LOGINSialnya, pikiran Naura semakin berantakan. Ia tiba-tiba merasa bersalah karena sejujurnya, di lubuk hatinya yang paling dalam, Naura belum sepenuhnya bisa melupakan Dion. Pria yang ia cintai.Belum lagi, beberapa hari terakhir ini tidurnya selalu diganggu oleh mimpi-mimpi aneh."Ma..." panggil Naura pelan sambil menyapu air bunga di tangannya dengan raut bingung. "Belakangan ini aku sering mimpi aneh."Jesslyn menaikkan sebelah alis. "Mimpi apa?""Mimpi masa kecil aku yang samar banget," cerita Naura dengan dahi berkerut. "Di mimpi itu, ada anak kecil... dan ada potongan kenangan yang aku ingat soal Bubu. Momen itu terasa hangat, tapi pas aku berusaha melihat wajahnya, aku langsung terbangun. Ma, Bubu itu sebenarnya siapa sih?"Mendengar nama 'Bubu' disebut, Jesslyn sama sekali tidak mau membawa pembicaraan itu lebih jauh. Ekspresinya sengaja dibuat tetap tenang."Sudahlah, Ra," sahut Jesslyn santai seraya kembali menyiramkan air hangat ke bahu Naura. "Tidak usah terlalu memaksakan dir
Sinar matahari pagi menyusup di antara celah gorden kamar Naura. Kehangatan itu menerpa wajah Naura yang membuatnya terbangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu meringis ketika merasakan bibirnya masih sedikit berdenyut dan membengkak akibat jejak kebrutalan Arka yang nekat memanjat balkon kamarnya tadi malam."Pria gila..." umpat Naura sambil menyentuh bibirnya dengan ujung jari.Pikirannya kembali dipenuhi bayangan-banyangan bagaimana Arka begitu dominan, menolak tunduk pada tradisi, sekaligus menegaskan bahwa Naura adalah miliknya. Namun, lamunan itu buyar ketika pintu kamarnya diketuk cukup keras.Tok! Tok! Tok!"Naura! Ayo bangun, Sayang! Ama dan tim perias sudah menunggumu di bawah!" suara Jesslyn terdengar dari balik pintu.Naura menghembuskan napas panjang. Ia menyingkap selimut cokelatnya, kemudian turun dari ranjang. Hari pertama masa pingitan resmi dimulai. Sebagai putri keluarga keturunan Tionghoa seperti keluarga Wijaya, pingitan bukan sekadar berdiam diri di kamar
Jesslyn sempat melirik Surya sebelum kembali memandang Arka. “Mulai besok pagi, kamu tidak usah bertamu ke sini dulu, ya.”Deg.Arka menatap calon ibu mertuanya dengan raut bingung di balik wajah tampannya.“Maksud Mama... tidak usah bertamu?” tanya Arka. Suaranya tenang, tetapi ada nada menuntut yang tertahan di sana.Jesslyn tersenyum lembut, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa. “Pernikahan kalian tinggal seminggu lagi. Menurut tradisi keluarga kami, kalian berdua sudah harus masuk masa pingitan mulai besok. Naura tidak boleh keluar rumah dan tidak boleh bertemu calon pengantin pria sampai hari H.”Di sofa terpisah, Naura yang tadinya sibuk mengelap sisa rasa panas di lehernya akibat ulah Arka di meja makan tadi, langsung menegakkan tubuh. Matanya berbinar kecil.‘Pingitan? Yes, akhirnya ada alasan untuk mengusir pria mesum ini haha!’ batinnya bersorak puas.Arka menatap Naura seolah berharap perempuan itu membantunya. Naura hanya mengangkat kedua tangannya.“Jangan lihat ak
Seminggu kemudian. Suasana di Mansion Wijaya berubah jauh lebih ramai daripada biasanya. Hampir seluruh sudut rumah mulai dihiasi nuansa merah dan emas. Rangkaian bunga memenuhi beberapa meja, lampion merah bergantung di sepanjang foyer dan tangga utama, sementara ornamen double happiness berwarna emas menghiasi beberapa sudut mansion. Para pekerja masih sibuk menyelesaikan sentuhan terakhir, memastikan kediaman keluarga Wijaya siap menyambut rangkaian tradisi menjelang pernikahan Naura.Tujuh hari lagi, pernikahan Naura dan Arka akhirnya akan dilangsungkan. Setelah menjalani perawatan selama lebih dari seminggu, Naura sudah diperbolehkan pulang. Kondisinya jauh lebih baik dan tubuhnya mulai kembali bugar. Luka-lukanya masih membutuhkan waktu untuk benar-benar sembuh, tetapi dokter sudah mengizinkannya menjalani pemulihan di rumah dengan pengawasan keluarga.Sejak kepulangannya, Arka hampir setiap hari datang ke Mansion Wijaya. Kadang ia membawa makanan kesukaan Naura, kadang buah-bua
"APA??"Bagas dan Gio berteriak bersamaan. Rahang Bagas hampir jatuh, sementara Gio melotot lebar seolah baru saja mendengar kabar yang tidak masuk akal. Dua puluh lima persen saham dari proyek konsorsium raksasa itu nilainya mencapai ratusan triliun rupiah. Dan pria yang dijuluki The Cold Blooded Monster di dunia bisnis ini menyerahkannya begitu saja demi seorang wanita."Kamu gila, Arka!" seru Bagas sambil menepuk meja Arka kuat. "Dua puluh lima persen saham dari konsorsium itu bukan angka kecil, bro! Kamu memberinya seolah sedang membagi potongan kue ulang tahun!"Gio ikut memegang pelipisnya yang mendadak berdenyut. "Aku tahu uangmu banyak banget. Tapi ini sudah keterlaluan. Keluarga Wijaya itu isinya pebisnis ulung. Kakeknya Naura bahkan terkenal paling perhitungan di industri ini. Kamu sadar tidak kalau kamu baru saja memberi mereka santapan empuk?"Arka menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya. Wajahnya yang tadinya segar dan penuh binar bahagia mulai memudar, berganti me
Cahaya matahari pagi menyusup melalui celah gorden, menggantikan pendar temaram lampu tidur yang menjadi saksi kegilaan mereka semalam. Suasana kamar rawat sudah kembali rapi dan wangi. Tidak ada lagi jejak sprei ternoda atau kepanikan konyol yang melanda Arka dan Naura beberapa jam lalu.Pukul delapan pagi, aroma bubur ayam dan sup hangat dari nampan rumah sakit memenuhi ruangan. Naura duduk bersandar di atas kasur, menikmati sarapannya dengan malas. Di sampingnya, Arka berdiri merapikan kemeja yang baru saja diantarkan oleh sopirnya. Tok… Tok… Tok…Pintu kamar terbuka lebar. Jeslyn masuk terlebih dulu bersama Vanessa yang mengekor di belakangnya sambil membawa buket bunga segar dan buah-buahan."Selamat pagi, Sayang," tegur Jeslyn lembut. Ia berjalan mendekat dan mendaratkan kecupan hangat di dahi Naura. "Bagaimana tidurmu semalam? Tidur nyenyak, kan?""Pagi, Ma. Sangat nyenyak." balas Naura sambil tersenyum.Sementara Jeslyn sibuk menaruh buah di meja, mata Vanessa mulai bergerily
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







