LOGIN"Nggh... Arka... Stopph..."Satu desahan lolos begitu saja dari celah bibir Naura saat ibu jari Arka sengaja mencubit putingnya. Naura segera menggigit bibir bawahnya erat-erat, merutuki kelemahannya sendiri. Kenapa sentuhan Arka selalu terasa seperti racun yang memabukkan? Jemari pria itu seolah mampu mengendalikan seluruh sistem sarafnya, merobohkan pertahanan dan rasa gengsi yang susah payah ia bangun.Melihat Naura yang menahan gairah dengan mata berkaca-kaca, Arka tidak mampu menahannya lagi. Ia mengangkat tubuh Naura dengan mudah, memindahkannya ke atas ranjang, lalu menindihnya dari atas. Pria itu menyangga kedua sikunya di sisi kepala Naura. Pandangan Arka bergerak lambat, memperhatikan wanita itu dari ujung rambut hingga ujung kaki.Lingerie yang dikenakan Naura sudah berantakan. Tali gaunnya terlepas di satu sisi, memperlihatkan bahu mulus serta separuh dadanya yang kian terbuka. Rambut panjangnya tersebar acak di atas sprei putih. Napas Naura memburu, dadanya naik turun den
Malam semakin larut ketika Mansion Wijaya akhirnya benar-benar sunyi. Lampu-lampu di lantai bawah telah dimatikan, para staf rumah tangga sudah kembali ke kamar masing-masing, sementara Ama dan Akong juga telah beristirahat sejak beberapa jam lalu. Hanya cahaya lampu dari kamar Naura yang masih menyala di lantai atas.Di kamar tersebut, Naura masih terjaga. Ia duduk di depan meja rias sambil menyisir rambut panjangnya. Setelah seharian menjalani berbagai persiapan pernikahan dan mengikuti aturan pingitan yang terasa semakin membosankan, akhirnya ia memiliki sedikit waktu untuk dirinya sendiri.Awalnya, Naura merasa aturan itu sangat menguntungkan karena ia bisa terbebas dari pria menyebalkan yang selalu mencari alasan untuk mengganggunya. Namun setelah beberapa hari berlalu, ia justru mulai menyadari ada sesuatu yang terasa berbeda.Rumah ini terlalu sepi. Dan yang lebih menyebalkan, ia mulai merindukan seseorang.Naura segera menggelengkan kepala, seolah ingin mengusir pikiran itu. I
Matahari baru saja terbit di atas langit Jakarta ketika jet pribadi milik Arka mendarat mulus di landasan pacu Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di dalam kabin VIP, Arka baru saja merapikan kancing jasnya. Raut wajahnya tampak lelah meskipun sorot matanya tetap tajam, memancarkan aura dominan yang begitu melekat pada dirinya.Leon berjalan di sampingnya seraya membawa tablet yang terus menyala."Tuan Arka," ujar Leon sopan. "Mobil pengawalan sudah siap di area penjemputan. Jadwal Anda pagi ini adalah beristirahat di kondominium, lalu pukul dua siang—""Ubah rutenya," potong Arka singkat. Langkah lebarnya membawa pria itu melewati selasar bandara tanpa keraguan. "Kita ke Mansion Wijaya sekarang."Leon menghentikan langkahnya sejenak, menatap punggung atasannya dengan dahi berkerut. "Tuan, Anda belum tidur sama sekali sejak lepas landas dari Dubai. Rangkaian acara pra-nikah baru dimulai besok hari."Arka memutar kepala sedikit, menyunggingkan senyum tipis yang penuh kepastian. "Lal
Karena Naura tak kunjung memberikan jawaban, Arka kembali memanggilnya dari seberang sana.“Sayang? Kok diam?” panggil Arka heran. “Kamu suka yang mana?”Dua staf perempuan yang berada tidak jauh dari Arka saling melirik sambil menahan senyum. Mereka jelas dapat mendengar percakapan tersebut, tetapi memilih berpura-pura sibuk.Naura menghela napas berat. Ia sedang malas berdebat, malas ditanya-tanya, dan tidak punya energi untuk berpikir panjang. Demi mengakhiri interaksi itu secepat mungkin, ia menjawab asal-asalan.“Gelang yang lagi kamu tunjuk itu... bagus,” gumam Naura datar.Seketika senyum puas terbit di bibir Arka. “Pilihan kamu memang selalu bagus. Memang dari tadi aku ingin beliin gelang yang ini buat kamu.”Arka bergeser ke etalase sebelah. Jemarinya menunjuk sebuah kalung berlian dengan liontin yang berkilau anggun.“Kalau yang ini? Kamu suka?” tanya Arka lagi sambil memperlihatkan kalung tersebut ke kamera.Naura kembali terdiam. Melihat Arka yang rela meluangkan waktu di
Sialnya, pikiran Naura semakin berantakan. Ia tiba-tiba merasa bersalah karena sejujurnya, di lubuk hatinya yang paling dalam, Naura belum sepenuhnya bisa melupakan Dion. Pria yang ia cintai.Belum lagi, beberapa hari terakhir ini tidurnya selalu diganggu oleh mimpi-mimpi aneh."Ma..." panggil Naura pelan sambil menyapu air bunga di tangannya dengan raut bingung. "Belakangan ini aku sering mimpi aneh."Jesslyn menaikkan sebelah alis. "Mimpi apa?""Mimpi masa kecil aku yang samar banget," cerita Naura dengan dahi berkerut. "Di mimpi itu, ada anak kecil... dan ada potongan kenangan yang aku ingat soal Bubu. Momen itu terasa hangat, tapi pas aku berusaha melihat wajahnya, aku langsung terbangun. Ma, Bubu itu sebenarnya siapa sih?"Mendengar nama 'Bubu' disebut, Jesslyn sama sekali tidak mau membawa pembicaraan itu lebih jauh. Ekspresinya sengaja dibuat tetap tenang."Sudahlah, Ra," sahut Jesslyn santai seraya kembali menyiramkan air hangat ke bahu Naura. "Tidak usah terlalu memaksakan dir
Sinar matahari pagi menyusup di antara celah gorden kamar Naura. Kehangatan itu menerpa wajah Naura yang membuatnya terbangun. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, lalu meringis ketika merasakan bibirnya masih sedikit berdenyut dan membengkak akibat jejak kebrutalan Arka yang nekat memanjat balkon kamarnya tadi malam."Pria gila..." umpat Naura sambil menyentuh bibirnya dengan ujung jari.Pikirannya kembali dipenuhi bayangan-banyangan bagaimana Arka begitu dominan, menolak tunduk pada tradisi, sekaligus menegaskan bahwa Naura adalah miliknya. Namun, lamunan itu buyar ketika pintu kamarnya diketuk cukup keras.Tok! Tok! Tok!"Naura! Ayo bangun, Sayang! Ama dan tim perias sudah menunggumu di bawah!" suara Jesslyn terdengar dari balik pintu.Naura menghembuskan napas panjang. Ia menyingkap selimut cokelatnya, kemudian turun dari ranjang. Hari pertama masa pingitan resmi dimulai. Sebagai putri keluarga keturunan Tionghoa seperti keluarga Wijaya, pingitan bukan sekadar berdiam diri di kamar
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







