Share

BAB 2

Author: Casanova
last update publish date: 2026-09-11 07:58:22

“Inggit.” 

Tangan Tera terkepal. Dipindainya penampakan pria dan wanita yang saling memeluk pinggang di depan mata. Dua orang tak tahu malu tersebut seperti sengaja memamerkan kemesraan. 

“Kenapa?” Wanita cantik itu mengangkat dagunya dengan angkuh. “Mau cari pembela agar aku dimarahi lagi seperti dulu?” Inggit tergelak pelan lalu menggeleng. 

Di titik ini, Tera merutuki kebodohannya. Cinta yang disimpannya selama bertahun-tahun dalam diam menjadi bom waktu yang menghancurkan dalam sekali ledakan. Lamaran Suma yang dikira akan mengantar ke gerbang kebahagiaan, ternyata membawanya ke jurang kehancuran. 

Perasaan bahagia karena akhirnya resmi menjadi istri sah Suma berganti nestapa dalam sekali kedipan mata. Ditatapnya lekat-lekat Suma dan Inggit yang begitu kompak. 

“Aku bukan Inggit yang dulu, Tera Sayang. Kalau dulu aku bukan sainganmu, sekarang ... kamu yang bukan sainganku.” 

Suma ragu. Mengubah posisi berdiri, dipindainya sang kekasih dari kepala sampai ke ujung kaki.

“Ayolah, Beb. Kamu tidak percaya padaku?” Inggit mencebik.

“Jangan membuat masalah, Sweetheart. Aku tidak mau sampai orang tuaku tahu masalah ini.” Suma mengingatkan. Ditatapnya Inggit lalu berpindah pada Tera yang terlihat menyedihkan saat disudutkan.

“Aku tidak akan membuat masalah, Beb. Tenang saja. Aku juga paham aturan dan undang-undang. Tidak mungkin melakukan kekerasan pada wanita cupu ini. Bukan sainganku.” Inggit tergelak. “Sudah, sana! Bersih-bersih. Pasti capek seharian ini main kawin-kawinan. Biar aku yang menyelesaikan urusanmu dengannya, Beb.”

Kedua alis Inggit bertaut. Dia tergelak saat Suma mengusap pucuk kepalanya dengan mesra lalu melabuhkan kecupan di sana. Saat semua itu terjadi, sepasang mata bergerak ke arah Tera. Hatinya mendadak bahagia ketika mendapati binar kecewa di wajah wanita tersebut.

“Jangan macam-macam. Jangan sampai membuat masalah.” Suma mengingatkan. Garis wajah yang semula mengeras, kini berubah semringah. Kehadiran Inggit mengusir pergi kekesalan akan kehadiran Tera.

“Tidak, Beb. Tenang saja.” Inggit mengedipkan mata. “Sepertinya .. kamu takut sekali aku menyakiti istrimu,” sindirnya.

“Bukan takut. Aku hanya tak mau sampai orang tuaku mengamuk. Apalagi Mama, dia sayang sekali dengan gadis culun ini.” 

Tera tersentak. Sejak tadi direndahkan Inggit, dia hanya bisa menerima sembari mengelus dada. Namun, kini dia mendengar sendiri ejekan itu dari Suma. Pria yang belakangan memperlakukannya dengan sangat manis.

“Sudah dulu, Beb. Aku lelah. Pastikan dia tanda tangan dan jangan membuat masalah.” Suma menyambar handuk dari dalam kopernya yang terburai berantakan lalu melangkah menuju kamar mandi.

Sepeninggal Suma, kamar pengantin yang terletak di lantai tertinggi hotel bintang lima di pusat kota tersebut kembali hening. Inggit menatap tajam Tera yang terlihat berbeda dalam balutan gaun pengantin indah dan jelas mahal.

“Kamu pikir ... kamu beruntung, ‘kan?” Inggit maju beberapa langkah dan kini berdiri di hadapan Tera. “Kenapa diam?” tanyanya, mendorong kasar pundak lawan bicaranya. Ada kesal tertahan, ada juga kecewa yang tersirat dalam ucapan. Bahkan, ada dendam tertangkap di tiap intonasi Inggit.

Terdorong ke belakang, Tera berusaha untuk tegar. Dia tak akan mengalah setelah diperlakukan semena-mena. 

“Kenapa? Mau mewek?” Inggit terkekeh mendapati mata Tera yang berkaca-kaca.

Pengantin wanita itu menggeleng. 

“Tanda tangani dan keluar dari kamar ini. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah.”

“Hah!” Tera terkejut. 

“Kenapa? Kamu pikir akan menghabiskan malam yang panjang dengan Suma. Jangan bermimpi. Suma tidak akan menyukai wanita sepertimu. Seleranya tinggi dan berkelas. Tanda tangani dan keluar dari sini.”

“Aku dan Suma sudah menikah. Kalau ada yang harus keluar, itu kamu. Bukan aku, Inggit.” Tera bersikukuh.

“Kurang ajar! Jadi, kamu mau bermain-main denganku?” Inggit mendelik.

Tera menggeleng. “Aku istri sah, kamu siapa berhak mengatur-aturku. Kalau ada yang harus pergi itu kamu, bukan a ....”

Tamparan melayang mengenai pipi Tera dan membuat wanita itu terdiam. Perih dan panas menjalar di sebelah wajahnya. Namun, dari semua, hatinya yang paling sakit. Dia tak hanya dibohongi Suma, tetapi juga direndahkan Inggit. Keduanya menginjak-injak harga dirinya dengan kompak.

Tera mencelang.

“Kenapa? Tidak suka?” Inggit masih menantang. “Tanda tangani kesepakatan itu dan aku tidak akan mempersulitmu.” 

Meremas ujung kertas dengan kencang, Tera menahan amarahnya setelah diperlakukan dengan kasar. Dia bukan pasrah, hanya saja saat ini posisinya lemah. Dua orang bekerja sama dan menghancurkannya hingga tak bersisa.

“BACA! JANGAN PLANGA-PLONGO TIDAK JELAS!” Suara Inggit meninggi. Dia kesal dengan sikap Tera yang menguji kesabaran sejak tadi.

Tera menelan ludah. Hancur sudah semua mimpinya. Malam pengantin yang harusnya bak surga berubah jadi neraka. Dia seperti terjerumus dalam permainan dua orang licik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Suma yang tiba-tiba melamar dan bersikap manis ternyata mencuranginya.

“Baca! Jangan buang-buang waktu.” Inggit menyentak dengan kata-katanya yang kasar.

Tera menurut. Diangkatnya kertas kesepakatan dengan tangan bergetar. Kalau sebelumnya wanita cantik itu terluka, berbaris-baris kata di dalam perjanjian hitam di atas putih itu membuatnya hancur berkeping-keping. Ada namanya dan Suma di bagian teratas dengan data-data penting lain menyertai. 

“Kontrak pernikahan. Surat kesepakatan ini berlaku selama setahun.” Tera memejamkan mata lalu mendesah. “Hanya berpura-pura sebagai pasangan suami istri di hadapan orang tua dan orang-orang. Harus terlihat baik-baik saja dan bahagia selama terikat kontrak pernikahan.”

“Ya. Kalau keadaan darurat dan mungkin harus bersama, tetapi tetap tidak ada kontak fisik. Setelah masa berlaku selesai, tidak akan ada perpanjangan kontrak. Salah satu harus mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan.” Inggit menambahi. “Jadi, kalau kamu memang punya harga diri, pasti akan menggugat lebih dulu. Karena kalau memang tidak, Suma yang akan melakukannya.”

Tera diam. Dia masih terpukul membaca isi kontrak pernikahan yang menyudutkannya sebagai istri sah.

“Tanda tangan! Cepat! Aku sudah mengantuk. Ranjang pengantin itu terlihat lebih empuk dibandingkan ranjang di kamar sebelah.” Inggit terkekeh.

“Hah!” Tera lagi-lagi terkejut. “Ka ... kamu mau tidur di sini?”

Inggit mengangguk.

“De ... dengan Suma?” tanya Tera dengan polosnya.

“Kamu pikir tidur denganmu? Atau kita bertiga di dalam sini? Ya, tidak mungkinlah.” Inggit menegaskan.

“Ta ... tapi ....”

“Jangan kebanyakan tapi, Tera. Sudah, tanda tangani.”

Inggit berjalan ke arah nakas. Disambarnya pena hitam dengan hiasan keemasan dari atas sana. Mendekati Tera, disodorkan pada wanita yang tampak kacau tersebut. 

“Tanda tangani dan urusan selesai!”

Tera menggeleng. “Kamu dan Suma bukan siapa-siapa. Bagaimana mungkin kalian bersama?”

“Baca poin terakhir dan kamu akan tahu kalau aku dan Suma berhak bertemu kapan saja, di mana saja. Hal itu juga berlaku untukmu, Tera. Suma tidak akan peduli denganmu dan mungkin laki-laki yang mendekatimu. Kalaupun itu ada. Aku tidak yakin ada yang mau dengan wanita kampungan sepertimu. Penampakan saja, sudah ....” Inggit tergelak. Ibu jarinya terarah ke bawah.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Anna Waliana
suna tera ...️...️
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ISTRI 365 HARI   BAB 65

    “Ini semua karenamu, Nggit!” tuduh Suma, mengalihkan pembicaraan.Inggit mencelang. Belum hilang sakitnya cekalan di pergelangan, kini kekasihnya kembali melontarkan tuduhan yang membuat hati terasa seperti dicincang.“Beb!” Sapaan sayang itu diucapkan dengan setengah berteriak dan membentak. Kesabaran Inggit yang tinggal segaris tipis hampir habis. Dipindainya laki-laki gagah yang tengah membuang muka. Tak lagi mau memandangnya dengan sorot penuh damba.Tatapan Suma tak seteduh dulu, kata-kata pun tak lagi menenteramkan jiwa. Mata elang pria itu menciptakan jarak yang akhir-akhir terasa begitu jauh jadi makin tak tersentuh. Semua berubah sejak pernikahan itu ada. Di dalam hidup sang kekasih tak hanya ada namanya, tetapi juga terukir sebaris aksara bertuliskan Tera.“Kalau kamu bisa sedikit lebih sabar, tentunya tidak akan membuat semuanya kacau. Harusnya rencana kita sempurna. Setelah kontrak selesai, aku bercerai dan kita tinggal datang pada orang tuaku memohon restu. Aku yang seor

  • ISTRI 365 HARI   BAB 64

    “Tidak perlu minta Suma memilih. Putriku dan dirimu itu beda kelas. Jadi, jelas bukan sesuatu yang bisa disandingkan bersama.” Papa Mahaka menegaskan. Kehadiran Inggit memancing amarahnya. Kesabaran yang hanya seperti seutas benang tipis diuji berulang kali. “Kalau ada cermin, tolong berkaca sebelum membandingkan diri dengan orang lain. Kalau memang tidak ada, aku akan mengirimnya untukmu.” Papa Mahaka mengomel bak sepur. Sederet kata-kata meluncur lancar seperti tak perlu dipikir dan saring lebih dulu.Tatapan tajamnya berpindah ke arah Suma. Dia menggeleng tak terima ketika pria muda yang terus menyatakan diri sebagai seorang suami itu tengah menggenggam tangan putrinya.“Lepaskan Tera dan jangan pernah menginjakkan kakimu di rumahku lagi!” tegas Papa Mahaka. “Dan, terima kasih sudah memuluskan niatku. Dengan adanya kontrak pernikahan akan makin memuluskan niatku. Pernikahan ini sejak awal sudah tidak benar. Jadi memang sebaiknya diakhiri. Dosa namanya kalau berani mempermainkan p

  • ISTRI 365 HARI   BAB 63

    “Beb?” Koper yang pegangannya sempat digenggam Inggit terjatuh. Kata-kata Suma terus terngiang-ngiang. Janji yang sempat dikumandangkan pria muda itu padanya seperti bertolak belakang dengan situasi sekarang. “Bagaimana bisa?” cicit Inggit, tak terimaBerdiri beberapa meter dari posisi Suma yang tengah berdebat dengan sang mertua, dia bisa mendengar jelas permohonan kekasihnya itu agar tidak berpisah dari Tera. Seperti petir menyambar, tubuhnya persis mengenai sasaran.“Sudah, Nggit. Jangan ikut campur.” Bu Rosmi mengangkat koper yang terguling di dekat kaki anaknya. “Itu urusan para majikan. Kita hanya pelayan, jadi mendingan tutup mata dan telinga. Anggap tidak mendengar, tidak melihat.”Inggit mengentakkan kaki ke bumi berulang kali. Dia tak terima. Ucapan sang ibu takbisa dianggap angin lalu.“Ibu saja kali, aku tidak. Suma itu masih kekasihku. Mana mungkin ....” Belum hilang kekagetannya, suara langkah kaki terdengar jelas dari balik punggung. Inggit berbalik dan makin kecewa s

  • ISTRI 365 HARI   BAB 62

    Beberapa anak kunci mengantung di lubang pintu. Berguncang dan gemerincing ketika saling berbenturan satu sama lain. Ada sosok bermata merah tengah meradang dengan kedua tangan bertekuk di pinggang. Tatapan tajam tertuju ke arah ranjang, memindai sepasang anak manusia yang salin mendekap di balik selimut.“RA!” Kalau panggilan sebelumnya lembut dan menentramkan, kali ini berbeda. Papa Mahaka berteriak kencang. Bukan hanya mengagetkan Suma dan Tera, tetapi juga seisi rumah. Amarah itu nyata, murka itu pun fakta.“Pa … pa?” Suma yang bangun lebih dulu tampak terkejut. Belum sepenuhnya sadar dengan keadaan di sekitar, kepingan ingatan masih berantakan. Pandangan kosongnya menyapu seisi ruangan. Asing. Namun, pria tua yang sudah rapi dengan setelah kerja itu sangat familier. Apalagi dalam posisi sedang murka seperti saat ini.“BAGAIMANA KAMU BISA ADA DI SINI?” Suara Papa Mahaka menggelegar. Menanjak, seiring dengan emosi kian memuncak.“Pa.” Suma bingung. Menggaruk-garuk kepala, rambut

  • ISTRI 365 HARI   BAB 61

    “Nak, kalau kita banyak uang, banyak-banyak berbuat baik. Tapi, kalau kita tidak punya uang, lakukan yang terbaik. Berusahalah.” Bu Rosmi masih duduk di tepi tempat tidur sambil menatap sedih ke arah putrinya yang wara-wiri di depan mata membenahi barang-barang pribadi yang akan dibawa keluar dari apartemen. Kalau boleh jujur, perasaannya juga sedih. Dia ikut terluka melihat anaknya diperlakukan seperti sampah. Cinta memang sulit ditebak. Inggit memilih melabuhkan cinta pada Suma. Namun, masalah ini bukan restu semata. Sifat sang putri semata wayang takbisa dikatakan membanggakan. Sebagai ibu yang melahirkan, dia juga malu.“Ibu bisa diam, ‘kan? Kalau tidak bisa bantu, setidaknya tutup mulut. Paling tidak kerjaanku tak terhambat.” Inggit kembali berkata kasar. Membentak ibunya sudah jadi makanan sehari-hari. “Ini aku sedang berusaha jadi lebih baik. Tidak begini-begini saja hidup kita. Mau sampai kapan Ibu jadi babu?” Gadis cantik itu mulai sengit.“Nggit.” Ibu Rosmi menitikkan air

  • ISTRI 365 HARI   BAB 60B

    Inggit tengah merengut sembari memasukkan barang-barang pribadinya ke dalam tas. Terus menggerutu, dia tak menyadari kehadiran ibunya yang sudah membuka pintu kamar. “Apa maunya? Kenapa dia lama sekali meninggalnya. Sudah tua juga. Harusnya perusahaan sudah menjadi milik Suma.”Tak terima mendengar ucapaan buruk sang putri, Bu Rosmi mendelik.“Kenapa menyumpah, Nggit.”Suara Bu Rosmi menyela. “Selama ini Pak Tama dan Ibu Caca sudah sangat baik pada kita.” Berjalan mendekat, pandangan wanita tua itu mengedar ke sekeliling kamar. Ruangan luas itu memang terbilang mewah. Sangat jauh dibandingkan dengan kamar sepetak di belakang rumah majikannya yang menjadi tempat tinggal selama bertahun-tahun.“Ibu?” Inggit terkejut. Tas branded di tangannya terlepas dan jatuh ke lantai. Sontak menarik perhatian.Bu Rosmi bermaksud memungutnya saat teriakan Inggit memekik telinga. “Jangan disentuh, Bu. Itu tas mahal. Tangan Ibu itu kotor! Gak pantes pegang barang mahal!"Urung, wanita tua itu mengge

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status