Share

BAB 3

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-11 07:58:52

“Nah, begitu ‘kan manis.” Inggit tersenyum lega ketika Tera akhirnya setuju menandatangani kesepakatan tanpa banyak protes. “Setidaknya, kalau tidak good looking, harusnya smart thinking. Kalau begini ‘kan sama-sama enak.”

Tera hancur. Hatinya menjerit pilu ketika menyetujui kesepakatan yang disodorkan untuknya. Namun, dia tak berdaya. Suma dan Inggit membuatnya kehilangan semua dalam sekejap. 

“Sudah tanda tangan di atas materai, urusan selesai. Kamu boleh keluar. Aku dan Suma sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah. Kami bukan orang jahat. Tidak akan menelantarkanmu kalau memang bisa diajak bekerja sama.”

Pandangan Inggit mengedar, mencari sesuatu. Dia tersenyum mendapati koper merah teronggok di dekat koper hitam Suma yang sudah terbuka dan isi terburai berantakan.

“Ah, di sini.” Inggit buru-buru menyambar koper tersebut dan menyerahkannya pada Tera. “Oh ya, ini cardlock kamar sebelah. Selamat malam, Tera.” 

Didorongnya pelan koper tersebut dan membiarkan wadah penyimpanan pakaian itu terjatuh ke lantai.

“Ooops, tidak sengaja. Aku bantu bawakan sampai ke depan saja. Gaunmu terlalu panjang, pasti kesulitan berjalan.” Inggit menyeringai licik. 

Semua yang diinginkan sudah didapatkan. Tera telah menandatangani kesepakatan walau dengan sedikit drama. Berjalan menuju pintu sembari menyeret koper, Inggit melempar tas penyimpanan pakaian itu dengan kasar ke luar kamar. Tersenyum manis, dia berdiri seraya menahan pintu agar tetap terbuka.

“Selamat malam, Tera. Mimpi indah.” 

Inggit melambaikan tangan sesaat berhasil mengusir Tera dari dalam kamar. Ditutupnya kembali pintu tersebut dengan kencang setelah mendorong pengantin wanita tersebut.

“Menyusahkan saja. Kupikir dia mudah diatur. Ternyata ....”

Suara pintu kamar mandi terbuka, Suma muncul dengan wajah segar. Senyum semringah, dia berbinar menatap Inggit.

“Kamu berhasil membuatnya menyetujui kesepakatan?” tanya Suma. Kedua alisnya bertaut.

“Aku juga berhasil menendangnya keluar dari sini, Beb.” Kerling mata Inggit menggoda. Berlari, dia menghambur memeluk Suma yang tampak tampan menggoda malam itu.

“Sweetheart.” Suma terkekeh. Memeluk erat pinggang ramping Inggit dan melabuhkan kecup di bibir tipis wanita tersebut. “I love you,” ucapnya di sela ciuman.

🌺🌺🌺

Setelah menahan sakit hati dan kecewanya dengan berpura-pura tegar, air mata Tera tumpah. Duduk di tepi ranjang, dia menikmati lukanya seorang diri. Bayangan Suma dan Inggit menyapanya silih berganti.

“Kenapa mereka harus melakukan ini padaku? Apa salahku?” Tera terisak. Poin-poin yang disepakatinya dalam kontrak pernikahan beterbangan di dalam benak. Ingatan berputar kembali pada kejadian sebulan silam.

Siang itu, Tera sedang berada di kantor saat Suma menghubungi. Entah apa yang membuat teman masa kecilnya itu mendadak menelepon dan mengajak bertemu. Saat masih belia, mereka memang teman bermain. Tinggal bertetangga membuat keduanya punya banyak kesempatan bersama. 

Namun, hal itu tak berlaku saat keduanya menginjak remaja. Persahabatan mereka terputus seiring waktu berjalan. Suma sibuk dengan sekolah dan para gadis yang berlomba-lomba mendekat. Wajah tergolong tampan, anak satu-satunya dari seorang taipan, membuat pria bernama Givendra Rakasuma Wiratama Putra tersebut jadi incaran para remaja putri kala SMA.

“Menikahlah denganku, Tera.” Lamaran itu terdengar ketus.

“Hah! A … aku, Sum?” Gadis berkacamata tebal dengan rambut panjang tanpa model itu terkejut.

“Memangnya ada siapa lagi di sini?” Suma memasang tampang asam kecut.

Tera terdiam. Wajahnya berubah pucat saat Suma mengangguk. Tak lama, bola mata naik ke atas, dia jatuh pingsan sebelum memberi jawaban.

Mendesah pelan, wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu meringkuk sendiri di atas ranjang. Dibiarkan pendingin ruangan yang menyembur menggigit hingga ke tulang, Tera tak peduli lagi. Saat ini, dia ingin merutuki diri sendiri, meratapi nasibnya yang buruk. Dikira hari ini akan jadi titik awal kebahagiaan. Ternyata, sebaliknya. Awal mula sakit hati dan kecewa.

“Aku tidak boleh lemah.” Tera mengusap air matanya. “Siapa lagi yang akan menolongku kalau bukan diri sendiri? Aku tidak akan membuat diriku tertindas dan diinjak semena-mena.” 

Mengusap kasar air mata, sebuah tekad muncul dan meletupkan semangatnya. Dia tidak akan jadi pribadi yang lemah. 

“Suma, kamu berutang penjelasan padaku. Aku harus tahu, kenapa dia memilihku untuk dijadikan korban.” Tangan Tera terkepal. “Aku Mahana Terrania Adira Wijaya. Boleh dianggap lemah, tapi tak akan menyerah begitu saja.”

Bayangan Inggit dan sikap buruk wanita tersebut muncul kembali. Dia ingat perih dan panas di pipi karena tamparan sosok cantik tak punya hati itu. Ditambah kekasaran yang didapatkannya beberapa saat lalu, bara di dada makin menggelora.

“Oke. Kamu boleh menang sekarang, Inggit. Tapi, aku tidak akan membuatmu tersenyum lebih lama. Tidak apa-apa. Bukannya pahlawan memang selalu kalah di depan dan penjahat tersingkir di belakang. Baiklah, kamu boleh tertawa lebar sekarang. Tapi, kupastikan akan membuatmu menangis belakangan. Tidak lama. Aku hanya membutuhkan sedikit waktu untuk membuatmu sadar di mana posisimu.”

Tekad dan semangat itu datang di saat tengah terpuruk. Ada sesuatu yang ingin diraih dan dibuktikan pada semua orang. Hinaan, cacian, dan makian akan jadi pecut yang membuatnya tak pernah berhenti berjuang.

“Aku memang cupu, culun, and whatever lah. Tapi, wanita bodoh ini tidak akan selamanya diam saat diperlakukan semena-mena. Oke, kontrak setahun. Tidak masalah. Tapi, aku pastikan Suma yang akan membatalkan semua kesepakatan dalam 365 hari. Akan kubuat dia melihatku. Hanya melihatku dan melupakanmu. Dia sendiri yang akan datang dan mengemis cinta padaku. Aku pastikan itu.”

Terlelap bersama mimpinya, Tera bisa menyunggingkan senyuman dalam tidur. Pipi wanita itu berkilat basah oleh air mata. Napas pun terdengar pelan dan teratur. Dia bangkit setelah menemukan alasan untuk melanjutkan hidup karena dihancurkan dalam semalam. Semua akan sirna saat hari pembalasan tiba dan luka akan berganti jadi bahagia. Air mata pun bertukar dengan tawa.

🌺🌺🌺

Terlalu lelah, Tera baru terbangun ketika suara gedoran pintu terdengar membabi-buta. Di tengah kesadaran yang belum mengumpul sempurna, dia menangkap suara Suma.

“Tera, bangun! Cepat, kita sudah tidak punya banyak waktu.” 

“Suma? Ada apa pagi-pagi mengacau di kamarku. Semalam dia mengusirku keluar kamar, sekarang malah mengusik tidurku.”

Menyeret kakinya melangkah, Tera berjalan sempoyongan sembari meraba-raba. Kontak lens yang menempel di matanya sudah dilepaskan sejak semalam, kacamata minusnya pun belum ditemukan. 

“Ada apa?” tanya wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu sesaat membuka pintu. Bersandar di daun pintu, dia menguap berulang kali.

“Ayo, ikut aku, Ra.”

Tera tersentak ketika pergelangannya dicekal dengan kasar. Belum berdiri seimbang, tubuhnya sudah diseret mengikuti langkah Suma.

“Ada apa? Kenapa mengganggu tidurku?” Tera protes.

“Mama ke sini. Sudah di lobi dan bersiap naik,” jelas Suma, cepat.

“Hah!” Tera mencelang.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 65

    “Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor

  • ISTRI 365 HARI   BAB 64

    “Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p

  • ISTRI 365 HARI   BAB 63

    “Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s

  • ISTRI 365 HARI   BAB 62

    Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut

  • ISTRI 365 HARI   BAB 61

    “Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air

  • ISTRI 365 HARI   BAB 60B

    Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status