LOGIN“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.
Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.
Ini perintah.
Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di dalam ruangan langsung meredup, digantikan oleh hembusan angin malam yang membawa aroma kota.
Lampu-lampu gedung pencakar langit berkilauan di kejauhan.
Arka bersandar santai pada pagar balkon sambil mengeluarkan pemantik api emas dari sakunya.
“Kamu tampak gugup, Naura.”
Ia menyalakan rokoknya dengan gerakan tenang. “Apakah kamu takut padaku?”
Asap tipis melayang di udara malam ketika ia mengembuskannya.
“Atau kamu takut karena pacarmu sekarang sedang menangis di apartemen kumuhnya… memikirkan bagaimana kekasihnya akan menikah dengan pria lain?” Ia terkekeh pelan.
Naura menegakkan punggungnya. Topeng kerapuhan yang tadi ia kenakan perlahan retak.
“Dia tidak ada hubungannya dengan ini, kita di sini hanya untuk bisnis, Tuan Arka.” jawabnya dingin.
“Bisnis?” Arka tertawa pendek, suara yang lebih terdengar seperti ejekan daripada hiburan.
“Keluargamu menjualmu padaku seharga dua ratus tujuh puluh satu triliun rupiah, hanya untuk menyelamatkan proyek mereka yang sekarat.” katanya santai.
Ia mematikan rokoknya di pagar balkon.
“Itu bukan sekadar bisnis, Naura.” tatapannya menjadi lebih gelap.
Arka melangkah mendekat.
Satu langkah.
“Itu penebusan dosa.” suaranya datar dan tenang.
Naura melangkah maju sedikit, menatapnya tanpa gentar.
“Aku akan mengajukan kontraknya. Dua tahun. Tidak ada sentuhan fisik yang tidak perlu. Kita hidup dengan dunia masing-masing.” katanya tegas.
Ia menatap Arka tanpa ragu. “Setelah itu kita bercerai dan aku mendapatkan kebebasanku. Itu syarat dariku.”
Keheningan jatuh di antara mereka.
Angin malam meniup lembut rambut Naura.
Arka mengamati wajahnya beberapa detik… lalu tersenyum.
“Tahu apa yang paling menarik darimu, Naura?”
Sebelum Naura sempat menjawab, Arka tiba-tiba bergerak.
Cepat.
Punggung Naura menyentuh pagar balkon yang dingin saat tubuh Arka menjebaknya di sana. Kedua tangan Arka mengunci di kedua sisi tubuh Naura.
Jarak mereka begitu dekat hingga napas pria itu menyentuh bibirnya. Namun Arka tidak menyentuhnya. Ia hanya berdiri di sana.
“Kamu sangat berani,” bisik Arka.
Jemarinya menyentuh leher Naura, merasakan denyut nadinya yang berdegup cepat.
“Tapi aku bisa menciumnya,” Jemarinya terangkat perlahan, menyentuh sisi wajah Naura dengan ujung jarinya. “Bau adrenalin.”
Sentuhan itu ringan, cukup membuat nadinya berdenyut lebih cepat.
“Tapi tubuhmu tidak bisa berbohong,” Ia menunduk, mengendus leher Naura sensual.
Naura mencengkeram pagar balkon di belakangnya, menahan diri untuk tidak bereaksi.
“Jantungmu berdetak sangat cepat, Naura.” Arka memperhatikan setiap inci wajah Naura. Dan justru terlihat semakin tertarik.
Pandangan Arka perlahan turun. Ke arah paha Naura. Tepat ke arah belati yang tersembunyi. Senyumnya berubah perlahan.
“Belati keramik, hm” gumamnya pelan.
Naura menegang.
Senyum Arka justru melebar.
“Pilihan yang cerdas.”
Tanpa peringatan, Arka mengambil belati itu lalu meraih pergelangan tangan Naura dan menariknya ke depan. Mata Naura membelalak ketika ujung belati itu kini mengarah tepat ke dada Arka. Namun pria itu tidak mundur sedikit pun.
Sebaliknya… ia justru mendorong dirinya lebih dekat. Ujung belati itu menyentuh jas mahalnya.
“Jika kamu ingin menusukku,” bisiknya tenang di telinga Naura, “sekarang waktunya.”
Mata Naura menyipit.
“Sentuh aku lagi, dan kita lihat siapa yang lebih dulu berdarah.” katanya dingin.
Keheningan jatuh satu detik.
Dua detik.
Lalu Arka tertawa pelan. Tawa rendah yang terdengar puas.
“Menarik,”
Ia mundur setengah langkah, memberi Naura ruang untuk bernapas.
“Itulah sebabnya aku memilihmu.”
Arka merapikan jasnya santai. “Aku bosan dengan wanita yang hanya bisa menangis dan menurut.”
Tatapannya kembali pada Naura. Gelap. “Aku ingin sesuatu yang… menggigit.”
Arka membuka pintu balkon dan memberi jalan dengan sopan.
“Tanda tangani kontraknya malam ini.” Arka berhenti sebelum masuk kembali ke aula. “Di mansionku.”
Lalu ia menoleh sekali lagi ke arah Naura.
“Dan satu hal lagi.” Senyumnya tipis.
“Mulai detik ini kamu milikku.”
Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan santai,
“Jika kamu mencoba menemui pacarmu lagi, aku tidak bisa menjamin dia masih memiliki semua anggota tubuhnya besok pagi.” kata Arka santai, ia mengedipkan sebelah matanya pada Naura.
Setelah itu Arka membuka pintu sepenuhnya.
“Silahkan, Sayang. Ayahmu dan Rafael sudah menunggu pengumuman pernikahan kita malam ini.”
Naura melangkah kembali ke dalam aula dengan pundak yang terasa lebih berat dari sebelumnya. Sementara Arka berjalan dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.
Lampu kristal itu masih berkilau. Musik masih mengalun. Para tamu masih tersenyum dan tertawa. Semua tampak normal. Namun Naura tahu kebenarannya. Kakaknya mungkin telah menyelamatkan perusahaan mereka malam ini. Tapi sebagai gantinya, ia baru saja menyerahkan adiknya ke dalam perangkap monster.
Ketika ia memasuki aula, Rafael sudah berdiri di dekat panggung bersama ayah mereka. Sedangkan Arka berdiri beberapa meter di depannya sekarang, kembali tersenyum sempurna pada para tamu. Seolah ia bukan pria yang baru saja mengurungnya di balkon beberapa menit lalu. Naura menatapnya tanpa berkedip.
Jika ini benar-benar permainan…
Naura menggenggam erat belati yang tersembunyi di balik gaunnya.
“Permainan ini,” pikirnya dalam hati sambil kembali memasang senyum profesionalnya pada para kamera, “Baru saja dimulai.
Leon tersenyum miring. Ia mengecup pipi Crystal lantas berbisik gemas, "Aku tidak akan membiarkan kamu klimaks sendirian tanpa aku masuki, Sayang."Sensasi dingin dari pendingin udara jet pribadi yang menerpa kulit telanjangnya beradu tajam dengan kehangatan membakar dari telapak tangan Leon. Crystal merinding hebat. Setiap inci saraf di tubuhnya seperti berteriak menuntut pelepasan dari siksaan racun pemicu gairah yang mengamuk di dalam darahnya.Leon mengangkat tubuh ramping Crystal dengan satu gerakan mantap, memposisikan wanita itu tepat di atas pangkuannya. Alis tebal sang sekretaris berkerut dalam, menahan gejolak liar yang nyaris meruntuhkan seluruh kontrol rasionalnya. Saat bagian inti mereka saling bersentuhan tanpa pembatas, erangan pelan terlepas serentak dari tenggorokan keduanya.Namun, bukannya langsung menerobos masuk, Leon justru menahan diri. Ada sisa ragu dan kepanikan yang terpancar samar dari iris mata Crystal yang sayu. Leon menyunggingkan senyum miring yang sarat
Pria dingin itu menegakkan tubuh Crystal. Tangannya masih menahan pinggang wanita itu agar tidak jatuh. Wajah sekretaris kepercayaan Arka itu tetap datar seperti manekin."Kamu tidak apa-apa?" tanya Leon dengan bariton yang dingin."S-saya cuma sedikit pusing, Tuan," bisik Crystal dengan suara serak.Jarak mereka cukup dekat. Leon mengangkat sebelah alisnya, mengamati wajah Crystal yang kemerahan, peluh yang membanjiri pelipis dan leher wanita itu, serta ritme dadanya yang naik turun begitu cepat. Insting Leon menangkap ada sesuatu yang tidak beres dengan wanita ini.BUKKK!Tiba-tiba, pesawat dihantam turbulensi. Lampu indikator menyala merah. Cengkeraman Leon di pinggang Crystal dipererat untuk menyeimbangkan posisi mereka. Namun, dorongan turbulensi kedua yang lebih kuat melempar tubuh mereka berdua ke dinding lorong yang sempit.BRUKK!Dada bidang Leon menekan tubuh ramping Crystal ke dinding. Sentuhan dari tangan Leon di pinggangnya memicu ledakan gairah yang tak sanggup lagi ia b
Di kabin utama, Naura masih menyandarkan kepala ke kaca jendela, mencoba menetralkan pipinya yang merona akibat godaan Arka. Suara gesekan halus pintu kabin membuat Naura kembali menoleh.Crystal berjalan mendekat dengan keanggunan yang dibuat-buat. "Permisi, Tuan Arka. Ini teh chamomile hangat dengan madu pesanan Anda. Saya sengaja membuatnya tidak terlalu panas agar bisa langsung diminum.” katanya lembut. “Dan untuk Nona Naura, ini air mineral steril yang baru."Crystal meletakkan cangkir porselen berisi cairan perangsang itu tepat di sebelah laptop Arka, lalu menyajikan botol air mineral baru di depan Naura.Arka hanya mengangguk tipis tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop. "Letakkan saja di situ.""Baik, Tuan. Jika Anda membutuhkan pijatan ringan untuk meredakan pegal di bahu—""Tidak perlu," potong Arka dingin."Baik, Tuan," ujar Crystal halus. Matanya melirik cangkir itu dengan penuh harap, menunggu jemari Arka menyentuhnya.Insting Naura seketika terusik. Ia merasa a
Di dalam kabin first class yang didominasi interior kayu mahoni dan kulit krem, suasana begitu tenang. Cahaya sore keemasan menembus jendela kaca oval, membiaskan bayangan lembut di pangkuan Naura.Naura bersandar malas di kursinya yang empuk. Di sampingnya, Arka duduk tegap dengan laptop terbuka di atas meja lipat. Jemari pria itu menari lincah di atas keyboard, menyelesaikan beberapa dokumen penting yang tertunda karena perubahan rute mendadak ke Seoul."Arka, masih lama ya sampai Seoul?" tanya Naura, memecah keheningan sembari memilin ujung rambutnya.Arka menoleh tanpa menghentikan ketukan jarinya. "Sekitar empat puluh lima menit lagi. Kamu merasa pusing?""Tidak, cuma haus sih," gumam Naura. Tenggorokannya memang terasa sedikit kering setelah menyantap daging panggang di Jeju tadi. "Pokoknya nanti begitu mendarat di Gimpo, kita langsung drop koper di penthouse, terus ke Namsan Tower. Setelah itu kita harus jalan-jalan menyusuri Myeongdong. Aku mau beli hottok gula merah yang mele
Pelayan mulai membalik potongan daging yang permukaannya telah berubah cokelat keemasan, kemudian memotongnya menjadi beberapa bagian dengan gunting khusus. Naura sudah tidak sabar. Begitu pelayan membungkuk dan pamit keluar ruangan, ia segera menyambar sumpitnya. Selembar daun selada diambil, kemudian diisi sedikit nasi hangat, sepotong daging yang renyah di luar tetapi tetap juicy di dalam, lalu dicelupkan ke dalam saus Mel jeot yang hangat. Sebagai pelengkap, Naura menambahkan sepotong kimchi sawi di atasnya.Dengan telaten, ia menggulung daun selada itu hingga membentuk bulatan rapi. Namun, bukannya memasukkannya ke mulut sendiri, Naura justru mengarahkannya tepat ke depan bibir Arka."Buka mulutmu, Arka! Aaa..." suruh Naura dengan senyum manis.Arka memicingkan mata curiga, menahan tangan Naura. "Ini tidak ada cabe atau bawang putih mentah di dalamnya, kan?""Tidak ada, Arka. Ya ampun, dasar penakut! Cepat makan sebelum tanganku pegal!" cibir Naura menghentak-hentakkan sumpitnya.
Dua hari berlalu dengan cepat. Kondisi Naura membaik secara signifikan. Rona sehat kembali menghiasi kedua pipinya, sementara tenaga wanita itu pun telah pulih sepenuhnya. Sesuai jadwal awal, jet pribadi Arka seharusnya lepas landas menuju Jakarta tepat pukul dua siang. Namun, rencana itu mendadak berantakan begitu Naura menyampaikan keinginannya di dalam suite resort tempat mereka tengah mengemasi barang."Tidak mau! Pokoknya penerbangannya dimundurkan saja jadi jam empat sore!" seru Naura mantap sembari bersedekap di depan koper besarnya yang masih terbuka.Arka yang sedang memasang jam tangan mewahnya menoleh kaku. "Naura, kita berangkat jam dua. Perjalanan ke Jakarta memakan waktu cukup lama dan aku tidak mau kamu kecapekan di jalan.""Aku sudah sembuh, Arka!" protes Naura kesal. "Masa kita sudah jauh-jauh ke Jeju tapi aku tidak membawa oleh-oleh sama sekali sih? Aku belum membelikan apa-apa untuk sahabatku, untuk keluargaku, bahkan untuk Mami!""Biar Leon nanti yang menyuruh oran
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
Naura belum menyadari bahwa poin berikutnya dalam kontrak itu akan jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan.Arka kembali membaca. "Poin ketiga. Privasi."Ia mengetuk kontrak itu dengan jarinya. "Kita tidak boleh mencampuri urusan pekerjaan masing-masing." Tatapannya tajam. "Aku tidak akan bertan
Suara tepuk tangan menggema di aula Hotel Grand Mahardika saat Arka Rajendra Mahardika berdiri di podium dengan satu tangan melingkar di pinggang Naura Callista Wijaya.Dari kejauhan, pemandangan itu tampak sempurna. Seorang pria berpengaruh yang berdiri bangga di samping wanita yang akan menjadi is







