MasukDi perjalanan ke tempat reunian yang diadakan di cafe milik orang tua Mita, emosi Nadya terus muncul menguasai akal pikirannya. Gimana tidak, setelah putus darinya Dimas dikabarkan bertunangan dengan perempuan yang ia lihat di bioskop bersama Dimas. Oh bukan hanya itu, komiknya berhasil menjadi Top Trending yang selalu dicari semua orang dan berkat hal itu Dimas membangun kantor sendiri dengan label namanya sendiri. Sampai sekarang Dimas terkenal dengan komikus cerdik.
Cerdik? Huh! Orang orang tidak tahu seperti apa Dimas Erlambang aslinya, laki laki yang tidak segan melontarkan kata kata yang tidak baik kepada perempuan karena keegoisannya dan mempermainkan perempuan seolah perempuan itu gampangan, dan Dimas dengan mudahnya melakukan perbuatan jahat untuk menyakiti hati perempuan. Mata Nadya memincing tajam seraya menghentikan motornya tepat ketika lampu lalu lintas berubah merah.
Sambil menunggu lampu berubah hijau Nadya menarik napas menenangkan diri. Ia harus tenang, ia tidak mau emosinya mengganggu konsentrasinya dalam mengendarai motor, bisa bisa terjadi sesuatu yang akan disesalinya. Nadya buru buru menggeleng menghilangkan pikiran buruk yang terbayang di benaknya. Ia tidak akan membiarkan laki laki itu mempengaruhi dirinya lagi sehingga menimbulkan amarah yang membutakannya seperti dulu.
Lampu yang terpancar dari layar lebar yang dipasang di sepertiga lalu lintas itu mengalihkan perhatian Nadya. Layar lebar itu biasa menampilkan iklan dan sekarang iklan itu menayangkan resort mewah dengan pemandangan pantai yang indah dan pastinya mahal. Pikir Nadya. Mungkin resort itu akan menjadi salah satu pilihannya untuk berlibur dan bersantai setelah novelnya selesai. Tiba tiba matanya terbelalak terpesona melihat pemilik resort itu ditampilkan terakhir. Director of The Blue Pearl Island Resort Bali, Ethan Sullivan. Laki laki itu sangat tampan, matanya biru sebiru langit, hidungnya mancung sempurna, rahang dan dagunya brewokan, tapi tidak menghilangkan ketampanannya sebaliknya brewok itu mempertajam ketampanannya seakan menunjukkan seseorang yang sukses dan mapan, oh satu lagi bibirnya merah. Laki laki yang sempurna. Namun bukan itu yang membuat Nadya tiba tiba terpesona tetapi kedua mata itu yang menatap sangat dalam sehingga bisa menghipnotis siapa pun termasuk Nadya.
Tiba tiba jantung Nadya berdegup kencang hanya karena menatap kedua mata itu dan menimbulkan khayalan yang di luar dugaannya namun dengan cepat Nadya memukul helmnya seakan menghilangkan khayalan itu. Nadya mulai mengoceh sendiri.
“Sadarlah Nad, dia itu orang asing, kamu paling bodoh dalam pelajaran bahasa Inggris, dan dia pastinya orang kaya, sangat jauh darimu yang hanya seorang penulis junior.”
Nadya menghela napas seolah hal itu menyadarkannya kalau laki laki itu di luar jangkauannya, lagi pula ia tidak mengenal laki laki itu begitu juga sebaliknya. Namun aneh kenapa begitu cepat ia mengkhayal laki laki asing itu. Apa hanya ia sendiri yang mengalami hal itu atau setiap perempuan yang melihat laki laki asing tampan itu. Tentu saja semua perempuan mengkhayalkan yang sama seperti dirinya apalagi laki laki itu mempunyai harta dan posisi yang tinggi. Pikir Nadya. Tapi Nadya tidak pernah mengalami hal seperti barusan dengan laki laki manapun, bahkan dengan Dimas.
Nadya menatap laki laki asing itu lagi, seketika jantungnya kembali berdetak, dan khayalan itu kembali muncul dalam pikirannya. Sejenak ia melupakan amarah dalam dirinya karena Dimas, dan merasakan kebahagian dalam dirinya hanya melihat laki laki asing itu. Tiba tiba iklan itu berubah digantikan dengan iklan yang lain sehingga menyadarkan Nadya. Ya ampun, Nad, apa yang kamu lakukan, hanya melihat laki laki asing tampan itu kamu sudah lupa diri, apa kamu tidak kapok dengan kejadian pahit yang dialami dengan Dimas. Peringat Nadya pada dirinya sendiri sambil memukul helmnya lagi.
“Turunkan pandanganmu…fokus…fokus…fokus.” Kata Nadya mengingatkan dirinya sendiri. “Jangan sampai kamu melanggar janjimu.” Peringat dirinya lagi.
Nadya memaksakan pandangannya kembali ke arah jalan dan bersamaan dengan itu lampu lalu lintas berubah hijau. Untuk saat ini hadapi dulu laki laki kurang ajar itu. Amarahnya kembali muncul mengingat sebentar lagi ia akan bertemu dengan mantannya. Tatapan Nadya berubah tajam, ia memacu motornya dengan kencang.
Setelah istrinya meninggalkan ruangan, Mr. Alfred membuka suara."Miss Nadya, saya mohon izin untuk membawa anak saya dulu sebentar." "Silakan," sahut Nadya.Mr. Alfred berdiri seraya menatap Adel untuk mengajak Adel ikut bersamanya. Ia tidak mau memberitahu berita yang pasti akan membuat anaknya senang di depan calon istrinya Mr. Ethan. Ia tidak enak pada calon istrinya Mr. Ethan karena tidak tahu apa-apa, jadi ia mengajak anaknya ke ruang kantornya.Adel berdiri mengikuti ayahnya. Entah mengapa kakinya tidak terasa lemas lagi dan seolah mendapatkan kekuatan ia berjalan mengikuti ayahnya. Ia tahu kenapa tubuhnya serasa ada kekuatan karena beban kecemasan dan ketakutan telah terangkat dari dirinya apalagi sekarang Mita menyetujui huhungannya dengan Panji. Hanya satu lagi yang harus ia lakukan yaitu meminta maaf pada Ethan. Semoga kali ini Tuhan menolongnya lagi."Katakan padaku darimana kamu belajar sopan santun?" tanya Mita ingin tahu ketika di ruangan itu hanya ada ia dan Nadya, na
Mita terkejut, ia tidak menyangka Adel akan berkata seperti itu, kata-kata yang ia inginkan dari Adel, namun itu beberapa jam yang lalu, tidak setelah ia mengetahui ketulusan hati Adel. Adel sungguh berubah."Apa yang kamu katakan!" Seru Mita, ia bergerak sehingga berdiri tepat di depan Adel.Adel melirik ke arah Mita namun ia sudah tidak ada tenaga untuk mengulangi ucapannya, ia hanya terdiam dengan sayu membiarkan Mita membombardir dirinya dengan kata-kata kasar, ia hanya pasrah.Mita melihat Adel begitu rapuh, dan itu karena perbuatannya. Mita berdecak dalam hati."Ok, sejam yang lalu aku sungguh membencimu, aku ingin kamu merasakan apa yang Nadya rasakan, aku juga tidak mau punya Kakak ipar seperti dirimu, namun aku bukan orang jahat." Mita berhenti melihat kedua bola mata Adel membesar ketika mendengar Kakak ipar dari ucapannya. Mita lalu duduk di samping Adel seraya meraih kedua tangan Adel yang terasa dingin, ia tahu apa yang dipikirkan Adel."Itu benar, aku belum menerimamu se
Adel terjatuh di atas lantai rumahnya. Pandangannya tidak fokus. Baik Mita maupun Nadya terkejut. Nadya segera memegang pundak Adel. Namun Mita hanya terdiam, ia tidak percaya Adel begitu shock mendengar ucapannya. Kali ini ia menyadari sesuatu, namun sikap keras kepalanya berusaha tidak menerima perasaan yang tiba tiba muncul. Air mata turun ke pipi Adel. Apakah semua orang sudah tidak percaya padanya. Ayah ibunya, dan sekarang Mita. Apa begitu jahatnya ia selama ini. Sungguh ia hanya ingin bahagia. Ia memang salah dengan melakukan segala cara untuk mendapatkan apa yang ia inginkan sehingga terkadang ia tidak memikirkan perasaan orang lain. "Mita, aku tidak pantas untuk Panji." Adel menghapus air matanya seraya berpaling ketika pelayannya datang membawa minuman dan makanan untuk Mita dan Nadya, namun ia masih duduk di lantai. Sungguh lututnya terasa lemas, ia tidak mampu berdiri. Pelayannya sekilas melirik Adel sebelum meletakkan minuman dan makanan itu di atas meja, tampak kelihat
Mita menghentikan mobilnya ketika mobil Panji masuk ke sebuah gerbang tinggi, tampak terlihat rumah Adel yang besar dan mewah. Ada beberapa pohon di depannya. Mita dan Nadya menunggu Panji keluar. Entah sampai jam berapa Panji di rumah Adel. Mita dan Nadya tidak mengobrol sepatah kata pun, bahkan tatapan Mita tidak berkedip melihat ke arah gerbang rumah Adel. Namun Nadya berusaha mengajak Mita untuk mengobrol, dari pada hanya berdiam diri sambil mengawasi pagar rumah Adel. Mita akhirnya mau mengobrol, ia terlihat santai. Mereka menertawakan perut mereka yang bersamaan berbunyi keroncongan. Saat keluar tadi mereka belum sarapan bahkan mengunyah sebuah makanan saja tidak. Hampir satu jam mereka mengobrol, tiba tiba pagar Adel terbuka, mobil Panji keluar dengan mulus dan menuju arah yang tadi dilaluinya sehingga melewati mobil yang dinaiki Mita dan Nadya. Kedua mata Mita langsung sigap, ia segera menghidupkan mobil dan dengan cepat menuju pagar yang masih terbuka itu. Mita berniat untuk
Mita berpacu dengan kecepatan tinggi, ia melewati gerbang tinggi lalu belok dengan mulus ke arah jalan tanpa menghentikan kecepatannya. Nadya berpaling ke belakang. Gerbang tinggi rumah Ethan menutup secara otomatis. Dalam hati ia tahu ia mengingkari janjinya untuk kembali sebelum pelayan rumah Ethan datang ke kamarnya. Nadya berpaling ke arah Mita. Mita belum mengatakan sepatah katapun, ia tidak sabar ingin tahu apa yang terjadi."Apakah Ethan tahu?" tanya Nadya mengabaikan ucapan Mita tadi."Tidak," jawab Mita singkat, pandangannya tetap lurus ke depan. Dari kejauhan Mita melihat mobil yang dikendarai Kakaknya, ia segera mengurangi kecepatannya."Tapi Ethan tahu kemana Kakakku pergi."Nadya tampak terkejut, ia penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Namun sebelum ia bertanya, Mita lebih dulu bertanya padanya."Apa yang kamu lakukan di luar pagi pagi, Nad?" Nadya tidak langsung menjawab, ia tahu Mita pasti menanyakan soal itu, namun ia akan terus terang. Nadya berpaling ke arah jalan
Nadya terbangun jam 5 pagi, tenggorokkannya terasa kering. Ia terbatuk seraya membuka bedcover dan melangkah ke arah sofa. Ia duduk di atas sofa lalu menuangkan air mineral ke dalam gelas berkaki, bekas tadi malam ia minum bersama Ethan. Air mineral itu sangat segar melewati tenggorokkannya. Nadya meneguk air itu hingga habis, kedua matanya melirik ke arah kaca lebar yang menuju balkon. Kaca itu tidak ditutup gorden karena terbuat dari kaca riben hingga suasana malam tampak terlihat jelas dari dalam. Ethan yang memberitahu bahwa semua kaca di sini tidak memakai gorden ketika Nadya akan menutup jendela. Jam segini di Brisbane masih gelap, sama seperti di Indonesia. Waktu di Brisbane sama seperti waktu di Indonesia. Nadya tahu karena melihat jam ketika di pesawat, dan jam di samping tempat tidurnya. Nadya menaruh gelas itu kembali di atas meja, ia melihat gelas Ethan di sana. Di atas meja itu masih ada gelas Ethan dan gelasnya, juga teko bening berisi air yang sengaja ditaruh untuk keb







