Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN / sangkar yang mulai nyaman

Share

sangkar yang mulai nyaman

Author: arselaa
last update Last Updated: 2025-12-31 22:57:03

Luna melangkah keluar dari gedung itu dengan langkah yang terasa lebih berat daripada saat ia masuk.

Di dalam mobil, Arkan menyandarkan punggung, membuka dasi sedikit. Untuk pertama kalinya hari itu, ia tampak lelah.

“Aku tidak memaksamu,” ucap Arkan akhirnya, suaranya rendah. “Aku yang akan menyelesaikan semuanya.”

Luna menoleh perlahan. “Tapi kamu ingin aku berdiri,” katanya pelan.

Arkan tak langsung menjawab. Mobil melaju, melewati gedung-gedung tinggi yang memantulkan bayangan mereka berdua—sepasang suami istri yang tampak utuh dari luar, kokoh dalam persepsi, rapuh di dalam.

“Kebenaran di dunia ini,” kata Arkan akhirnya, “tidak selalu cukup. Persepsi yang akan menang.”

Luna tersenyum tipis, getir. “Dan hari ini, aku adalah persepsimu.”

Arkan menoleh tajam. “Jangan merendahkan dirimu.”

“Justru aku sedang jujur,” balas Luna. “ Aku tahu kenapa aku harus bicara. Bukan karena aku ingin… tapi karena aku harus.”

Tangannya mengepal di pangkuan. Kata harus terasa pahit
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Rahasia Dibalik Nama Wijaya

    Perjalanan menuju butik terasa sangat mencekam. Di dalam mobil mewah itu, Ibu Rina tidak lagi berpura-pura ramah. Ia duduk tegak, menatap lurus ke depan sementara aroma parfumnya yang tajam seolah menghimpit ruang napas Luna. ​"Jangan besar kepala karena ucapan Ayah tadi," suara Ibu Rina memecah keheningan, dingin dan tajam. "Menjadi 'aset berharga' hanya berlaku selama kau berguna. Begitu rahimmu terisi, posisimu mungkin aman, tapi bukan berarti kau punya kendali di rumah ini." ​Luna mengepalkan tangannya di atas pangkuan, teringat pesan Arkan. Jangan tunjukkan wajah rapuhmu. ​"Saya menghargai kekhawatiran Ibu," jawab Luna setenang mungkin, meski suaranya sedikit bergetar. "Tapi saya di sini bukan hanya untuk memenuhi tuntutan pewaris. Saya di sini karena Arkan yang meminta saya tetap tinggal." ​Ibu Rina tertawa sinis. "Arkan hanya sedang terobsesi karena kau adalah mainan barunya. Tapi ingat, Luna, mainan bisa membosankan. Dan saat itu tiba, aku akan memastikan kau keluar da

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Fajar Di Mansion Wijaya

    Pagi menyapa dengan cahaya keemasan yang menembus celah gorden, Luna terbangun lebih dulu, merasakan beban lengan kokoh Arkan yang masih memeluk pinggangnya dengan posesif. Kejadian semalam bukan lagi sekadar kontrak; itu adalah penyerahan diri yang tulus. ​Luna menatap wajah Arkan yang tampak jauh lebih tenang saat tidur. "Apakah ini awal yang baru, atau justru akhir dari segalanya?" bisiknya pelan. ​Satu jam kemudian, Arkan terbangun. Ia tidak langsung beranjak, melainkan menarik Luna lebih dekat dan mengecup keningnya lama. "Jangan takut soal Kakek. Mulai hari ini, tidak ada lagi pil, tidak ada lagi sandiwara. Kita akan menghadapi Ibu bersama-sama." Luna hanya bisa terdiam, merasakan kecupan hangat Arkan yang masih membekas di keningnya. Wajahnya yang semula pucat kini merona hebat hingga ke telinga. Ia segera menarik selimut lebih tinggi, mencoba menyembunyikan rasa canggung yang tiba-tiba menyerang seluruh sarafnya. ​"Aku... aku mau mandi dulu," bisik Luna terbata, tanpa ber

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Kebenaran Yang Tersembunyi

    Keesokan paginya, suasana di mansion terasa sangat tegang namun sunyi. Arkan sudah berangkat ke kantor sejak pagi, meninggalkan Luna sendirian dalam pengawasan Ibu Rina. Ibu Rina tidak membuang waktu. Ia masuk ke kamar Luna saat menantunya itu sedang mandi. Dengan tangan yang terbungkus sarung tangan sutra, ia mengambil beberapa helai rambut Luna dari sisir meja rias, lalu mengambil sikat gigi cadangan yang sempat dipakai Luna semalam. "Kau tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini, Luna," desis Ibu Rina sambil memasukkan sampel itu ke dalam plastik klip. "Jika benar kau adalah darah daging Bramasta, aku akan memastikan kau lenyap sebelum Ayah sempat menyadarinya." Beberapa jam kemudian, di sebuah sudut kafe yang gelap, Ibu Rina menyerahkan amplop berisi sampel tersebut kepada Reno. "Lakukan tes DNA ini sekarang. Bandingkan dengan sampel biologis Bramasta yang tersimpan di arsip rumah sakit keluarga," perintah Ibu Rina. Reno menerima amplop itu dengan senyum miring. "Te

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Benih Yang Tertanam Dibalik Duri

    kilas balik ​Malam itu hujan turun sangat deras, namun teriakan di dalam ruang kerja Tuan Besar Wijaya jauh lebih menderu. Sari Adiwangsa, seorang wanita muda yang saat itu menjabat sebagai sekretaris pribadi kepercayaan keluarga, berdiri gemetar di hadapan Tuan Besar. Wajahnya pucat, tangannya mendekap perutnya yang mulai membuncit. ​"Aku mencintainya, Tuan Besar. Dan dia juga mencintaiku," bisik Sari dengan suara pecah. ​Tuan Besar Wijaya tidak bergeming. Ia berdiri menghadap jendela, menatap kegelapan. "Cinta adalah racun bagi ahli waris Wijaya, Sari. Putraku sudah menikah dengan Rina. Pernikahan itu adalah pilar bisnis kita. Apa yang kau kandung saat ini... adalah aib yang bisa meruntuhkan segalanya." ​Tiba-tiba, pintu ruang kerja terbanting terbuka. Bramasta, putra tunggal Tuan Besar sekaligus suami Rina, masuk dengan napas memburu. Pakaiannya basah kuyup karena hujan. Ia langsung berdiri di depan Sari, melindunginya dari tatapan tajam ayahnya. ​"Hentikan, Ayah!" teriak Br

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Silsilah Yang Berduri

    Suara langkah kaki Ibu Rina bergema di koridor yang sunyi saat ia menuruni tangga, mengabaikan tatapan bingung para pelayan yang melihatnya pergi dengan wajah sedingin es. Di taman, Luna merasa jantungnya berdegup lebih kencang saat melihat sosok mertuanya muncul di ambang pintu kaca, lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Dia sudah pergi," bisik Luna, jemarinya masih kotor oleh tanah dari pot melati. "Tapi sorot matanya tadi... dia benar-benar tidak akan membiarkanku tenang, Arkan." Arkan tidak langsung menjawab. Ia justru menarik sapu tangan dari saku jasnya, meraih tangan Luna, dan mulai mengusap noda tanah di jemari istrinya dengan gerakan perlahan namun tegas. "Ibu bukan tipe orang yang menyerah hanya karena satu kegagalan," ujar Arkan, matanya fokus pada tangan Luna. "Baginya, kegagalan hanyalah penundaan kecil. Dia akan mencari cara lain untuk menyerangmu." Luna menarik tangannya dengan gusar, merasa tidak nyaman dengan perhatian Arkan.

  • ISTRI KONTRAK SANG CEO DINGIN   Hak Milik Yang Mematikan

    Ibu Rina mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. "Tentu tidak, Ayah. Aku hanya... memikirkan protokol keluarga," jawabnya dengan suara yang dipaksakan tenang, meski api kemarahan berkobar di matanya. Tuan Besar Wijaya tidak menghiraukan pembelaan menantunya. Beliau beralih kembali pada Luna, lalu menepuk punggung tangan wanita itu dengan lembut. "Ingat, Luna. Di keluarga ini, kekuatan bukan hanya berasal dari nama belakang, tapi dari apa yang kamu miliki secara sah. Jaga saham itu, dan saham itu akan menjagamu." Setelah Tuan Besar masuk ke dalam rumah untuk bersiap-siap menuju bandara, suasana di taman mendadak membeku. Ibu Rina melangkah maju, berdiri tepat di hadapan Luna hingga ujung sepatu mereka hampir bersentuhan. "Jangan merasa menang, Luna," desis Ibu Rina, suaranya begitu rendah hingga Arkan yang berdiri dua langkah di belakang pun hampir tak mendengarnya. "Saham itu bisa menjadi berkah, namun bisa juga menjadi surat kematianmu. Aku akan memastikan Kak

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status