LOGIN“Inggit.”
Tangan Tera terkepal. Dipindainya penampakan pria dan wanita yang saling memeluk pinggang di depan mata. Dua orang tak tahu malu tersebut seperti sengaja memamerkan kemesraan. “Kenapa?” Wanita cantik itu mengangkat dagunya dengan angkuh. “Mau cari pembela agar aku dimarahi lagi seperti dulu?” Inggit tergelak pelan lalu menggeleng. Di titik ini, Tera merutuki kebodohannya. Cinta yang disimpannya selama bertahun-tahun dalam diam menjadi bom waktu yang menghancurkan dalam sekali ledakan. Lamaran Suma yang dikira akan mengantar ke gerbang kebahagiaan, ternyata membawanya ke jurang kehancuran. Perasaan bahagia karena akhirnya resmi menjadi istri sah Suma berganti nestapa dalam sekali kedipan mata. Ditatapnya lekat-lekat Suma dan Inggit yang begitu kompak. “Aku bukan Inggit yang dulu, Tera Sayang. Kalau dulu aku bukan sainganmu, sekarang ... kamu yang bukan sainganku.” Suma ragu. Mengubah posisi berdiri, dipindainya sang kekasih dari kepala sampai ke ujung kaki. “Ayolah, Beb. Kamu tidak percaya padaku?” Inggit mencebik. “Jangan membuat masalah, Sweetheart. Aku tidak mau sampai orang tuaku tahu masalah ini.” Suma mengingatkan. Ditatapnya Inggit lalu berpindah pada Tera yang terlihat menyedihkan saat disudutkan. “Aku tidak akan membuat masalah, Beb. Tenang saja. Aku juga paham aturan dan undang-undang. Tidak mungkin melakukan kekerasan pada wanita cupu ini. Bukan sainganku.” Inggit tergelak. “Sudah, sana! Bersih-bersih. Pasti capek seharian ini main kawin-kawinan. Biar aku yang menyelesaikan urusanmu dengannya, Beb.” Kedua alis Inggit bertaut. Dia tergelak saat Suma mengusap pucuk kepalanya dengan mesra lalu melabuhkan kecupan di sana. Saat semua itu terjadi, sepasang mata bergerak ke arah Tera. Hatinya mendadak bahagia ketika mendapati binar kecewa di wajah wanita tersebut. “Jangan macam-macam. Jangan sampai membuat masalah.” Suma mengingatkan. Garis wajah yang semula mengeras, kini berubah semringah. Kehadiran Inggit mengusir pergi kekesalan akan kehadiran Tera. “Tidak, Beb. Tenang saja.” Inggit mengedipkan mata. “Sepertinya .. kamu takut sekali aku menyakiti istrimu,” sindirnya. “Bukan takut. Aku hanya tak mau sampai orang tuaku mengamuk. Apalagi Mama, dia sayang sekali dengan gadis culun ini.” Tera tersentak. Sejak tadi direndahkan Inggit, dia hanya bisa menerima sembari mengelus dada. Namun, kini dia mendengar sendiri ejekan itu dari Suma. Pria yang belakangan memperlakukannya dengan sangat manis. “Sudah dulu, Beb. Aku lelah. Pastikan dia tanda tangan dan jangan membuat masalah.” Suma menyambar handuk dari dalam kopernya yang terburai berantakan lalu melangkah menuju kamar mandi. Sepeninggal Suma, kamar pengantin yang terletak di lantai tertinggi hotel bintang lima di pusat kota tersebut kembali hening. Inggit menatap tajam Tera yang terlihat berbeda dalam balutan gaun pengantin indah dan jelas mahal. “Kamu pikir ... kamu beruntung, ‘kan?” Inggit maju beberapa langkah dan kini berdiri di hadapan Tera. “Kenapa diam?” tanyanya, mendorong kasar pundak lawan bicaranya. Ada kesal tertahan, ada juga kecewa yang tersirat dalam ucapan. Bahkan, ada dendam tertangkap di tiap intonasi Inggit. Terdorong ke belakang, Tera berusaha untuk tegar. Dia tak akan mengalah setelah diperlakukan semena-mena. “Kenapa? Mau mewek?” Inggit terkekeh mendapati mata Tera yang berkaca-kaca. Pengantin wanita itu menggeleng. “Tanda tangani dan keluar dari kamar ini. Aku sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah.” “Hah!” Tera terkejut. “Kenapa? Kamu pikir akan menghabiskan malam yang panjang dengan Suma. Jangan bermimpi. Suma tidak akan menyukai wanita sepertimu. Seleranya tinggi dan berkelas. Tanda tangani dan keluar dari sini.” “Aku dan Suma sudah menikah. Kalau ada yang harus keluar, itu kamu. Bukan aku, Inggit.” Tera bersikukuh. “Kurang ajar! Jadi, kamu mau bermain-main denganku?” Inggit mendelik. Tera menggeleng. “Aku istri sah, kamu siapa berhak mengatur-aturku. Kalau ada yang harus pergi itu kamu, bukan a ....” Tamparan melayang mengenai pipi Tera dan membuat wanita itu terdiam. Perih dan panas menjalar di sebelah wajahnya. Namun, dari semua, hatinya yang paling sakit. Dia tak hanya dibohongi Suma, tetapi juga direndahkan Inggit. Keduanya menginjak-injak harga dirinya dengan kompak. Tera mencelang. “Kenapa? Tidak suka?” Inggit masih menantang. “Tanda tangani kesepakatan itu dan aku tidak akan mempersulitmu.” Meremas ujung kertas dengan kencang, Tera menahan amarahnya setelah diperlakukan dengan kasar. Dia bukan pasrah, hanya saja saat ini posisinya lemah. Dua orang bekerja sama dan menghancurkannya hingga tak bersisa. “BACA! JANGAN PLANGA-PLONGO TIDAK JELAS!” Suara Inggit meninggi. Dia kesal dengan sikap Tera yang menguji kesabaran sejak tadi. Tera menelan ludah. Hancur sudah semua mimpinya. Malam pengantin yang harusnya bak surga berubah jadi neraka. Dia seperti terjerumus dalam permainan dua orang licik yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Suma yang tiba-tiba melamar dan bersikap manis ternyata mencuranginya. “Baca! Jangan buang-buang waktu.” Inggit menyentak dengan kata-katanya yang kasar. Tera menurut. Diangkatnya kertas kesepakatan dengan tangan bergetar. Kalau sebelumnya wanita cantik itu terluka, berbaris-baris kata di dalam perjanjian hitam di atas putih itu membuatnya hancur berkeping-keping. Ada namanya dan Suma di bagian teratas dengan data-data penting lain menyertai. “Kontrak pernikahan. Surat kesepakatan ini berlaku selama setahun.” Tera memejamkan mata lalu mendesah. “Hanya berpura-pura sebagai pasangan suami istri di hadapan orang tua dan orang-orang. Harus terlihat baik-baik saja dan bahagia selama terikat kontrak pernikahan.” “Ya. Kalau keadaan darurat dan mungkin harus bersama, tetapi tetap tidak ada kontak fisik. Setelah masa berlaku selesai, tidak akan ada perpanjangan kontrak. Salah satu harus mendaftarkan gugatan perceraian ke pengadilan.” Inggit menambahi. “Jadi, kalau kamu memang punya harga diri, pasti akan menggugat lebih dulu. Karena kalau memang tidak, Suma yang akan melakukannya.” Tera diam. Dia masih terpukul membaca isi kontrak pernikahan yang menyudutkannya sebagai istri sah. “Tanda tangan! Cepat! Aku sudah mengantuk. Ranjang pengantin itu terlihat lebih empuk dibandingkan ranjang di kamar sebelah.” Inggit terkekeh. “Hah!” Tera lagi-lagi terkejut. “Ka ... kamu mau tidur di sini?” Inggit mengangguk. “De ... dengan Suma?” tanya Tera dengan polosnya. “Kamu pikir tidur denganmu? Atau kita bertiga di dalam sini? Ya, tidak mungkinlah.” Inggit menegaskan. “Ta ... tapi ....” “Jangan kebanyakan tapi, Tera. Sudah, tanda tangani.” Inggit berjalan ke arah nakas. Disambarnya pena hitam dengan hiasan keemasan dari atas sana. Mendekati Tera, disodorkan pada wanita yang tampak kacau tersebut. “Tanda tangani dan urusan selesai!” Tera menggeleng. “Kamu dan Suma bukan siapa-siapa. Bagaimana mungkin kalian bersama?” “Baca poin terakhir dan kamu akan tahu kalau aku dan Suma berhak bertemu kapan saja, di mana saja. Hal itu juga berlaku untukmu, Tera. Suma tidak akan peduli denganmu dan mungkin laki-laki yang mendekatimu. Kalaupun itu ada. Aku tidak yakin ada yang mau dengan wanita kampungan sepertimu. Penampakan saja, sudah ....” Inggit tergelak. Ibu jarinya terarah ke bawah.Ayo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja
Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m
Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper
“Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.“Untuk apa?” Suma bingung.Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak.“Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya.“Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.”Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau
Tanpa kacamata, pandangan Tera mengabur. Akan tetapi, dia masih bisa mengenali di mana keberadaannya kini. Jemari yang terus digenggam erat oleh Suma mampu mengaburkan sedikit kecewa karena perlakuan kasar pria itu semalam.Berdiri di dalam ruangan yang harusnya menjadi kamar pengantin mereka, Tera memicingkan mata saat mendapati sosok di atas ranjang dan tengah bergelung di dalam gulungan selimut. Dia tersentak ketika genggaman pada jemarinya terurai. Sang suami sudah melangkah mendekati ranjang dengan langkah cepat dan lebar-lebar.“Sweetheart!”Sapa yang semalam terdengar lembut, tiba-tiba pagi ini terdengar kasar. Suma mengguncang pelan tubuh Inggit yang masih terlelap di atas ranjang. Ya, setidaknya itu yang tampak oleh penglihatan tanpa kacamata.“Inggit! Bangun! Kenapa tidurmu mengalahkan kerbau!” umpat Suma, kesal. Di saat genting, sang kekasih malah sulit diajak kompromi.Umpatan Suma memantik senyuman Tera. Diam-diam, dia merasa kekecewaannya semalam terbalaskan. Perempuan y
“Nah, begitu ‘kan manis.” Inggit tersenyum lega ketika Tera akhirnya setuju menandatangani kesepakatan tanpa banyak protes. “Setidaknya, kalau tidak good looking, harusnya smart thinking. Kalau begini ‘kan sama-sama enak.”Tera hancur. Hatinya menjerit pilu ketika menyetujui kesepakatan yang disodorkan untuknya. Namun, dia tak berdaya. Suma dan Inggit membuatnya kehilangan semua dalam sekejap. “Sudah tanda tangan di atas materai, urusan selesai. Kamu boleh keluar. Aku dan Suma sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah. Kami bukan orang jahat. Tidak akan menelantarkanmu kalau memang bisa diajak bekerja sama.”Pandangan Inggit mengedar, mencari sesuatu. Dia tersenyum mendapati koper merah teronggok di dekat koper hitam Suma yang sudah terbuka dan isi terburai berantakan.“Ah, di sini.” Inggit buru-buru menyambar koper tersebut dan menyerahkannya pada Tera. “Oh ya, ini cardlock kamar sebelah. Selamat malam, Tera.” Didorongnya pelan koper tersebut dan membiarkan wadah penyimpanan pakaia







