LOGINDua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.
Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka. “Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami. Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini. Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya. Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan. Kalila sejenak menahan napas. “Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,” ucap sang ibu kemudian melambai pada kedua putra-putrinya. Selepas kepergian kedua orang tuanya itu, Erik menoleh pada Kalila kemudian mencengkeram dagunya. “Kamu mau mengadukan apa, hm?” tanyanya. Kalila mengernyit sakit. Kedua tangannya menahan jemari sang kakak yang seolah akan mengoyak bagian wajahnya. “Kak Erik sakit,” keluh gadis itu dengan meringis. Erik tersenyum sinis, melepaskan dagu gadis itu kemudian memberikan tatapan tajam. “Adukan saja jika kau berani, dan kau akan mendapatkan hukuman karena itu,” ancamnya. Kalila benar-benar tidak mengerti kesalahan apa yang diperbuat dirinya hingga sepertinya sang kakak begitu benci, dan tanpa perasaan pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Kalila yang terduduk lemas di tempatnya. “Jika Kak Erik benci dengan Lila, kenapa kakak yang meminta mami untuk adopsi Lila saat kecil dulu?” tanyanya tajam, kemudian menoleh. Kakaknya itu tampak menghentikan langkah. Menurut sang ibu, Kak Erik-lah yang dulu memintanya untuk tinggal di sini saat usianya lima tahun. Saat Erik berbalik, Kalila sontak merasa kehilangan nyali. Keberanian gadis itu menguap seiring langkah sang kakak yang semakin mendekat. Erik berjongkok di hadapan Kalila. Sebelah lutut pria itu ia tempelkan pada marmer di bawahnya. Pipi Kalila yang memerah bekas cengkeramannya, membuat pria itu tahu bahwa gadisnya itu begitu lemah. “Seseorang menitipkanmu padaku waktu itu, dan kebetulan mami baru saja kehilangan putrinya yang seumuran dengan dirimu, jadi karena itulah kau di sini.” Kalila tersedu. Kalimat yang terlontar dari sang kakak membuat gadis itu mengambil kesimpulan sendiri, bahwa tidak ada yang benar-benar menginginkan kehadirannya di tempat ini. Erik menyentuh puncak kepala Kalila, kemudian berkata, “Menangislah, Kalila. Aku senang melihat kau menangis, terlebih penyebabnya adalah aku.” Malam pertama tidak ada sang mami di rumahnya. Kalila seharusnya senang karena Erik tidak terlihat pulang sejak tadi sore. Gadis itu melirik jam dinding, pukul sepuluh malam, dan entah kenapa dirinya justru tampak gelisah. Kehadiran sang kakak sering kali menimbulkan efek berdebar yang berlebih pada gadis itu, tapi ketidakhadirannya justru membuat ia merasa kehilangan. Kegelisahannya membawa Kalila untuk terlelap. Sayup-sayup gadis itu mulai terperangkap ke dalam mimpi yang kisahnya selalu sama. Kalila kecil menangis tersedu-sedu bersimpuh di atas tanah saat seseorang terlihat meninggalkannya. Kepergian laki-laki dewasa yang dipanggilnya ayah membuat gadis itu semakin tidak berdaya. Hingga kemudian uluran tangan dari pemuda yang mengenakan seragam SMA, membuat Kalila kecil menghentikan tangisannya. “Adik kecil, jangan menangis. Aku akan melindungimu dari dunia dan orang-orang jahat di dalamnya.” “Kak Erik!” Kalila terbangun dengan keringat yang membanjiri bagian dahinya. Selalu saja seperti ini saat dirinya memimpikan hal yang sama, dan setelah itu Kalila akan menangis. Saat ia kecil dulu dan kakaknya itu masih SMA, Kalila selalu mendapatkan perhatian dari pria itu, hingga akhirnya Erik kuliah di luar negeri dan saat pulang sifatnya justru berubah. Kalila tidak tahu karena apa. Tanpa gadis itu sadari, Erik yang bersandar pada pagar balkon yang jendelanya tampak terbuka, memperhatikan Kalila yang terus menangis seperti saat-saat sebelumnya. Pria itu meminum air dalam gelas di genggamannya, tanpa mengalihkan tatapan dari gadis yang masih bergelung di balik selimut. Dia pun melangkah masuk. Kedatangan Erik yang tiba-tiba membuat Kalila sedikit terlonjak saat gadis itu kemudian menoleh. Dia beranjak duduk, menaikkan selimut ke atas tubuhnya untuk menutupi baju tidur tipis yang transparan. “Ka, Kak Erik mau apa?” tanya gadis itu serak. Suaranya nyaris habis karena terlalu banyak menangis. Erik yang masih berpakaian lengkap meski tanpa dasi dan jas yang ia kenakan saat ke kantor tadi, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Menangis lagi, Lila?” tanyanya dengan nada menyindir. Kalila mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari bertatap muka dengan pria tampan di hadapannya. Meski bibirnya ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat takut. Dia tidak bisa apa-apa saat pria itu menaiki ranjangnya. Kalila meronta saat Erik memaksanya masuk ke dalam dekapan pria itu. Tenaganya yang tidak sebanding membuat gadis itu akhirnya menyerah, membiarkan saja saat sang kakak menarik kepalanya untuk menempel pada dada bidangnya yang terasa hangat. Parfum maskuoin yang menyegarkan, tercampur dengan keringat pria itu yang justru menjadikan aroma khas yang membuat Kalila merasa nyaman. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada punggung pria yang mendekapnya dengan erat, tanpa sadar ia kemudian menangis. “Sebenarnya apa yang membuatmu menangis setiap malam, Lila?” tanya pria itu. Kalila menggeleng. Dia belum siap menceritakan perihal mimpi yang ia alami pada sang kakak. “Kak Erik,” ucapnya lirih. Erik bergumam sebagai tanggapan, mengusap kepala gadis itu untuk mengurai ketegangan. “Apa, Lila sayang,” balasnya. “Tolong jangan berubah, Kak Erik. Lila takut,” pinta gadis itu. Gerakan mengelus kepala yang terhenti membuat Kalila kemudian mendongak. Mata bulatnya yang berkaca-kaca terlihat polos, bertemu dengan kedua bola mata Erik yang begitu dalam dan menenggelamkan. “Jangan berubah, Kak Erik. Lila rindu Kak Erik yang dulu,” ucapnya hati-hati. Erik tersenyum manis, membuat hati gadis itu seketika berdesir, pasalnya baru kali ini Kalila kembali melihat senyum itu lagi setelah beberapa tahun yang lalu, saat sang kakak belum pergi. Namun senyum itu hanya bertahan sebentar, dan wajah sang kakak kembali datar. “Lila suka senyum Kak Erik, berikan Lila senyum itu lagi, Kak.” Erik diam saja dan kembali membawa kepala gadis itu untuk menempel di dadanya. “Aku bukan pria baik hati seperti pemeran utama yang kau tonton dalam drama,” ucapnya mengingatkan. Pria itu seperti membentengi dirinya sendiri untuk tidak terjerumus dengan kebaikan yang ia tunjukkan terhadap gadis itu, karena bagaimanapun juga hubungan keduanya tidak akan mendapat restu dari keluarga. "Kak Erik." “Tidurlah, Lila. Karena hari esok akan lebih kejam dari hari yang kau lewati sebelumnya."Kalila yang tidak bisa menyelam tampak sedikit kelabakan, degup jantung yang semakin berantakan membuat suasana hatinya tidak karuan, ada apa dengan dirinya yang justru malah tampak kebingungan. "Tolong jangan macam-macam, atau aku akan berteriak dan mengadukan semuanya pada papi, dan dia akan menendangmu dari sini." Ancaman gadis itu menggelitik perasaan Erik, pria itu tertawa kecil. "Mengadukan apa, Kalila?" pria itu bertanya dengan nada menggoda, mengikis jarak tubuh mereka yang tersisa beberapa jengkal saja. "Aku masuk ke kamar ini bahkan atas perintah papimu sendiri," imbuh pria itu lagi. "Kau bohong!" tukas Kalila yang semakin merasakan dingin pada telapak tangannya, mungkin terlalu lama berendam membuatnya sedikit demam. "Aku akan tetap mengadukan pada papi tentang kelancanganmu memeriksa isi kamar ini," ancam Kalila lagi. Erik tampak menyeringai, yang justru membuat ketampanan di wajahnya itu bertambah berkali lipat dari sebelumnya. Dan Kalila teramat benci untuk mengakuin
"Berani-beraninya kau melakukan ini padaku." Saking kesalnya, Kalila memukul air di dalam bathtub, dan malah terciprat pada wajahnya, gadis itu semakin murka.Erik berjengit mundur saat air sabun itu nyaris mengenai wajahnya, pria itu beranjak berdiri. "Aku tunggu di luar, atau mau sekalian aku mandikan?" goda pria itu lagi. "Dasar Brengsek!" geram Kalila, tatapan tajam penuh dendam ia hujamkan pada pria di hadapannya. Erik terkekeh pelan, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana, dan Sorot matanya tidak pernah lepas dari tubuh Kalila. Tatapan teduh pria itu membuat Kalila menyadari sesuatu, kemudian menunduk pada baju putih yang ia kenakan, terlihat basah dan transparan. "Sialaaan!" teriaknya dengan menyilangkan kedua lengan di depan dada, dalaman warna hitam tampak tercetak jelas di sana. "Kau benar-benar pengawal yang kurang ajar, aku akan mengadukan pada papi, agar segera memecatmu sekarang juga," ancam gadis itu. Erik terkekeh lagi. "Untuk apa kau tutupi, Kalila, aku
"Bagaimana dengan kamarnya, kamu suka?" tanya pria itu lagi. Erik mengangguk. "Terima kasih, Paman," ucapnya yang kembali membuat Kalingga menepuk pundaknya lagi, kemudian pamit undur diri dan beranjak pergi. Roy masih berada satu ruangan dengan Erik, pria itu seperti ingin mengutarakan sesuatu, dan Erik menatapnya dengan ekspresi menunggu. "Kau senang sudah sejauh ini?" Roy bertanya ambigu, dan Erik pura-pura tidak mengerti dengan maksud pria di hadapannya itu. "Apa maksudmu, Roy?" Erik bertanya, tanpa rasa kebingungan yang seharusnya terpancar dari wajahnya, karena justru raut menjengkelkan yang terlihat begitu kentara. Roy melangkahkan kakinya semakin dalam, sebagai pria yang paling dekat dengan Kalila selama tiga tahun ini, dia merasa derajatnya lebih tinggi dibanding pemuda itu. "Kau mengharapkan Kalilamu kembali, Erik?" Roy tertawa mendengus, "itu tidak akan pernah terjadi," imbuh pria itu lagi. Erik terdiam, menoleh ke arah lain saat tatapan Roy tampak mengintimidasi, dia
Erik tidak menyangka dirinya akan kena tipu juga, dia mungkin sering mendengar tentang kejahilan gadis itu, tapi berhadapan secara langsung dengannya tentu saja dia tidak pernah menduga, bahwa gadis yang dulu amat penurut bisa bersikap begitu tega.Dulu Kalila bahkan akan menangis jika melihat orang lain dalam kesulitan, dan sosoknya yang sekarang justru malah menjadi pusat dari kesulitan itu sendiri.Erik menoleh sekeliling, mengamati ruangan pengap itu dan mencari jendela untuk dirinya keluar, namun suara anak kunci diputar membuat pria itu menoleh ke arah pintu, dan kemudian membuka benda itu. Seorang wanita berseragam pelayan sedikit terkejut melihat sosoknya, dan kemudian menunduk. "Maaf, Tuan. Saya mendengar suara ketukan dari dalam jadi saya membukanya," ucap wanita itu. Erik justru berterima kasih, jika tidak ada wanita itu entah kapan dirinya berada di ruangan ini. "Apa Kalila yang menyuruhmu membukanya?" pria itu bertanya. Pelayan yang Erik tahu bernama Lusi itu kemudia
Kalingga beranjak berdiri. "Aku ingin bicara denganmu, Roy," ucapnya yang membuat Roy menoleh dan ikut berdiri, keduanya melangkah menuju ruangan pribadi pria itu. "Sebenarnya ini tugas ayahmu, hanya saja sulit sekali aku menemuinya." Samar-samar Erik masih dapat menangkap obrolan keduanya, setelah pandangannya mengikuti arah langkah kedua pria itu, dia kemudian menoleh pada Kalila yang ternyata tengah menatap wajahnya. Sedetik dua detik waktu terlewati, namun Erik tampak diam saja, dan Kalila lebih dulu memutus pandangan mereka dengan beranjak berdiri dari duduknya. "Biar kutunjukkan kamarmu," ucap gadis itu. Perlahan Erik pun ikut berdiri, mengikuti gadis yang berjalan pelan di hadapannya, sesekali rok a-lina selutut yang ia kenakan ikut bergerak seiring langkah yang ia ayunkan. Jujur, Erik sangat-sangat merindukan gadis dibhadapannya, jika boleh, ia ingin memeluknya dengan erat dan menyalurkan rasa itu, namun sekali lagi yang wajib diingat oleh dirinya, bahwa kini di mata Kalil
"Pengawal baru?" Kalila mengulang kalimat sang papa, saat pria paruh baya itu mengenalkan tamunya yang mengaku bernama Erik itu sebagai bodyguard baru untuk dirinya. "Jeff kemana? Apa dia sudah menyerah sebelum berperang?" gadis itu menekankan kata terakhir dan melirikkan ekor matanya pada Erik, memberitahu pria tampan itu bahwa menjadi pengawal untuknya tidaklah mudah."Kalila," ucap sang papa mengingatkan putrinya, sesaat pria paruh baya itu ragu apakah Erik bisa bertahan. Karena sejauh ini, banyak sekali anak buahnya yang kewalahan. Dia tidak yakin Erik bisa menaklukkan anak gadisnya.Roy yang diam-diam menyimak obrolan mereka tampak terkekeh pelan, sedikit mencondongkan duduknya. "Kalila sudah tidak butuh pengawal, Paman. Dia sudah dewasa." Pembelaan itu membuat Kalila yang duduk di sebelahnya menoleh simpati, mengacungkan ibu jarinya pada pria itu."Nah benar yang Kak Roy katakan, aku sudah tidak butuh pengawal lagi, Papi. Aku bisa menjaga diriku sendiri," imbuh gadis itu, meyaki







