LOGINJam tujuh acara dimulai. Papa memberi sambutan pendek sebelum dilanjut ke inti acara: makan-makan dan bebas mengobrol satu dengan lainnya. Para tamu memberi selamat ke orangtuaku atas dua puluh tahun usia pernikahan mereka dan Bari yang sudah jadi dokter. Begitu acara makan-makan dimulai, aku mulai sibuk mengecek meja buffet, apakah ada makanan yang habis dan perlu ditambah lagi. Menyingkirkan peralatan kotor yang mulai numpuk, kubawa ke belakang, agar bisa segera kucuci dan dipergunakan lagi nantinya. Kasihan Mama kalau kerja sendirian, mana sanggup mengatasi kerjaan sebanyak itu. Mama juga sudah kerja keras dari pagi-pagi sekali, karena itu aku biarkan Mama malam ini ber-hahahihi dengan keluarga dan para tamu.
Rachel dan Lena terlihat sibuk ngobrol dengan teman-temannya dan beberapa sepupu kami yang gabung. Untung aku nggak jadi undang dua sahabatku, kalau nggak, aku nggak bakal bisa bantuin Mama. Cukup repot membagi tenaga dan perhatian. Rencananya, sih, besok Yossi dan Ella akan datang. Untuk itu sudah kusisihkan makanan jatah mereka berdua. Tinggal nanti dipanasin sebentar di microwave. Beres.
"Sibuk banget, yaaa, sini aku bantuin," Marion menawarkan diri begitu melihatku mondar-mandir mengisi makanan di meja, membawa peralatan kotor dari depan ke belakang. Bolak-balik.
"Kamu tamu, Marion. Duduk aja, nikmati hidangan," tolakku halus.
"Weleh, aku kan keluarga, bukan tamu. Ngapain sungkan? Di rumah aku juga biasa kerja di dapur, kok."
Kami akhirnya mencuci peralatan kotor berdua sambil ngobrol-ngobrol. Aku menyabuni, Marion membilas dengan air dan menaruhnya di rak.
"Rencana mau kuliah di mana, Tam?"
Aku tak langsung menjawabnya. "Jujur, aku belum mutusin, sih. Otakku ini terbatas kapasitasnya."
"Dih, suka merendah gitu sih," ucap Marion sambil menyenggolku dengan pinggulnya. "Aku pengin jadi dokter hewan."
"Yah, kamu sih, pinter. Moga ketrima, deh, Mar. Kalau aku orangnya ogah mikir susyeh. Maunya sekolah bentar, trus bisa kerja. Apalagi... nnggg..."
Marion menaruh piring-piring yang sudah dibilas bersih ke rak peniris di sebelah bak cuci. Dia menoleh padaku saat aku tidak segera melanjutkan ucapanku.
"Ada apa? Kenapa nggak jadi omong?"
Kubungkukkan kepalaku ke dekat sepupuku itu, karena selisih tinggi kami yang cukup signifikan. "Mm, janji kamu nggak bilang siapa-siapa?" bisikku. Meski selama ini hubungan kami cukup dekat, tapi jujur aku nggak tahu seperti apa karakter Marion. Apa dia tipe ngember, atau bisa jaga rahasia dan bisa dipercaya?
Marion menggeleng. "Kamu bisa memercayakan rahasiamu ke aku, Tam."
Aku menunduk. "Ini belum pasti sih, karena semuanya masih dalam proses dan semuanya serba mendadak. Aku... aku dapet tawaran shooting iklan TV, tapi aku belum memberitahu siapapun soal ini, karena aku sendiri belum yakin..."
Marion menjerit kecil dan memelukku tiba-tiba. "Wow, hebat kamu, Tam! Itu artinya kamu bakal jadi model iklan, dong?"
"Ssstt! Katanya bisa simpan rahasia? Kenapa malah jerit-jerit?" ucapku berbisik untuk menghentikan antusiasme Marion. Kuletakkan telunjuk di bibirku sambil melotot padanya.
"Oke. Oke, sepupu. Tapi aku ikut seneng buatmu. Sungguh," bisiknya sambil masih memelukku dari samping. "Heh, artinya kamu bakalan jadi seleb, dong?"
Kulepaskan pelukan sepupuku dan menggelengkan kepala. "Kamu udah kejauhan mikirnya, Mar. Ini baru akan dilakukan. Lagian aku cuma kebagian peran kecil, kok."
"Eh, semua hal besar dimulainya dari yang kecil, tahu! Dari iklan, kamu akan ketemu proyek-proyek lain, yang lebih besar. Kalau beruntung, bisa ketemu sutradara film, gitu terus, berlanjut tanpa kamu sadari. Sampai tiba-tiba satu hari nanti, kamu udah jadi bintang top!" Marion bersikeras menjelaskan point of view dia tentang kesempatanku di dunia entertainment. Yang aku sendiri malah belum berani memikirkan dan memutuskan secara serius.
Kepalaku tertunduk beberapa lama. Saat kuangkat wajahku, kutatap Marion dengan sedih. Telunjukku menuding ke wajahku sambil berkata, "Kamu pikir aku ini siapa? Luna Maya? Maudy Ayunda? Apa aku punya kesempatan di dunia mereka? Tolong jawab dengan jujur, Mar. Bukan karena kamu sepupuku, tapi dengan kacamata obyektif."
Marion menarik tanganku. Ekspresinya berubah serius. "Dua kali sudah kudengar kamu merendahkan dirimu sendiri malam ini, Tammy. It's not good for your soul. Luna Maya memang cantik. Maudy manis. Tapi kamu punya karakter dan keunikan sendiri yang nggak mereka miliki. Semua yang ada di dirimu itu unik. Nggak klise. And by the way, bodimu jauh lebih keren dan asik dibanding dua nama itu, sih."
Ketawaku pecah mendengar kalimat terakhir Marion. Karena aku tahu dan hafal banget seperti apa penampakanku di cermin kamarku. Dan aku nggak pernah menyukai apa yang terefleksi di sana! "Sinting kamu, Mar, mentang-mentang kita sepupuan... Hahaha..."
"I'm serious. You have a strong character, cousins. Dian Sastro? Luna Maya? Cinta Laura? Semua lewaaattt."
"HAHAHA... Gila, gilaaa!"
Kami berdua ngakak.
"Asyik bahas apaan sih, kalian ketawa-ketawa persis orang kesurupan." Mario, kembaran Marion udah berdiri di depan kami.
"Yo, menurutmu cantikan siapa antara Dian Sastro dengan Tammy kita?"
Hidungku mendengus keras mendengar kalimat Marion. Mario menoleh, mengamatiku sesaat sebelum menjawab. Sempat kutangkap kilatan jahil di matanya. Dalam hati aku mulai was-was. Mario dari dulu tukang iseng.
"Jelas kamu lah, Tam. Dian cantik sih, tapi kamu lebih keren dan eksotik. Berapa tinggimu, seratus tujuh puluh lima, ya? Apalagi dengan rambutmu ini, mmm..." Tiba-tiba saja wajah Mario sudah menciumi rambutku.
"Iiihhh, Iyo!!" jeritku seketika. Dengan keras kudorong Mario jauh-jauh dariku. Wajahku merah-padam. Sepupu macam apa sih dia ini?
"Yo. Jangan terlalu gila deh. Inget, Tammy kakak sepupu kita." Marion menatap kembarannya dengan ekspresi sebal.
Mario masih cengengesan tanpa malu. "Katanya minta pendapatku? Itu jawabanku. Kenapa aku jadi salah?" jawabnya dengan sok polos.
"Ah, sudahlah, ke luar sana. Kami nggak butuh opinimu lagi." Marion mengusir saudaranya.
"Percaya deh, Tam, kamu punya ciri khas yang nggak dimiliki Dian itu. Lagian dia udah emak-emak. Kamu jauh lebih muda, keren, dan seksiii..."
Sebelum aku membantahnya, Mario mendadak mendekatiku lagi dan mencium pipiku dengan keras. Kurang ajarrr.
Tanganku menyambar garpu di pinggir bak cucian, spontan kulempar ke Mario yang kabur ke pintu dapur begitu melihatku ngamuk. "Kampreetttt!" teriakku yang disambut ketawa Mario yang bergema di ruang sana.
"Aduh!"
"Oh, ya ampun, garpumu, Tam!" seru Marion dengan terbeliak.
Kami berdua terbelalak menatap ke pintu, dimana sesosok tubuh tengah memasuki dapur. Orang itu mengusap-usap dadanya. Dia kemudian membungkuk dan mengambil benda yang mengenai dadanya.
"Ada apa ini? Siapa yang mau kamu bunuh?" tanya Jano sambil mengacungkan garpu.
"Sori. Kamu nggak apa-apa?" Mataku menelusuri sekujur tubuh Jano untuk memastikan jika dia tidak terlukai garpu yang kulempar dengan sekuat tenaga tadi.
"Untung nggak nancep dada atau mataku," ucap Jano sambil meringis. "Siapa yang bikin kamu kesal sampai lempar-lemparan senjata rahasia berbahaya segala?"
Bibirku merengut. "Siapa lagi? Sepupu gilaku, kembaran Marion."
"Hai, Marion. Apa kabarmu?" Jano berjalan ke Marion sambil mengulurkan tangannya. Mereka kemudian ngobrol sebentar. Jano sudah kenal sebagian besar sepupu-sepupuku, salah satunya Marion.
"Cari apa?" tanyaku ke Jano sambil kubereskan pekerjaan yang tertunda karena ulah Mario.
Jano menoleh. "Masih punya minuman dingin, nggak?"
"Mestinya masih ada. Coba lihat sendiri di kulkas."
Jano berjalan ke kulkas, membukanya dan sesaat dia asyik memilih. Setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, diacungkannya padaku. "Aku ambil ini, ya. Trims. Ayo, Marion." Jano pun keluar dari dapur.
"Jano ganteng ya?"
"Yup. Tiga cowok sebelah emang cakep-cakep."
Marion tersenyum sambil mengangguk. "Pasti udah pada punya pacar?"
Aku menunduk di atas piringku. "Entahlah. Mungkin. Udah lama Jano nggak bawa ceweknya ke rumah, jadi aku nggak tahu persis."
"Kok kalian nggak ada yang jadian sama salah satu dari mereka? Ngapain jauh-jauh cari cowok kalau di sebelah berlimpah stok bagus?"
"Hmm. Mungkin karena kami sudah kayak saudara sendiri?" Diam-diam kusilangkan jari tangan di balik punggungku.
Marion mendesah. "Kalau aku sih mau aja jadi pacar salah satu dari mereka. Yang jelas bukan Jano, ganteng sih, tapi terlalu dewasa buatku. Mungkin Josh yang paling pas?"
"Wow, pilihan tepat. Josh paling playboy dibanding yang lain," ledekku. "Konon cewek-cewek alim cenderung suka bad boy. Kita keluar yuk, udah beres nih. Masa kamu mau jadi Cinderella di dapurku?"
Kami menuju ruang tengah dan bergabung dengan yang lain. Obrolan dan candaan seakan tiada habisnya begitu kami berkumpul. Maklum, kami nggak selalu bisa ketemu setiap bulan, meski sama-sama tinggal di Jakarta.
Malam makin larut, tamu satu persatu pulang, tinggal beberapa teman Bari yang masih bertahan. Kesibukan hari ini cukup melelahkan. Aku ingin sekali menyepi sebentar ke rumah pohonku, sekalian menjenguk Barney dan Marlee, anjing-anjingku yang terpaksa masuk kandang karena ada acara syukuran. Aku mesti memikirkan masa depanku, kemana mesti kuliah? Apa tawaran iklan itu aku ambil? Angin sejuk di atas sana biasanya sangat menenangkan dan membantuku berpikir. Meditasi.
Aku baru jalan beberapa meter melewati pintu belakang rumah ketika di antara temaram lampu, ujung mataku menangkap tubuh dua orang yang tadinya menyatu, dengan cepat memisahkan diri. Langkahku terhenti seketika. Kutajamkan mataku untuk menangkap sosok mereka. Ketika sensor visualku mengirimkan sinyal ke otak, mataku pun terbelalak shock. Alena dan... Jano? Apa yang mereka berdua lakukan di belakang sini? Apa yang barusan...
Kurasakan tanganku gemetar. Bibirku bergetar. Mataku kabur. Namun aku sempat menangkap bahasa tubuh mereka yang kini canggung. Dengan nanar kupandangi mereka berdua saat kesadaran samar-samar masuk ke pikiranku. Otakku secepat kilat mencerna ulang kejadian barusan. Benarkah apa yang kulihat? Beberapa detik tubuhku membeku di tempatku berdiri. Tiba-tiba rasa nyeri menusuk ulu hatiku.
Begitu aku pulih dari rasa syok, bibirku berucap pelan, "Maaf." Kulewati mereka dengan kepala tegak, pandangan lurus ke depan, kuteruskan langkahku ke rumah pohon. Kakiku bergerak persis robot. Kunaiki tangga rumah pohon dengan tenang, meski hatiku rasanya mau meledak hangus oleh amarah.
Benarkah mataku tadi memergoki Alena dan Jano tengah berciu... Kugelengkan kepalaku keras-keras untuk mengenyahkan memori sesaatku. Kepalaku berisi beribu pertanyaan. Sejak kapan Lena dekat dengan Jano? Sejak kapan mereka akrab satu sama lainnya? Apakah mereka pacaran di belakangku? Kenapa aku tidak pernah tahu tentang ini? Kenapa Jano tak pernah bilang padaku jika dia suka kakakku?
Kenapa mesti Jano, Lena?
Kenapa bukan Karel atau Josh yang kaupilih? Kenapa harus Jano-ku?!? Kenapa mesti dia, Lenaaaa? Kenapa? KENAPAAA?!
Sejuta kata "kenapa" menyerbu otakku. Badanku terasa demam. Tanpa kusadari, tubuhku ambruk di lantai kayu rumah pohon. Untungnya, rumah pohon ini menghadap ke utara, bukan ke belakang rumah langsung, jadi aku tidak harus menyaksikan kelanjutan peristiwa yang terpotong karena kehadiranku yang tiba-tiba. Masihkah mereka di sana? Atau mereka pindah ke rumah Jano untuk meneruskan apa yang sempat terganggu?
Kugigit bibirku dengan emosi tak terbendung, hingga kurasakan perih di bibir bawahku. Tiba-tiba aku merasa lelah yang amat sangat. Tubuh dan jiwaku. Jadi inilah jawaban keanehan perilaku Lena tadi siang, mengapa dia mendadak perhatian ke Jano? Kuhela nafas pedih. Alena, ada banyak cowok cakep di luar sana, tapi kenapa harus Jano yang kamu ambil? MENGAPA HARUS DIA???
Tanpa sadar kepalan tanganku menghantam dinding kayu. Berkali-kali. Tak kurasakan rasa sakit yang muncul di buku-buku jemari tanganku. Airmata bergulir ke pipi-pipiku. Aku jadi paham dengan perubahan Jano. Sikap yang makin cuek, lupa ultahku, dan sekarang ke-gep ciuman dengan Lena. Kamu sudah tak peduli padaku, Jano. Kedekatan kita tak ada artinya lagi. Kamu tahu bagaimana Rachel dan Lena dulu memperlakukanku saat kecil. Bagaimana aku selalu tersisih dan tak pernah diajak main sama mereka. Nyatanya sekarang kamu malah terpikat Lena!
Betapa bodohnya aku, berani berharap Jano akan tetap setia menjaga perasaanku. Betapa naifnya aku, masih memimpikan cinta Jano, sementara ada kakakku yang cantik di depannya.
Aku tidak pernah minta terlahir seperti ini. Andai aku boleh memilih, aku ingin seperti kakak-kakakku. Tapi, seburuk apapun diriku, aku harus bisa melupakan apa yang kulihat barusan. Aku ingin, saat bangun esok hari, aku bukan lagi Tammy polos yang tergila-gila padamu, Jano. Karena, sampai kapanpun, aku tidak akan mampu bersaing dengan kakakku. Alena sangat cantik. Lebih cantik dari Rachel. Aku bukanlah tandingannya.
Pipi-pipiku basah-kuyup. Tangisku keluar tanpa suara. Keheningan dan sejuknya malam memagutku dalam pusaran nestapa. Hingga kutertidur di rumah pohonku.
Gonggongan keras anjingku membangunkanku. Pertama yang kurasa adalah perih di jemariku, bibir, dan dadaku. Mataku berkedip-kedip. Ada seseorang yang menyalakan lampu. Tadi waktu ke sini semuanya kubiarkan gelap. Mendadak kurasakan kehadiran seseorang di dalam rumah pohonku. Tanpa menoleh, aku tahu siapa dia.
"Hei, sudah bangun?"
Kelopak mataku terpejam lagi. Tubuhku tak bergeming. Bayangan itu kembali lagi. Jadi semua itu nyata, bukan mimpi. Tangan Lena ada di bahu Jano, badannya melengkung menyandar ke dada Jano. Wajah mereka menyatu... Kugigit bibirku sampai terasa darah di lidahku.
Kuabaikan pertanyaan Jano. Aku bangkit dari tidurku dan merangkak ke luar. Untuk turun, aku harus melewati tubuhnya yang menghalangi pintu dan tangga ke bawah. "Permisi."
"Tammy," panggil Jano pelan. Tangannya memegang salah satu lenganku.
Tatapanku lurus ke bawah sana. Bibirku tetap terkunci.
"Kamu marah?"
Marah? Oh, tentu saja tidak. Aku sangat bahagia sekali karena kamu akan jadi kakak iparku. Jadi, kita akan resmi jadi kakak-adik sungguhan. Wooohooo!
Tanpa menoleh kutarik lenganku lepas dari pegangannya. Terdengar helaan nafas Jano, dia kemudian bergeser dari pintu untuk memberiku jalan. Kucengkeram ujung pegangan tangga waktu hendak turun. Saat itulah Jano melihatnya.
"Tanganmu kenapa?" Jemarinya menyentuh buku-buku jariku yang terluka.
Dengan cepat kusentakkan tanganku. Cepat-cepat kuturuni tangga.
"Tammy." Jano membuntutiku.
Kuabaikan dia. Bagiku Jano tak ada lagi. Dia sudah mati. Kakiku menuju pintu belakang rumah. Rumah terlihat senyap. Semua orang pasti sudah masuk kamar.
"Aku mau bicara sebentar, please, Tammy." Kuhentikan langkah. Jano meraih tanganku dan mengamati jari-jemariku. "Aku khawatir..."
"Tak ada yang perlu dikuatirkan. Cuma luka kecil, besok juga sembuh." Kutarik lepas tanganku dari genggamannya. Hatiku, Jano. Hatiku lah yang terluka parah. Dan ini butuh waktu lebih lama untuk bisa pulih.
"Bukan tanganmu yang kumaksud. Aku mau menjelaskan padamu ap..."
Dengan cepat aku menoleh dan memutus kalimatnya. "Tak perlu menjelaskan apapun. Aku sudah tahu apa yang terjadi. Dan aku tahu ini bakal terjadi. Aku bukan anak kecil polos, lugu, dan... bego." Dadaku sesak oleh emosi. Kugigit pipi dalamku sebelum meneruskan lagi. "Kenapa mesti dengan Lena?"
Saat itulah kulihat ekspresi wajahnya seperti orang yang habis ditonjok perutnya dengan keras. Jano terdiam. Alisnya berkerut dalam.
"Mau lewat pintu depan atau samping?"
Jika lewat samping, aku masuk sendirian. Tapi andai Jano memilih lewat pintu depan, dia harus ikut masuk rumah dan aku harus mengunci pintu belakang dan depan untuknya.
Bahu Jano lunglai ke bawah. "Samping saja," ucapnya lirih.
Segera kubalikkan badan dan masuk rumah tanpa bicara. Bisa kurasakan tatapan mata Jano ke punggungku.
Persetan.
Kamu sukses meremukkan hatiku, Jano. Kuberikan kepercayaanku, hidupku, harapanku, mimpiku, hanya untukmu. Tapi semuanya hancur karena wajah dan tubuh molek Lena. Aku benci Lena. Aku benci Jano. Aku benci mereka berdua!
Kakak-kakakku benar. Obsesiku terhadap Jano memang memuakkan. Rasa kagum bercampur kesetiaan selama belasan tahun, membuatku halu, bahwa satu hari nanti dia akan berpaling dan melihatku selayaknya seorang lelaki memandang seorang perempuan. Bagi Jano aku adalah Tammy 'adik kecilnya'. Tak ada yang berubah di antara kami. Selamanya begitu.
Aku meringkuk dalam kegelapan mengasihani diriku sendiri. Pipi-pipiku basah lagi. Kuredam sedan yang muncul dengan bantal. Beginilah nasibnya lahir buruk rupa. Satu-satunya hal berharga yang kumiliki pun kini direnggut dariku... oleh kakakku sendiri!
Apa yang tersisa untukku sekarang? Dua anjingku? Dua sahabat baikku?
^^^^^
"Oh dear, you have such a unique and exotic face. Your skin just... so amazing. You know, we’d give our lives to have skin like yours!” Aku tersipu mendengar komentar yang ditujukan padaku itu. Meski kalimat itu keluar dari bibir laki-laki bukan penyuka perempuan seperti Guy, yang saat ini berdiri di belakangku dan sibuk ngomong padaku. Orang bule terkadang suka hiperbola memang. Dia nggak tahu saja kalau kulit cokelat banyak sekali dijumpai di Indonesia. Dan warna kulit ini mewakili kelas orang-orang susah. Ha. Ha. Ha. Di Indonesia semakin makmur hidup seseorang makin terlihat dari kulitnya yang putih. Kondisi yang berbanding terbalik dengan orang Barat. “Tulang pipimu cukup tinggi. Wajahmu oval manis.” Ah. Aku speechless. Pujian dari ahli make up bule Perancis ini jelas nyaris membuatku pingsan. Kudengar dia sudah mendandani ribuan model dunia, mataku melirik sekilas foto Scarlet Johansson, Jessica Alba, Salma Hayek, Monica Belucci, dan lain sebagainya yang menempel di dinding stu
[2008]Aku masih ingat ketika itu aku belum genap enam tahun. Hari itu semua orang pergi, tinggallah aku sendiri di rumah, bersama Mbok Nah, yang biasa kupanggil Bibi. Aku hampir mati kesepian. Pengin rasanya nangis, tapi siapa juga yang peduli? Toh nggak ada yang tahu kesengsaraanku? “Tammy! Kamu di atas?"Tiba-tiba ada kerikil kecil di lempar ke rumah pohonku, menimbulkan suara ‘tik’ dan menggelinding di lantai kayu. Aku berlari ke pintu dan melongok ke bawah. Jano. “Lagi ngapain?” Aku menggeleng lesu. Kulambaikan komik di tanganku. “Mau ikut?” Sepasang mataku langsung berbinar. Tanpa disuruh dua kali aku langsung berlari turun. “Pada pergi ke mana yang lain?” tanyanya menunjuk rumahku yang sepi.Begitu kakiku menginjak ke tanah, aku langsung menyerbu Jano dan menggandeng tangannya. “Mama dan Papa pergi, katanya ada acara di kantor Papa. Bari pergi sama temannya. Rachel dan Alena entah ke mana.” “Kasihan. Kamu cuma sama Bibik, ya?” Kepalaku mengangguk-angguk. “Kenapa ngga
[NOW]Aku nggak terbiasa dandan berat di luar acara syuting, pemotretan, atau sedang ada jadwal promosi dengan Dazzling. Meski untuk datang ke acara formal sekalipun, I will keep my appearance seminim mungkin dalam mengaplikasikan make-up. Ke acara anniversary pernikahan orangtua Jano pun aku dandan ala kadarnya, hanya memakai pelembab dan loose powder yang kusapukan ke wajahku dengan kuas besar agar bedak yang nempel di kulit wajahku tak terlalu tebal. Bibir kuberi lipstik warna pink nude tipis dengan lipgloss banyak-banyak. Sedikit blush-on. Kuhindari pensil alis dan maskara, dua benda itu termasuk riasan berat buatku. Cukup kuolesi bulumataku yang udah kujepit dengan lotion ringan yang kugosokkan di ujung-ujung jariku. Semua trik itu kuperoleh dari MUA yang pernah mendandaniku. Hasilnya? Aku terlihat cantik, segar, alami, tanpa terlihat bermake-up tebal dan norak. Untuk rambutku, aku tadi sekalian keramas saat mandi, dalam kondisi masih setengah basah kuolesi lotion khusus untuk
[NOW]Aku akhirnya membuat dua buah Lemon Meringue Cheesecake untuk hadiah ultah pernikahan Tante Elly dan Om Franky. Tante bilang sih cuma pesta kecil, untuk kalangan keluarga dan teman dekat saja. Tapi berdasarkan pengalaman, kecil menurut perempuan itu bisa bermakna jumlah tamunya puluhan. Mungkin sekitar tiga atau empat puluh orang. Karenanya aku bikin dua loyang besar, untuk berjaga-jaga, jika tebakanku benar, karena satu loyang saja pasti tidak cukup. Dulu, begitu aku terima pembayaran kontrak dari Dazzling, benda pertama yang kubeli adalah oven besar dengan empat tungku di atasnya. Aku nggak main-main saat kubilang aku ingin memperdalam skill memasakku dan punya peralatan masak yang mumpuni untuk memuaskan passionku di dunia culinary. Benda ke dua adalah kulkas side by side besar yang dilengkapi dengan dispenser ice cube di pintunya. Jika mengandalkan kulkas lama Mama, tentu saja aku nggak bisa menyimpan cheesecake yang sudah kubuat kemarin. Jadi, hari ini aku tinggal finishi
[NOW]Tante Elly dan Om Franky akan mengadakan pesta kecil di rumah untuk merayakan anniversary pernikahan mereka yang ke tiga puluh lima. Tiga puluh lima tahun menjalin hubungan dengan seseorang dalam pernikahan yang harmonis dan masih utuh, menurutku satu hal yang manis dan romantis. Karenanya aku ingin memberi mereka hadiah. Tapi apa? "Ma, Tante Elly sukanya apa, ya?" Mama yang tengah sibuk menyiangi sayuran bareng Mbok Nah di dapur menoleh sebentar. "Banyak. Bisa kamu lihat di rumahnya, apa saja barang-barang yang ada di sana." Bibirku manyun. Mama, sih, asal jawab."Kalau aku ke sana sekarang, bisa ketahuan kalau lagi cari ide buat kasih kado buatnya. Acaranya tinggal dua hari lagi." Kudekati Mama dan memeluknya dari belakang. Rayuku, "Kasih bocoran dong, Mama sayang."Mama tertawa kecil. "Tanya Jano kalau nggak mau ketahuan." "Ah, Jano paling juga nyaranin hal yang sama. Pasti aku disuruh nanya ke Mamanya langsung. Cowok gitu loh. Mana mau mikir ribet." "Kenapa kamu nggak
[2020]Aku sama sekali nggak bohong waktu kubilang ke Yossi dan Ella tentang Jano yang kapok mengajak ceweknya ke rumah. Aku tahunya dari kakakku, Bari, yang bilang padaku waktu itu. Masih kuingat saat itu, iklan TV pertamaku bersama Dazzling sudah tayang. Hasilnya bagus banget. Very exclusive. Looks expensive. Seperti iklan kosmetik produksi luar. Semua pihak hepi, klien, agensi, PH, dan... tentunya aku. Aku, Tamara Isabella, pendatang baru yang belum lama terjun di dunia model iklan, tiba-tiba muncul jadi bintang utama di salah satu produk kecantikan dari Perancis. Meski TV commercial ini hanya ditayangkan untuk region Asia Tenggara, tapi ini satu kesempatan yang sangat langka terjadi. Siapa Tamara Isabella? Di dunia entertainment tak ada yang tahu atau kenal aku. Para selebriti top kita tak ada yang pernah bertemu denganku. Tapi semesta punya 'konspirasi' yang cukup absurd, aneh, dalam mempertemukanku dengan Ollie dan Adriano. Dua lelaki itu yang punya peran penting dalam mengub







