:45

Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.

“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.

“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”

Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”

“Benar, Nyonya.
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   110. Rencana yang Berisiko

    Aku menatap layar ponsel Rena yang berisi histori panggilan dari nomor tanpa nama.“Awalnya saya mengira ini hanya nomor asing yang melakukan penipuan atau spam tidak jelas, tapi setelah beberapa kali ditelepon oleh nomor yang sama akhirnya saya memberanikan diri menjawab,” kata Rena, menghela napas.“Orang itu mengenalkan dirinya sebagai Bara Askara, pria itu bilang kalau dia adalah orang terdekat Nyonya.”Detak jantungku terasa berpacu ketika mendengar nama itu. “Bara Askara?”“Benar, Nyonya. Namanya terdengar tidak asing, saya pernah mendengar nama itu beberapa kali di berita dan majalah-majalah. Apa dia benar orang terdekat Anda? Saya yakin dia bukan orang biasa.” Aku mengangguk cepat, membenarkan.“Benar, dia memang orang terdekatku dan kamu tidak sedang kena telepon scam,” ucapku sambil menggenggam ujung selimut yang menutupi pangkuan, tanpa sadar meremasnya erat-erat. “Aku yang kasih nomor kamu ke dia beberapa hari yang lalu.”Rencana B.Aku memejamkan mata sejenak, menyerahkan

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   109. Harapan yang Masih Tersisa

    Ketika Ibu Seno hendak membuka mulut, suara ketukan di pintu membuyarkan percakapan kami.“Bu, tamu Ibu udah dateng tuh, nungguin di ruang tamu.” Aku dan Ibu Seno menoleh hampir bersamaan, Seno berdiri di ambang pintu.“Oh, Friska, ya?” Ibu Seno memperbaiki posisi berdirinya, mengusap pelan rambut bersanggul yang sudah sangat rapi itu. “Dia sih bukan tamu, tapi calon istri kamu,” selorohnya, terkekeh.“Bu, please, deh. Jangan ngomong begitu di depan Mia, dia itu masih istri sahku,” protes Seno, menyilangkan tangan di depan dada sambil bersandar di salah satu sisi pintu. “Ucapan Ibu tadi jangan terlalu dipikirin, ya. Kamu tahu sendiri kan Ibu orangnya emang gitu.”Aku mendelik, menatapnya dengan tatapan muak. “Aku juga nggak peduli dia benar calon istri kamu atau bukan, keluar dari penjara ini jauh lebih penting dari itu.”Seno tersenyum, menggeleng pelan. “Kalau kamu menarik ucapan kamu kemarin, aku akan dengan senang hati membebaskan kamu sekarang juga.”“Ucapan apa? Tentang aku yang

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   108. Di kehidupan yang Kedua

    Bara hampir terjatuh, lututnya bagai kehilangan tumpuan. Apa yang baru saja kukatakan bahkan membuatnya tidak bisa lagi berdiri tegak, matanya bergetar menatapku.“Kenapa tiba-tiba begini, Mia? Kenapa kamu memutuskan menikah begitu terburu-buru?” Suara Bara terdengar lemas, menopang tubuhnya sendiri dengan bersandar di dinding.“Memangnya kenapa? Mau menikah cepat atau tidak, itu urusan Mia.” Seno menjawab lebih dulu dengan nada ketus. “Keputusan ini murni diambil dengan kepala dingin dan tanpa paksaan.”Seno sedikit mengangkat dagu, menatap pongah pada Bara yang jelas sedang terluka karena baru mengetahui hal sebesar ini.“Mia, bisa kita bicara sebentar?” pinta Bara, seolah berusaha mengerahkan tenaga dan usaha terakhir.Tapi Seno lebih dulu menarikku ke belakang punggungnya, tidak memberiku kesempatan sedikit pun membalas ucapan Bara. Aku hanya bisa menunduk, menatap lantai marmer yang berkilauan terkena pantulan cahaya lampu.Meski kini aku mencintai Seno, tapi melihat Bara yang sa

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   107. Setuju Dengan Syarat

    Hening yang begitu pekat mengudara di ruang kerja Kakek Garry, ditemani suara detik jam dinding besar bergaya antik di sudut ruangan yang terdengar begitu jelas. Di luar jendela, cuaca yang tadinya begitu cerah tiba-tiba terlihat mulai redup, digantikan awan-awan mendung yang semakin lama semakin gelap.Seumur hidup, aku tidak pernah meninggikan suara dan membentak Kakek seperti ini, beliau adalah orang yang paling ku hormati.Namun karena dibutakan cinta, aku kehilangan diriku sepenuhnya.“Kek, Mia sudah dewasa, Mia bisa menentukan jalan hidup sendiri,” ucapku dengan suara yang tidak sekeras sebelumnya, merapatkan posisiku di samping Seno seolah mengatakan bahwa saat ini aku sepenuhnya berada di pihak pria itu.“Jadi Mia mohon, beri Mia restu agar bisa memulai lembar baru dengan Mas Seno. Mia tidak mau melangkah menuju jalan hidup ini dengan langkah berat,” pintaku sedikit memelas, menangkupkan kedua tangan di hadapan Kakek Garry.Beliau akhirnya menggeleng pelan tanda menyerah, memi

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   106. Kepercayaan yang Buta

    “Siapa nama panjangmu?” tanya Kakek setelah hening beberapa detik.“Seno Handoko, Kek,” jawab Seno pelan, terlihat ragu-ragu.Kakek Garry tampak mengingat-ingat, matanya menerawang sejenak ke arah langit-langit. “Kamu anak mendiang Bimo Handoko?”Aku memperhatikan ekspresi Seno dengan seksama, dia terlihat menelan ludah sebelum menjawab. Kenapa tiba-tiba Kakek menanyakan tentang orang tua Seno? Apa mereka aslinya sudah saling mengenal?“Benar, Kek.” Seno berkata seperti baru mengakui aib yang harus ditutupi. Riak tenang di mata Kakek Garry mulai berubah lebih keruh.“Saya turut berduka cita atas kematian ayahmu.” Beliau diam sejenak, auranya terasa mengintimidasi. “Penembaknya sudah ditemukan?”Pertanyaan Kakek membuatku terkesiap, baru tahu fakta tentang ayah Seno yang ternyata tidak berpulang dengan cara wajar.Selama hubungan kami, Seno memang jarang sekali mau membahas tentang orang tua apalagi ayahnya. Kami lebih sering berbincang tentang diri kami sendiri, sesekali tentang Ibu S

  • Hidup di Dekapan Musuh Suamiku   105. Meminta Restu

    Aku berdiri di depan mansion megah keluarga Askara, menatap rumah besar itu dengan rasa rindu sekaligus rasa bersalah. Dari gerak-gerik serta kendali tubuh yang tidak sepenuhnya bisa kukuasai, aku yakin sedang berada di alam mimpi.Tanpa sadar aku mencengkeram rok berwarna khaki yang kukenakan.Apa aku benar harus masuk sekarang? Kalau nanti malah di usir sama Kakek, gimana?“Mia, aku udah selesai parkirin mobil. Kita masuk sekarang?” Suara yang tidak asing itu menyapa telingaku, membuatku menoleh. Seno berdiri tepat di sampingku dengan ekspresi gugup.“Aku deg-degan, Mas,” ucapku jujur, yang membuat Seno langsung menyusupkan jari-jarinya di antara jariku seakan memberi kekuatan.“Aku juga, tapi kalau kita hadapin sama-sama. Kita pasti bisa melewati semuanya.”Aku yang tidak bisa mengendalikan tubuhku sendiri, mengeluh dari alam bawah sadar. Lihatlah betapa manisnya mulut berbisa itu.Masih terpatri dengan jelas dalam ingatanku tujuan kami datang ke tempat ini. Beberapa hari yang lalu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status