LOGINBegitu sampai di kamar, Xiu Jie langsung menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur. Rasanya penat sekali; bukan cuma karena perjalanan jauh yang ia tempuh, tapi juga karena muak harus menonton drama antara Jenderal Tian Ming dan Ye Jinjing."Hari ini benar-benar bikin kepalaku mau pecah. Baru juga sampai, sudah harus melihat tingkah konyol Ye Jinjing," keluh Xiu Jie sambil menghela napas panjang. Ia berbaring telentang dengan mata terpejam rapat."Wanita itu memang keterlaluan, beraninya membuat Nona kesal," sahut Lie Mei, tak kalah geram."Oh iya, Lie Mei. Kalau ada yang mencariku, bilang saja aku sedang istirahat. Aku mau tidur dan tidak mau diganggu sama sekali," gumam Xiu Jie tanpa membuka mata."Baik, Nona!" jawab Lie Mei patuh. Tak butuh waktu lama, napas Xiu Jie sudah terdengar teratur; ia telah terlelap.Langit mulai menggelap. Di kediaman Kaisar Jinyulong, suasana mendadak mencekam. Para pelayan tampak tegang melihat aura sang Kaisar yang begitu menyeramkan. Tepat saat bulan pur
Di kediaman Jenderal Tian Ming, Ye Jinjing tampak duduk di depan cermin sambil merias diri. Tak seperti biasanya, kali ini riasannya sangat tipis, dipadukan dengan pakaian sederhana layaknya rakyat jelata."Xiao Bo, bagaimana penampilanku? Apa aku sudah terlihat seperti orang yang tertindas?"Xiao Bo yang berdiri di belakangnya segera mendekat dengan mata berbinar. "Penampilan Nona sudah sempurna. Wanita itu pasti akan berpihak pada Anda," bisiknya.Keduanya tertawa kecil. Namun sedetik kemudian, raut wajah Ye Jinjing berubah sinis saat membayangkan rencana licik yang telah ia susun.Sementara itu, rombongan kereta Xiu Jie dan Jenderal Tian Ming telah tiba di wilayah Kerajaan Bai Li Yuan. Seorang prajurit pengintai segera berlari menuju istana untuk melapor kepada Kaisar."Lapor Yang Mulia! Rombongan kereta Selir Xie Yue telah memasuki gerbang istana!"Kaisar Jin Yulong hanya menanggapi dengan tatapan dingin dan anggukan pelan. Tanpa sepatah kata pun, ia bangkit dari singgasananya. D
Langkah kaki Tian Ming dan Xiu Jie terdengar pelan namun mantap saat mereka memasuki bangunan mewah di jantung kota. Pilar-pilar tinggi menjulang, lampu gantung berkilau di langit-langit, dan aroma dupa halus menyambut mereka begitu pintu utama terbuka.Di lantai dua, tersembunyi di balik tirai tipis, seorang wanita cantik berdiri diam. Matanya tajam mengamati dua pria yang baru saja masuk. Wajahnya muram, seperti menyimpan badai yang siap meledak kapan saja."Sepertinya, wanita itu yang dikatakan oleh mata-mataku," gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. Suaranya bergetar menahan emosi. Tangannya mengepal erat, hingga buku-buku jarinya memutih.Di lantai bawah, seorang prajurit berpakaian biasa menghampiri Tian Ming dan Xiu Jie. Ia menunduk hormat, menunggu perintah."Beritahu Selir Xiyue, kami berdua ingin bertemu dengannya," ucap Tian Ming tenang, namun tegas.Prajurit itu mengangguk cepat, lalu berbalik dan berjalan cepat menuju lorong di sisi kanan ruangan.Sementara itu, di balik
Langkah kaki Xiu Jie terdengar ringan menyusuri lorong panjang menuju kamarnya. Begitu pintu kayu itu terbuka, ia menoleh ke belakang, menatap Tian Ming yang mengikutinya sejak dari aula utama."Ada apa kau mengajakku kemari?" tanyanya datar, sembari menutup pintu perlahan.Tian Ming berdiri di ambang pintu, ragu-ragu. Tatapannya tidak setegas biasanya. "Aku ingin mengajakmu untuk menjemput Selir Xiyue," ucapnya akhirnya.Namun, Xiu Jie menangkap sesuatu yang janggal dari raut wajah sang jenderal. Ada kegelisahan yang tak biasa."Tapi... aku takut Selir Xiyue tidak mau ikut kita ke istana," lanjut Tian Ming, suaranya nyaris seperti bisikan.Xiu Jie mengangkat alis, lalu berjalan santai ke meja kecil di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah apel merah, mengelapnya sekilas dengan lengan bajunya, lalu duduk di atas tempat tidur."Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?" tanyanya sambil menggigit apel. "Memangnya Selir Xiyue memberikan perintah khusus padamu?"Tian Ming menghela napas, lalu
Ye Jinjing berdiri terpaku, dadanya bergemuruh hebat. Ucapan Jenderal Tian Ming barusan membuat hatinya seperti disiram bara. Matanya menatap tajam ke arah pria itu, tapi Tian Ming tak menoleh sedikit pun.“Xiu Jie, ikut denganku,” perintah Tian Ming, suaranya tegas dan tak memberi ruang untuk dibantah.“Ah… iya, Jenderal!” sahut Xiu Jie tergagap. Ia buru-buru meletakkan cangkir teh yang masih hangat ke atas meja batu, lalu berlari kecil menyusul Tian Ming yang sudah lebih dulu melangkah keluar.Sebelum benar-benar pergi, Xiu Jie sempat menoleh ke arah Ye Jinjing. Ia menyeringai nakal, lalu menjulurkan lidah singkat, seolah mengejek. Ye Jinjing mendengus kesal. Wajahnya memerah, bukan karena malu, tapi karena amarah yang mendidih. Ia mengepalkan kedua tangannya erat-erat, lalu menghentakkan kakinya ke lantai.“Dasar menyebalkan!” gumamnya dengan suara rendah namun tajam. “Awas saja kau, Xiu Jie. Kalau rencanaku berhasil… kau akan ku usir dari rumah ini tanpa membawa ampun.”****Seme
Di ruang kerja istana utama, Raja Mamba duduk diam. Wajahnya muram, tatapannya kosong menembus jendela. Pikirannya melayang entah ke mana, hingga suara ketukan pintu mendadak membuyarkan lamunannya.Ia menghela napas panjang, lalu berseru dengan nada malas, "Masuklah."Pintu terbuka perlahan. Seorang pria berseragam jenderal melangkah masuk dan memberi hormat dalam-dalam."Lapor, Yang Mulia," ucap Jenderal Tian Ming dengan suara tegas namun hati-hati. "Rombongan kereta kuda Selir Xiyue telah tiba di kota Bai Li Yuan. Selir Xiyue...," ia terdiam sejenak, menimbang kata-kata.Raja Mamba menoleh perlahan, suaranya dingin. "Lanjutkan."Tian Ming menunduk sedikit, lalu berkata, "Selir Xiyue menitip pesan... Ia meminta agar Yang Mulia menjemputnya sendiri di penginapan."Hening sejenak. Lalu suara Raja Mamba meledak, "Lancang!" serunya, berdiri dari kursinya. "Aku sudah cukup murah hati mengizinkannya datang ke istana ini. Sekarang dia minta dijemput?"Tian Ming tetap menunduk, tak
Hari ini, Shen Jin bangun sangat pagi. Semalaman, ia tidak bisa tidur nyenyak; perasaannya selalu gelisah. Cahaya matahari pagi yang lembut menyelinap melalui celah-celah jendela, menciptakan bayangan yang menari di dinding kamarnya. Ia duduk di tepi tempat tidur, menarik napas dalam-dalam, mencoba
Shen Jin mengerang, tubuhnya terasa remuk redam. Cahaya mentari pagi yang menembus celah tirai sutera emas, menyilaukan matanya. Ia berusaha membuka mata, namun rasa sakit yang menjalar di sekujur tubuhnya membuatnya kembali terpejam. Aroma teh melati yang samar-samar tercium, mengingatkannya pada
Shen Jin terbangun dengan napas tersengal-sengal, keringat dingin membasahi dahi. Ruangan terasa gelap dan sunyi, hanya suara detak jantung yang terdengar jelas. Shen Jin mencoba mengingat mimpi buruk yang baru saja di alami , tetapi bayangannya perlahan memudar.Kemudian ia d
Shen Jin menatap Xiao Nian Jie dengan beragam emosi berkecamuk di dalam hatinya keterkejutan, kebingungan, dan sedikit harapan. Kata-kata yang diucapkan wanita itu. "Kau adalah bagian dari kisahku," mengalun dalam pikirannya, menimbulkan rasa ingin tahu. "Apa maksudmu dengan aku adalah bagian dari







