Compartilhar

maaf

Autor: ade annisa
last update Data de publicação: 2025-12-20 20:47:01

Mobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.

“Kak Erik, kenapa berhenti?”

Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba.

"Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata.

"Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?"

Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya.

“Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik.

Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka.

“Turun dari mobilku. Kamu bisa pulang sendiri.”

Pernyataan itu membuat Kalila semakin merasa takut. Dengan cemas menolehkan pandangannya pada keadaan di luar, tampak sepi dan menyeramkan, gadis itu pun menggeleng.

“Jangan, Kak Erik. Lila mohon, Lila nggak berani di sini sendirian,” ucapnya memelas.

Erik bergeming di tempatnya. Genggaman tangannya yang kokoh ia eratkan pada kemudi, kebas di pipinya masih terasa nyeri. “Bukankah kau lebih takut jika bersamaku?” tanya pria itu tanpa menoleh.

Kalila menggeleng cepat. Air matanya sudah luruh membasahi pipi, dia merasa ketakutan sekali. “Kak Erik, Lila ingin pulang,” rengeknya.

Namun Erik tetap diam. “Keluar,” hanya kata itu yang terdengar dari mulutnya.

Kalila tetap menggeleng dan berubah waspada saat sang kakak beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar, menghampiri pintu mobil dan membukakannya untuk gadis itu.

“Aku bukan pria penyabar, ayo cepat keluar,” ucapnya tenang, seolah apa yang dia lakukan tidak akan menimbulkan masalah.

Sepertinya Erik tidak peduli jika nanti kedua orang tuanya mungkin akan menanyakan keberadaan gadis itu.

“Kak Erik, tolong jangan tinggalin Lila. Lila mohon, Kak, Lila takut.” Kalila terus meronta saat Erik menariknya keluar dari mobil, dan setelah menutup pintu, pria itu berjalan kembali ke balik kemudi.

Kalila tidak percaya, sang kakak benar-benar meninggalkannya di tempat semenakutkan itu, dan mau tidak mau dia harus berjalan kaki untuk pulang.

Dia mulai melangkah menyusuri trotoar. Pandangannya ia edarkan pada suasana di sekitarnya yang teramat sepi, kendaraan yang lewat pun justru semakin membuatnya takut untuk menoleh. Yang lebih menyeramkan dari hantu adalah orang jahat yang mungkin akan mencelakai dirinya.

Tas berisi ponsel dan uangnya ada di mobil Erik, dia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang.

Kalila kembali mengusap air matanya untuk kesekian kali, suara dua motor yang berhenti di sekitarnya membuat gadis itu mendongak. Beberapa lelaki berwajah kasar turun dari kendaraannya dan berhasil membuat Kalila semakin ketakutan.

“Hai, cantik, kok sendirian saja? Bagaimana jika kami temani,” ucap salah satu pria berambut gondrong yang terlihat lusuh pakaiannya.

Kalila mundur ketakutan. “Pergi! Tolong jangan ganggu saya,” ucapnya sedikit gemetar.

Bukannya menurut, pria yang berjumlah tiga orang itu malah semakin menggoda Kalila. Kecantikan wajah gadis itu tentu saja membuat mereka benar-benar menginginkannya.

“Pergi! Atau saya akan teriak.”

“Berteriaklah, Sayang. Jalanan ini selalu sepi jika malam seperti ini. Ada kendaraan pun belum tentu mereka akan peduli.”

Kalila mundur ketakutan. Yang dikatakan pria itu memang benar. Beberapa menit ia menyusuri jalanan ini, hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat lewat, itu pun cepat sekali.

“Tolong jangan ganggu saya, saya ingin pulang,” mohon Kalila mengiba.

Pria di hadapannya itu malah tertawa. “Setelah bersenang-senang, kami pasti akan mengantarmu pulang,” ucapnya memberi penawaran.

Kalila tidak tahu lagi harus bagaimana. Ketiga pria menyeramkan di hadapannya itu tidak ada itikad baik untuk menolongnya. Gadis itu pun berusaha lari dengan secepat yang ia bisa.

“Mau ke mana, Sayang!”

“Lepaskan!” Kalila meronta saat kedua tangannya dengan erat dicekal oleh dua pria di sekitarnya, pria satu lagi menangkup dagunya dengan satu tangan, membuat gadis itu mendongak, menunjukkan wajahnya yang ketakutan.

“Ternyata kau benar-benar cantik, Nona.”

Pujian sama sekali tidak membuat Kalila merasa tersanjung. Gadis itu berdoa dalam hati, semoga ada seseorang yang menolong dirinya saat ini, dan siapa pun itu, dia berjanji untuk membalas budi padanya nanti.

Kalila sudah di ujung putus asa saat satu pria di hadapannya bergerak membuka sabuk pada celananya, namun lampu sorot yang berasal dari sebuah mobil mewah membuat mereka mengalihkan perhatiannya.

Gadis itu bernapas lega saat kedua pria itu melepaskan dirinya dan menghampiri si pemilik mobil mewah yang begitu berani mengganggu kesenangan mereka.

Kalila kenal mobil itu, semakin dikuatkan dengan kemunculan Erik dari dalamnya. Dari raut wajahnya, pria itu terlihat marah.

Tanpa basa-basi, Erik yang memang tidak benar-benar pergi menghajar habis-habisan ketiga pria itu sampai bersimpuh di kakinya.

Dia tidak sedikit pun terluka, hanya tinjunya yang tampak memar beradu dengan wajah-wajah mereka.

Setelah ketiga preman itu berlari kabur, Kalila menghampiri sang kakak yang tampak terengah mengatur napas. Gadis itu memeluk tubuhnya.

“Kak Erik, Kak Erik, Lila takut,” ucapnya dengan sesenggukan di dada bidang pria itu. “Tolong jangan tinggalin Lila, Lila takut.”

Tanpa gadis itu duga, kakak angkatnya itu mengusap puncak kepalanya. “Maaf,” ucap pria itu lirih.

Ada sesuatu yang membuat Erik bersikap demikian pada Kalila, sesuatu yang mengharuskannya berbuat kejam pada gadis itu.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Hot Brother   Bahagia

    Kalila mendekat pada suaminya. "Kau lapar?" tanya wanita itu. Seperti tengah mengalihkan perhatian.Erik tidak menanggapi, fokus pada Roy yang kemudian pamit undur diri, dan colekan di pipinya dari sang istri membuat pria itu menoleh. "Aku lapar," ucap Kalila. Erik yang diam saja kemudian mendapat cubitan di pipinya. "Kita makan di luar." Erik memberikan saran. "Untuk apa, di sini banyak makanan," tolak wanita itu. Kalila mengambil dua gelas minuman berwarna yang seorang pelayan bawa dengan nampan, wanita itu memberikan satu pada suaminya. "Aku tidak haus," tolak Erik, namun kemudian ia terima juga uluran gelas dari istrinya. "Minumlah, aku merasa hawa di sini sangat panas," sindir Kalila. Erik tidak menanggapi ledekan itu, dia menenggak habis cairan manis di tangannya, kemudian memberikangelas kosong pada pelayan yang melewatinya."Tidak haus, Tuan Erik?" Kalila kembali menggoda suaminya. "Ayo kita pulang," ajak Erik dengan merangkulkan sebelah tangannya pada pinggang Kalila,

  • Hot Brother   pesta

    Erik tampak diam, dan begitu juga dengan istrinya, dan saat pria itu menghentikan laju kendaraannya di lampu merah, dia kemudian bertanya. "Apa yang kalian bicarakan?" Kalila menoleh pada suaminya, kemudian tertawa kecil, dia tahu pria itu pasti akan menanyakan tentang hal ini. "Menurutmu?" tanyanya menggoda. Erik berdecak, kembali melajukan kendaraannya saat lampu berubah hijau, dan sikapnya yang tak acuh itu membuat Kalila gemas dan mencubit pipinya. "Dia hanya menanyakan hadiah apa yang disukai oleh seorang wanita," ucap Kalila menjelaskan. "Untukmu?" Erik kemudian bertanya, dan malah membuat Kalila jadi tertawa. "Tentu saja bukan," sangkal wanita itu, dan kembali mencubit pipinya. Sampai di dalam kamar Kalila mendapati suaminya itu lebih banyak diam, bahkan sudah lebih dulu merebahkan diri di atas kasur, biasanya pria itu selalu mengganggunya. Setelah mengganti gaunnya dengan baju tidur seperti biasa, Kalila kemudian naik ke atas ranjang dan mencolek pipi suaminya. "Kau ta

  • Hot Brother   cemburu

    "Seharusnya tidak perlu," ucap Kalila dengan berusaha bangkit dari pangkuan Erik, namun pria itu menahannya. "Kau bilang ada rapat, cepat lepaskan aku," pintanya. Bukan menurut, suaminya itu malah tersenyum. Kalila mengerutkan dahi saat Sorot mata pria di hadapannya itu terlihat sendu, dan dia tahu arti tatapan itu. "Kak Eriik, kau bilang sibuk."***Erik yang tengah memasang kembali sepatunya duduk di tepi ranjang, sesekali pria itu menoleh pada jarum jam di pergelangan tangan, memastikan bahwa waktunya masih banyak tersisa. "Sudah lewat tigapuluh menit loh Kak," ucap Kalila mendekat dengan air putih di tangannya, kemudian ia taruh di atas meja, Kalila menghampiri suaminya dan berdiri di hadapan pria itu untuk membantu memasangkan dasi di lehernya. "Papi kamu juga belum datang, sepertinya dia ada urusan juga," ucap Erik sedikit menggoda, dengan sibuk mengancingkan lengan kemejanya. Kalila berdecak, melirikkan matanya dengan sinis ke arah suaminya namun kemudian tersenyum juga. "M

  • Hot Brother   peran

    "Awas, Kak. Aku harus membalikkan telur nanti gosong," ucap Kalila dengan tertawa, dan setelah suaminya itu menyingkir dia justru kembali kebingungan. "Aku tidak bisa mengendalikannya!" "Apa yang harus aku lakukan?" Erik kemudian bertanya. Dan sang istri menyuruh untuk mematikan kompornya. Sesaat berperang dengan spatula dan dapur yang berantakan, Kalila meletakan mi goreng dan telur ceplok setengah gosong di atas meja. "Maaf aku tidak bisa masak," Sesalnya. Erik menatap wajah cantik sang istri yang terlihat begitu kontras dengan hasil masakan di piringnya, namun pria yang duduk pada kursi di ujung meja itu menarik piring dari hadapan Kalila agar mendekatinya. Kalila sedikit terkesip saat suaminya itu menyendok masakannya kemudian ia makan. "Jangan, Kak Erik!" cegahnya dengan mendekat, kemudian duduk di sebelah Erik dan menyentuh lengannya, Kalila takut sang suami akan keracunan dengan hasil masakannya, belum apa-apa masa dia harus menjadi janda. Erik sedikit mengernyit saat rasa

  • Hot Brother   liburan

    Tidak terasa satu minggu sudah mereka berada di tempat itu, Kalila pun sudah mulai lelah menjelajahi semua tempat wisata yang tidak akan pernah bosan meski berkali-kali mengunjunginya, tapi sungguh dia sangat merindukan mami Erina, dia ingin pulang ke rumah orang yang saat ini sudah menjadi mami mertuanya.Kedatangan mereka tentu disambut gembira oleh Erina, yang sudah menyiapkan makanan banyak untuk putra dan menantunya. "Bagaimana liburan kalian, apa menyenangkan?" Erina bertanya dengan sedikit menggoda Kalila tentang bagaimana rasanya malam pertama, keduanya kemudian terlibat obrolan. Erik lebih banyak diam saat berada di ruang makan, menyaksikan dua wanita kesayangannya terlihat bahagia dia sudah begitu senang. "Jadi, niatnya kalian mau tinggal di mana?" Pertanyaan itu terlontar dari Arlan, yang saat ini ikut makan malam bersama mereka. Sama seperti Erik, pria paruh baya itu juga lebih banyak diam. "Tinggal di rumah mami saja ya," bujuk Erina dengan menyentuh lengan Kalila. D

  • Hot Brother   kenangan baru

    Erik menatap kedua bolamata Kalila yang terlihat jernih, kabut yang semula memenuhi netranya itu terlihat menghilang. "Aku suka melihat pancaran matamu, dan perubahannya saat kau aku sentuh," ucapnya dengan mengusapkan kembali tangannya pada perut rata Kalila, memainkan jahitan luka yang sedikit membekas di sana. Sejenak Kalila tertegun, pria yang berbaring miring menghadapnya dan menopang kepala dengan tangan itu semakin membuatnya merasa malu. "Apa kau selalu seperti ini?" tanya Kalila hati-hati. Erik yang masih menatap wajah cantik istrinya itu kemudian mengangkat alis. "Seperti ini bagaimana?" tanyanya tidak mengerti. Kalila mengalihkan pandangannya pada langit-langit kamar, sorot teduh pria itu selalu membuatnya merasa masuk ke dalam labirin rumit yang tidak tahu di mana jalan keluar. "Kau masih berpakaian lengkap sedangkan aku nyaris tidak mengenakan apa-apa." Mendengar kalimat itu keluar dengan nada malu-malu membuat Erik kemudi tertawa, pria itu merebahkan diri dan menar

  • Hot Brother   Sakit

    Erik belum mau beranjak, pria itu masih berdiri mengamati Kalila yang tampak meracau tidak jelas, efek minuman juga kondisi tubuhnya yang kurang sehat membuat gadis itu terus bergumam. "Papiii," rintih Kalila dengan masih memejamkan mata. Erik mencondongkan tubuhnya, menarik selimut untuk menutu

    last updateÚltima atualização : 2026-03-29
  • Hot Brother   khawatir

    Erik mengetuk pintu kamar Kalila, dia khawatir dengan gadis itu takut terjadi apa-apa, karena semenjak perdebatan menjelang siang tadi, dia tidak juga keluar dari sana. Pria itu membuka benda di hadapannya dan melangkah masuk saat seseorang di dalam mengatakan bahwa pintu tidak dikunci. Erik meng

    last updateÚltima atualização : 2026-03-29
  • Hot Brother   kelemahan

    Kalila tentu saja terkejut dengan reflek pria di hadapannya, beruntung laju kendaraan yang memang pelan tengah berada di pinggir jalan. "Kenapa?" tanyanya. "Biar aku saja," ucap Erik dan kemudian meraih ressleting untuk membukanya. Kalila diam saja saat pria itu memasangkan jaket pada tubuhnya, w

    last updateÚltima atualização : 2026-03-29
  • Hot Brother   penghuni baru

    "Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu,

    last updateÚltima atualização : 2026-03-27
Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status