Share

Bulan Madu

Penulis: Callia Jung
last update Terakhir Diperbarui: 2025-05-12 10:25:13

Mobil terus melaju seiring bertambahnya kerutan di kening Yunda. Malam makin larut, dan ia mulai sadar ini bukan jalan menuju apartemennya.

“Kita mau ke mana?” tanyanya pelan, melirik lelaki di sampingnya.

Geral menyunggingkan senyum, menoleh sekilas sebelum kembali fokus ke jalan. “Coba tebak.”

Yunda mengalihkan pandang ke luar jendela. Jalanan ini tak asing baginya. Jalur yang biasa ia lewati setidaknya satu-dua kali dalam sebulan.

“Ini jalan ke bandara, Geral.”

Lelaki itu kembali tersenyum, kali ini tanpa berkata apa-apa. Yunda memilih diam sembari menanti ke mana lelaki itu hendak membawanya. Dan benar saja, mobil berhenti di area parkir bandara.

Geral segera turun, berlari kecil ke sisi kiri mobil, lalu membukakan pintu untuknya. Yunda melangkah turun diiringi sekelebat ragu sekaligus bingung. Terlebih saat melihat Wira berdiri tidak jauh dari sana—masih mengenakan setelan jas biru tua dari pesta tadi. Lelaki itu menghampiri mereka sambil menyeret dua buah koper abu-abu.

“Selamat bersenang-senang,” ujar Wira, menyerahkan dua paspor pada Geral. Masing-masing diselipi selembar tiket pesawat.

Thanks, Bro.” Geral menepuk pelan lengan Wira.

My pleasure.

Tanpa menunggu, Yunda merebut kedua paspor itu dari tangan Geral. Dahinya berkerut saat memeriksanya.

“Maladewa?” tanyanya dengan nada terkejut. “Apa maksudnya ini? Kenapa kita tiba-tiba mau ke sana?”

Tatapan Geral sejenak berpindah ke Wira. Sekilas, sorot matanya tampak nakal.

“Aku ingin menghabiskan bulan madu denganmu.”

Yunda ternganga, “Kau sudah gila? Bagaimana dengan istrimu?”

Geral menarik napas, menangkup wajah Yunda dengan kedua tangannya. “Dengarkan aku, Sayang. Kita akan pergi berdua. Menikmati waktu bersama. Hanya kau dan aku. Jangan cemaskan apa pun, apalagi memikirkan orang lain. Fokus saja padaku, okay?”

Yunda bergeming, merasakan kehangatan menjalar dari telapak tangan Geral ke kulit pipinya. Semuanya terlalu mendadak dan… terlalu berisiko. Geral baru saja menikah pagi ini dengan seorang publik figur. Bagaimana jika mereka ketahuan? Itu bisa jadi skandal besar.

Namun di sisi lain, ia tidak bisa menampik bahagia yang tiba-tiba menerjang dadanya. Rasanya sudah lama sekali ia tidak bepergian berdua dengan kekasihnya. Biasanya hanya perjalanan dinas yang terkadang ditengahi Wira atau staf lain.

Sekali lagi, Yunda mencoba percaya bahwa semuanya akan baik-baik saja. Mungkin ini juga cara Geral menebus rasa bersalah karena menikahi wanita lain. Dan, Yunda ingin menghargai usahanya.

Senyum pun mengembang di wajahnya. Dia mengangguk pelan dengan pipi yang merona.

****

Kabin pesawat terasa begitu tenang. Cahaya lampu meredup lembut, menciptakan nuansa keemasan yang hangat. Kursi mereka berada di sisi jendela, terpisah dari penumpang lain dengan sekat elegan yang memberikan privasi sempurna.

Pesawat telah mengudara selama beberapa jam. Setelah makan malam mewah berupa steik wagyu dan tart lemon, mereka merebahkan kursi masing-masing hingga membentuk tempat tidur berdampingan. Yunda telah berganti pakaian yang lebih nyaman—sweter putih dan celana hitam berbahan jin. Namun, entah mengapa, matanya sama sekali tidak bisa terpejam.

Geral menarik selimut bulu angsa hingga menutupi tubuh Yunda.

“Nyaman?” tanyanya lembut.

Yunda mengangguk dengan senyuman kecil. Tubuhnya mungkin rileks, tapi pikirannya masih terus berputar. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.

“Kau bilang apa pada istrimu?” tanyanya akhirnya.

Sekilas, wajah Geral terlihat tidak senang. “Namanya Rosa. Aku tidak suka kau menyebutnya seperti itu saat kita sedang berdua.”

“Baiklah, maafkan aku. Jadi, kau bilang apa padanya?”

“Tidak ada. Aku di kamar yang berbeda dan pergi begitu saja.”

Yunda menarik napas dalam, berusaha menahan desah yang nyaris meluncur. “Kalau besok pagi dia mencarimu, bagaimana? Berita tentang pernikahan kalian sudah tersebar di mana-mana meskipun identitasmu dirahasiakan. Tapi bagaimana kalau ada paparazi yang memotretnya meninggalkan hotel sendirian?”

“Sayang,” Geral menatapnya penuh kesabaran, “jangan berpikir sejauh itu. Aku tidak bodoh. Semua sudah kuatur. Besok pagi Wira akan membawanya ke Paris, dan aku akan menyusul dua hari lagi. Setelah itu, kami akan pulang bersama seolah baru saja kembali dari bulan madu.”

Yunda memandangi wajah Geral di bawah temaram lampu kabin. Kecemasannya ternyata tak beralasan. Dia lupa Geral adalah sosok yang sangat berhati-hati dan selalu memperhitungkan setiap detail keputusannya. Itulah alasan kakeknya lebih memilih Geral menjadi CEO Grand Aurora dibanding Stevie, kakak sepupunya.

“Kau percaya padaku, kan?” Geral meraih tangan Yunda yang berada di atas selimut, menggenggamnya hangat.

Yunda tak menjawab. Hanya menatapnya lama-lama sebelum mengangguk pelan. Dia lalu memiringkan tubuh, membiarkan kepalanya bersandar di dada Geral.

Dengkuran halus mesin pesawat menjadi irama yang cukup menenangkan. Geral merengkuhnya dalam pelukan, membelai rambutnya lembut.

“Tidurlah. Saat bangun nanti, kita sudah berada di surga kecil kita,” bisiknya mengecup pelipis Yunda.

Pelan-pelan, napas Yunda mulai teratur. Detak jantung Geral di telinganya membuatnya merasa jauh lebih tenang. Kekhawatiran itu pun menguap seiring lelap yang perlahan datang menjemput.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Wideliaama
wah, si geral ini bajingan sekali 🫵
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • I Love You First, Mr. CEO   Mencintai Meski Tak Dicintai

    Pintu ditutup Geral sepelan mungkin. Namun, tetap saja suara itu berhasil menarik Rosa keluar dari tidurnya. Geral berdiri kaku di balik pintu kamar.“Maaf sudah membangunkanmu,” ucapnya.Rosa bangun perlahan, menyandarkan tubuh ke kepala ranjang. Beberapa detik ia menatap Geral dengan sorot kebingungan, sebelum kesadarannya kembali utuh.“Ah, ini pasti soal ibuku,” katanya lirih. “Maaf, aku sempat tertidur tadi.”Dengan gerakan hati-hati, Rosa menurunkan kedua kakinya dari ranjang. Namun, Geral segera mendekat dan menahannya.“Kau mau ke mana?”“Aku akan bicara dengan ibuku supaya kau tetap bisa tidur nyaman di kamarmu.”“Tidak perlu,” sergah Geral. “Aku tidak mau membuat ibumu semakin khawatir.”Rosa terdiam. Tatapannya melekat di wajah Geral, penuh rasa sungkan, juga bersalah.“Aku bisa tidur di sofa,” ujar Geral kemudian.Rosa melirik sofa panjang di sudut ruangan.“Tapi tidur di situ tidak akan nyaman, Geral,” katanya ragu.“Tidak masalah.” Geral berjalan ke arah sofa dan duduk d

  • I Love You First, Mr. CEO   Hidup dalam Neraka

    Winda sontak terperanjat. Dari sofa ruang tengah, ia melangkah cepat menghampiri Yunda di meja makan.“Menikah? Dengan Jeffrey? Kau sudah gila!”Yunda meneguk air dari gelasnya sampai habis sebelum menjawab dengan suara tenang, namun menahan getir, “Mau bagaimana lagi? Itu syarat yang dia minta agar video-video itu tidak disebar.”“Tidak.” Winda menggeleng keras. “Kau tidak boleh menikah dengannya. Dia itu psikopat!”“Aku tahu.”“Kalau kau tahu, jangan lakukan!” Suara Winda meninggi, tapi kemudian memelan. “Kak… kalau kau masuk ke hidupnya, kau tidak akan pernah bisa keluar lagi. Dia bukan cuma berbahaya. Dia obsesif.”Yunda menunduk. Ketakutan itu ada—jelas dan menusuk. Namun, ada satu keyakinan bahwa dirinya sanggup menghadapi lelaki itu.“Aku tahu,” ulangnya pelan. “Justru aku harus berada di dekatnya untuk memastikan kita semua aman. Aku akan segera memperkenalkannya pada Ibu. Tapi ingat, masalah ini cukup kita berdua saja yang tahu.”Keheningan menyusup di antara napas mereka. Ma

  • I Love You First, Mr. CEO   Bagian Terpatah

    Geral menatap layar ponselnya lekat-lekat. Sebuah alamat terpampang di sana. Alamat baru Yunda yang baru saja dikirim oleh detektif. Letaknya memang cukup jauh dari kediaman maupun kantor Geral, tapi fakta bahwa mereka kini berada di kota yang sama membuat dadanya sedikit lebih longgar.Sayangnya, ia tidak bisa pergi ke sana detik itu juga.Mobil yang ia tumpangi berhenti tepat di depan pintu rumah. Geral pun turun lebih dulu, bahkan sebelum pelayan sempat membukakan pintu untuknya. Di saat yang sama, sopirnya bergegas menurunkan kursi roda dari bagasi.Setelah menjalani perawatan beberapa hari di rumah sakit, Rosa akhirnya diizinkan pulang. Meski begitu, dokter tetap menegaskan agar ia banyak beristirahat dan mengurangi aktivitas.Begitu pintu mobil di sisi Rosa terbuka, Geral langsung menghampiri. Dia membungkuk, menyelipkan satu lengan ke punggung Rosa dan satu lagi ke balik lututnya, lalu dengan hati-hati membopong wanita itu duduk di kursi roda.Pandangan Geral sempat tertahan di

  • I Love You First, Mr. CEO   Dalam Cengkeraman

    Jeffrey tidak segera menjawab. Dia justru tersenyum, menghadirkan kembali lekuk kecil di kedua pipinya.“Aku butuh pendamping,” jawabnya setelah beberapa saat. “Kau tahu, industri tempatku berkecimpung tidak begitu ramah. Banyak yang tidak suka padaku dan berusaha menjatuhkanku dengan hal-hal sepele. Beberapa investor juga mulai memandangku remeh karena tidak kunjung menikah.”Dia meringis tipis. Sinar matanya menajam, menyisakan hawa dingin yang menusuk.“Entah mengapa orang-orang begitu memuja pernikahan,” desisnya.“Lalu kenapa harus aku?”“Kau yang paling cocok,” jawabnya enteng. Sudut bibirnya tertarik runcing sebelum ia menambahkan, tanpa beban, “Di antara semua wanita yang bisa aku manfaatkan.”Yunda menelan pahit. Apa ini sudah suratan takdir baginya?Setelah merelakan kisah cintanya bersama Geral kandas begitu saja, kini ia harus terjebak dengan lelaki sebrengsek Jeffrey. Hanya membayangkan hidup seatap dengan pria asing itu sudah cukup membuat tengkuknya meremang.Jeffrey ke

  • I Love You First, Mr. CEO   Tanpa Jalan Keluar

    Begitu pintu terbuka, Yunda segera disambut oleh seorang lelaki asing. Tubuhnya tinggi tegap. Rambutnya dicukur pendek dan ditata rapi. Senyum tersungging di bibirnya, menampakkan lesung di kedua pipi.Namun, Yunda tidak membalas, bahkan alisnya tidak bergerak sedikit pun.“Saya tidak menyangka Anda yang akan datang ke sini,” ujar lelaki itu sambil bangkit dari kursi kerjanya dan melangkah mendekat.Kalimat itu menusuk. Artinya, lelaki itu telah mengenal Yunda jauh sebelum ia menginjakkan kaki ke ruangan itu. Entah sejauh apa lelaki itu ingin menelusuri kehidupan pribadi Winda.“Perkenalkan, saya Jeffrey. Direktur utama Black Crown Studios.”Tangan lelaki itu terulur ke arah Yunda. Senyumnya makin lebar.“Apa yang kau inginkan?” sahut Yunda dingin, sama sekali tak berniat menyambut uluran itu. “Aku tidak menyangka produser ternama sepertimu bisa melakukan hal yang begitu menjijikkan.”Jeffrey tidak tampak tersinggung. Sebaliknya, ia menyeringai. Tangan yang tadinya terulur ditarik kem

  • I Love You First, Mr. CEO   Hati yang Tak Sempat Pulang

    Dua buket bunga krisan putih diletakkan di masing-masing pusara. Tempat peristirahatan ayah dan ibunya.Geral berdiri mematung, menatap nanar. Bertahun-tahun telah berlalu sejak kepergian mereka, tapi nyeri yang menggerogoti dadanya setiap kali menapakkan kaki ke sana tak pernah benar-benar berkurang.Bibirnya mengatup rapat. Terlalu banyak luka yang ingin ia ceritakan pada kebisuan, terlalu banyak ketidakadilan yang ingin ia protes pada takdir. Jika hidupnya terus-menerus diterpa kehilangan, untuk apa ia dilahirkan? Apakah hanya untuk merasakan derita seperti ini?Apa salah dan dosanya sampai semua orang yang ia cintai pergi meninggalkannya? Dan pada akhirnya, hanya kesendirian yang setia menemaninya.Dia berbalik setelah cukup lama berdiam di sana. Kembali ke mobil dengan langkah yang kian terasa berat. Di jok samping kemudi, satu buket bunga lain masih tergeletak. Entah apa yang ia pikirkan saat membelinya, bahkan ketika mobilnya melaju menuju apartemen yang dulunya dihuni oleh Yun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status