LOGINDi tempat lain ....
Hanya lega yang Kaia rasakan saat menatap makam ibunya. Kaia seharusnya merindukannya, menangisinya, berduka untuknya. Namun, ia tidak merasakan semua itu. Kepergian ibunya justru memberinya jeda setelah bertahun-tahun memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaia tidak perlu lagi merawatnya. Sekarang ibunya menjadi urusan iblis. Bahkan sejak mengembuskan napas terakhir beberapa minggu lalu, wanita itu sudah menjadi urusan iblis. Alih-alih mengunjungi makam untuk merasa lebih dekat dengannya, Kaia datang untuk mengingatkan dirinya bahwa ibunya benar-benar sudah pergi. Ia ingin memastikan kematian itu bukan sekadar mimpi atau ilusi yang ia ciptakan karena putus asa ingin terbebas darinya. Kaia memejamkan mata, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ibunya mungkin sudah mati, tetapi hantu wanita itu masih menghantuinya. Dan mungkin akan selalu begitu. Matahari mulai terbit. Kaia merapatkan jaket untuk melindungi tubuhnya dari udara pagi yang dingin dan ia bergegas menuruni jalan setapak. Seorang wanita dan seorang anak laki-laki berdiri di samping sebuah batu nisan. Satu tangan wanita itu berada di bahu sang anak, sementara tangan lainnya menghapus air mata dari wajahnya. Kaia iri pada kemampuan anak itu untuk menangis. Perjalanan menuju tempat kerja terasa selalu sama seperti setiap pagi. Langkah Kaia semakin cepat. Ia tetap menyadari keadaan di sekelilingnya tanpa melakukan kontak mata dengan siapa pun. Komentar-komentar cabul dan siulan sekelompok pria di seberang jalan membuatnya jijik, tetapi ia pura-pura tidak mendengar apa pun sambil berdoa agar mereka membiarkannya pergi. Dia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ia pernah melakukan kesalahan dengan menonjolkan penampilannya. Saat itu, ia mengenakan gaun ketat yang dibelinya dengan gaji pertamanya dari sebuah toko barang bekas. Rambut ikalnya yang gelap tergerai di bahu, sementara bibirnya berkilau dengan warna merah muda menggoda. Satu jam kemudian, bibir itu berlumuran darah. Yang tersisa dari gaun tersebut setelah malam itu hanyalah noda darah dan memar ungu gelap di tubuhnya. Itu menjadi pengingat keras bahwa wanita diperlakukan seperti objek di jalanan ini, bukan sebagai manusia yang setara. Kalau Kaia tidak tahu cara membela diri dan tidak menggigit putus telingga pria mesum itu, malam itu ia mungkin akan pulang dengan lebih dari sekadar gaun yang rusak. Sejak hari itu, Kaia menyadari bahwa harga sebuah kecantikan terlalu mahal di jalanan ini. Bel berbunyi di atas pintu saat ia masuk. Aroma kopi dan sosis membuatnya sejenak lupa betapa buruknya Warmindo di Gang Royal sebenarnya. "Kaia," panggil Jonan. "Kamu terlambat." "Maaf." Kaia tidak memberikan penjelasan. Ia berjalan ke bagian belakang konter, memasukkan tas dan jaketnya ke rak paling bawah, lalu mengambil celemek. Nubia datang menghampirinya dan membantunya mengikat celemek tersebut. "Jonan lagi bad mood banget hari ini." "Kenapa?" Kaia berbalik menghadapnya sambil melepas ikat rambut dari pergelangan tangan dan mengikat rambutnya. "Ada sesuatu yang terjadi?" "Nggak tahu." Nubia menyipitkan mata hijaunya sambil menatap bos mereka. "Tapi kurasa dia tidur di sini lagi semalam." "Lagi? Itu sudah kedua kalinya minggu ini." "Iya. Tebakanku, pasti gara gara istrinya." Bel berbunyi ketika dua pria masuk. Pakaian mereka kotor dan janggut mereka berantakan, mengingatkan Kaia mengapa ia membenci pekerjaan ini. "Nubia, kamu sudah bangun. Pelanggan pertama jadi bagianmu." "Mereka bukan pelanggan pertama," jawab Nubia. Kaia menatapnya, dan Nubia mengerucutkan bibir sambil mengalihkan pandangan ke seorang pria yang duduk di sudut paling jauh, sedang menyeruput kopi. Jaket hitam dan kemeja putih bersih yang dikenakannya menjadi bukti bahwa pria itu bukan berasal dari daerah ini. Pria seperti dia tidak mungkin datang ke restoran tua dan bobrok dengan dinding pudar yang mengelupas, langit-langit retak, dan jendela yang ditutup jeruji besi. "Siapa dia?" tanya Kaia sambil memperhatikan pria itu meletakkan cangkirnya kembali ke meja. "Nggak tahu. Tapi aku ingin menyajikan lebih dari sekadar kopi kepadanya." Nubia menggigit kuku ibu jarinya. Cincin pernikahannya berkilau memantulkan cahaya kuning lampu. Kaia mengulurkan tangan dan menarik ekor kuda pirangnya. "Berhenti berfantasi dengan pelanggan." "Oke, oke." Nubia tersenyum. "Buruan deketin, lumayan ganteng, buat jadi suamimu, kan?" "Aku nggak akan menikah." Kaia mengambil pensil dan buku catatan, tetapi ia bisa merasakan tatapan Nubia kepadanya. "Apa!!?" Kaia meliriknya dari sudut mata. Ekspresi Nubia melunak. "Uhh ... Kamu terlalu spesial untuk kota ini." "Percaya deh." Kaia merapikan celemeknya. "Aku nggak sebaik itu." Dada Kaia terasa nyeri saat ia berjalan melewati lantai berpola kotak-kotak. Tidak ada yang mengenal Kaia Indrawari yang sebenarnya, ia hanya seorang gelandangan yang datang ke sini enam tahun lalu demi mencari cara untuk bertahan hidup. Saat itu ia hanya gadis putus asa berusia empat belas tahun yang tidak punya pilihan selain memaksakan diri menjadi dewasa. Setiap malam, ia mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah kembali ke tempat ini setelah terbebas dari ibunya. Sayangnya, ia justru kembali. Dan sampai sekarang pun masih begitu. Kaia mengikuti dua pria yang baru masuk dan menyerahkan menu kepada mereka setelah keduanya duduk. "Mau pesan kopi?" Salah satu pria melirik ke seberang, ke arah pria yang duduk di sudut, lalu mengangguk ke temannya. "Itu orang yang kita kenal, bukan?" "Astaga," maki temannya. "Jaguar ... ngapain dia di sini? Apa yang udah kamu perbuat, sampai dia nyamperin kita ke sini?" "Nggak ada. Ya ampun. Kayaknya dia datang bukan untuk kita. Lagian kenapa dia harus datang ke sini? Orang-orang Kairo Adinargo nggak suka tempat bobrok seperti ini." Kaia menjatuhkan pulpennya. Suara pulpen itu membentur lantai menggema seperti suara tembakan tepat di sampingnya. Kairo Adinargo? Rasa merinding menjalar di sepanjang tulang belakang Kaia. Ia belum pernah melihat pria itu, tetapi ia pernah mendengar bisik-bisik tentangnya. Kairo bukan nama yang sering terdengar di bagian kota ini. Namun, ketika nama itu muncul, semua orang tahu masalah sedang menuju ke arah mereka. Semua orang mengenalnya. Mengenal keluarganya. Tahu bahwa keluarga itu menguasai sebagian kota Jakarta. Kisah tentang kelompok The Velvet Monarch bahkan diceritakan kepada anak-anak ketika para orang tua ingin membuat mereka menjauhi jalanan pada malam hari. Kaia berdiri kembali dan menatap para pelanggannya. "Pesanan kalian bisa dicatat?" Mata kedua pria itu membelalak, dan sulit bagi Kaia untuk tidak menyadari ketakutan di wajah mereka. Seolah-olah mereka sedang menatap Sang Pencabut Nyawa, mengetahui jiwa mereka sebentar lagi akan dibawa ke neraka. "Sudah berapa lama orang itu di sini?" tanya salah satu dari mereka, masih tidak mengalihkan pandangan dari pria yang kini Kaia tahu bernama Jaguar. "Nggak yakin. Dia sudah ada di sini saat aku mulai shift. Hemmm, jadi, mau pesan kopi?" Kaia sangat ingin mendapatkan pesanan mereka agar bisa pergi ke belakang dan memberi tahu Nubia siapa pria itu. Nubia tidak mungkin akan semangat menggoda pria tersebut kalau tahu dia salah satu anak buah Kairo Adinargo. "Tahu nggak?" Pria itu mengambil jaketnya lalu berdiri. "Kayaknya kita sarapan di tempat lain saja."Di tempat lain ....Hanya lega yang Kaia rasakan saat menatap makam ibunya. Kaia seharusnya merindukannya, menangisinya, berduka untuknya. Namun, ia tidak merasakan semua itu. Kepergian ibunya justru memberinya jeda setelah bertahun-tahun memikul tanggung jawab yang tidak seharusnya ditanggung seorang anak.Untuk pertama kalinya dalam enam tahun, Kaia tidak perlu lagi merawatnya. Sekarang ibunya menjadi urusan iblis. Bahkan sejak mengembuskan napas terakhir beberapa minggu lalu, wanita itu sudah menjadi urusan iblis.Alih-alih mengunjungi makam untuk merasa lebih dekat dengannya, Kaia datang untuk mengingatkan dirinya bahwa ibunya benar-benar sudah pergi. Ia ingin memastikan kematian itu bukan sekadar mimpi atau ilusi yang ia ciptakan karena putus asa ingin terbebas darinya.Kaia memejamkan mata, berusaha mengusir suara itu dari kepalanya. Ibunya mungkin sudah mati, tetapi hantu wanita itu masih menghantuinya. Dan mungkin akan selalu begitu.Matahari mulai terbit. Kaia merapatkan jake
Rasa ingin melawan membakar tenggorokan Kairo, tetapi ia menahan lidahnya. Saat ini, pria di hadapannya bukan ayahnya. Ia adalah Raja Velvet Monarch yang menuntut rasa hormat setiap saat.Dan ketika tatapan Petrus menekannya dari seberang meja, ia tidak sedang memandang putranya. Ia sedang memandang apa yang Kairo wakili. Masa depan Velvet Monarch.Suasana tenang itu menghilang begitu ayahnya menegakkan tubuh di kursi dan meletakkan kedua siku di atas meja."Ini harus dilakukan, Kairo. Kamu nggak punya pilihan.""Tentu saja aku punya pilihan.""Dulu Papa dan Mama nggak punya pilihan, dan kamu juga nggak.""Situasinya berbeda dengan papa. Pernikahan papa melahirkan aliansi yang lebih kuat.""Dan pernikahanmu akan melahirkan posisi yang lebih berkuasa sebagai pemimpin.""Itu omong kosong," cibir Kairo. "Hari ketika aku duduk di meja itu, aku akan menjadi pemimpin. Dan aku nggak membutuhkan istri untuk itu!""Sayangnya, kamu membutuhkannya." Ayahnya memiringkan kepala. "Coba bilang ke Pa
Ayah Kairo memiliki empat anak kandung, tetapi selalu menganggap Jaguar sebagai anak kelima. Sementara saudara perempuan Jaguar, Eva, sudah di anggap sebagai putri kesayangan ayah Kairo.Waktu itu Jaguar berusia sepuluh tahun dan adiknya baru empat tahun ketika mereka menjadi bagian dari keluarga ini. Kalau bukan karena ayah Kairo yang menyelamatkan mereka pada malam ketika orang tua dan saudara laki-laki mereka dibunuh, mereka pasti sudah dikuburkan di samping keluarganya.Rasa terima kasih Jaguar atas utang nyawanya, membuat kesetiaannya tidak tergoyahkan. Sedangkan Eva, dia praktis satu-satunya cahaya di tempat ini. Kairo tidak pernah mengerti bagaimana dosa-dosa keluarga ini tidak ikut merusaknya setelah ia tumbuh di tengah-tengah semua itu.Zion berjalan menyusuri lorong, tampak muram seperti biasa. Kadang-kadang Kairo merasa adik laki-lakinya itu seperti mayat berjalan, murung, dan membenci segala sesuatu."Tebak!" Tristan tersenyum ketika mereka berjalan menghampiri Zion. "Kair
"Astaga. Sial!" Edris memaki ketika Kairo menambah tekanan pada kepalanya. "Kairo, kamu nggak bisa melakukan ini.""Kamu nggak berhak menyuruhku melakukan apa pun, sialan!""Aku sepupumu, Anjing!""Lagian bukan sepupu sedarah.""Aku tetap bagian dari keluargamu.""Karena Paman Daeng memutuskan mengadopsimu setelah anak satu-satunya berubah jadi banci. Dia nggak pernah tahu kalau ternyata kamu bakal jadi orang paling bodoh yang pernah ada."Jaguar mencengkeram lengan Edris dan menekan tangannya ke meja. Ia memberikan tekanan kuat sampai bajingan itu tidak punya pilihan selain membuka telapak tangan dan merentangkan jari-jarinya."Kairo, sialan. Ini nggak lucu." Edris meronta-ronta melawan cengkeraman Jaguar dan Kairo, tetapi percuma. Melawan salah satu dari mereka saja ia tidak punya tenaga, apalagi melawan keduanya.Namun, karena Kairo suka menjadi orang yang memotong tulang, ia membutuhkan Jaguar untuk menahan sepupunya tetap di tempat. Kairo pun mengulurkan tangan dan meletakkan tel
"Lalu, apa kewajibanku sebagai istrimu nanti?" tanya Kaia sembari menatap Pria kekar itu."Sebagai istriku, satu-satunya kewajibanmu adalah menjalankan peranmu saat kita berada di depan orang lain.""Berarti kewajibanku itu gak berlaku untuk di dalam kamar?""Kalau kamu bertanya apakah kamu harus berhubungan seks denganku, Nona Indrawari, jawabannya enggak. Aku jamin keperawananmu akan tetap terjaga sampai nanti kontrak kita habis dan kamu bebas meninggalkan rumahku.""Keperawananku? Bagaimana kamu bisa tahu?""Kamu pikir aku akan memberikan tawaran seperti ini tanpa mengetahui semua hal tentang dirimu?" Pria itu menyilangkan kedua lengannya. "Ini masalah serius. Aku menawarkan kekayaan yang sangat besar untukmu, bukan karena aku ingin menidurimu atau membuatmu mengisap batang-ku."Kata-kata itu langsung membuat pipi Kaia memanas. Rasa panas yang menjalar hingga ke lehernya."Yang perlu kamu lakukan hanyalah bersikap seperti istri yang penuh kasih sayang dan tergila-gila padaku sampai







