Masuk"You don't need money or connection here. You'll be hired. You just have to accept my condition and do your work well." *** Hindi inakala ni Jaxen na ang huling sabak niya ng paghahanap ng trabaho para iligtas ang kaisa-isang babaeng mahalaga sa kanya ay ang pagbebenta ng sarili niyang katawan. Sa harap ng napakaganda ngunit napakalamig na milyonaryong si Kestrel Vianne Montero, dalawang kontrata ang nakalatag—parehong para sa trabaho sa kompanya at para sa trabahong kailangan ay pagsilbihan siya. He was hired to be more than just an employee. He was hired to be her Sex Slave. Sanay si Jaxen sa laro ng apoy. Sanay siyang kumuha ng atensyon. Sanay siyang makipaglaro sa sarap. Ngunit ang dating ginagawa niya para sa sariling aliw, ngayon ay magiging isang obligasyong kailangan niyang panindigan—anumang oras, saanmang lugar, o sa kahit anong paraan dipende sa kagustuhan ng kanyang amo. Sa ilalim ng kapangyarihan ni Vianne, unti-unting lulunukin ni Jaxen ang kanyang pride kapalit ng bawat sentimong magdudugtong sa buhay ng isang ispesyal na babae sa buhay niya. Ngunit sa bawat maiinit na haplos, bawat nakakaakit na daing at bawat gabi ng pagsunod, may isang tanong ang palaging gumugulo sa kanya... "Hanggang saan niya kayang ibigay ang kanyang katawan kung ang kapalit nito ay ang unti-unting pagkaka-alipin ng kanyang puso?"
Lihat lebih banyakTumpukan berkas di hadapannya sama sekali tidak menarik perhatiannya. Padahal pagi tadi ia sudah menargetkan jika hari ini akan lembur menyelesaikan semua pekerjaan yang menumpuk. Alasannya agar bisa menemani sang tante melakukan check up rutin besok pagi. Laki-laki yang sedang duduk di kursi Direktur Yayasan HAS itu adalah Akram Hazami Ardanuansyah. Putra dari pasangan seorang politikus ternama di Kota Makassar dan seorang dokter spesialis kulit.
Saat ini Akram tengah terdiam. Laki-laki berparas tampan itu larut dan tenggelam dalam pikirannya yang terjebak akan pertemuannya dengan seseorang. Tepatnya seorang gadis yang sudah beberapa waktu ini tidak pernah lagi ia temui. Bahkan saat mengunjungi sebuah kantor perusahaan yang tidak jauh dari kantornya sendiri. Tempat gadis itu bekerja, Pradipta Land Zona Timur atau lebih dikenal dengan PLZT.
Arum, gadis itu terlihat terkejut dan ketakutan melihat dirinya. Saking terkejutnya, gadis yang mengenakan dress putih selutut bermotif bunga itu sampai menjatuhkan kantong belanjaannya. Kemudian Arum pergi seolah kabur begitu saja. Hal yang paling mengusik Akram adalah reaksi gadis itu. Arum membelalak menatapnya sambil memeluk perutnya sendiri. Menggeleng seolah memohon jangan mendekat atau menyakitinya.
Masih terpatri dalam ingatan Akram wajah pucat Arum. Begitu juga penampilan gadis itu yang berbeda dari biasanya. Tidak ada setelan kemeja, blazer, rok ataupun celana panjang bahan yang memberikan kesan kaku padanya. Gadis yang berdiri tepat di hadapannya beberapa waktu lalu di depan sebuah minimarket itu terlihat anggun.
"Bagaimana bisa dia terlihat secantik itu? Sejak kapan? Arum… dia benar-benar wujud dari bunga lili. Matanya… itu kali pertama aku melihat netra coklat seindah itu. Tapi kenapa selama ini dia sembunyikan?" gumam Akram sambil mengusap dagu dengan telunjuknya.
Matanya terpejam seolah enggan kehilangan bayangan gadis yang jutek itu. Sekilas saja orang akan tahu ia menawan meski tanpa riasan. Sederhana dengan rambut yang terjepit sebagian. Bukan rambut terkuncir atau disanggul ketat dan rapi seperti biasanya. Terlebih mata gadis itu bisa bertatapan langsung dengan matanya tanpa terhalang kacamata yang biasa digunakannya.
Seulas senyum terbit di wajah Akram dengan mengingat semua itu. Apalagi jika dirinya datang ke kantor Pradipta. Dirinya akan disambut gadis itu yang berstatus sebagai sekretaris Direktur Utama Pradipta Land Zona Timur. Gadis yang sejak pertemuan pertama membuatnya terpaku pada senyum sinis karena memujinya cantik. Kesan pertama yang dimilikinya untuk seorang Arumi Liliana adalah gadis mandiri, berani, pandai dan berpendirian.
Mengingat bagaimana gadis itu dengan berani memberinya peringatan untuk tidak sembarangan memujinya karena dirinya tidak membutuhkan hal itu. Basa-basi Akram langsung ditepis. Meminta dengan sopan agar dirinya segera mengatakan tujuan dan maksud kedatangannya.
Saat sang atasan keluar dan menegur Arum, gadis itu menjawab dengan sopan pada atasannya. Jawaban yang menyentil hati Akram. Arum mengaku akan bersikap sopan jika tamu yang datang juga tidak melewati batas karena mereka sedang berada di kantor. Terlebih masih jam kerja, sehingga hanya akan membahas masalah pekerjaan, bukan masalah pribadi. Lagi-lagi Akram tersenyum mengingat hal itu.
Karakter Arum sangat mirip dengan karakter tantenya, Hastuti yang merupakan kakak dari papanya. Begitu juga putri dari pemilik Perusahaan Pradipta, Abhisa Sabiya yang merupakan cinta pertamanya. Mengetahui jika Biya sibuk menangani Pradipta Foundation yang sementara waktu menggantikan bundanya, Akram bertekad ingin kembali mendekati gadis itu. Terlebih pekerjaannya yang belakangan ini menggantikan tantenya yang sedang sakit membuka akses pertemuan dengan gadis pujaannya. Tapi pertemuannya dengan Arum tadi seketika menghadirkan dilema. Siapa yang harus ia kejar? Biya atau Arum?
"Pak Akram, Pak. Pak Akram!!" teriak Lita memanggil atasannya yang sudah melamun sejak beberapa menit yang lalu.
"Ada apa? Kenapa Bu Lita teriak? Saya tidak tuli!" bentak Akram yang terkesiap karena terkejut. Belum lagi ketukan keras sebuah pulpen di tepi meja kacanya. Sembari mengelus dadanya, Akram menatap wajah cemberut wanita 35 tahun itu. "Kalau saya jantungan seperti Tante Uti bagaimana?"
"Idih... Bos, ngaku ganteng tapi jantungnya lemah. Mengecewakan! Saya itu dari tadi ketuk pintu. Panggil atasan saya kayak panggil penjual cilok yang sudah hampir hilang di ujung gang. Saya berdiri di sini pun masih tidak dengar. Ya saya teriak lagi toh! Ada apa sih, Pak Akram melamun kayak orang diusir dari rumah saja?" tanya Lita dengan bibir manyunnya karena Akram melotot seolah hendak mencekiknya.
"Ya Allah, dosa apa saya harus punya sekretaris kayak Bu Lita? Ocehannya kayak Tante Uti saja. Ada apa?" Kini Akram serius bertanya.
"Mau buat Bos senang tak terkira," jawab wanita itu ambigu.
"Bawa kabar apa? Ada investor yang mau suntik dana ke yayasan?" tanya Akram yang akhirnya tersenyum. Belakangan ini memang yayasan milik om dan tantenya sedikit mengalami masalah keuangan. Itu menjadi salah satu faktor yang memicu stres tante kesayangannya.
"Belum ada. Saya ke sini mau menyampaikan kalau bulan depan... saya itu mau ajukan resign. Biar Bos tidak ketemu saya lagi." Wanita itu mengangguk mengulas senyum lega.
"Niat sekali pendam dendam sama saya? Memangnya ucapan saya selama jadi atasan Bu Lita, ditampung semua dan dibalas sekarang? Bu Lita benar-benar kesal sama saya? Saya seperti itu juga karena belum terbiasa dengan semua tekanan pekerjaan ini Mbak. Saya masih mau bebas kerjakan apa yang saya suka," keluh Akram.
Jika sudah menyebut 'Mbak' pada sekretaris tantenya yang selama beberapa bulan ini juga menjadi sekretarisnya, pasti Akram akan melupakan wibawanya. Ia akan berubah menjadi bocah yang merajuk dan mencurahkan perasaannya. Lita sudah bekerja hampir sembilan tahun dengan Hastuti. Wanita itu sudah cukup mengenal Akram. Begitu juga masalah yang dialami Akram sejak remaja. Pemuda itu lebih memilih untuk ikut tantenya sejak menanggalkan seragam abu-abunya dibandingkan tinggal bersama kedua orang tua kandungnya sendiri.
Akram bukan sepupunya Riswan yang bisa diatur hidupnya oleh kedua orang tuanya. Ia lebih menyukai sastra dibandingkan politik atau bisnis. Tapi kedua orang tuanya seakan tidak mau tahu dan menganggap hal yang disukainya itu tidak akan mampu menunjang masa depannya kelak. Papanya yang pecinta nama baik dan sorotan publik. Sementara mamanya yang pencinta uang. Semua orang suka uang, tapi mamanya berada dalam kategori matre. Itu menurut Akram pribadi.
"Mbak mau resign karena mbak hamil. Suami mbak sarankan sebaiknya mbak ambil cuti. Tapi hasil pemeriksaan dokter bilang, kandungan mbak yang sekarang tidak sekuat kehamilan yang pertama. Kamu ingatkan, dulu mbak pernah keguguran? Sekarang mbak tidak mau ambil resiko lagi Ram," ungkap Lita sambil memeluk perutnya dengan kedua tangannya seolah ada yang akan menyakiti kandungnya. "Mbak bilang lebih awal supaya kamu bisa cepat cari pengganti. Kamu bisa seleksi dan pilih yang terbaik. Mbak sudah bilang sama Bu Hastuti dan Pak Haslanuddin. Alhamdulillah mereka mengerti sama keputusan mbak ini."
Prakk!!
Tumpukan map berkas di sudut meja jatuh. Sebagian isinya berserakan di lantai. Jatuh karena disenggol Akram yang tiba-tiba beranjak dari kursinya. Setelah beberapa saat memperhatikan tangan Lita yang memeluk perutnya, Akram berlari keluar dari ruangannya.
"Akram, kamu kenapa? Hei, kamu mau ke mana?! Pak Akram!!!" teriak Lita kebingungan. "Apa dia segitunya tidak ingin aku resign? Dia syok? Aneh?"
###
Akram memacu mobilnya kembali ke minimarket tempat dirinya bertemu Arum. Kini ia mengerti ekspresi wajah terkejut sekaligus ketakutan gadis itu ketika bertemu dengan dirinya. Gadis? Arum bukan lagi seorang gadis dan itu karena dirinya.
Malam ketika dirinya yang setengah sadar menyentuh gadis itu memenuhi pikirannya. Tepatnya… tanpa sadar ia sudah memaksanya. Akram ingat bagaimana Arum menangis ketakutan menarik selimut dan mengancamnya untuk tidak mendekat. Begitu juga noda merah di seprei putih di tempat tidur tempatnya bangun dengan kepala yang nyaris meledak.
Akram memukul setir melampiaskan sesak di dadanya dan kembali menambah kecepatan mobilnya. Ia sadar jika perbuatannya salah dan demi apapun ia harus mencari tahu kebenarannya. Jika dugaannya benar Arum saat ini mengandung, maka ia yakin jika anak itu adalah darah dagingnya. Sudah cukup dosanya selama ini bermain wanita karena penolakan seorang Biya.
Kehidupannya di Singapura yang kadang membayar wanita malam sudah ia tinggalkan. Akram belum siap menikah dengan perjodohan yang selama ini ditawarkan mamanya. Ditambah lagi permintaan papanya yang ingin dirinya terjun berpolitik. Hal yang membuatnya kabur ke Singapura dan menyusul sepupunya yang kuliah bisnis di sana.
Awalnya ia hanya melampiaskan stres dengan alkohol. Berharap minuman itu bisa membuatnya lupa dengan masalahnya. Pergaulan buruknya membawanya terjun ke dunia malam. Termasuk pergaulan bebas dengan sesekali melakukan ons. Tergiur dan terjerat dengan kenikmatan sesaat yang membuatnya sesat.
Kebutuhan biologis dan pelariannya dari masalah, menjadikan rangkaian perangai buruk itu sebagai pelampiasan dan penenang sejenak. Bermain aman karena tidak ingin terjebak. Hingga saat sepupunya datang dan bertanya tidakkah dirinya takut jika zina yang dilakukannya akan menjadi karma suatu hari nanti? Terlebih dirinya memiliki adik perempuan.
Setelah kembali ke Indonesia, ia tidak pernah lagi melakukan dosa itu. Meskipun kadang ia masih keluar masuk diskotik untuk menenggak beberapa gelas minuman haram. Bahkan kebiasaan buruknya dengan minuman itu sudah benar-benar ia jauhi sejak tantenya Hastuti jatuh sakit. Memintanya agar menyelamatkan yayasan milik keluarga suaminya.
Awalnya Akram menolak karena selain merasa kurang mampu, ia juga malu. Namun melihat tantenya terus memohon ia pun akhirnya setuju. Hastuti memang tidak bisa memiliki keturunan sehingga suami istri pemilik Yayasan HAS itupun mengadopsi seorang anak. Tapi Aylana, gadis remaja yang kini duduk di kelas 2 SMA itu masih terlalu muda dan polos. Belum waktunya dibebani dengan urusan seberat itu.
Tadi saat melihat Lita memeluk perutnya, Akram tertegun. Sama seperti yang dilakukan Arum dengan perutnya. Tapi ekspresi wajah keduanya sangat berbeda. Bisa dibilang justru reaksi keduanya bertolak belakang.
Lita dengan senyum bahagianya mengatakan dirinya sedang hamil, hendak mengajukan resign. Sementara Arum yang sempat dicari tahu kabarnya beberapa waktu telah resign dengan alasan sakit. Kini nama Arum menari-nari di dalam pikiran dengan segala tanda tanya yang kini memenuhi benaknya.
"Kamu resign karena sakit apa? Apa karena kamu hamil?" batin Akram kembali menggerutu karena terjebak macet.
###
Bersambung....
Kinabukasan, pumasok ako sa opisina na may masama timpla. Wala akong maayos na tulog. My eyes were heavy, my head was throbbing at kulang na lang ay manapak ako ng kung sinong haharang sa dinadaanan ko. Puyat ako at lahat ng iyon ay dahil sa pesteng panaginip na 'yon, pati ang katahimikan sa bahay at sa lalaking may kapal ng mukhang patayan ako ng cellphone. "Good morning, Miss Via. Coffee?" alok ni Klea pagkapasok ko."Does it look like this face has a good morning vibe to you, Klea?" cold kong sagot habang nilalampasan siya. "Where is Castañeda?""Wala pa po, Miss Via. Hindi rin siya sumasagot sa mga text ko."I didn't answer.Nasasanay na siyang hindi sumasagot ah. Dumiretso ako sa loob at pabagsak na naupo sa swivel chair ko. I did all things I need to do, nag-alas-nuwebe na, wala parin ang presence ni Jacen. Then 10:00 AM, hanggang nag 11:00 AM. Wala pa ring anino ng isang Jaxen Castañeda na sumisipot. My anger was slowly turning into a rage. This is so unprofessional. Lunch
"So, you knew him?" "Yes. He's my former personal secretary... posisyon niya ang pinalitan mo," tipid kong sagot habang patuloy parin sa paglalakad. "Oh, you mean he did what I did? He did what you made me do?" alanganing tanong niya muli. Ramdam ko ang pagbagal ng mga hakbang niya sa likuran ko. Dahil sa tanong niya ay napatigil ako at hinarap siya. Kita sa mukha niya ang pag-aalinlangan, hindi sigurado kung dapat ba niyang itinuloy ang tanong na 'yon o mas mabuting nanahimik na lang siya. "Yes, I was having sex with him when he was my employee, if that's what you are trying to confirm. Because as I said, he was my personal secretary—exactly like you," direkta kong sagot. I didn't blink. I wanted him to see that I don't feel guilty about it. "Oh... o-okay. Sorry for asking," halos pabulong niyang sagot, sabay iwas ng tingin. Muli ko siyang tinalikuran at nagpatuloy sa paglalakad patungo sa sasakyan. Hindi na siya muling nagsalita pa maliban na lang kung may itatanong ak
Ilang araw na rin ang lumipas mula nang mangyari ang branch inspection na iyon. Sa tulong ni Klea, mabilis kaming nakahanap ng bagong manager—isang babaeng matagal na nagtatrabaho sa main branch. Mas mainam na ito dahil kilala na siya ng mga ilan sa empleyado doon, I can also say na mas maayos siya kumpara kay Mr. Guevarra. Maayos ito magtrabaho at maayos din makitungo sa iba. Pinili kong lunurin ang sarili ko sa trabaho. Tambak na papeles, sunod-sunod na meetings, at site visits. Ginagawa ko ang lahat para mapagod ang katawan at isip ko bago sumapit ang gabi. Ito lang ang nakakatulong para mabilis akong makatulog. Kailangan kong mapagod para 'di magkaroon ang utak ko na mag-isip o kahit managinip ng kung anu-ano. Ayaw ko nang managinip. Ayaw ko nang bumalik sa mga alaala ng nakaraan na tila anino kung sumunod sa bawat pagpikit ko. Pagod lang ang tanging paraan para dire-diretso ang tulog ko nang walang istorbo. Pero mukhang hindi lang ang nakaraan ko ang mangugulo sa akin. Sakto
Hinarap ko si Klea. “Klea, take note of this. Effective immediately, Mr. Guevarra is relieved of his duties. He is no longer an employee to any of my company."Biglang napatayo si Mr. Guevarra at lumapit ito sa akin. Sinusubukan hawakan ang kamay ko pero lumayo ako. Lumuhod ito. "M-Ma'am, please, H-Hindi na po mauulit. I have a family to feed, Ito lang po ang inaasahan namin,"pagmamakaawa niya, muli na naman siyang lumapit sa akin pero agad na humarang si Jaxen sa gitna namin. Jaxen didn't say anything but his presence was enough to make the man step back. I give no exception. You did something wrong and now, face the consequences. "Everyone here has a family to feed, but they don't treat others like trash," mariing sagot ko. Diretso ko siyang pinagkatitigan. "Did you ask them? Did they allow you to treat them the way you did?"I looked at him intently."Pack all your things. I don't want to see you in any of my branches again." I shifted my eyes to my secretary."Klea, post a
It's been a week since I hired Jaxen and so far, maayos naman siya magtrabaho sa opisina.Kasalukuyan akong nandito ngayon sa isang club kung saan madalas akong tumambay kapag kailangan ko ng ingay to distract myself. Now, I chose not to stay sa VIP room because it feels boring, siguro kapag lasing
"Ughh~ Ang sarap. Your lips taste so good, ma'am," bulong niya sa tainga ko. Hindi ko na maintindihan ang reaksyon ng katawan ko basta isa lang sigurado ako—kung anumang reaksyon ito, gusto ko. Nagugustuhan ng katawan ko. Bumaba ang halik niya sa leeg ko na naging dahilan ng pagsinghap at pagting
"To have sex with me," direktang sagot ko habang seryosong nakatingin sa kanya. Kita ko ang gulat na gumuhit sa kanya. Inaasahan ko na 'yan. "Tama ba narinig ko? Sex?""Yes, hindi ka naman siguro naging magna cumlaude para maging tanga at hindi malaman ang ibig sabihin ng sex. Should I explain it
"Ohh... uhm Ughh~ Tangina! Ang sarap mo,""Ughh... Ang s-sikip mo parin kahit ilang beses na natin 'to ughh~ g-ginawa!"Paulit-ulit na sambit ng sekretarya ko habang mabilis na umuulos sa ibabaw ko. Halata sa boses nito ang sarap na nararamdaman habang ginagawa ito kahit na kita naman sa reaksyon k
![Just One Night [Tagalog]](https://www.goodnovel.com/pcdist/src/assets/images/book/43949cad-default_cover.png)











Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.