Share

Rapuh

Author: ade annisa
last update Last Updated: 2025-12-20 21:37:01

Dua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.

Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka.

“Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami.

Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini.

Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya.

Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan.

Kalila sejenak menahan napas.

“Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,” ucap sang ibu kemudian melambai pada kedua putra-putrinya.

Selepas kepergian kedua orang tuanya itu, Erik menoleh pada Kalila kemudian mencengkeram dagunya. “Kamu mau mengadukan apa, hm?” tanyanya.

Kalila mengernyit sakit. Kedua tangannya menahan jemari sang kakak yang seolah akan mengoyak bagian wajahnya. “Kak Erik sakit,” keluh gadis itu dengan meringis.

Erik tersenyum sinis, melepaskan dagu gadis itu kemudian memberikan tatapan tajam. “Adukan saja jika kau berani, dan kau akan mendapatkan hukuman karena itu,” ancamnya.

Kalila benar-benar tidak mengerti kesalahan apa yang diperbuat dirinya hingga sepertinya sang kakak begitu benci, dan tanpa perasaan pria itu berlalu begitu saja meninggalkan Kalila yang terduduk lemas di tempatnya.

“Jika Kak Erik benci dengan Lila, kenapa kakak yang meminta mami untuk adopsi Lila saat kecil dulu?” tanyanya tajam, kemudian menoleh.

Kakaknya itu tampak menghentikan langkah. Menurut sang ibu, Kak Erik-lah yang dulu memintanya untuk tinggal di sini saat usianya lima tahun.

Saat Erik berbalik, Kalila sontak merasa kehilangan nyali. Keberanian gadis itu menguap seiring langkah sang kakak yang semakin mendekat.

Erik berjongkok di hadapan Kalila. Sebelah lutut pria itu ia tempelkan pada marmer di bawahnya. Pipi Kalila yang memerah bekas cengkeramannya, membuat pria itu tahu bahwa gadisnya itu begitu lemah.

“Seseorang menitipkanmu padaku waktu itu, dan kebetulan mami baru saja kehilangan putrinya yang seumuran dengan dirimu, jadi karena itulah kau di sini.”

Kalila tersedu. Kalimat yang terlontar dari sang kakak membuat gadis itu mengambil kesimpulan sendiri, bahwa tidak ada yang benar-benar menginginkan kehadirannya di tempat ini.

Erik menyentuh puncak kepala Kalila, kemudian berkata, “Menangislah, Kalila. Aku senang melihat kau menangis, terlebih penyebabnya adalah aku.”

Malam pertama tidak ada sang mami di rumahnya. Kalila seharusnya senang karena Erik tidak terlihat pulang sejak tadi sore. Gadis itu melirik jam dinding, pukul sepuluh malam, dan entah kenapa dirinya justru tampak gelisah.

Kehadiran sang kakak sering kali menimbulkan efek berdebar yang berlebih pada gadis itu, tapi ketidakhadirannya justru membuat ia merasa kehilangan.

Kegelisahannya membawa Kalila untuk terlelap. Sayup-sayup gadis itu mulai terperangkap ke dalam mimpi yang kisahnya selalu sama.

Kalila kecil menangis tersedu-sedu bersimpuh di atas tanah saat seseorang terlihat meninggalkannya. Kepergian laki-laki dewasa yang dipanggilnya ayah membuat gadis itu semakin tidak berdaya.

Hingga kemudian uluran tangan dari pemuda yang mengenakan seragam SMA, membuat Kalila kecil menghentikan tangisannya.

“Adik kecil, jangan menangis. Aku akan melindungimu dari dunia dan orang-orang jahat di dalamnya.”

“Kak Erik!” Kalila terbangun dengan keringat yang membanjiri bagian dahinya.

Selalu saja seperti ini saat dirinya memimpikan hal yang sama, dan setelah itu Kalila akan menangis.

Saat ia kecil dulu dan kakaknya itu masih SMA, Kalila selalu mendapatkan perhatian dari pria itu, hingga akhirnya Erik kuliah di luar negeri dan saat pulang sifatnya justru berubah. Kalila tidak tahu karena apa.

Tanpa gadis itu sadari, Erik yang bersandar pada pagar balkon yang jendelanya tampak terbuka, memperhatikan Kalila yang terus menangis seperti saat-saat sebelumnya.

Pria itu meminum air dalam gelas di genggamannya, tanpa mengalihkan tatapan dari gadis yang masih bergelung di balik selimut. Dia pun melangkah masuk.

Kedatangan Erik yang tiba-tiba membuat Kalila sedikit terlonjak saat gadis itu kemudian menoleh.

Dia beranjak duduk, menaikkan selimut ke atas tubuhnya untuk menutupi baju tidur tipis yang transparan.

“Ka, Kak Erik mau apa?” tanya gadis itu serak. Suaranya nyaris habis karena terlalu banyak menangis.

Erik yang masih berpakaian lengkap meski tanpa dasi dan jas yang ia kenakan saat ke kantor tadi, kemudian memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.

“Menangis lagi, Lila?” tanyanya dengan nada menyindir.

Kalila mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menghindari bertatap muka dengan pria tampan di hadapannya. Meski bibirnya ingin menjawab, tapi tenggorokannya tercekat takut. Dia tidak bisa apa-apa saat pria itu menaiki ranjangnya.

Kalila meronta saat Erik memaksanya masuk ke dalam dekapan pria itu. Tenaganya yang tidak sebanding membuat gadis itu akhirnya menyerah, membiarkan saja saat sang kakak menarik kepalanya untuk menempel pada dada bidangnya yang terasa hangat.

Parfum maskuoin yang menyegarkan, tercampur dengan keringat pria itu yang justru menjadikan aroma khas yang membuat Kalila merasa nyaman. Gadis itu melingkarkan kedua tangannya pada punggung pria yang mendekapnya dengan erat, tanpa sadar ia kemudian menangis.

“Sebenarnya apa yang membuatmu menangis setiap malam, Lila?” tanya pria itu.

Kalila menggeleng. Dia belum siap menceritakan perihal mimpi yang ia alami pada sang kakak. “Kak Erik,” ucapnya lirih.

Erik bergumam sebagai tanggapan, mengusap kepala gadis itu untuk mengurai ketegangan. “Apa, Lila sayang,” balasnya.

“Tolong jangan berubah, Kak Erik. Lila takut,” pinta gadis itu.

Gerakan mengelus kepala yang terhenti membuat Kalila kemudian mendongak. Mata bulatnya yang berkaca-kaca terlihat polos, bertemu dengan kedua bola mata Erik yang begitu dalam dan menenggelamkan.

“Jangan berubah, Kak Erik. Lila rindu Kak Erik yang dulu,” ucapnya hati-hati.

Erik tersenyum manis, membuat hati gadis itu seketika berdesir, pasalnya baru kali ini Kalila kembali melihat senyum itu lagi setelah beberapa tahun yang lalu, saat sang kakak belum pergi. Namun senyum itu hanya bertahan sebentar, dan wajah sang kakak kembali datar.

“Lila suka senyum Kak Erik, berikan Lila senyum itu lagi, Kak.”

Erik diam saja dan kembali membawa kepala gadis itu untuk menempel di dadanya.

“Aku bukan pria baik hati seperti pemeran utama yang kau tonton dalam drama,” ucapnya mengingatkan. Pria itu seperti membentengi dirinya sendiri untuk tidak terjerumus dengan kebaikan yang ia tunjukkan terhadap gadis itu, karena bagaimanapun juga hubungan keduanya tidak akan mendapat restu dari keluarga.

"Kak Erik."

“Tidurlah, Lila. Karena hari esok akan lebih kejam dari hari yang kau lewati sebelumnya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Hot Brother   Rapuh

    Dua hari setelah kejadian itu, Kalila tidak menemukan Erik di mana pun. Ibunya bilang sang kakak ada jadwal kerja ke luar kota, dan Kalila justru senang karenanya.Hingga beberapa hari kemudian, gantian sang ibu juga ayahnya yang akan pergi ke luar kota, dan gadis itu merengek ingin ikut dengan mereka.“Kenapa sih, kok tumben sekali kamu manja gini,” ujar sang mami.Kalila menggeleng. Tidak mungkin juga dia mengatakan bahwa dia takut ditinggal hanya berdua dengan kakaknya, tidak mungkin juga mengadukan pelecehan yang dilakukan pria itu terhadapnya selama ini.Erik yang baru saja keluar dari kamarnya kemudian berucap, “Mami tidak usah khawatir, biar Erik yang jaga Lila,” kemudian menoleh ke arah di mana Kalila masih berdiri kaku di tempatnya.Tanpa Kalila sadari, Erik sudah berdiri di sebelahnya. Buku jarinya merayap di punggung gadis itu, memberikan efek meremang yang terasa menegangkan.Kalila sejenak menahan napas.“Ya sudah, mami berangkat dulu, takut macet. Jaga Lila ya, Sayang,”

  • Hot Brother   maaf

    Mobil yang menepi di pinggir jalan membuat Kalila kembali merasa was-was. Sebelumnya, aksi pria itu terhenti karena lampu yang berubah hijau. Tapi, kali ini pria itu bahkan menepikan mobilnua di tempat sepi, sungguh Kalila takut sekali.“Kak Erik, kenapa berhenti?”Erik mengendurkan dasi di lehernya, menoleh pada gadis itu dengan tatapan bergairah. "Selama aku tinggal di luar negri, apa kamu pernah punya pacar?" tanyanya tiba-tiba."Ti, tidak, Kak Erik," jawab Kalika terbata."Sungguh?" Erik menyentuh pipi Kalila, menyingtkirkan anak rambut dari wajahnya. "Kau sangat cantik, benar tidak ada yang mendekatimu?"Kalila beringsut mundur, kemudian menggeleng. Dia memang tidak pernah punya pacar, Erik selalu tidak percaya saat dia mengatakannya.“Kemarilah, Lila, naik ke atas pangkuanku,” pinta Erik.Tentu saja Kalila tidak mau. Gadis itu dengan sekuat tenaga menolak permintaan sang kakak, bahkan sampai menampar pipinya. Karena hal itulah Erik sangat murka.“Turun dari mobilku. Kamu bisa pu

  • Hot Brother   rasa takut

    Perempuan itu selalu menyusahkan dirinya sendiri. Dia sering kali suka terhadap seseorang yang disukai banyak orang, seperti Kalila yang menyukai Erik, kakak angkatnya yang berdiri di atas podium.Kakaknya itu diangkat sebagai direktur Utama hotel baru milik ayah mereka, posisi tertinggi yang menandai kepercayaan penuh Arlan Smith terhadap putra sulungnya. Tepuk tangan bergema memenuhi ruangan saat nama Erik disebutkan, sorot lampu mengarah padanya, dan Kalila hanya bisa menatap dari kejauhan, menyimpan rasa yang tak seharusnya ia simpan.Meski Erik kerap bertindak kurang ajar kepadanya, tapi entah kenapa Kalila tidak bisa untuk mengabaikan pesona pria itu. Berada di keramaian membuat Kalila merasa pusing, dia lalu berkata pada saudaranya agar memberitahu sang ibu tentang keadaannya. Tidak berselang lama, seorang wanita paruh baya menghampiri Kalila dengan raut panik, kemudian menangkup wajah gadis itu. “Kamu tidak apa-apa kan, sayang? Tadi Helena bilang kamu tidak enak badan."Kali

  • Hot Brother   tidak cemburu

    Pertemuan Erik dengan wanita yang ia kenali itu membawa mereka mampir ke restoran untuk sedikit bercengkrama. Erik sebenarnya tidak suka, hanya saja wanita muda itu adalah rekan bisnisnya, jadi mau tidak mau sopan santunnya harus sedikit ia jaga.Erik melirik pada Kalila yang tampak sibuk menyantap hidangan di hadapannya. Sepertinya gadis itu lapar, dan entah kenapa tidak ada raut tidak suka di wajah cantiknya itu.Erik berharap Kalila cemburu pada wanita yang kini bersama mereka, tapi nyatanya dia malah biasa saja.Saat sang kakak meletakkan potongan daging di piringnya, Kalila refleks mendongak. "Kak Erik tidak makan?" tanya gadis itu.Erik yang semula diam saja kemudian menggeleng. "Cepat habiskan makananmu, kita harus segera pulang," ucapnya memberi perintah, dan Kalila kembali menganggukkan kepala.Gadis itu makan dengan cepat, tapi bukan karena dirinya lapar. Dia takut mendapat omelan sang kakak jika harus berlama-lama, dan pria itu malah menambahkan makanannya.Erik berdehem,

  • Hot Brother   Kakak laki-laki

    "Kenapa, Lila?" desak pria itu geram.Kalila menggeleng. "Ha, hanya kecelakaan kecil, Kak," ucapnya terbata.Erik tentu tidak percaya. Tatapannya yang tajam tanpa harus berusaha mengerutkan dahi pun membuat Kalila ketakutan. Gadis itu kembali menggeleng."Hanya ketidaksengajaan saja, Kak. Lila yang salah, Lila tidak apa-apa," ucap Kalila meyakinkan.Erik mematikan mesin mobilnya, kemudian beranjak keluar tanpa mengucapkan apa-apa. Kalila yang panik dengan cepat mengikuti pria itu."Kak Erik, Kak, Lila mohon, Kak, jangan seperti ini. Lila tidak apa-apa. Lika yang salah." Kalila berusaha mencegah sang kakak yang tampak tenang melangkah menuju sekolahannya.Kalila memang masih kelas tiga SMA, sekolah favorit di negaranya yang tidak semua orang bisa masuk dengan mudah ke sana, dan yang menjadi murid di tempat itu pastinya bukan orang-orang biasa. Kali ini sang kakak ingin mencari orang yang melukainya."Di mana anak yang berani membuat wajahmu membiru seperti itu? Katakan," desak Erik.Ka

  • Hot Brother   Benda apa itu?

    “Apa kau tahu ini benda apa?”Kalila tengah menggosok rambutnya yang basah dengan handuk saat keluar dari kamar mandi, lalu terkejut mendapati sang kakak sudah berada di kamarnya.“Kak Erik?” pekik gadis itu. Handuk di tangannya pun terjatuh.“Kenapa benda ini ada di dalam tasmu?” Erik menunjukkan benda kecil terbungkus plastik berwarna merah di tangannya.“I-itu bukan punya Lila, Kak,” sangkal gadis itu. Kalila tahu dari temannya bahwa itu adalah alat kontrasepsi. Ia tidak mengerti kenapa benda itu bisa berada di dalam tasnya.“Bukan milikmu? Jadi ini milik teman priamu?” tanya Erik menuntut.Dengan cepat Kalila menggelengkan kepala untuk menyangkal tuduhan itu. Ia mengatakan pada sang kakak bahwa ia tidak tahu mengapa benda tersebut bisa ada di sana.Kalila memundurkan langkah saat Erik perlahan mendekatinya. Gadis itu mengenakan pakaian lengkap, meski hanya kaos dan celana pendek, namun tatapan tajam Erik seolah mampu menelanjanginya.Erik kembali menunjukkan benda di tangannya, la

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status