Share

HAMIL?!

last update publish date: 2026-07-28 12:34:44

Dan benar saja, begitu pintu rumah tertutup rapat setelah keluarga Kheland pulang, amarah Tuan Steven langsung meledak. Cleara  diseret ke kamar, dimaki-maki, dan dipukul dengan kejam oleh ayahnya hingga gadis itu menangis histeris sembari tersungkur di atas lantai yang dingin.

"Kau benar-benar tidak tahu diri! Bisa-bisanya kau mempermalukan kami semua di depan tamu terhormat?!" bentak Tuan Steven dengan napas memburu.

Nyonya Lidya melangkah maju, melipat kedua tangannya di dada sambil menatap sinis. "Kenapa kau tadi tiba-tiba bersikap mual seperti itu? Apa kau sengaja ingin menjatuhkan harga diri keluarga ini di depan keluarga Davies?!”

"Tidak, Bu. Aku bersumpah sungguh tidak berniat seperti itu. Aku benar-benar sedang tidak enak badan!" bela Cleara di sela tangisnya, memegangi lengannya yang terasa sakit.

"Alasan!" timpal Aleandra berapi-api. "Aku tahu isi kepalamu, Cleara! Kau pasti iri setengah mati karena aku memiliki kekasih tampan dan kaya raya seperti Kheland, kan? Sementara sampai detik ini kau tidak laku, dan tidak ada pria yang menyukaimu!"

Cleara mendongak, menatap adik tirinya dengan sisa-sisa keberanian yang ia miliki. "Untuk apa aku iri denganmu, Alea? Aku sama sekali tidak pernah iri pada apa pun yang kau miliki."

"Diam mulutmu!" potong Tuan Steven, suaranya menggelegar memenuhi ruangan. "Ayah akan mengurungmu di dalam kamar! Dan jangan harap kau akan mendapatkan jatah makan besok!” serunya. Tuan Steven kemudian memberi isyarat kepada istri dan juga Aleandra untuk beranjak pergi dari sana. Mereka bertiga meninggalkan Cleara yang tak berdaya, lalu mengunci pintu kamar gadis itu rapat-rapat dari luar.

Cleara tidak memberontak, tidak mendobrak pintu, ataupun menangis memohon ampun. Ia hanya diam memeluk lututnya di lantai. Perlakuan kasar, kurungan, dan kelaparan seperti ini sudah menjadi makanan sehari-harinya sejak sang ibu kandungnya meninggal dunia, jadi ia sudah terbiasa dengan ini semua.

***

Keesokan paginya, Nyonya Lidya melangkah masuk ke dalam kamar Cleara. Ia mendapati putri tirinya itu tertidur pulas di atas lantai yang dingin dengan kedua tangan menumpu di tepi ranjang.

Tanpa belas kasih, Nyonya Lidya mengambil segelas air yang terletak di atas nakas, lalu menyiramkannya tepat ke wajah Cleara hingga gadis itu terbangun seketika sambil gelagapan.

"Ibu...?" Cleara mengusap wajahnya yang basah kuyup dengan kebingungan.

"Bisa-bisanya kau masih enak-enakan tidur sesiang ini?!" bentak Nyonya Lidya ketus.

"Maaf, Bu. Ada apa Ibu kemari?" tanya Cleara lirih sembari berusaha mengumpulkan kesadarannya.

Nyonya Lidya tidak menjawab, melainkan langsung menyodorkan sebuah alat tes kehamilan ke hadapan wajah Cleara. "Ambil dan gunakan ini sekarang juga!" perintahnya tajam.

Semalam, kecurigaannya memuncak saat melihat Cleara mual di meja makan. Terlebih lagi, selama beberapa hari terakhir ia memang mengamati anak tirinya itu kerap menunjukkan gelagat aneh yang tidak biasa.

Cleara terkejut setengah mati melihat apa yang disodorkan oleh Ibu tirinya kepadanya. Ia tahu betul benda apa yang sedang dipegang ibu tirinya itu, meskipun ia sendiri belum pernah menyentuh atau memakainya.

"U-untuk apa ini, Bu?" tanya Cleara dengan suara bergetar menahan takut.

"Cepat ambil dan pakai! Jangan banyak tanya!"

"Aku tidak mau, Bu. Aku tidak mungkin hamil! Kenapa aku harus memakai alat itu?!" tolak Cleara, mencoba membela diri.

Tepat saat itu, Tuan Steven menyusul masuk ke dalam kamar bersama Aleandra yang mengekor di belakangnya dengan senyum sinis. Kehadiran sang ayah seketika membuat nyali Cleara menciut drastis. Tubuhnya bergetar ketakutan.

"Kenapa kau masih diam saja?! Cepat tampung urine-mu dan gunakan alat ini!" bentak Nyonya Lidya sekali lagi, memanfaatkan suasana intimidasi dari suaminya.

Karena terlanjur ketakutan melihat tatapan menghujam dari sang ayah, Cleara terpaksa meraih alat tersebut dengan tangan gemetar, lalu membawanya masuk ke dalam kamar mandi.

Di dalam kamar mandi, Cleara yang kebingungan terpaksa membaca kertas petunjuk terlebih dahulu. Dengan tangan bergetar, ia menampung urine miliknya dan mencelupkan alat uji tersebut ke dalam wadah. Namun, belum sempat ia menunggu hasilnya, pintu kamar mandi sudah digedor dengan kasar dari luar.

Cleara pun terpaksa membuka pintu dengan wajah pias.

"Apa kau sudah menggunakannya?!" tagih Nyonya Lidya tidak sabaran.

"Aku... aku baru saja mencelupkannya, Bu. Tapi aku belum tahu hasilnya bagai—"

"Minggir!" Nyonya Lidya mendorong kasar tubuh Cleara yang menghalangi pintu hingga terbentur dinding. Ia menerobos masuk, menyambar alat tes kehamilan itu dari wadahnya, dan menunggu beberapa detik dengan mata menyipit tajam sampai garis merah kedua muncul dengan jelas.

"Steven!” panggil Nyonya Lidya lantang.

Tuan Steven bergegas mendekat ke ambang pintu kamar mandi dengan wajah tegang. "Bagaimana hasilnya?"

"Benar dugaanku semalam! Anak sialanmu yang tidak tahu diri ini ternyata hamil!" teriak Nyonya Lidya seraya mengacungkan alat tersebut.

Mata Cleara seketika membeliak lebar. Jantungnya serasa berhenti berdetak saat itu juga, karena ia tidak pernah curiga atau berpikir sampai ke sana. Hamil? Ba-bagaimana mungkin?!

"Apa katamu?!" Tuan Steven merebut paksa benda di tangan istrinya dengan napas memburu.

"Lihat sendiri hasilnya, dua garis! Positif!" seru Nyonya Lidya mengompori. "Aku sudah pernah mengandung dan menjadi seorang Ibu, jadi instingku tidak pernah salah! Anakmu yang sok suci ini sekarang sedang hamil!"

Tuan Steven menatap nanar dua garis merah di tangannya. Begitu melihat bukti nyata itu dengan mata kepalanya sendiri, napasnya seketika menderu hebat. Sorot matanya langsung menghujam Cleara dengan kemurkaan yang tak lagi terbendung.

"Beraninya kau!" bentak Tuan Steven, suaranya menggelegar hebat.

"Ti-tidak mungkin.... Aku tidak mungkin hamil, Ayah! Mana mungkin aku hamil, sementara aku saja tidak memiliki kekasih? Alat itu pasti rusak! Itu tidak mungkin!" Cleara menggeleng histeris, air matanya menetes deras karena syok.

"Apa yang tidak mungkin?!” teriak sang Ayah. “Jelas-jelas buktinya ada di depan mata dan kau masih saja mau mengelak?!"

Tanpa belas kasih, Tuan Steven menjambak rambut Cleara, lalu menyentakkan tubuh gadis itu hingga terjerembap di atas ranjang. "Berani sekali kau mencoreng muka Ayah! Katakan sekarang juga, bajingan mana yang sudah menghamilimu?!"

Cleara menangis sembari memegangi kepalanya yang terasa sakit akibat jambakan tadi. Pikirannya langsung melayang pada malam terkutuk satu bulan yang lalu bersama Kheland. Ia tidak pernah menduga bahwa petaka malam itu akan berujung menjadi seperti ini.

Ia hamil anak Kheland…

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
Imas Atiah
coba Aleandra juga hamil ya pengen tau tuh sikap tuan steven
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   PIKIRAN KHELAND YANG KACAU

    Tak berapa lama, Cleara kembali dari arah toilet. Wajahnya tampak sedikit lebih segar meski binar kelelahan masih menghiasi matanya.“Suster Anne, maafkan aku karena sudah membuatmu menunggu,” ucap Cleara seraya mengambil tempat di samping sang suster.“Tidak apa-apa, Sayang. Kemarilah, dan duduk,” sahut Suster Anne lembut.Cleara kemudian larut dalam perbincangan hangat bersama Suster Anne. Ia menceritakan beberapa hal ringan dengan senyuman kecil yang beberapa kali terukir di bibirnya—sebuah binar kebahagiaan sederhana yang tak pernah ia tunjukkan saat berada di kediaman Davies.Di sisi lain, Kheland hanya membisu. Pria itu diam-diam mengamati setiap gerak-gerik Cleara dengan tatapan dalam yang sangat sulit diartikan. Rupanya, Cleara sangat dekat dengan suster Anne.Bayangan cerita Suster Anne tentang penderitaan Cleara di masa lalu—bagaimana wanita itu dijadikan pelayan tanpa gaji di rumahnya sendiri, diisolasi dari dunia luar oleh ayah kandungnya, dan tertekan hingga menjadikan ge

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   CLEARA YANG MALANG

    Setelah prosesi pengucapan ikrar biarawati di depan altar usai, Suster Anne melangkah pelan menghampiri barisan belakang.Mendengar langkah kaki mendekat, Cleara refleks menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya ia saat menyadari sosok Kheland berdiri tak jauh di belakangnya. Pria itu menatapnya kaku—tahu betul bahwa baru saja memergokinya menangis.Namun, Cleara tak lagi peduli. Ia tak berniat menjelaskan apa pun atau memohon simpati dari pria itu. Dengan gerakan cepat, Cleara menyeka sisa air mata di pipinya, lalu kembali memalingkan wajah ke depan. Ukiran senyum hangat nan lembut seketika terbit di bibirnya begitu melihat Suster Anne berjalan mendekat ke arahnya.“Cleara, anakku... kau datang kemari, Sayang?” sapa Suster Anne dengan raut wajah teduh dan penuh kasih.“Suster Anne...” sahut Cleara pelan, menyambut uluran tangan sang suster dan mengusapnya penuh hormat, lalu suster Anne memeluknya sejenak, kemudian melepasnya.Suster Anne menatap lekat wajah Cleara, menyadari binar kese

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   MENDADAK MERASA BERSALAH

    Karena bosan Menemani suaminya yang berkencan dan enggan terus-terusan menyaksikan kemesraan pria itu bersama kekasihnya, Cleara akhirnya memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya. Ia memanggil pelayan dan memesan berbagai varian es krim. Tak butuh waktu lama, meja tempat duduknya sudah dipenuhi oleh deretan gelas dan mangkuk es krim berbagai rasa. Dan Cleara melampiaskannya di sana hingga gelas-gelas dan mangkok itu kini kosong di atas meja. Kheland sejak tadi fokus kepada Aleandra, itu sebabnya ia tidak memedulikan apa yang dilakukan oleh Cleara. Selang berapa lama kemudian, Kheland akhirnya mengakhiri pertemuannya dengan Aleandra. Setelah mengantar Aleandra keluar lewat pintu samping agar tidak ketahuan oleh pengawal Ibunya, Kheland melangkah menghampiri meja Cleara. Namun, begitu matanya menangkap pemandangan belasan gelas es krim yang menumpuk di atas meja, langkahnya seketika terhenti. Matanya membelalak lebar, memancarkan rasa terkejut sekaligus kejengkelan yang mendalam.“Apa

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   DIAJAK BERKENCAN

    Mau tak mau, Kheland terpaksa mengajak Cleara ikut bersamanya. Sebenarnya Cleara sempat menolak ajakan itu—apalagi setelah tahu Kheland mengaku hendak bertemu dengan teman-temannya, Cleara takut jika nantinya akan dijadikan sebagai bahan ejekan di sana. Namun, karena Nyonya Bella bersikeras dan memaksa, Cleara pun terpaksa menurut. Toh, mereka diantar oleh seorang sopir yang sekaligus merupakan pengawal pribadi kepercayaan Nyonya Bella.Setidaknya, jika Kheland mencoba berbuat macam-macam di luar, Cleara merasa punya sosok yang bisa ia mintai perlindungan jika suaminya macam-macam.Di dalam mobil, Kheland dan Cleara duduk di kursi belakang seraya saling membuang muka. Tak ada obrolan sedikit pun di antara mereka. Sebenarnya Kheland sangat ingin mengancam Cleara agar tidak berulah, tetapi ia menahan diri—takut pengawal ibunya yang sedang mengemudi itu mendengar dan melapor pada sang ibu.Selang berapa lama, mobil mewah yang mereka tumpangi itu berhenti di depan sebuah kafe elit.“Kita

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   MENJADI MUSUH

    Saat terbangun di pagi hari, rasa nyeri menjalar hebat di sekitar pinggang Cleara. Bagaimana tidak sakit? Semalaman ia terpaksa tidur meringkuk dengan posisi tak nyaman di atas sofa sempit itu, demi menghindari perdebatan melelahkan dengan Kheland.Kheland yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan handuk tersangkut di lehernya memergoki Cleara yang tengah meringis memegangi pinggang. Seringai puas seketika terukir di wajah pria itu.“Bagaimana rasanya tidur di sofa, hm?” sindir Kheland dengan nada mengejek. “Rasakan sendiri apa yang harus kurasakan selama berhari-hari kemarin!”Cleara sama sekali tak berniat meladeninya. Ia sengaja membuang pandangan, lalu memaksakan tubuhnya bangkit berdiri dan melangkah ke kamar mandi untuk bersiap menyambut pagi.Beberapa saat kemudian di meja makan, seluruh anggota keluarga berkumpul untuk menyantap sarapan. Sepanjang acara makan berlangsung, Cleara tak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Beberapa kali jemarinya bergerak memijat dan meme

  • ISTRI CULUN SANG MILIARDER   MEMANAS-MANASI

    Dengan sisa kekuatan yang ada, Cleara mendorong sekuat tenaga dada bidang Kheland hingga tubuh pria itu terdorong mundur beberapa langkah dari pinggir ranjang.“Menjauh dariku!” seru Cleara dengan napas memburu dan mata yang menyalang tajam.Bukannya marah, Kheland justru menyunggingkan seringai dingin yang melecehkan. Pria itu menyapu dadanya yang baru saja didorong, menatap Cleara dengan sorot mata penuh kebencian.“Kau tenang saja,” ucap Kheland sinis. “Aku juga tidak sudi menyentuhmu. Jika bukan karena malam itu aku berada di bawah pengaruh alkohol... aku sama sekali tidak akan sudi menyentuh wanita seperti dirimu, dasar, culun!”Tanpa membuang waktu lagi, Kheland memutar tubuhnya, menyambar kaus santai dari dalam lemari, lalu melangkah lebar keluar dari kamar seraya membanting pintu rapat-rapat.Meninggalkan Cleara yang terduduk di atas ranjang, mencengkeram sprei erat-erat demi meredakan gemuruh amarah dan rasa hina yang kembali menggores hatinya.Tak lama kemudian, seluruh angg

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status