LOGIN"Oh, pantas saja!" Aleandra menimpali dari ambang pintu dengan senyum sinis yang semakin memperkeruh suasana. "Pantas saja kau mendadak membatalkan niatmu untuk menjadi biarawati! Padahal dulu kau sampai memohon-mohon, merengek, dan mengemis kepada Ayah agar diizinkan menjadi biarawati. Ternyata... kau sengaja mengubur keinginanmu itu karena kau tengah hamil! Dasar pelacur sok suci!”
Tuan Steven menarik rambut Cleara yang hanya diam. “Ayah membesarkanmu untuk tidak menjadi seorang pelacur, Cleara! Katakan anak siapa itu! Anak siapa yang sedang kau kandung?!”
Cleara tidak mungkin memberitahukan kepada ayahnya bahwa pria yang menghamilinya adalah Kheland, kekasih Aleandra. Jika rahasia itu terbongkar sekarang, hidupnya pasti akan benar-benar dihancurkan oleh keluarganya sendiri.
Cleara menggelengkan kepalanya kuat-kuat. "Tidak, Ayah... Aku sungguh tidak tahu," ucapnya di sela tangis yang kian terisak-isak.
Nyonya Lidya langsung mengambil alih situasi. Ia melangkah maju dan tanpa aba-aba melayangkan tamparan keras ke pipi Cleara.
Plak!
"Apa belum cukup selama ini kau mempermalukan ayahmu, hah?!" bentak Nyonya Lidya berang. "Sekarang kau malah mencoba membunuhnya pelan-pelan dengan kehamilan harammu ini?! Selama ini kau terlihat seperti anak yang baik dan penurut, tetapi ternyata kau tidak ada bedanya dengan seorang pelacur yang menjajahkan tubuhnya, bahkan saking rendahnya, kau tidak tau siapa pria yang menghamilimu itu! Apa kau sengaja ingin menghancurkan ayahmu dan membuatnya mati perlahan karena kelakuan bejatmu? Apa kata orang-orang nanti kalau mereka sampai tahu kau hamil?! Dasar anak tidak berguna!"
Plak!
Satu tamparan mendarat lagi di pipi Cleara yang mulai memerah.
"Kau memang sama saja seperti ibumu yang pelacur itu!" maki Nyonya Lidya penuh kebencian.
Mata Cleara langsung mendelik lebar mendengar ucapan ibu tirinya yang tega menghina mendiang ibu kandungnya.
"Ibuku bukan pelacur! Berani sekali kau menghina Ibukuuuu! Apa kau tidak tau siapa pelacur sebenarnya?” tanyanya dengan mata yang melotot di balik kacamatnya. “Kau! Kau yang pelacur! Kau memiliki anak dengan suami sahabatmu sendiri! Kau yang pelacurrrrr!” teriak Cleara histeris.
Selama ini, Cleara selalu diam. Ia akan menerima dengan pasrah apa pun cacian, makian, ataupun pukulan yang dilayangkan oleh ayah dan ibu tirinya kepada dirinya sendiri. Namun, ia tidak akan pernah tinggal diam jika kehormatan ibu kandungnya yang diusik.
"Beraninya dirimu mengataiku seperti itu?!" Nyonya Lidya yang tidak terima langsung maju. Wanita itu dengan brutal menghajar dan mencakar wajah serta lengan Cleara.
Namun, Tuan Steven tidak melerai istrinya. Pria itu justru ikut melangkah maju dan melayangkan tendangan kasar ke tubuh Cleara yang sudah tak berdaya. Mereka mengeroyoknya tanpa ampun, menyalurkan rasa malu dan amarah yang membakar dada.
Hari itu benar-benar menjadi hari terburuk sepanjang hidup Cleara. Raganya sakit, tetapi jiwanya jauh lebih hancur. Di atas lantai kamarnya yang kini berserakan, Cleara meratapi nasibnya yang telah luluh lantak.
***
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Davies.
"Kheland, kalau kau memang serius dengan kekasihmu yang bernama Aleandra itu, segeralah menikah dan berikan aku seorang cicit! Meskipun Kakek tidak menyukainya karena dia tidak sopan, tapi mau bagaimana lagi!" ucap sang Kakek tegas dari kursi kebesarannya.
"Ayolah, Kakek. Usiaku baru 26 tahun," keluh Kheland sembari mengembuskan napas pendek. "Aku baru berencana membina rumah tangga saat usiaku sudah 35 tahun nanti, saat aku benar-benar merasa matang dalam segala hal. Untuk sekarang, aku masih ingin fokus bekerja dan menikmati masa mudaku."
"Apa yang dikatakan oleh kakekmu itu benar, Kheland," timpal Tuan Louis, menyela ucapan putranya. "Kau adalah anak tunggal di keluarga ini. Kakekmu juga sudah semakin berumur, wajar saja kalau dia ingin sekali melihatmu menikah dan menimang pewaris keluarga Davies."
Nyonya Bella ikut mengangguk setuju, menatap putra semata wayangnya itu dengan lembut. "Kheland, Ayah dan Ibu dulu baru menikah saat Ibu berusia 35 tahun dan ayahmu 37 tahun karena kami terlalu sibuk mengejar pekerjaan. Akibatnya, Ibu kesulitan memberikanmu saudara karena faktor usia. Kami tidak ingin kau mengulangi penyesalan yang sama. Jadi, tidak ada salahnya menikah di usia muda. Kami semua hanya mengkhawatirkan masa depanmu."
Kheland hendak menjawab, tetapi ponsel di saku celananya mendadak bergetar. Sebuah notifikasi pesan masuk dari Aleandra, mengajaknya untuk bertemu di salah satu kafe sekarang juga.
"Sudahlah, aku bosan mendengar keinginan kalian ini setiap hari. Aku harus pergi menemui Aleandra sekarang," ucap Kheland lekas berdiri, menggunakan alasan itu untuk menghindar dari desakan keluarganya.
Tidak butuh waktu lama bagi Kheland untuk sampai di tempat tujuan. Kini, ia dan Aleandra sudah duduk berhadapan di sebuah kafe yang cukup tenang.
"Ada apa kau mendadak mengajakku bertemu, Sayang?" tanya Kheland lembut sembari menatap kekasihnya. "Apa kau sedang ada masalah?"
Aleandra mengembuskan napas panjang dengan raut wajah kesal. "Ya! Kepalaku rasanya mau pecah karena keributan yang dibuat oleh Cleara di rumah pagi ini. Gara-gara dia, Ayah jadi terus-menerus marah!"
"Masalah apa lagi yang dibuat oleh si culun itu?" tanya Kheland santai sambil mengangkat cangkir dan menyesap kopi panas miliknya.
"Cleara hamil!"
Mendengar kata itu, Kheland yang sedang menelan kopinya langsung tersedak hebat. Ia terbatuk-batuk dengan wajah yang mendadak memerah, sementara jantungnya seakan merosot jatuh ke lambung.
Tak berapa lama, Cleara kembali dari arah toilet. Wajahnya tampak sedikit lebih segar meski binar kelelahan masih menghiasi matanya.“Suster Anne, maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu,” ucap Cleara seraya mengambil tempat di samping sang suster.“Tidak apa-apa, Sayang. Kemarilah, dan duduk,” sahut Suster Anne lembut.Cleara kemudian larut dalam perbincangan hangat bersama Suster Anne. Ia menceritakan beberapa hal ringan dengan senyuman kecil yang beberapa kali terukir di bibirnya—sebuah binar kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia tunjukkan saat berada di kediaman Davies.Di sisi lain, Kheland hanya membisu. Pria itu diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Cleara dengan tatapan dalam yang sangat sulit diartikan. Rupanya, Cleara sangat dekat dengan suster Anne.Bayangan cerita Suster Anne tentang penderitaan Cleara di masa lalu—bagaimana wanita itu dijadikan pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri, diisolasi dari dunia luar oleh ayah kandungnya, dan tertekan hingga menjadikan ge
Setelah prosesi pengucapan ikrar biarawati di depan altar usai, Suster Anne melangkah pelan menghampiri barisan belakang.Mendengar langkah kaki mendekat, Cleara refleks menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok Kheland berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu menatapnya kaku—tahu betul bahwa baru saja memergokinya menangis.Namun, Cleara tak lagi peduli. Ia tak berniat menjelaskan apa pun atau memohon simpati dari pria itu. Dengan gerakan cepat, Cleara menyeka sisa air mata di pipinya, lalu kembali memalingkan wajah ke depan. Ukiran senyum hangat nan lembut seketika terbit di bibirnya begitu melihat Suster Anne berjalan mendekat ke arahnya.“Cleara, anakku... kau datang kemari, Sayang?” sapa Suster Anne dengan raut wajah teduh dan penuh kasih.“Suster Anne...” sahut Cleara pelan, menyambut uluran tangan sang suster dan mengusapnya penuh hormat, lalu suster Anne memeluknya sejenak, kemudian melepasnya.Suster Anne menatap lekat wajah Cleara, menyadari binar kese
Karena bosan Menemani suaminya yang berkencan dan enggan terus-terusan menyaksikan kemesraan pria itu bersama kekasihnya, Cleara akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya. Ia memanggil pelayan dan memesan berbagai varian es krim. Tak butuh waktu lama, meja tempat duduknya sudah dipenuhi oleh deretan gelas dan mangkuk es krim berbagai rasa. Dan Cleara melampiaskannya di sana hingga gelas-gelas dan mangkok itu kini kosong di atas meja. Kheland sejak tadi fokus kepada Aleandra, itu sebabnya ia tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh Cleara. Selang berapa lama kemudian, Kheland akhirnya mengakhiri pertemuannya dengan Aleandra. Setelah mengantar Aleandra keluar lewat pintu samping agar tidak ketahuan oleh pengawal Ibunya, Kheland melangkah menghampiri meja Cleara. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan belasan gelas es krim yang menumpuk di atas meja, langkahnya seketika terhenti. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut sekaligus kejengkelan yang mendalam.“Apa
Mau tak mau, Kheland terpaksa mengajak Cleara ikut bersamanya. Sebenarnya Cleara sempat menolak ajakan itu—apalagi setelah tahu Kheland mengaku hendak bertemu dengan teman-temannya, Cleara takut jika nantinya akan dijadikan sebagai bahan ejekan di sana. Namun, karena Nyonya Bella bersikeras dan memaksa, Cleara pun terpaksa menurut. Toh, mereka diantar oleh seorang sopir yang sekaligus merupakan pengawal pribadi kepercayaan Nyonya Bella.Setidaknya, jika Kheland mencoba berbuat macam-macam di luar, Cleara merasa punya sosok yang bisa ia mintai perlindungan jika suaminya macam-macam.Di dalam mobil, Kheland dan Cleara duduk di kursi belakang seraya saling membuang muka. Tak ada obrolan sedikit pun di antara mereka. Sebenarnya Kheland sangat ingin mengancam Cleara agar tidak berulah, tetapi ia menahan diri—takut pengawal ibunya yang sedang mengemudi itu mendengar dan melapor pada sang ibu.Selang berapa lama, mobil mewah yang mereka tumpangi itu berhenti di depan sebuah kafe elit.“Kita
Saat terbangun di pagi hari, rasa nyeri menjalar hebat di sekitar pinggang Cleara. Bagaimana tidak sakit? Semalaman ia terpaksa tidur meringkuk dengan posisi tak nyaman di atas sofa sempit itu, demi menghindari perdebatan melelahkan dengan Kheland.Kheland yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di lehernya memergoki Cleara yang tengah meringis memegangi pinggang. Seringai puas seketika terukir di wajah pria itu.“Bagaimana rasanya tidur di sofa, hm?” sindir Kheland dengan nada mengejek. “Rasakan sendiri apa yang harus kurasakan selama berhari-hari kemarin!”Cleara sama sekali tak berniat meladeninya. Ia sengaja membuang pandangan, lalu memaksakan tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk bersiap menyambut pagi.Beberapa saat kemudian di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menyantap sarapan. Sepanjang acara makan berlangsung, Cleara tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Beberapa kali jemarinya bergerak memijat dan meme
Dengan sisa kekuatan yang ada, Cleara mendorong sekuat tenaga dada bidang Kheland hingga tubuh pria itu terdorong mundur beberapa langkah dari pinggir ranjang.“Menjauh dariku!” seru Cleara dengan napas memburu dan mata yang menyalang tajam.Bukannya marah, Kheland justru menyunggingkan seringai dingin yang melecehkan. Pria itu menyapu dadanya yang baru saja didorong, menatap Cleara dengan sorot mata penuh kebencian.“Kau tenang saja,” ucap Kheland sinis. “Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Jika bukan karena malam itu aku berada di bawah pengaruh alkohol... aku sama sekali tidak akan sudi menyentuh wanita seperti dirimu, dasar, culun!”Tanpa membuang waktu lagi, Kheland memutar tubuhnya, menyambar kaus santai dari dalam lemari, lalu melangkah lebar keluar dari kamar seraya membanting pintu rapat-rapat.Meninggalkan Cleara yang terduduk di atas ranjang, mencengkeram sprei erat-erat demi meredakan gemuruh amarah dan rasa hina yang kembali menggores hatinya.Tak lama kemudian, seluruh angg







