登入Tubuhnya merinding hanya dengan mengingat kejadian itu."Aku..."Xiu Jie menggigit bibir bawahnya."Seseorang mendorongku."Tatapan Kaisar Jinyulong langsung berubah dingin.Udara di dalam ruangan seolah ikut membeku."Siapa?"Xiu Jie menggeleng perlahan."Aku tidak melihat wajahnya.""Kau tidak melihatnya?""Aku hanya merasakan seseorang berdiri di belakangku. Sebelum sempat berbalik, orang itu sudah mendorongku ke dalam danau."Wajah Kaisar Jinyulong semakin suram.Berani menyerang seseorang di dalam istana saat pesta berlangsung sama saja dengan menantang kewibawaannya secara langsung.Dan orang yang diserang itu adalah Xiu Jie.Perempuan yang kini berada di bawah perlindungannya."Yang Mulia..."Xiu Jie memanggil pelan.Kaisar Jinyulong menoleh."Ada apa?""Mohon jangan membuat keributan besar karena masalah ini."Alis pria itu langsung berkerut.Kaisar Jinyulong menatap Xiu Jie dengan sorot mata yang semakin tajam."Kau hampir kehilangan nyawamu.""Aku tahu," jawab Xiu Jie pelan.
"Apa aku akan mati untuk yang kedua kalinya...?"Pikiran itu menjadi hal terakhir yang terlintas di benak Xiu Jie sebelum kesadarannya benar-benar tenggelam ke dalam kegelapan.Entah berapa lama waktu berlalu.Perlahan, Xiu Jie membuka matanya. Pandangannya terasa buram, seolah tertutup lapisan kabut tipis. Kelopak matanya begitu berat hingga ia harus mengedip beberapa kali untuk memaksanya tetap terbuka.Sedikit demi sedikit, bayangan samar di hadapannya mulai menjadi jelas.Hal pertama yang tertangkap oleh matanya adalah langit-langit berwarna putih bersih yang diterangi cahaya lampu terang. Aroma obat-obatan yang khas memenuhi udara, menusuk indera penciumannya dan membuat dadanya terasa sesak.Xiu Jie mengernyit pelan."Di mana aku...?" gumamnya dalam hati.Tatapannya bergerak perlahan menelusuri ruangan asing itu."Apa aku sudah berada di surga?"Namun sebelum sempat menemukan jawabannya, suara langkah kaki yang tergesa-gesa tiba-tiba terdengar dari kejauhan."Cepat panggil dokte
Setelah memasuki area Pesta Seribu Bunga, Xiu Jie melangkah dengan tenang di antara deretan paviliun megah yang dipenuhi bunga-bunga bermekaran. Aroma harum melati, peoni, dan anggrek bercampur dengan semilir angin musim semi, menciptakan suasana yang begitu indah hingga membuat para tamu terlena.Namun, sebelum ia sempat mencapai aula utama, seorang pelayan wanita tiba-tiba muncul dari kerumunan dan membungkukkan tubuh dengan hormat di hadapannya.“Nona Xiu,” ujar pelayan itu dengan suara lembut, “hamba diperintahkan langsung oleh Yang Mulia Selir Xiyue untuk menjemput Anda.”Langkah Xiu Jie terhenti.Sepasang matanya yang jernih menatap pelayan tersebut beberapa saat, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Ia merasa sedikit heran. Seingatnya, Selir Xiyue tidak pernah mengirim seseorang secara khusus untuk menjemputnya.Meski begitu, ia tidak menemukan alasan untuk menolak.“Ah, baiklah,” jawabnya akhirnya.Pelayan itu segera menunjukkan arah dengan sopan.“Mari, Nona. Lewat sini.”
"Ini benar-benar pemandangan yang menyenangkan," bisik Lie Mei pelan.Xiu Jie hanya mengulum senyum.Tanpa mengatakan apa pun, ia melangkah maju dengan anggun.Rok panjangnya bergesekan lembut dengan lantai batu, sementara jepit rambut giok di kepalanya berayun mengikuti langkahnya.Dengan tenang ia melewati Ye Jinjing dan para nona bangsawan yang masih membeku dalam kebingungan.Seolah-olah semua keributan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan dirinya.Dan justru sikap tenang itulah yang membuat Ye Jinjing merasa semakin terhina.Xiu Jie tersenyum lembut, begitu lembut hingga sulit bagi siapa pun untuk menemukan cela dalam sikapnya.Namun mereka yang mengenalnya cukup lama tahu bahwa senyum seperti itu biasanya menjadi pertanda bahwa seseorang akan dipermalukan tanpa sempat membalas.Ia melirik Ye Jinjing sekilas sebelum kembali menatap para nona bangsawan yang masih kebingungan."Kalian memang salah paham."Xiu Jie menghela napas pelan seolah merasa kasihan."Nona ini bukanla
Ketika Xiu Jie dan Ye Jinjing turun dari kereta pada waktu yang hampir bersamaan, perhatian banyak orang seketika tertuju kepada mereka. Aula perjamuan yang semula dipenuhi suara tawa dan percakapan ringan perlahan berubah menjadi lautan bisikan. Tatapan para tamu, terutama para nona bangsawan, bergerak bolak-balik mengamati kedua wanita itu dengan rasa ingin tahu yang sulit disembunyikan.Kabar mengenai Jenderal Tian Ming yang membawa seorang wanita pulang dari medan perang telah lama beredar di kalangan bangsawan. Namun, tidak banyak yang benar-benar mengetahui wajah Ye Jinjing. Sebagian besar hanya mendengar desas-desus, lalu merangkainya menjadi berbagai spekulasi.Bagi beberapa gadis bangsawan yang gemar mencari perhatian dan memanfaatkan gosip sebagai hiburan, kesempatan seperti ini tentu tidak akan mereka lewatkan."Menurut kalian, yang mana istri Jenderal Tian?" bisik salah seorang gadis sambil menutupi mulutnya dengan kipas sutra."Menurutku yang di depan itu," jawab gadis la
Pesta Seribu Bunga akhirnya tiba.Sejak fajar menyingsing, Istana Giok Bulan telah dipenuhi kesibukan. Para pelayan hilir-mudik membawa baki berisi perhiasan giok, jepit rambut emas, serta gulungan kain sutra terbaik yang telah disiapkan untuk perhelatan besar tersebut. Aroma dupa cendana yang lembut memenuhi ruangan, bercampur dengan wangi bunga peoni yang menghiasi setiap sudut istana.Sebagai permaisuri, Shen Jin telah bersiap sejak pagi bersama ibu mertuanya. Namun, di balik penampilannya yang megah dan sempurna, wajah cantiknya tampak sedikit muram.Ia berdiri di depan cermin tinggi berbingkai emas, menatap pantulan dirinya dengan tatapan pasrah. Jubah kebesaran berlapis-lapis yang dikenakannya menjuntai hingga menyapu lantai. Sulaman burung phoenix berbenang emas berkilauan setiap kali terkena cahaya matahari yang masuk melalui jendela.Shen Jin menghela napas panjang. Dada rampingnya naik turun perlahan, sementara jemarinya tanpa sadar menarik sedikit kerah pakaian kebesaran ya
Di keheningan ruang baca Istana Bai Li Yuan, di mana aroma dupa cendana berbaur dengan wangi tinta dan gulungan kitab kuno, Jin Yu tengah bertukar pikiran dengan Shen Zhibai, He Shen. Cahaya senja yang merayap masuk melalui jendela berukir menerangi wajah-wajah mereka yang tekun. Namun, ketenangan
Kegelapan pengap menyelimuti ruang bawah tanah yang dingin dan lembap. Aroma anyir darah bercampur bau tanah menyeruak menusuk hidung. Di tengah remang cahaya obor yang menari-nari di dinding batu, sosok XIU JUAN tampak mengenaskan. Gaun tahanan putih lusuhnya compang-camping, menampakkan kulitnya
Kabut pagi yang menyelimuti penginapan di kedai teh Senja perlahan tersibak, memperlihatkan siluet lima sosok yang bersiap untuk melanjutkan perjalanan. Jin Yu, dengan jubah putihnya yang berkibar tertiup angin, memeriksa pedang pusakanya, . Di sampingnya, Shen Zhibai, sang tabib muda dengan aura t
#warning 21+#Di kerajaan istana Bai Li Yuan, keheningan terasa begitu pekat, hanya dipecah oleh suara ketukan pena yang ritmis di atas meja marmer. Shen Jin, dengan tatapan menerawang, duduk termenung di balik meja kerjanya yang dipenuhi gulungan perkamen. Di seberangnya, di balik tumpukan dokume







