Mag-log inDelia tak membalas lagi, tapi malam itu setelah Ken yang mabuk dan tertidur lelap, dia diam-diam menyelinap masuk ke kamarku lagi.Malam itu, dia menggunakan berbagai cara dengan tangannya, kakinya, mulutnya… intinya, dia benar-benar membuatku melayang.Jiwaku sudah terlanjur terseret hanyut olehnya dan pikiranku tentu saja sudah tak bisa berpikir jernih lagi.….Keesokan paginya, sosok Delia sudah tidak ada lagi di sampingku. Dia hanya meninggalkan secarik kertas berisi nomor rekening bank miliknya.Tanpa membuang waktu, aku langsung bangun dan bersiap-siap, lalu mengambil dokumen dan pergi ke bank.Saat proses transfer, petugas bank bertanya padaku, “Pak Anton, rekening tujuan transfermu adalah rekening luar negeri. Begitu uang berhasil dikirim, dana nggak akan bisa ditarik kembali. Kamu yakin ingin mengirim uang dua miliar ini?”Tanpa ragu sedikitpun, aku mengangguk dan menjawab, “Iya, aku yakin mau mengirimnya.”Delia memang tak memberitahuku ke negara mana dia akan pergi untuk mer
Aku merasa agak emosional, lalu menggenggam erat tangan Delia dan berkata, “Delia, bagaimana kalau kamu cerai saja dengan Ken, lalu ikut denganku?! Lahirkan anak ini, aku pasti akan bertanggung jawab padamu.”Delia terdiam sejenak, lalu langsung menarik tangannya kembali, “Ayah, kamu sudah gila?! Kalau aku benar-benar cerai dengan Ken, lalu bersama denganmu, menurutmu bagaimana pandangan orang-orang padaku nanti? Aku pasti akan dicibir habis-habisan.”Ini tak boleh, itu juga tak bisa, aku benar-benar pusing dibuatnya.“Lalu menurutmu kita harus bagaimana?”Delia terdiam sejenak, lalu berkata, “Bagaimana kalau… aku pergi keluar negeri saja untuk sementara waktu? Aku akan beralasan ada tugas dinas dari kantor. Setelah bayinya lahir, aku baru pulang lagi? Dengan begitu, nggak akan ada satu orang pun yang tahu.”Idenya ini sangat bagus. Cara ini tak hanya bisa menyelamatkan darah dagingku sendiri, tapi juga menghindarkan kami dari gunjingan orang-orang.Hanya saja, pergi keluar negeri untu
Jika tidak mulai menahan diri, urusan kami berdua bakal segera terbongkar.Malamnya begitu tiba di rumah, aku berinisiatif mengirim pesan pada Delia, [Sayang, belakangan ini kita harus lebih berhati-hati. Orang-orang di komplek sepertinya sudah mulai curiga.]Delia langsung membalas, [Ayah… ada sesuatu yang ingin kubicarakan. Bisa nggak kita pergi ke hotel saja besok?]Tadinya aku masih berpikir untuk menjaga jarak sementara waktu dan agak menahan diri sampai situasi kembali tenang.Namun, begitu dia mengajakku ke hotel, nafsuku langsung membara lagi. Mana sempat memedulikan hal lain lagi?Dengan penuh semangat, jariku mengetik di keyboard ponsel, [Iya, sampai bertemu besok.]….Keesokan harinya, aku sengaja bangun pagi-pagi sekali dan pergi ke salon untuk merapikan rambutku.Begitu waktu pulang kerja Delia tiba, aku sudah memesan kamar hotel dan menunggunya di dalam.Dia menanyakan nomor kamarku dan tak lama kemudian terdengar ketukan pintu.Aku membuka pintu, lalu dengan tak sabar la
“Sini, biar kupeluk… Delia….”Delia tak menolak. Aku pun langsung menariknya untuk duduk di pangkuanku.Lalu perlahan-lahan meruntuhkan benteng pertahanan di dalam hatinya.Pada akhirnya, dia tak bisa lagi menahan diri dan langsung menciumku. Kali ini, kami berdua berciuman dengan sangat mesra dan sulit dipisahkan.Dia bahkan menjadi jauh lebih agresif, langsung menarik kerah bajuku dan membimbingku ke atas sofa.Delia dengan wajahnya yang merona tampak seperti siluman penggoda, membuatku rela tenggelam dalam pesonanya.Aku menelan ludah, lalu menumpu badanku di kedua sisi, “Delia, rileks saja….”Dia menurut dan patuh padaku. Selanjutnya, semuanya pun terjadi begitu saja secara alami.Hanya saja, prosesnya… benar-benar luar biasa.Dari sofa ke meja makan, dari ruang tamu ke kamar tidur, hingga akhirnya sampai ke balkon.Delia benar-benar takluk oleh kehebatanku. Sambil bersandar di dadaku, sikapnya berubah menjadi sangat manja dan lembut.“Ayah… kamu benar-benar jantan sekali!”Aku mer
Mana bisa ucapan laki-laki seperti itu dipercaya? Kalau aku hanya menggesek-gesek tanpa melakukan apa-apa, diriku masih pantas disebut pria?Namun, baru saja aku hendak menghentakkan badanku, tiba-tiba Ken yang berada di dalam kamar terbangun.“Sayang… sayang, aku haus… mau minum.”Mendengar suara Ken, tatapan Delia yang tadinya sayu langsung tersentak sadar sepenuhnya.Dia meronta-ronta meminta turun dari tubuhku. Karena tak bisa melawan dan tak ingin menimbulkan keributan yang terlalu besar, aku pun terpaksa melepaskannya.Delia merapikan pakaiannya dengan tergesa-gesa, menarik napas dalam-dalam, lalu melangkah masuk ke dalam kamar.Sialan, mangsa yang sudah di depan mulut benar-benar lepas begitu saja.Tentu saja aku tak akan menyerah begitu saja. Terlebih lagi dia itu wanita yang sangat genit, rugi sekali kalau tak ditiduri.Memikirkan itu, aku menajamkan senyuman tipis. Dalam hati aku bertekad, suatu hari nanti aku akan membuatnya begitu kesepian dan mendambakan gairah, hingga dia
Tanpa memberi kesempatan bagi Delia untuk mempersiapkan diri, aku langsung menyentak pergelangan tangannya dan menyudutkannya ke dinding luar dengan kasar.“Dasar genit… kamu sengaja keluar kamar untuk menggoda ayah mertuamu? Hm?”Delia mengerang pelan, tubuhnya menggeliat beberapa kali, hingga akhirnya lemas tak berdaya dalam pelukanku.Suara desahan halusnya yang terputus-putus terdengar begitu merdu, membuat seluruh tubuhku terasa lemas.Tanpa memedulikan apapun lagi, aku langsung mencengkeram dagunya, memaksa wajahnya mendongak dan mengecup bibir manisnya.Lidahku yang kuat bergerak liar dan kasar di setiap sudut rongga mulutnya yang hangat dan basah, mengulum lidah mungilnya dengan dominan.Mungkin karena merasa agak sakit, tinju kecilnya terus-menerus memukul dadaku.“Hmm….”Dari sudut bibirnya terus keluar desahan pelan yang begitu menggoda, terdengar bersahut-sahutan.Aku tak memedulikan penolakannya sama sekali. Aku mengunci bagian belakang kepalanya, memperdalam ciuman panas







