ホーム / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / Sangkar Yang Kembali Terkunci

共有

Sangkar Yang Kembali Terkunci

作者: arselaa
last update 最終更新日: 2026-01-06 16:10:23

Arkan mematikan mesin mobilnya dengan sentakan kasar . Layar dashboard masih menyala, menampilkan notifikasi dari Alex yang seolah menjadi lonceng kematian bagi rencana isolasi yang baru saja Arkan susun di kepalanya.

Matanya yang tajam melirik Luna yang tampak rapuh di kursi penumpang, lalu beralih menatap gerbang vila pribadinya yang tersembunyi di balik kabut bukit.

"Rencana berubah," desis Arkan. Suaranya terdengar seperti gesekan logam yang dingin, tajam dan tidak terbantahkan.

Luna tersentak, bahunya menegang saat ia menatap profil samping wajah Arkan yang mengeras. "Apa maksudmu? " tanya Luna dengan suara bergetar. "Kenapa kita tidak masuk?

Tanpa menjawab, Arkan memutar kunci dan menyalakan kembali mesin. Bukannya turun menuju vila, ia justru memutar balik kendaraan itu dengan gerakan drift yang sangat tajam, Mobil sport itu kini melesat kembali ke arah kota, membelah kabut yang mulai menipis oleh sinar fajar.

"Kita pulang ke mansion ," ucap Arkan datar. Pandangannya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tersembunyi

    Keesokan paginya, suasana di mansion terasa sangat tegang namun sunyi. Arkan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, meninggalkan Luna sendirian dalam pengawasan Ibu Rina. Ibu Rina tidak membuang waktu. Ia masuk ke kamar Luna saat menantunya itu sedang mandi. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan sutra, ia mengambil beberapa helai rambut Luna dari sisir meja rias, lalu mengambil sikat gigi cadangan yang sempat dipakai Luna semalam. "Kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Luna," desis Ibu Rina sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik klip. "Jika benar kau adalah darah daging Bramasta, aku akan memastikan kau lenyap sebelum Ayah sempat menyadarinya." Beberapa jam kemudian, di sebuah sudut kafe yang gelap, Ibu Rina menyerahkan amplop berisi sampel tersebut kepada Reno. "Lakukan tes DNA ini sekarang. Bandingkan dengan sampel biologis Bramasta yang tersimpan di arsip rumah sakit keluarga," perintah Ibu Rina. Reno menerima amplop itu dengan senyum miring. "Te

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Yang Tertanam Dibalik Duri

    kilas balik ​Malam itu hujan turun sangat deras, namun teriakan di dalam ruang kerja Tuan Besar Wijaya jauh lebih menderu. Sari Adiwangsa, seorang wanita muda yang saat itu menjabat sebagai sekretaris pribadi kepercayaan keluarga, berdiri gemetar di hadapan Tuan Besar. Wajahnya pucat, tangannya mendekap perutnya yang mulai membuncit. ​"Aku mencintainya, Tuan Besar. Dan dia juga mencintaiku," bisik Sari dengan suara pecah. ​Tuan Besar Wijaya tidak bergeming. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kegelapan. "Cinta adalah racun bagi ahli waris Wijaya, Sari. Putraku sudah menikah dengan Rina. Pernikahan itu adalah pilar bisnis kita. Apa yang kau kandung saat ini... adalah aib yang bisa meruntuhkan segalanya." ​Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Bramasta, putra tunggal Tuan Besar sekaligus suami Rina, masuk dengan napas memburu. Pakaiannya basah kuyup karena hujan. Ia langsung berdiri di depan Sari, melindunginya dari tatapan tajam ayahnya. ​"Hentikan, Ayah!" teriak Br

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Silsilah Yang Berduri

    Suara langkah kaki Ibu Rina bergema di koridor yang sunyi saat ia menuruni tangga, mengabaikan tatapan bingung para pelayan yang melihatnya pergi dengan wajah sedingin es. Di taman, Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok mertuanya muncul di ambang pintu kaca, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dia sudah pergi," bisik Luna, jemarinya masih kotor oleh tanah dari pot melati. "Tapi sorot matanya tadi... dia benar-benar tidak akan membiarkanku tenang, Arkan." Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sapu tangan dari saku jasnya, meraih tangan Luna, dan mulai mengusap noda tanah di jemari istrinya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Ibu bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan," ujar Arkan, matanya fokus pada tangan Luna. "Baginya, kegagalan hanyalah penundaan kecil. Dia akan mencari cara lain untuk menyerangmu." Luna menarik tangannya dengan gusar, merasa tidak nyaman dengan perhatian Arkan.

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Hak Milik Yang Mematikan

    Ibu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Perisai sang Tuan Besar

    Tuan Besar Wijaya tersenyum puas melihat cincin itu melingkar di jari manis Luna. Baginya, permata itu telah menemukan pemilik yang tepat, namun bagi Ibu Rina, kilauan berlian itu terasa seperti bara api yang membakar harga dirinya. "Terima kasih... Kakek," bisik Luna. Berat cincin itu seolah melambangkan beban baru yang harus ia pikul di rumah ini. "Sudah, jangan sungkan. Arkan, bawa istrimu istirahat setelah makan . Wajahnya masih pucat," perintah Tuan Besar sambil menyeka bibirnya dengan serbet sutra. " Rina, ikut aku ke ruang kerja. Ada beberapa dokumen yayasan yang ingin aku bahas bersamamu." Ibu Rina tersentak. Ia sempat melirik tajam ke arah tangga, teringat bahwa Dokter Hendra mungkin masih bersembunyi di atas. Namun, perintah mertuanya adalah titah yang tak terbantahkan. Dengan langkah kaku, ia mengekor di belakang Tuan Besar, meninggalkan Arkan dan Luna di ruang makan yang mendadak terasa hampa. Begitu mereka masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu, Arkan langsung mele

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Tameng Sang Tuan Besar

    Langkah kaki Tuan Besar Wijaya yang berat dan detak tongkatnya terhenti tepat saat pintu di lantai atas terbuka. Arkan muncul sambil merangkul bahu Luna dengan sangat protektif. Meski wajah Luna masih terlihat pucat di balik bedak tipisnya, ia berusaha memberikan senyum kecil yang dipaksakan. "Kakek!" seru Arkan, suaranya kini terdengar lebih tenang namun tetap berwibawa. Tuan Besar Wijaya mendongak. Pandangan matanya yang semula tajam dan penuh selidik, perlahan-lahan berubah menjadi cerah saat melihat sosok wanita yang berdiri di samping cucu kesayangannya. "Arkan... jadi ini istrimu?" gumam Tuan Besar. Senyum tipis mulai muncul di wajah tuanya yang keras. Saat Arkan memandu Luna turun dan sampai di hadapan Tuan Besar, Arkan segera memperkenalkan istrinya. "Kek, perkenalkan. Ini Luna, istri Ku. Maaf kami belum sempat sowan ke kediaman Kakek." Luna membungkuk dengan sangat hormat, mencoba menyembunyikan tangannya yang masih sedikit gemetar di balik gaunnya. "Selamat siang, Tuan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status