Compartilhar

Bab 5

last update Data de publicação: 2026-09-06 10:37:58

[2014]

Pertama kali aku mengenal rasa 'cemburu' adalah saat Jano SMA dan mulai dekat dengan cewek. Mungkin dia udah mulai pacaran. Aku memergoki Jano lagi berdua dengan seorang cewek waktu aku ke rumahnya untuk mengantarkan makanan dari Mama buat keluarga Jano. Keluarga kami memang sedekat itu, Mama kami suka saling bertukar resep atau kirim-kiriman makanan. 

Saat melewati ruang duduk rumah Tante Elly, Mama Jano, dari pintu yang terbuka kulihat ada dua sosok tengah duduk berdekatan di salah satu sofa panjang. Secara otomatis kakiku berhenti di dekat pintu. Kulihat Jano duduk menyender sambil memegang majalah, sementara cewek itu menggelendot di sampingnya. Sesekali kudengar suara ketawa cekikikannya. Tangannya pun ikut sibuk, kadang mencubit lengan Jano, kadang mengelus atau melingkari bahu dan leher Jano. 

Dengan diam-diam kumasuki ruangan, ikut bergabung bersama mereka tanpa diundang. Saat mendengar langkahku cewek di sebelah Jano menoleh ke arahku. Sempat kutangkap ekspresi keheranan di wajahnya. Terlebih saat aku mendekati sisi sofa di mana Jano duduk. Matanya yang cukup lebar semakin melebar untuk beberapa detik padaku. 

Perasaanku campur aduk saat menyaksikan kedekatan mereka. Hampir sebagian tubuh cewek itu menempel ke Jano. Janoku! 

Cewek itu cantik. Dia memiliki semua yang tidak aku punyai. Kulit bersih mulus, rambut hitam, tebal, lurus, panjangnya melewati punggung, dengan poni di salah satu sisi dahinya. Aku nggak suka dengan suara ketawanya yang kudengar beberapa kali meluncur keluar dari bibirnya. Dalam semenit aku berada di ruangan itu entah berapa kali cekikikannya terdengar. Centil banget. 

Apa Jano nggak risih, atau... takut padanya? Soalnya suara ketawa cewek itu mengingatkanku akan film horor hantu-hantuan yang sering ditonton Bari. Lagian, mereka sedang lihat apaan sih di majalah itu, sampai dia cekikikan begitu? 

Cewek itu berbisik ke telinga Jano, sambil matanya melirik padaku. Jano menoleh dan tersenyum padaku, kemudian menoleh ke cewek itu.

"Kamu belum pernah ketemu Tammy? Dia adikku." Jano kemudian melambaikan tangannya menyuruhku mendekat. "Sini, Tam." 

"Bukannya adikmu cowok dua-duanya, Karel dan Josh?" tanya cewek itu dengan heran. 

Aku sudah merapat ke sisi Jano tanpa diminta dua kali. Tanganku memegang erat wadah makanan yang kubawa, yang kini terasa panasnya. Sepasang alis cewek itu berkerut. Jelas tak suka dengan gangguan yang tiba-tiba muncul. Cewek mana yang seneng acara pacarannya diganggu anak kecil? 

"Oh, Tammy adik istimewaku. Ya, kan, Tam?" Jano mengedipkan sebelah matanya padaku. "Tammy, kenalin, ini kak Angela. Dia juga suka baca komik kayak kamu. Dia punya banyak koleksi. Kalian pasti cocok dan bisa tukeran komik." 

Cocok? Ih, amit-amit. Aku nggak suka cewek centil yang ketawanya mirip kunti ini! 

Aku bertahan di dekat Jano sampai akhirnya Angela nggak tahan. 

"Bosen, ah. Kita jalan aja, yuuk." Tangannya kemudian merapikan rambutnya yang sudah rapi itu dengan sisir bulat yang diambilnya dari tasnya.  

"Mau ke mana?" tanya Jano dengan nada enggan. Matanya tak bergeming dari majalah yang dibacanya. 

"Di PIM lagi ada diskon yang mau kulihat. Aku ngincer celana dan sandal keren di salah satu toko di sana." Angela melempar sisirnya ke dalam tas. 

Jano tak langsung menjawab. Setelah membalikkan halaman majalahnya dia berucap, "Mending shoppingnya bareng temen-temenmu aja deh. Kamu kalau masuk ke toko suka lupa waktu, sibuk nyoba ini-itu. Muter-muter gak jelas." 

Angela menatap Jano. Tangannya terangkat dan menyentuh ke dua pipinya sambil tersenyum. "Kita bisa nonton film, atau ngopi-ngopi. Kita telepon teman-teman lain. Oke?" Entah sengaja atau tidak sehabis ngomong Angela mengerling sedetik padaku. 

Huh. Ngeselin. Ngapain Jano suka sama cewek model gini? Udah kecentilan, ketawa bak hantu. Nama Angela kayanya nggak cocok sama sekali. Lebih pas jika namanya Demi..ttt! 

"Eh, kamu bawa apaan, Tam? Dari Mamamu, ya?" tiba-tiba Jano tersadar tanganku memeluk erat wadah makanan di depan tubuhku. 

Satu pikiran seketika melintas di kepalaku. "Iya, Mama masak rawon banyak, yang ini untuk kalian." Sehabis bicara aku bergerak menjauh dari Jano. Saat melewati Angela dengan cepat tanganku beraksi. Kumiringkan isi wadah bawaanku di atas kaki Angela yang panjang terjulur. Aku pura-pura mau tersandung kakinya. Dalam sekian detik kulihat ekspresi horornya, saat kuah hitam rawon tumpah dari tepi wadah dan mengenai paha dan tasnya. Saat aku lari menghilang ke belakang untuk mencari Tante Elly, yang terdengar adalah teriakan melengking Angela memenuhi ruangan. Gemanya sampai ke belakang. 

•••

"Dia pacarmu, ya, Jano?" tanyaku ketika aku sedang main di kamarnya. 

"Siapa?" Jano mengerutkan alisnya meski perhatiannya sibuk menekuri bukunya. 

"Cewek itu." 

"Angela, maksudmu?" 

"Mmm..." gumamku masih enggan menyebut nama cewek centil yang ketawanya mirip kunti.

Jano sama sekali nggak marah atas kekurangajaranku. Dia juga tak membahas insiden kuah rawon yang tumpah. Padahal dia berhak marah ke aku, atau tidak memedulikanku. Toh aku ini cuma anak kecil yang kepo bin julid. 

"Apa karena dia cantik, putih, rambutnya bagus, kamu suka dia?" 

Jano tersenyum. Dia melirikku dari meja belajarnya. 

"Mungkin. Jadi Angela cantik, menurutmu?" 

Aku mendengus. Dalam hati, tapinya. Bibirku cemberut mendengar jawaban Jano.

"Kalau nanti sudah gede, saat kamu suka atau naksir cowok, pasti akan tahu jawabannya sendiri, Tammy," kata Jano kalem. "Orang yang kita suka pasti akan terlihat menawan di mata kita." 

Kepalaku tertunduk mendengar penjelasan Jano. Usiaku masih dua belas tahun, tentunya belum dibolehin orangtuaku deket sama cowok. Masalahnya, cowok mana yang mau jadi pacarku? Dilirik cowok aja nggak pernah! Punya teman cowok juga nggak.

Jano menoleh saat bibirku terdiam "Kok manyun? Ada apa?" 

Jadi Jano mencintai cewek itu?! teriak hatiku kesal. 

"Aku nggak akan pacaran. Aku nggak mau jatuh cinta," desisku sambil menatapnya marah. 

Alis Jano terangkat tinggi dan menatapku heran. "Lho, kenapa?" 

Kutatap Jano dengan ekspresi jemu. "Kamu tahu alasannya." 

"Nggak. Aku sama sekali nggak tahu, Tammy." Jano menaruh pulpennya di atas meja. Tubuhnya sekarang menghadap kearahku dan perhatiannya tercurah padaku sepenuhnya. 

Aku masih merengut di pinggir kasur. Sambil bersedekap kubalas tatapan mata Jano dan menjawabnya dengan dramatis, "Karena, Jano, tidak ada cowok yang mau jadi pacarku. Tak ada cowok yang suka cewek sepertiku. Kulitku butek, rambutku kacau, badanku cungkring mirip papan tulis. Aku ini itik buruk yang tersesat di tengah-tengah angsa cantik keluargaku. Persis dongeng buku itu! Sementara kakak-kakakku kelak punya pacar dan menikah bahagia, aku harus tinggal sendiri di rumah, menemani Mama dan Papa sampai... sampai tua-renta!" Aku nggak sanggup bilang "sampai mati" untuk orangtuaku. Takut dituduh menyumpahi.

Jano menatapku dengan terbelalak. Tangannya kemudian menarikku mendekat padanya. "Astaga, Tammy, kata siapa kamu jelek? Barusan adalah ucapan terkonyol yang pernah kudengar." 

Kutatap Jano dengan sedih. "Aku tahu itu benar. Jangan menyangkalnya, Jano." 

"Kamu benar. Benar-benar ngaconya!" seru Jano dengan marah. "Jangan pernah merasa seperti itu. Ingat, Tammy, dengar baik-baik ucapanku ini. Kamu kelak akan jadi gadis yang menawan, menarik, dan membuat banyak cowok patah-hati. Kamu berbeda dengan Rachel dan Alena, kamu punya sesuatu yang tidak mereka miliki. Kamu unik. Berkarakter. Dan lucu." Jano memegang dua pipiku dengan telapak tangannya yang besar. Saat itu, nun jauh di dasar hatiku aku merasa bahagia sekali dengan ucapan dan perlakuan Jano. Tangannya kemudian mengusap rambutku dan menyelipkan helai-helai yang terlepas dari karet rambutku, ke belakang telingaku. Detik itu aku merasa seperti seorang princess! 

"Andai itu benar," ucapku pelan. Mataku berkedip-kedip menatap sepasang mata Jano. 

"Tentu saja aku benar. Aku selalu percaya mata dan instingku." Bibir Jano tersenyum. 

Kutatap Jano dengan mata berbinar. "Oh, apa itu?" 

Senyuman Jano berubah jadi seringai. "Bahwa kamu, Tamara Isabella, adalah gadis yang spesial. Cewek idaman para cowok, khususnya mereka yang punya ketulusan hati." 

Oh. Senyumku membeku seketika. Kata "khususnya cowok yang tulus hati" sama aja artinya aku bukan cewek yang jadi impian setiap cowok. Hanya cowok yang nggak menarik yang mau sama aku.

"Kamu unik, Tammy. Kamu harus yakini itu. Oke?" 

Aku masih diam. Betapa konyolnya aku [dan aku cewek konyol, itu baru kusadari semakin kubesar], berani berharap Jano akan mengungkapkan isi hatinya bahwa dia sebetulnya menyukaiku. Selama di luar sana banyak cewek seperti Angela, Rachel, dan Lena, apa yang dia lihat dari aku? Aku kan cuma anak kelas satu SMP dengan penampilan menyedihkan. Jelas Jano sedang membesarkan hatiku. Tak lebih. 

"Trims, Jano. Kamu selalu baik padaku." Kupeluk lehernya. Jano membalas pelukanku dengan mengusap kepalaku. Aku masih benci Angela. Dia pencuri Jano-ku! 

"Tapi, Jano..." bisikku ragu. 

"Ada apa?" Jano melepaskan pelukannya. Tangannya kini memegang ke dua bahuku. 

"Aku nggak suka dia." Kugigit bibirku. 

"Kenapa?" 

"Kamu pasti akan sibuk dengannya, terus lupa sama aku. Kita nggak bisa main bersama lagi." 

Ekspresi Jano terlihat serius. "Nggak usah kuatir. Aku akan menemanimu ke mana kamu mau main. Semua bisa diatur." 

"Janji?" 

Jano mengangguk dan tersenyum. Disodorkannya kelingkingnya. Kukaitkan kelingkingku. Mata kami bertemu di atas jari-jari kami yang terpaut. 

Apa yang diucapkan Jano saat itu terpatri di hatiku: bahwa aku cewek spesial. 

Benarkah aku unik dan spesial seperti ucapannya? Entahlah. Jika rambut keriting, kulit butek, bodi ceking, minderan parah, dan moody adalah gambaran spesial, aku memang sangat-sangat spesial... buruknya! 

^^^^^ 

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • I Need To Be Next To You   Bab 23

    "Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu

  • I Need To Be Next To You   Bab 22

    [2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga

  • I Need To Be Next To You   Bab 21

    [NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk

  • I Need To Be Next To You   Bab 20

    [NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi

  • I Need To Be Next To You   Bab 19

    [NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak

  • I Need To Be Next To You   Bab 18

    [2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status