登入"Siapa dia, Nona?"
Suara Rolan mengalir begitu rendah, memotong bunyi dari monitor jantung yang mendadak beritme cepat. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata tidak berkedip, mengunci seluruh fokus pada wajah pias di atas bantal. Aveline tidak langsung menyahut. Tenggorokannya naik-turun menahan kering, jemarinya semakin erat meremas kain seprai rumah sakit yang kasar. "Aku... aku tidak ingat wajahnya," bisik"Urus pemilik mobil itu sekarang." Suara Rolan mengalun rendah ke dalam mikrofon ponselnya.Sudut bibirnya mendatar tanpa riak, sementara jemarinya bergerak lincah membersihkan folder pesan masuk yang baru saja ia baca dari nomor tidak dikenal tadi. "Baik, Sir. Segera kami eksekusi sebelum faksi Vela mencium pergerakan ini," sahut sebuah suara bariton di ujung telepon sebelum sambungan terputus. Rolan mengantongi kembali gawai hitamnya tepat saat pintu lift berdenting terbuka di area basemen rumah sakit. Hawa dingin langsung menyergap permukaan kulit lehernya, membawa aroma khas semen basah dan oli mesin yang menguar dari sudut-sudut parkiran.Di atas kepalanya, deretan lampu tabung neon berkedip sesekali, memantulkan bayangan tubuh tegap sekretaris itu di atas kap mobil sedan yang berdebu."Semoga dengan ini semua, gajiku naik." Dia membuka pintu kemudi, lalu mendudukkan diri di atas jok kulit hitam yang t
"Tuan Aeron sudah menunjukkan tanda-tanda sadar?"Suara Rolan memecah keheningan koridor lantai lima rumah sakit, sesaat setelah dia menempelkan ponselnya ke telinga kanan. Langkah kakinya yang beralas pantofel mengilat terhenti tepat di depan deretan kursi tunggu yang kosong.Dari balik pengeras suara gawai, terdengar desah napas pendek dari perawat jaga yang terdengar agak gemetar. "Benar, grafik pada monitor jantungnya sempat melonjak naik beberapa menit yang lalu saat dosis obat penenangnya berkurang.""Saya segera ke sana, pastikan tidak ada orang asing yang mendekati pintu ruang observasi," perintah Rolan dengan nada sedatar pualam sebelum memutuskan sambungan telepon.Dia mengantongi ponselnya kembali ke balik saku jas abu-abu tua yang melekat pas di tubuh tegapnya.Bias cahaya bulan dari balik jendela besar memantul di atas lantai keramik, memberikan pencahayaan alami yang cukup terang tanpa bantuan lampu loron
"Apa-apaan ini?" Diana menyentak lembaran kertas dari tangan Rolan dengan sekali gerakan kasar. Matanya yang dilapisi perona tebal membelalak, memindai deretan angka dan stempel basah di atas dokumen tersebut. "Apalagi yang kamu lakukan?!" tuduh Diana, Dia membalikkan tubuh dan menunjuk wajah Aveline dengan telunjuknya. Aveline membelalakkan mata di balik masker oksigennya, mencoba menggelengkan kepala dengan sisa tenaga yang ada. "Ini... ini pasti salah paham, Bibi. Siapa yang sengaja memalsukan tanda tanganku?" Rolan membetulkan letak kacamatanya dengan ujung jari. "Seluruh dana segar dari agensi ini dicairkan secara tunai siang tadi, Nona Aveline. Dan pihak agensi hanya memegang surat kuasa dengan tanda tangan atas nama Anda." Diana mendengus pendek, melempar kertas-kertas itu ke atas meja nakas hingga vas bunga kecil di atasnya bergeser. "Jangan berakting polos, Velin! Utang keluarga kita belum lunas, lalu sekarang kamu malah menarik pinjaman baru lagi?" "Bukan aku,
"Siapa dia, Nona?" Suara Rolan mengalir begitu rendah, memotong bunyi dari monitor jantung yang mendadak beritme cepat. Sepasang matanya yang tersembunyi di balik lensa kacamata tidak berkedip, mengunci seluruh fokus pada wajah pias di atas bantal. Aveline tidak langsung menyahut. Tenggorokannya naik-turun menahan kering, jemarinya semakin erat meremas kain seprai rumah sakit yang kasar. "Aku... aku tidak ingat wajahnya," bisik Aveline, suaranya parau beradu dengan embusan oksigen. "Tapi, postur tubuhnya... cara dia berdiri sebelum menusukku ...." Rolan perlahan mencondongkan tubuhnya sedikit, membiarkan wajahnya tertimpa temaram lampu ruangan. "Ada detail spesifik yang Anda lihat dari gerak-geriknya?" Aveline memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan kerutan di dahinya semakin dalam akibat paksaan memori. "Tangan kirinya... saat dia bergerak, ada gestur y
"Tuan Rolan, tolong jelaskan ini! Saya sama sekali tidak tahu tentang nomor itu!" Victor berteriak panik, kedua tangannya gemetar hebat hingga map dokumen yang ia pegang terjatuh ke lantai. Rolan tidak memberikan jawaban. Dia hanya menatap Victor dengan pandangan datar dari balik kacamatanya yang sedikit miring. Sementara sapu tangannya kembali ditekan ke hidung yang masih meneteskan darah segar. Vela yang berdiri di samping Victor langsung melangkah mundur, menjauhkan dirinya seolah pria paruh baya itu adalah wabah penyakit. "Amankan Pengacara Victor sekarang. Serahkan ke pihak kepolisian beserta bukti ponsel ini!" "Nyonya Vela! Tolong saya! Anda tahu saya tidak—" Kalimat Victor terputus saat petugas keamanan mengunci lengannya dan menyeretnya paksa menuju lift darurat. Vela menatap Rolan dengan napas yang memburu, jemarinya yang mengenakan cincin berlian mence
"Tahan tubuhnya! Jahitannya bisa lepas semua!"Suara lengkingan histeris dari ruang isolasi membuat lorong lantai lima kembali mencekam. Pekikan perawat itu disusul suara benda logam yang terseret kasar di atas pualam.Pintu kayu ruang isolasi terbuka lebar dari dalam, menghantam pembatas dinding dengan keras. Sosok Aeron muncul di ambang pintu dengan kondisi yang mengerikan.Kemeja hijau rumah sakitnya sudah berubah warna menjadi merah pekat di bagian perut kanan dan dada kiri. Selang keteter dan sisa kabel elektroda menjuntai di sekitar kakinya, terseret di atas lantai yang basah oleh ceceran darah segar."Aeron! Kamu sudah gila?!" Vero berlari kencang dari arah ICU, mengabaikan fakta bahwa dirinya sendiri tidak memakai alas kaki.Aeron tidak menjawab, napasnya terdengar putus-putus seolah paru-parunya terisi oleh cairan.Kedua lututnya gemetar sebelum akhirnya ambruk, membuat tubuh tingginya terje
"Satu ampul epinefrin, sekarang! Lanjutkan kompresi!" Vero berteriak sepanjang koridor, kedua telapak tangannya menekan dada Aeron dengan ritme cepat dan konstan. Seorang perawat wanita dengan cekatan memotong sisa kemeja rumah sakit Aeron yang basah oleh peluh dingin.
Vero terengah-engah, mencoba melepaskan cengkeraman Aeron pada bajunya. "Jangan Tuan! Luka Anda bisa robek!" Aeron tidak memedulikan pekikan Vero dan menghempaskan tangan pria itu ke samping. Dia menurunkan kakinya ke lantai, tetapi tubuhnya sempat limbung. Rolan
"Masuk, Nona. Jangan membuat Nyonya Vela menunggu lebih lama," ucap pria berjas abu-abu yang turun dari kursi kemudi. Aveline menarik napas panjang, menahan rasa ngilu yang menyerang perut kanannya. Dengan sisa kekuatan yang ada, dia bangkit dari kursi roda dan melangkah masuk ke dalam kabin m
"Udah selesai kan ngobrolnya?" tanya Vero. Aveline hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Dia membiarkan Vero mendorong kursi rodanya kembali menyusuri koridor rumah sakit yang sunyi. Begitu sampai di dalam kamar rawat, Aveline langsung mengalihkan pandangannya, men







