LOGINTanpa kacamata, pandangan Tera mengabur. Akan tetapi, dia masih bisa mengenali di mana keberadaannya kini. Jemari yang terus digenggam erat oleh Suma mampu mengaburkan sedikit kecewa karena perlakuan kasar pria itu semalam.
Berdiri di dalam ruangan yang harusnya menjadi kamar pengantin mereka, Tera memicingkan mata saat mendapati sosok di atas ranjang dan tengah bergelung di dalam gulungan selimut. Dia tersentak ketika genggaman pada jemarinya terurai. Sang suami sudah melangkah mendekati ranjang dengan langkah cepat dan lebar-lebar. “Sweetheart!” Sapa yang semalam terdengar lembut, tiba-tiba pagi ini terdengar kasar. Suma mengguncang pelan tubuh Inggit yang masih terlelap di atas ranjang. Ya, setidaknya itu yang tampak oleh penglihatan tanpa kacamata. “Inggit! Bangun! Kenapa tidurmu mengalahkan kerbau!” umpat Suma, kesal. Di saat genting, sang kekasih malah sulit diajak kompromi. Umpatan Suma memantik senyuman Tera. Diam-diam, dia merasa kekecewaannya semalam terbalaskan. Perempuan yang telah berani menginjak-injak harga dirinya, kini mendapat perlakuan kasar. Walau tak sebanding dengan hinaan yang didapatkannya di malam pengantin, tetapi sakit hati sedikit terobati. “Inggit bangun!” Nada bicara Suma kian meninggi. Waktu terus berjalan dan sosok di atas ranjang masih berkelana dalam alam mimpi. Kedua sudut bibir Tera terangkat. Senyuman kian lebar. Seperti dendam terbalaskan. Sebut saja kelewatan, tetapi dia bahagia ketika Suma mengasari Inggit yang tiba-tiba terperangkap dalam situasi tak menyenangkan. Memang, apa yang kita tanam, itu juga yang akan dituai. Hanya saja, wanita sederhana itu tak menyangka kalau Tuhan begitu cepat membolak-balikkan keadaan. Dikira, dia akan nelangsa dalam waktu cukup lama dan terpaksa pasrah oleh keadaan. Ternyata, hidup adalah misteri yang sulit tertebak. “Ditarik turun saja, Suma.” Tera memberi ide yang pasti akan jadi tontonan menarik. Sejak disakiti, isi kepala pun mulai licik. Suma tersentak. Berbalik, pria tampan itu menatap Tera beberapa detik. “Ya. Dari pada ketahuan Mama. Lebih gawat lagi. Kalau memang perempuan itu ... em ... maksudku Inggit tidak mau bangun, ditarik turun saja. Aku jamin dia langsung bangun.” Tera menahan tawa, tak mau sampai perasaannya terbaca Suma. Tuhan, maafkan aku. Ini salah, tapi izinkan aku bahagia di atas penderitaan Inggit. Dia sudah menginjak-injak harga diriku sebagai seorang istri semalam. Dan, pagi ini Engkau tunjukkan tempatnya. Wanita cantik itu membatin. Baru selesai bibir tipis Tera komat-kamit dan meminta maaf dengan sungguh-sungguh pada Yang Kuasa, selimut yang diempas kasar tiba-tiba jadi pemandangan indah. “Ayo, Suma. Nanti Mama sudah di sini. Semua terlambat. Kisah cinta kalian bakal ketahuan dan ... boom!” Tera memanas-manasi. Melihat tingkah Suma, dia mulai bisa membaca arah kisah cinta dua sejoli itu ke mana. “Jangan ragu-ragu. Memang ada yang harus disiram air baru bisa bangun. Tapi, mana mungkin. Sebaiknya, buat dia terjatuh ke lantai. Memang sedikit sakit, tapi tidak akan mematikan.” Tera mengentakkan kaki ke lantai dengan sengaja, memancing debar lawan bicaranya. Suma makin panik. Tanpa pikir panjang, ditariknya lengan Inggit dengan kasar lalu dijatuhkan sesuai dengan saran Tera. Benar saja, Inggit langsung mengeluh kesakitan seketika. Wanita itu terbangun tanpa banyak drama. “Ma ... maaf, Sweetheart. Aku terpaksa. Mama sudah di bawah. Sebentar lagi naik ke sini. Tolong keluar secepatnya! Aku mohon.” Suma serba salah. Tera mengulum senyuman ketika mendapati Inggit yang kelabakan. Wanita itu panik dan berlari tunggang langgang dengan tampilan acak-acakan. Itu hukuman untukmu. Tera menoleh ke arah pintu yang terbuka lebar sesaat kepergian Inggit dari kamar. Lama terdiam menikmati keadaan, dia terkejut ketika Suma bersuara. “Jangan mengadu macam-macam pada Mama,” ancam pria tampan yang pagi itu mengenakan kaus putih dan celana pendek selutut. “Aku tidak sejahatmu dan Inggit!” Tera merengut. “Aku bukan kalian yang tega bersekongkol menyakitiku.” “Awas! Jangan sampai Mama tahu kalau pernikahan kita ini hanya sandiwara. Aku tidak mau sampai rencanaku kacau, Tera.” Wanita yang masih mengenakan gaun pengantin itu mendengkus. Ingin rasanya mencakar wajah Suma setiap mengingat perlakukan pria itu padanya. Namun, dia tak akan melakukan hal rendahan dan mengotori tangan dengan membalas dendam. Diserahkannya pada Tuhan. Sang Pemilik Kehidupan itu akan membolak-balikkan keadaan dan mengangkat hidupnya ke tempat terhormat. “Aku tidak sepertimu!” Tera menjawab ketus. Senyum Suma mengembang. “Sejak awal aku tahu kalau kamu wanita yang manis dan penurut. Tidak salah aku menjatuhkan pilihan padamu untuk kujadikan istri kontrakku.” Ya, kamu tidak akan pernah salah. Wanita manis yang kamu rendahkan semalam akan membuatmu tergila-gila. Aku akan membuka matamu dan membuatmu menilai ... aku dan Inggit tidak sebanding. Tenggelam dalam lamunan, Tera teringat detik-detik sebelum pernikahan. Sang papa yang begitu sedih melepasnya saat akan menikah, pasti terluka kalau dia tidak bahagia dengan Suma. “Aku titip Tera.” Suara pria tua bernama Mahaka terdengar bergetar saat menjabat tangan calon menantu yang terlihat tampan dalam balutan jas pengantin hitam. Bukan menyerahkan pada orang asing, dia harus melepas sang putri bungsu pada putra musuhnya sendiri. “Ya, Pa.” Suma mengangguk. Papa Mahaka menepuk pelan pipi Suma sembari menahan air mata. Ada putri kesayangannya ikut menyimak obrolan mereka. Gadis yang biasa tampil sederhana dengan kacamata tebal dan rambut lurus tanpa model itu disunting oleh putra tetangga rumah. Bukan orang asing, sejak dalam kandungan dia sudah mengenal calon menantunya. “Jaga Tera baik-baik. Kalau dia susah diatur, tolong jangan dikasari. Putriku terbiasa dimanja. Kalau dia salah, cukup dinasihati. Jangan mengangkat tanganmu lalu memukulnya.” Suara Papa Mahaka bergetar. Dia nyaris tak mampu melanjutkan ucapannya. Napas tercekat, sepasang mata berkaca-kaca. Papa Mahaka berjuang keras untuk tidak menangis di hari pernikahan putrinya. Memandang Tera yang cantik dalam balutan gaun pengantin putih, pria berusia senja menggigit bibir kuat-kuat. Sedih dan bahagia itu sudah tidak jelas batasannya. “Ka ... kalau ... memang dia membuatmu marah, kecewa, atau naik darah. Tolong bersabarlah. Kalau kamu tak mampu melakukannya, please kembalikan padaku. Jangan sekali-kali menyakitinya.” Papa Mahaka berbalik badan dan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi keriputnya. Di tengah kesedihan, usapan lembut istrinya menenangkan jiwanya yang terguncang. “Sudah, Kak. Ini hari bahagianya Tera, kok malah menangis.” Wanita tua bernama Nayala itu berbisik. “Semakin tua, malah makin cengeng.” Larut dalam lamunan, Tera tersentak oleh suara seseorang dari arah pintu. “Selamat pagi pengantin baru!” Mama Caca muncul dengan senyum semringah sembari menenteng rantang stainles di tangan kanan. Tidak sendiri, ada wanita lain mengekor di belakangnya. “Mama.” Suma dan Tera menyapa bersamaan.Ayo, kita bicara ke depan.” Jejak luka di wajah Tera terbaca Britania. Gadis cantik itu merengkuh lengan lawan bicaranya tanpa permisi lalu menuntun ke arah taman yang sore itu dipenuhi anak-anak dan para penghuni apartemen. Jantung Tera berdetak dua kali lebih kencang. Kaki melangkah mengikuti Britania, tetapi pikirannya menerawang jauh. Entah alasan apa yang akan diberikan. Tidak mungkin berterus-terang. Akan tetapi, dia juga takbisa memberi alasan yang masuk akal pada gadis muda berstatus mahasiswi universitas ternama tersebut. Duduk di bangku taman, dua wanita muda itu saling berhadapan. Sore yang indah, suara anak-anak riuh rendah. Kilau keemasan meneduhkan dari sudut barat cakrawala. “Kak Tera bertengkar dengan Kak Suma?” tanya Britania, penasaran. Selain sepupu Suma, mereka juga bertetangga. “Kamu ke sini dengan siapa, Bri?” Tera mengalihkan topik pembicaraan. Tak mau pembahasan mengenai hubungannya dan Suma terus berlanjut. “Jangan mengalihkan pembicaraan. Apa yang terja
Duduk menatap dua lembar tiket, Tera berulang kali menarik turun kaus Suma yang kebesaran di tubuhnya. Duduk di sisi kanan sofa, dia sengaja menghindari pria yang mengisi ruang kosong di sebelah kiri kursi empuk tersebut. Dia risi berpenampilan seksi meski suami sendiri. “Aku dan Inggit akan ke Bali selama seminggu.” Suma menegaskan. “Hah!” Tera membeliak. Tak lama, rona kekagetan itu berubah jadi kesedihan. Sepasang kekasih liburan berdua, pasti banyak hal terjadi. Pemandangan dia yang harus terusir dari kamar di malam pertama kembali berputar ulang. Sedih? Sudah pasti. Kecewa? Jangan ditanya. Tidak ada seorang istri pun di muka bumi ini akan baik-baik saja diperlakukan seperti ini. Jari-jari Tera saling menjalin di atas pangkuan. Digigitnya bibir kencang-kencang untuk mengempas kecewa yang terus berdatangan dari segala arah. Dikira, menikah itu indah seperti di sinema-sinema. Ternyata, jauh dari harapannya. Suami yang harusnya menjaga dan melindungi, bertanggung jawab untuk m
Suma masuk lebih dulu, Tera menyusul di belakang dengan kepala tertunduk. Takut, ragu, dan canggung membaur jadi satu. Kamar mandi yang tidak terlalu luas itu makin terasa sesak.Berhenti melangkah di depan meja wastafel, Suma menggerutu kesal saat punggungnya ditabrak seseorang. Benturan tak terhindarkan, suasana tambah tak mengenakkan. “Apa-apaan, sih, Ra?” omel Suma. Berbalik, tangannya bertekuk di pinggang. Sepasang matanya bak bola api yang berkilat-kilat.“Ma ... af, Sum. Kamu berhenti mendadak.” Tera menjawab ragu-ragu.“Kenapa ikut-ikutan?” tanya Suma, membentak. “Aku mau mandi. Kenapa ikut masuk ke dalam?” tanyanya dengan nada meninggi.Belum menjawab, suara ketukan di pintu mengejutkan keduanya. Suara cempreng Mama Caca mengingatkan pasangan pengantin baru tersebut.“Jangan lama-lama mandinya. Nanti sarapan keburu dingin.” Suma dan Tera saling bertukar pandang.“Kalau mau dilanjutkan, nanti malam saja. Anggap pemanasan dulu, biar memancing penasaran.” Suara Mama Caca seper
“Bulan madu?” Suma terkejut melihat dua tiket pesawat yang disodorkan mamanya di atas meja. Beralih menatap Tera, wajahnya tampak datar.“Ya. Mama dan Mama Nay sepakat menghadiahkan tiket bulan madu ke Bali. Ya, anggap saja hadiah pernikahan dari kami.” Mama Caca tersenyum bahagia. Melirik besan yang duduk di sebelahnya, wajah wanita paruh baya itu berbinar bahagia.“Untuk apa?” Suma bingung.Mama Caca dan Mama Nayala saling bertukar pandang. Tak lama, keduanya berseru dengan kompak.“Untuk pengantin baru.” “Tapi, Ma. Ini berlebihan.” Pria muda itu mulai melancarkan keberatannya. Dia akan menggunakan alasan apa saja untuk bisa menolak rencana kedua wanita di hadapannya.“Ish!” Mama Caca merengut. “Berlebihan bagaimana? Kecuali aku memberimu tiket ke bulan atau ke kutub utara, baru bisa dikatakan berlebihan. Ini hanya ke Bali, Nak. B … a … l ... i. Pejam mata sekejap, melek sudah mendarat di Ngurah Rai.”Suma menyenggol lengan Tera yang sejak tadi diam. Berharap, wanita muda itu mau
Tanpa kacamata, pandangan Tera mengabur. Akan tetapi, dia masih bisa mengenali di mana keberadaannya kini. Jemari yang terus digenggam erat oleh Suma mampu mengaburkan sedikit kecewa karena perlakuan kasar pria itu semalam.Berdiri di dalam ruangan yang harusnya menjadi kamar pengantin mereka, Tera memicingkan mata saat mendapati sosok di atas ranjang dan tengah bergelung di dalam gulungan selimut. Dia tersentak ketika genggaman pada jemarinya terurai. Sang suami sudah melangkah mendekati ranjang dengan langkah cepat dan lebar-lebar.“Sweetheart!”Sapa yang semalam terdengar lembut, tiba-tiba pagi ini terdengar kasar. Suma mengguncang pelan tubuh Inggit yang masih terlelap di atas ranjang. Ya, setidaknya itu yang tampak oleh penglihatan tanpa kacamata.“Inggit! Bangun! Kenapa tidurmu mengalahkan kerbau!” umpat Suma, kesal. Di saat genting, sang kekasih malah sulit diajak kompromi.Umpatan Suma memantik senyuman Tera. Diam-diam, dia merasa kekecewaannya semalam terbalaskan. Perempuan y
“Nah, begitu ‘kan manis.” Inggit tersenyum lega ketika Tera akhirnya setuju menandatangani kesepakatan tanpa banyak protes. “Setidaknya, kalau tidak good looking, harusnya smart thinking. Kalau begini ‘kan sama-sama enak.”Tera hancur. Hatinya menjerit pilu ketika menyetujui kesepakatan yang disodorkan untuknya. Namun, dia tak berdaya. Suma dan Inggit membuatnya kehilangan semua dalam sekejap. “Sudah tanda tangan di atas materai, urusan selesai. Kamu boleh keluar. Aku dan Suma sudah menyiapkan kamar untukmu di sebelah. Kami bukan orang jahat. Tidak akan menelantarkanmu kalau memang bisa diajak bekerja sama.”Pandangan Inggit mengedar, mencari sesuatu. Dia tersenyum mendapati koper merah teronggok di dekat koper hitam Suma yang sudah terbuka dan isi terburai berantakan.“Ah, di sini.” Inggit buru-buru menyambar koper tersebut dan menyerahkannya pada Tera. “Oh ya, ini cardlock kamar sebelah. Selamat malam, Tera.” Didorongnya pelan koper tersebut dan membiarkan wadah penyimpanan pakaia







