MasukLangkah kaki Tuan Besar Wijaya yang berat dan detak tongkatnya terhenti tepat saat pintu di lantai atas terbuka. Arkan muncul sambil merangkul bahu Luna dengan sangat protektif. Meski wajah Luna masih terlihat pucat di balik bedak tipisnya, ia berusaha memberikan senyum kecil yang dipaksakan. "Kakek!" seru Arkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap berwibawa. Tuan Besar Wijaya mendongak. Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh selidik, perlahan-lahan berubah menjadi cerah saat melihat sosok wanita yang berdiri di samping cucu kesayangannya. "Arkan... jadi ini istrimu?" gumam Tuan Besar. Senyum tipis mulai muncul di wajah tuanya yang keras. Saat Arkan memandu Luna turun dan sampai di hadapan Tuan Besar, Arkan segera memperkenalkan istrinya. "Kek, perkenalkan. Ini Luna, istri Ku. Maaf kami belum sempat sowan ke kediaman Kakek." Luna membungkuk dengan sangat hormat, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik gaunnya. "Selamat siang, Tuan
"Tidak! Jangan sentuh aku!" jerit Luna, tubuhnya meronta saat tangan-tangan dingin para pelayan mencengkeram bahunya. Namun, kekuatan mereka jauh melampaui tubuhnya yang sudah lemas karena tekanan batin. Dokter Hendra mendekat, wajahnya tanpa ekspresi saat ia menyiapkan alat suntik dan tabung baru. Cahaya lampu kamar yang mewah kini terasa seperti lampu ruang interogasi yang menyilaukan. "Ibu, hentikan! Ini penghinaan bagi istriku!" Arkan berteriak dari ambang pintu, mencoba melepaskan diri dari cengkeraman dua pengawal bertubuh kekar. "Apakah Ibu sudah tidak mempercayai putra Ibu sendiri?" Ibu Rina berbalik perlahan, menatap Arkan dengan senyum tipis yang mematikan. "Aku lebih percaya pada fakta medis daripada pada putra yang matanya telah dibutakan oleh wanita rendahan. Jika dia memang bersih, kenapa kamu harus gemetar, Arkan? Lakukan, Hendra!" Tepat saat jarum itu nyaris menyentuh kulit Luna, pintu kamar terbuka . Alex masuk dengan napas tersengal-sengal, wajahnya menu
Pintu kamar itu terbuka dengan derit pelan, Seorang wanita berseragam medis putih bersih masuk, diikuti oleh dua perawat yang membawa nampan berisi peralatan pengambilan darah dan spekulum yang berkilat dingin di bawah lampu kristal."Selamat pagi, Nyonya Luna," sapa dokter itu dengan nada profesional yang mekanis. "Saya Dokter Hana. Nyonya Besar meminta saya melakukan pemeriksaan reproduksi menyeluruh pagi ini."Luna mundur hingga punggungnya menabrak kepala ranjang. Matanya liar mencari sosok Arkan, namun pria itu sudah berdiri di sudut ruangan, bersedekap dengan wajah yang kembali membeku seperti patung es."Arkan... tolong," bisik Luna dengan bibir gemetar.Arkan tidak menjawab secara lisan. Ia hanya memberi kode singkat pada seorang perawat pria di belakang Dokter Hana—perawat yang wajahnya sedikit lebih muda dan tampak gelisah. Itu adalah orang kiriman Alex. Arkan kemudian melangkah maju, memposisikan dirinya di samping tempat tidur, menghalangi pandangan langsung dari kamera pe
Arkan mematikan mesin mobilnya dengan sentakan kasar . Layar dashboard masih menyala, menampilkan notifikasi dari Alex yang seolah menjadi lonceng kematian bagi rencana isolasi yang baru saja Arkan susun di kepalanya. Matanya yang tajam melirik Luna yang tampak rapuh di kursi penumpang, lalu beralih menatap gerbang vila pribadinya yang tersembunyi di balik kabut bukit. "Rencana berubah," desis Arkan. Suaranya terdengar seperti gesekan logam yang dingin, tajam dan tidak terbantahkan. Luna tersentak, bahunya menegang saat ia menatap profil samping wajah Arkan yang mengeras. "Apa maksudmu? " tanya Luna dengan suara bergetar. "Kenapa kita tidak masuk? Tanpa menjawab, Arkan memutar kunci dan menyalakan kembali mesin. Bukannya turun menuju vila, ia justru memutar balik kendaraan itu dengan gerakan drift yang sangat tajam, Mobil sport itu kini melesat kembali ke arah kota, membelah kabut yang mulai menipis oleh sinar fajar. "Kita pulang ke mansion ," ucap Arkan datar. Pandangannya
Mobil melaju kencang menembus kabut pagi yang menyelimuti jalanan menuju pesisir utara. Di dalam kabin, keheningan terasa mencekik. Luna terus melirik ke arah kaca spion, sementara Adrian tampak gelisah, sesekali menyeka keringat dingin di dahinya meski udara pagi sangat menusuk. "Kenapa kita ke pelabuhan lama, Kak? Bukankah itu kawasan sepi?" tanya Luna, mulai merasakan firasat buruk saat melihat papan penunjuk jalan ke arah dermaga tua yang sudah tidak beroperasi. Adrian tidak menjawab, matanya lurus menatap aspal. "Hanya di sana kapal sewaan itu bisa bersandar tanpa menarik perhatian otoritas pelabuhan, Luna. Diamlah, kita hampir sampai." Satu kilometer sebelum mencapai titik koordinat, sebuah pesan masuk ke ponsel Adrian yang terletak di dashboard. Layarnya menyala, memperlihatkan pesan singkat dari nomor tanpa nama: "Pancing dia ke ujung dermaga. Hadiahmu sudah menunggu." Luna sempat melihat kilasan pesan itu. Jantungnya mencelos. "Hadiah? Apa maksudnya, Kak?" Adrian men
Dua jam sebelum fajar menyingsing. Arkan duduk di kursi kerja kulitnya yang besar di dalam mansion Wijaya. deretan monitor menampilkan pergerakan saham serta titik GPS ponsel luna.Di depan meja Arkan, ia berdiri dengan bahu merosot dan wajah yang berkeringat meski AC ruangan sangat dingin.Arkan memutar-mutar sebuah pulpen Montblanc di jarinya, matanya tidak beralih dari layar tablet."Jadi, Adrian," suara Arkan memecah kesunyian, begitu rendah namun bergema. "Kamu pikir dengan membawanya ke rumah Sarah, aku tidak akan bisa menemukan kalian? Kamu meremehkan teknologi yang aku beli, atau kamu memang sebodoh itu?"Adrian menelan ludah dengan susah payah. "Arkan, tolong... Luna sangat ketakutan. Dia hanya butuh waktu untuk bernapas. Aku hanya ingin membantunya sebagai teman."Arkan menghentikan putaran pulpennya. Ia berdiri perlahan, berjalan mengitari meja dan berhenti tepat di depan Adrian. Arkan jauh lebih tinggi, dan auranya seolah menghisap oksigen di sekitar mereka."Teman?" Arka







