LOGINMobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.
“Kak Erik, kenapa berhenti?” Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba. "Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata. "Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?" Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya. “Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik. Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka. “Turun dari mobilku. Kamu bisa pulang sendiri.” Pernyataan itu membuat Kalila semakin merasa takut. Dengan cemas menolehkan pandangannya pada keadaan di luar, tampak sepi dan menyeramkan, gadis itu pun menggeleng. “Jangan, Kak Erik. Lila mohon, Lila nggak berani di sini sendirian,” ucapnya memelas. Erik bergeming di tempatnya. Genggaman tangannya yang kokoh ia eratkan pada kemudi, kebas di pipinya masih terasa nyeri. “Bukankah kau lebih takut jika bersamaku?” tanya pria itu tanpa menoleh. Kalila menggeleng cepat. Air matanya sudah luruh membasahi pipi, dia merasa ketakutan sekali. “Kak Erik, Lila ingin pulang,” rengeknya. Namun Erik tetap diam. “Keluar,” hanya kata itu yang terdengar dari mulutnya. Kalila tetap menggeleng dan berubah waspada saat sang kakak beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya keluar, menghampiri pintu mobil dan membukakannya untuk gadis itu. “Aku bukan pria penyabar, ayo cepat keluar,” ucapnya tenang, seolah apa yang dia lakukan tidak akan menimbulkan masalah. Sepertinya Erik tidak peduli jika nanti kedua orang tuanya mungkin akan menanyakan keberadaan gadis itu. “Kak Erik, tolong jangan tinggalin Lila. Lila mohon, Kak, Lila takut.” Kalila terus meronta saat Erik menariknya keluar dari mobil, dan setelah menutup pintu, pria itu berjalan kembali ke balik kemudi. Kalila tidak percaya, sang kakak benar-benar meninggalkannya di tempat semenakutkan itu, dan mau tidak mau dia harus berjalan kaki untuk pulang. Dia mulai melangkah menyusuri trotoar. Pandangannya ia edarkan pada suasana di sekitarnya yang teramat sepi, kendaraan yang lewat pun justru semakin membuatnya takut untuk menoleh. Yang lebih menyeramkan dari hantu adalah orang jahat yang mungkin akan mencelakai dirinya. Tas berisi ponsel dan uangnya ada di mobil Erik, dia tidak bisa menghubungi siapapun sekarang. Kalila kembali mengusap air matanya untuk kesekian kali, suara dua motor yang berhenti di sekitarnya membuat gadis itu mendongak. Beberapa lelaki berwajah kasar turun dari kendaraannya dan berhasil membuat Kalila semakin ketakutan. “Hai, cantik, kok sendirian saja? Bagaimana jika kami temani,” ucap salah satu pria berambut gondrong yang terlihat lusuh pakaiannya. Kalila mundur ketakutan. “Pergi! Tolong jangan ganggu saya,” ucapnya sedikit gemetar. Bukannya menurut, pria yang berjumlah tiga orang itu malah semakin menggoda Kalila. Kecantikan wajah gadis itu tentu saja membuat mereka benar-benar menginginkannya. “Pergi! Atau saya akan teriak.” “Berteriaklah, Sayang. Jalanan ini selalu sepi jika malam seperti ini. Ada kendaraan pun belum tentu mereka akan peduli.” Kalila mundur ketakutan. Yang dikatakan pria itu memang benar. Beberapa menit ia menyusuri jalanan ini, hanya beberapa kendaraan saja yang terlihat lewat, itu pun cepat sekali. “Tolong jangan ganggu saya, saya ingin pulang,” mohon Kalila mengiba. Pria di hadapannya itu malah tertawa. “Setelah bersenang-senang, kami pasti akan mengantarmu pulang,” ucapnya memberi penawaran. Kalila tidak tahu lagi harus bagaimana. Ketiga pria menyeramkan di hadapannya itu tidak ada itikad baik untuk menolongnya. Gadis itu pun berusaha lari dengan secepat yang ia bisa. “Mau ke mana, Sayang!” “Lepaskan!” Kalila meronta saat kedua tangannya dengan erat dicekal oleh dua pria di sekitarnya, pria satu lagi menangkup dagunya dengan satu tangan, membuat gadis itu mendongak, menunjukkan wajahnya yang ketakutan. “Ternyata kau benar-benar cantik, Nona.” Pujian sama sekali tidak membuat Kalila merasa tersanjung. Gadis itu berdoa dalam hati, semoga ada seseorang yang menolong dirinya saat ini, dan siapa pun itu, dia berjanji untuk membalas budi padanya nanti. Kalila sudah di ujung putus asa saat satu pria di hadapannya bergerak membuka sabuk pada celananya, namun lampu sorot yang berasal dari sebuah mobil mewah membuat mereka mengalihkan perhatiannya. Gadis itu bernapas lega saat kedua pria itu melepaskan dirinya dan menghampiri si pemilik mobil mewah yang begitu berani mengganggu kesenangan mereka. Kalila kenal mobil itu, semakin dikuatkan dengan kemunculan Erik dari dalamnya. Dari raut wajahnya, pria itu terlihat marah. Tanpa basa-basi, Erik yang memang tidak benar-benar pergi menghajar habis-habisan ketiga pria itu sampai bersimpuh di kakinya. Dia tidak sedikit pun terluka, hanya tinjunya yang tampak memar beradu dengan wajah-wajah mereka. Setelah ketiga preman itu berlari kabur, Kalila menghampiri sang kakak yang tampak terengah mengatur napas. Gadis itu memeluk tubuhnya. “Kak Erik, Kak Erik, Lila takut,” ucapnya dengan sesenggukan di dada bidang pria itu. “Tolong jangan tinggalin Lila, Lila takut.” Tanpa gadis itu duga, kakak angkatnya itu mengusap puncak kepalanya. “Maaf,” ucap pria itu lirih. Ada sesuatu yang membuat Erik bersikap demikian pada Kalila, sesuatu yang mengharuskannya berbuat kejam pada gadis itu.Kalila yang tidak bisa menyelam tampak sedikit kelabakan, degup jantung yang semakin berantakan membuat suasana hatinya tidak karuan, ada apa dengan dirinya yang justru malah tampak kebingungan. "Tolong jangan macam-macam, atau aku akan berteriak dan mengadukan semuanya pada papi, dan dia akan menendangmu dari sini." Ancaman gadis itu menggelitik perasaan Erik, pria itu tertawa kecil. "Mengadukan apa, Kalila?" pria itu bertanya dengan nada menggoda, mengikis jarak tubuh mereka yang tersisa beberapa jengkal saja. "Aku masuk ke kamar ini bahkan atas perintah papimu sendiri," imbuh pria itu lagi. "Kau bohong!" tukas Kalila yang semakin merasakan dingin pada telapak tangannya, mungkin terlalu lama berendam membuatnya sedikit demam. "Aku akan tetap mengadukan pada papi tentang kelancanganmu memeriksa isi kamar ini," ancam Kalila lagi. Erik tampak menyeringai, yang justru membuat ketampanan di wajahnya itu bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Dan Kalila teramat benci untuk mengakuin
"Berani-beraninya kau melakukan ini padaku." Saking kesalnya, Kalila memukul air di dalam bathtub, dan malah terciprat pada wajahnya, gadis itu semakin murka.Erik berjengit mundur saat air sabun itu nyaris mengenai wajahnya, pria itu beranjak berdiri. "Aku tunggu di luar, atau mau sekalian aku mandikan?" goda pria itu lagi. "Dasar Brengsek!" geram Kalila, tatapan tajam penuh dendam ia hujamkan pada pria di hadapannya. Erik terkekeh pelan, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan Sorot matanya tidak pernah lepas dari tubuh Kalila. Tatapan teduh pria itu membuat Kalila menyadari sesuatu, kemudian menunduk pada baju putih yang ia kenakan, terlihat basah dan transparan. "Sialaaan!" teriaknya dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada, dalaman warna hitam tampak tercetak jelas di sana. "Kau benar-benar pengawal yang kurang ajar, aku akan mengadukan pada papi, agar segera memecatmu sekarang juga," ancam gadis itu. Erik terkekeh lagi. "Untuk apa kau tutupi, Kalila, aku
"Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu, dan Erik menatapnya dengan ekspresi menunggu. "Kau senang sudah sejauh ini?" Roy bertanya ambigu, dan Erik pura-pura tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya itu. "Apa maksudmu, Roy?" Erik bertanya, tanpa rasa kebingungan yang seharusnya terpancar dari wajahnya, karena justru raut menjengkelkan yang terlihat begitu kentara. Roy melangkahkan kakinya semakin dalam, sebagai pria yang paling dekat dengan Kalila selama tiga tahun ini, dia merasa derajatnya lebih tinggi dibanding pemuda itu. "Kau mengharapkan Kalilamu kembali, Erik?" Roy tertawa mendengus, "itu tidak akan pernah terjadi," imbuh pria itu lagi. Erik terdiam, menoleh ke arah lain saat tatapan Roy tampak mengintimidasi, dia
Erik tidak menyangka dirinya akan kena tipu juga, dia mungkin sering mendengar tentang kejahilan gadis itu, tapi berhadapan secara langsung dengannya tentu saja dia tidak pernah menduga, bahwa gadis yang dulu amat penurut bisa bersikap begitu tega.Dulu Kalila bahkan akan menangis jika melihat orang lain dalam kesulitan, dan sosoknya yang sekarang justru malah menjadi pusat dari kesulitan itu sendiri.Erik menoleh sekeliling, mengamati ruangan pengap itu dan mencari jendela untuk dirinya keluar, namun suara anak kunci diputar membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dan kemudian membuka benda itu. Seorang wanita berseragam pelayan sedikit terkejut melihat sosoknya, dan kemudian menunduk. "Maaf, Tuan. Saya mendengar suara ketukan dari dalam jadi saya membukanya," ucap wanita itu. Erik justru berterima kasih, jika tidak ada wanita itu entah kapan dirinya berada di ruangan ini. "Apa Kalila yang menyuruhmu membukanya?" pria itu bertanya. Pelayan yang Erik tahu bernama Lusi itu kemudia
Kalingga beranjak berdiri. "Aku ingin bicara denganmu, Roy," ucapnya yang membuat Roy menoleh dan ikut berdiri, keduanya melangkah menuju ruangan pribadi pria itu. "Sebenarnya ini tugas ayahmu, hanya saja sulit sekali aku menemuinya." Samar-samar Erik masih dapat menangkap obrolan keduanya, setelah pandangannya mengikuti arah langkah kedua pria itu, dia kemudian menoleh pada Kalila yang ternyata tengah menatap wajahnya. Sedetik dua detik waktu terlewati, namun Erik tampak diam saja, dan Kalila lebih dulu memutus pandangan mereka dengan beranjak berdiri dari duduknya. "Biar kutunjukkan kamarmu," ucap gadis itu. Perlahan Erik pun ikut berdiri, mengikuti gadis yang berjalan pelan di hadapannya, sesekali rok a-lina selutut yang ia kenakan ikut bergerak seiring langkah yang ia ayunkan. Jujur, Erik sangat-sangat merindukan gadis dibhadapannya, jika boleh, ia ingin memeluknya dengan erat dan menyalurkan rasa itu, namun sekali lagi yang wajib diingat oleh dirinya, bahwa kini di mata Kalil
"Pengawal baru?" Kalila mengulang kalimat sang papa, saat pria paruh baya itu mengenalkan tamunya yang mengaku bernama Erik itu sebagai bodyguard baru untuk dirinya. "Jeff kemana? Apa dia sudah menyerah sebelum berperang?" gadis itu menekankan kata terakhir dan melirikkan ekor matanya pada Erik, memberitahu pria tampan itu bahwa menjadi pengawal untuknya tidaklah mudah."Kalila," ucap sang papa mengingatkan putrinya, sesaat pria paruh baya itu ragu apakah Erik bisa bertahan. Karena sejauh ini, banyak sekali anak buahnya yang kewalahan. Dia tidak yakin Erik bisa menaklukkan anak gadisnya.Roy yang diam-diam menyimak obrolan mereka tampak terkekeh pelan, sedikit mencondongkan duduknya. "Kalila sudah tidak butuh pengawal, Paman. Dia sudah dewasa." Pembelaan itu membuat Kalila yang duduk di sebelahnya menoleh simpati, mengacungkan ibu jarinya pada pria itu."Nah benar yang Kak Roy katakan, aku sudah tidak butuh pengawal lagi, Papi. Aku bisa menjaga diriku sendiri," imbuh gadis itu, meyaki







