Home / Romansa / ISTRI KONTRAK SANG MONSTER / BAB 2 Ancaman Pertama Sang Monster

Share

BAB 2 Ancaman Pertama Sang Monster

Author: Mutia Azwar
last update publish date: 2026-03-17 01:52:48

“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.

Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.

Ini perintah.

Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di dalam ruangan langsung meredup, digantikan oleh hembusan angin malam yang membawa aroma kota.

Lampu-lampu gedung pencakar langit berkilauan di kejauhan.

Arka bersandar santai pada pagar balkon sambil mengeluarkan pemantik api emas dari sakunya.

“Kamu tampak gugup, Naura.”

Ia menyalakan rokoknya dengan gerakan tenang. “Apakah kamu takut padaku?”

Asap tipis melayang di udara malam ketika ia mengembuskannya.

“Atau kamu takut karena pacarmu sekarang sedang menangis di apartemen kumuhnya… memikirkan bagaimana kekasihnya akan menikah dengan pria lain?” Ia terkekeh pelan.

Naura menegakkan punggungnya. Topeng kerapuhan yang tadi ia kenakan perlahan retak.

“Dia tidak ada hubungannya dengan ini, kita di sini hanya untuk bisnis, Tuan Arka.” jawabnya dingin.

“Bisnis?” Arka tertawa pendek, suara yang lebih terdengar seperti ejekan daripada hiburan.

“Keluargamu menjualmu padaku seharga dua ratus tujuh puluh satu triliun rupiah, hanya untuk menyelamatkan proyek mereka yang sekarat.” katanya santai.

Ia mematikan rokoknya di pagar balkon.

“Itu bukan sekadar bisnis, Naura.” tatapannya menjadi lebih gelap.

Arka melangkah mendekat.

Satu langkah.

“Itu penebusan dosa.” suaranya datar dan tenang.

Naura melangkah maju sedikit, menatapnya tanpa gentar.

“Aku akan mengajukan kontraknya. Dua tahun. Tidak ada sentuhan fisik yang tidak perlu. Kita hidup dengan dunia masing-masing.” katanya tegas. 

Ia menatap Arka tanpa ragu. “Setelah itu kita bercerai dan aku mendapatkan kebebasanku. Itu syarat dariku.”

Keheningan jatuh di antara mereka.

Angin malam meniup lembut rambut Naura.

Arka mengamati wajahnya beberapa detik… lalu tersenyum.

“Tahu apa yang paling menarik darimu, Naura?”

Sebelum Naura sempat menjawab, Arka tiba-tiba bergerak.

Cepat.

Punggung Naura menyentuh pagar balkon yang dingin saat tubuh Arka menjebaknya di sana. Kedua tangan Arka mengunci di kedua sisi tubuh Naura.

Jarak mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyentuh bibirnya. Namun Arka tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di sana.

“Kamu sangat berani,” bisik Arka.

Jemarinya menyentuh leher Naura, merasakan denyut nadinya yang berdegup cepat.

“Tapi aku bisa menciumnya,” Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh sisi wajah Naura dengan ujung jarinya. “Bau adrenalin.”

Sentuhan itu ringan, cukup membuat nadinya berdenyut lebih cepat.

“Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong,” Ia menunduk, mengendus leher Naura sensual.

Naura mencengkeram pagar balkon di belakangnya, menahan diri untuk tidak bereaksi.

“Jantungmu berdetak sangat cepat, Naura.” Arka memperhatikan setiap inci wajah Naura. Dan justru terlihat semakin tertarik.

Pandangan Arka perlahan turun. Ke arah paha Naura. Tepat ke arah belati yang tersembunyi. Senyumnya berubah perlahan.

“Belati keramik, hm” gumamnya pelan.

Naura menegang.

Senyum Arka justru melebar.

“Pilihan yang cerdas.”

Tanpa peringatan, Arka mengambil belati itu lalu meraih pergelangan tangan Naura dan menariknya ke depan. Mata Naura membelalak ketika ujung belati itu kini mengarah tepat ke dada Arka. Namun pria itu tidak mundur sedikit pun.

Sebaliknya… ia justru mendorong dirinya lebih dekat. Ujung belati itu menyentuh jas mahalnya.

“Jika kamu ingin menusukku,” bisiknya tenang di telinga Naura, “sekarang waktunya.”

Mata Naura menyipit.

“Sentuh aku lagi, dan kita lihat siapa yang lebih dulu berdarah.” katanya dingin.

Keheningan jatuh satu detik.

Dua detik.

Lalu Arka tertawa pelan. Tawa rendah yang terdengar puas.

“Menarik,”

Ia mundur setengah langkah, memberi Naura ruang untuk bernapas.

“Itulah sebabnya aku memilihmu.”

Arka merapikan jasnya santai. “Aku bosan dengan wanita yang hanya bisa menangis dan menurut.”

Tatapannya kembali pada Naura. Gelap. “Aku ingin sesuatu yang… menggigit.”

Arka membuka pintu balkon dan memberi jalan dengan sopan.

“Tanda tangani kontraknya malam ini.” Arka berhenti sebelum masuk kembali ke aula. “Di mansionku.”

Lalu ia menoleh sekali lagi ke arah Naura.

“Dan satu hal lagi.” Senyumnya tipis.

“Mulai detik ini kamu milikku.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan santai,

“Jika kamu mencoba menemui pacarmu lagi, aku tidak bisa menjamin dia masih memiliki semua anggota tubuhnya besok pagi.” kata Arka santai, ia mengedipkan sebelah matanya pada Naura.

Setelah itu Arka membuka pintu sepenuhnya.

“Silahkan, Sayang. Ayahmu dan Rafael sudah menunggu pengumuman pernikahan kita malam ini.”

Naura melangkah kembali ke dalam aula dengan pundak yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Sementara Arka berjalan dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Lampu kristal itu masih berkilau. Musik masih mengalun. Para tamu masih tersenyum dan tertawa. Semua tampak normal. Namun Naura tahu kebenarannya. Kakaknya mungkin telah menyelamatkan perusahaan mereka malam ini. Tapi sebagai gantinya, ia baru saja menyerahkan adiknya ke dalam perangkap monster.

Ketika ia memasuki aula, Rafael sudah berdiri di dekat panggung bersama ayah mereka. Sedangkan Arka berdiri beberapa meter di depannya sekarang, kembali tersenyum sempurna pada para tamu. Seolah ia bukan pria yang baru saja mengurungnya di balkon beberapa menit lalu. Naura menatapnya tanpa berkedip.

Jika ini benar-benar permainan…

Naura menggenggam erat belati yang tersembunyi di balik gaunnya.

“Permainan ini,” pikirnya dalam hati sambil kembali memasang senyum profesionalnya pada para kamera, “Baru saja dimulai.

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (1)
goodnovel comment avatar
brynola. gr
semangat Naura ......... harusnya lo jedotin aja si arka ke tembok, nyebelin bgt asli...
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 111 Misi Yang Gagal

    Di dalam kabin first class yang didominasi interior kayu mahoni dan kulit krem, suasana begitu tenang. Cahaya sore keemasan menembus jendela kaca oval, membiaskan bayangan lembut di pangkuan Naura.Naura bersandar malas di kursinya yang empuk. Di sampingnya, Arka duduk tegap dengan laptop terbuka di atas meja lipat. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda karena perubahan rute mendadak ke Seoul."Arka, masih lama ya sampai Seoul?" tanya Naura, memecah keheningan sembari memilin ujung rambutnya.Arka menoleh tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Sekitar empat puluh lima menit lagi. Kamu merasa pusing?""Tidak, cuma haus sih," gumam Naura. Tenggorokannya memang terasa sedikit kering setelah menyantap daging panggang di Jeju tadi. "Pokoknya nanti begitu mendarat di Gimpo, kita langsung drop koper di penthouse, terus ke Namsan Tower. Setelah itu kita harus jalan-jalan menyusuri Myeongdong. Aku mau beli hottok gula merah yang mele

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 110 Kiss for A Gift

    Pelayan mulai membalik potongan daging yang permukaannya telah berubah cokelat keemasan, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian dengan gunting khusus. Naura sudah tidak sabar. Begitu pelayan membungkuk dan pamit keluar ruangan, ia segera menyambar sumpitnya. Selembar daun selada diambil, kemudian diisi sedikit nasi hangat, sepotong daging yang renyah di luar tetapi tetap juicy di dalam, lalu dicelupkan ke dalam saus Mel jeot yang hangat. Sebagai pelengkap, Naura menambahkan sepotong kimchi sawi di atasnya.Dengan telaten, ia menggulung daun selada itu hingga membentuk bulatan rapi. Namun, bukannya memasukkannya ke mulut sendiri, Naura justru mengarahkannya tepat ke depan bibir Arka."Buka mulutmu, Arka! Aaa..." suruh Naura dengan senyum manis.Arka memicingkan mata curiga, menahan tangan Naura. "Ini tidak ada cabe atau bawang putih mentah di dalamnya, kan?""Tidak ada, Arka. Ya ampun, dasar penakut! Cepat makan sebelum tanganku pegal!" cibir Naura menghentak-hentakkan sumpitnya.

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 109 Sehari Bersama Monster

    Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Naura membaik secara signifikan. Rona sehat kembali menghiasi kedua pipinya, sementara tenaga wanita itu pun telah pulih sepenuhnya. Sesuai jadwal awal, jet pribadi Arka seharusnya lepas landas menuju Jakarta tepat pukul dua siang. Namun, rencana itu mendadak berantakan begitu Naura menyampaikan keinginannya di dalam suite resort tempat mereka tengah mengemasi barang."Tidak mau! Pokoknya penerbangannya dimundurkan saja jadi jam empat sore!" seru Naura mantap sembari bersedekap di depan koper besarnya yang masih terbuka.Arka yang sedang memasang jam tangan mewahnya menoleh kaku. "Naura, kita berangkat jam dua. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu cukup lama dan aku tidak mau kamu kecapekan di jalan.""Aku sudah sembuh, Arka!" protes Naura kesal. "Masa kita sudah jauh-jauh ke Jeju tapi aku tidak membawa oleh-oleh sama sekali sih? Aku belum membelikan apa-apa untuk sahabatku, untuk keluargaku, bahkan untuk Mami!""Biar Leon nanti yang menyuruh oran

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 108 Because I Almost Lost You

    Naura menelan ludahnya susah payah. “B-bukan begitu maksudnya, Arka. Aku cuma—"“Cuma apa?” potong Arka. Nada suaranya masih dingin. “Kamu baru saja keluar dari kondisi kritis, masih terpasang infus, dan dokter sudah memperingatkanmu untuk tidak makan makanan seperti ini. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu malah diam-diam menyuruh Dimas membelikannya untukmu. Are you insane?""Aku bosan makan bubur terus! Aku hanya ingin makan sesuatu yang aku suka. Kenapa kamu memperlakukanku seperti tahanan?" rengek Naura. Matanya mulai berkaca-kaca, sementara bibirnya mengerucut seperti menahan tangis.Tatapan Arka masih tertancap padanya. Tidak ada sedikit pun kehangatan yang tadi pagi memenuhi sorot mata pria itu ketika ia menggenggam tangan Naura dan mengatakan betapa berharganya melihat mata wanita itu kembali terbuka. Kini, yang tersisa hanya rahang yang mengeras, urat leher yang menegang, dan sepasang mata hazel yang menyimpan sesuatu yang jauh lebih dalam daripada sekadar kemarahan.“Kamu sela

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 107 KETAHUAN?

    Dimas berjalan menyusuri koridor resort dengan langkah cepat, tetapi wajahnya dibuat setenang mungkin. Dua paper bag berukuran cukup besar menggantung di kedua tangannya, sementara aroma khas makanan Korea yang masih hangat merembes keluar dari sela-sela kemasan.Ia membeli teokbokki, bibimbap, dan kimchi. Bahkan ia menambahkan gimbap dan mandu karena uang yang diberikan Naura masih tersisa cukup banyak. Senyum puas mengembang di wajahnya."Kalau Nona Naura tahu aku beli makanan sebanyak ini, dia pasti senang," gumam Dimas sembari melirik isi kantongnya.Namun, langkahnya mendadak melambat ketika sebuah sosok muncul dari ujung koridor. Pria itu adalah Kevin. Dimas langsung menegakkan tubuhnya. Senyumnya lenyap."Aish, shiball..."Kevin berjalan mendekat dengan ekspresi tenang seperti biasa. Tatapannya jatuh pada dua paper bag di tangan Dimas, lalu beralih ke wajah pria itu."Kamu dari mana?" tanyanya datar.Dimas tertawa kecil, berusaha terdengar santai. "Ah… itu tadi aku habis dari r

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 106 Misi Rahasia Dimas

    "Rambutku bisa rontok kalau kamu jambak terus, Sayang," bisik Arka sembari meloloskan jemari Naura dari rambutnya. Jarak wajah mereka begitu dekat hingga Naura dapat merasakan hembusan napas hangat pria itu di kulitnya."Siapa suruh menciumku terus-terusan, hah?" sembur Naura dengan pipi memerah. Ia buru-buru mengalihkan pandangan ke samping, berusaha menyembunyikan debaran jantung yang mendadak tidak beraturan. "Aku ini baru sembuh dari keracunan, bukan habis memenangkan lotre."Arka terkekeh. Ia meraih jemari tangan kanan Naura yang bebas dari jalur infus, lalu mengusap punggung tangannya dengan ibu jari."Memang bukan lotre," gumam Arka, suaranya melunak penuh kehangatan. "Tapi melihat mata bulatmu terbuka lagi... rasanya jauh lebih berharga dari apa pun."Naura tertegun. Matanya mengerjap beberapa kali. Setiap kali Arka berbicara selembut itu, benteng pertahanan di dalam dirinya seolah mencair tanpa izin. Pandangannya kembali tertuju pada pria di hadapannya. Baru sekarang ia benar

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 6 Janji Cinta yang Terlarang

    Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 5 Air Mata Sang Angel of the Catwalk

    Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 4 Kontrak Dengan Iblis

    Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan

  • ISTRI KONTRAK SANG MONSTER   BAB 1 Harga Seorang Putri Wijaya

    Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status