MasukJangan lupa follow dan vote cerita ini ya, agar aku bisa semangat untuk post cerita ini setiap harinya. masukin juga cerita ini ke librarymu agar setiap aku update bisa langsung gampang bacanya. terimakasih :)
Mentari Bali tepat berada di puncak kepala, memantulkan kilau keperakan di atas hamparan laut yang mengelilingi resort mewah itu. Di balkon pribadi yang menghadap langsung ke pantai, seorang pelayan baru saja selesai menata hidangan makan siang. Aroma grilled seafood berbumbu lokal berpadu dengan segarnya irisan lemon, memenuhi udara. Namun, suasana di meja itu sama sekali tak sehangat cuaca Bali.Naura duduk dengan punggung tegak dan kaku. Jemarinya mencengkeram garpu perak begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di seberangnya, Arka menikmati makan siang dengan sikap yang terlampau santai. Pria itu memotong steak di piringnya dengan gerakan tenang, seolah semalam ia tidak baru saja menguras habis energi Naura."Makan, Naura," suara berat Arka memecah keheningan. Nadanya rendah, tetapi tak memberi ruang untuk dibantah."Aku tidak lapar," desis Naura, melemparkan tatapan tajam yang dipenuhi permusuhan.Arka meletakkan pisau dan garpunya hingga terdengar denting halus yang sengaj
"SHUT YOUR MOUTH JERK!" teriak Naura frustrasi.Arka memegangi perutnya yang terasa sedikit sakit akibat tertawa. Setelah tawa itu mereda, ia berkata, "Kamu kenapa sih marah-marah terus? Lagi PMS?" tanya Arka enteng. "Eh, tapi tidak juga. Kemarin aku lihat langsung, tidak ada darahnya. Yang ada malah cairan kenikmatan tuh."Wajah Naura sudah semerah kepiting rebus. Demi Tuhan, ia sungguh ingin menangis. Kalau membunuh tidak dosa, ia ingin membunuh Arka sekarang juga."Bisa-bisanya kamu berlagak santai setelah membuatku menjadi seperti ini hah?!" semburnya marah. "Seluruh badanku sakit, brengsek! Aku bahkan tidak bisa berdiri! Milikku juga perih sekali! Kamu benar-benar menyiksaku, bahkan sampai membuat aku pingsan! Sumpah, kamu tidak punya otak! Dasar musang birahi!"Ia menerjang maju dan menghajar tubuh Arka seperti samsak. Emosinya sudah tak terkendali. Bahkan saking kesalnya, ia sempat menjambak rambut Arka kuat hingga beberapa helai terlepas. Namun Arka tetap diam, membiarkan semu
Sisa asap hitam masih membubung tipis dari jendela lantai dua sebuah bangunan studio di sudut Jakarta Selatan itu. Bau sangit benda yang menjadi arang bercampur dengan aroma plastik properti foto yang meleleh akibat amukan si jago merah. Di sekeliling area, garis polisi berwarna kuning terang telah terpasang membentang, membatasi kerumunan orang yang saling berbisik.Dion berdiri terpaku di seberang jalan. Kedua tangannya tertanam di saku jaket. Matanya yang memerah menatap nanar papan nama "Halcyon Studio" yang kini sebagian hurufnya sudah hangus tak berbentuk."Mas Dion..." sang asisten mendekat dengan wajah muram. "Petugas damkar bilang api cuma sempat membakar sebagian ruangan di lantai dua, tepat jam enam pagi tadi. Untung saja lantai satu benar-benar aman, Mas. Dan... studio sedang kosong saat itu, jadi sama sekali tidak ada korban jiwa."Dion tidak merespons. Telinganya mendadak berdenging hebat. Kalimat bariton dingin dari sambungan telepon subuh tadi kembali terngiang, mencabi
JLEBB..."AAAKHHH! ARKAA BRENGSEKK...!"Pekik Naura lirih saat milik Arka kembali memenuhi dirinya.Hantaman tanpa aba-aba itu terasa begitu telak hingga seluruh udara di paru-paru Naura seolah lenyap dalam sekejap. Posisi kedua kaki jenjangnya yang bertumpu di atas bahu kokoh Arka membuat kejantanan pria itu, melesak tanpa hambatan, menghujam hulu rahimnya."Ahhh-hngghh... A-Arka... s-sakit, bajingan... s-stop it." Jerit Naura putus asa. Kedua tangannya mencengkeram sprei yang sudah kusut dan lembap demi menahan gelombang sensasi yang menyerbu tubuhnya.Arka tak mengalihkan pandangan sedikit pun dari wajah Naura yang memerah. Pria itu menggeram rendah, urat-urat di lehernya menonjol tegang karena jepitan luar biasa ketat yang diberikan oleh dinding Naura yang belum sepenuhnya pulih dari orgasme sebelumnya.“Ughh! Mulutmu bisa bilang berhenti tapi milikmu ini masih mau, Sayang.” Ejek Arka sambil memompa pinggulnya kasar. Perkataannya itu memang benar terbukti dari dinding milik Naura y
“You seem loving my fingers,” goda Arka menyeringai tipis, jarinya terus menggasak lebih cepat liang itu. Ia sangat menikmati bagaimana wanitanya tunduk di bawah kungkungannya.“Onghhh….” Naura sudah akan menyerah. Namun di detik-detik menjelang pelepasan, Arka mencabut keluar jari-jarinya. Itu membuat Naura mengumpat di dalam hati.“W-why?” kalimat itu terlontar begitu saja. Itu membuat Naura sedikit terkejut dan langsung mengutuk dirinya sendiri.Arka yang melihat raut kesal dan kebingungan wanita itu membuatnya menyeringai puas. Ia kembali menyeret bibirnya di atas kulit halus Naura. Tangannya bergerak menganggkat pinggul Naura hingga bibirnya dan pusar wanita itu bersentuhan.Naura berdesir, meremang merasakan gesekan intens antara kulit mereka. Ia meremas rambut Arka ketika pria itu mencumbu pusat tubuhnya di bawah sana dengan lidahnya naik turun.“Ahhhh…” Naura terengah-engah ketika Arka menggigit kecil klitorisnya lalu menyesap rakus semua cairannya. Ia mencengkeram sprei dengan
Selama perjalanan kembali, tak ada percakapan yang terjalin di antara mereka. Suasana di dalam mobil terasa begitu kaku. Naura terus menggigit bibir bawahnya sambil menatap lurus ke luar jendela, membiarkan pikirannya berputar tanpa arah. Ia bingung dengan respons tubuhnya sendiri, dan lebih bingung lagi melihat perubahan sikap Arka yang mendadak menjaga jarak setelah apa yang terjadiPadahal di balik kemudi, pria itu justru sedang bertarung dengan kewarasannya sendiri. Ia terus mengumpat dalam hati, memaki kejantanannya yang sedari tadi sudah menegang keras, berdenyut-denyut butuh pelepasan yang sesungguhnya. Bukan karena tak menginginkan Naura, melainkan karena ia menolak menjadikan mobil sport yang sempit sebagai tempat untuk malam yang telah lama ia nantikan. Naura berhak mendapatkan sesuatu yang lebih layak dan nyaman.Begitu mobil memasuki halaman resort mewah tempat mereka menginap, Arka langsung turun tanpa menunggu. Langkahnya lebar dan cepat, sementara tangannya bergerak memb
Wajah Irene berubah kaku. Rahangnya mengeras. Matanya berkilat marah, seolah hendak membalas, dan detik berikutnya—PLAKKSuara tamparan itu menggema di seluruh studio.Untuk sepersekian detik, seluruh ruangan seperti berhenti bernapas. Semua orang membeku. Kamera-kamera yang tadi sibuk berbunyi… ki
Siang itu, gedung Starlight Entertainment tampak sibuk seperti biasa. Namun bagi Naura, setiap sudut ruangan itu terasa seperti panggung sandiwara. Ia melangkah menyusuri lorong marmer menuju ruang pimpinan, tangannya menggenggam map kulit berisi draf kontrak kerja terbarunya. Di sampingnya, Vanessa
Cahaya matahari pagi menyusup dari celah gorden yang tak tertutup sempurna itu, jatuh lembut di kulit Naura. Sorotan cahaya itu menciptakan suasana tenang untuk pagi setelah malam yang penuh kekacauan. Naura menggeliat pelan. Ia merasakan kehangatan di punggungnya. Seperti ada sepasang lengan kokoh
Roda jet pribadi itu menyentuh landasan pacu Bandara Halim Perdanakusuma dengan hentakan halus. Bagi Naura hentakan itu terasa seperti palu yang menghantam dadanya. Udara Jakarta yang lembap dan pekat segera menyeruak masuk begitu pintu kabin terbuka, menggantikan aroma steril jet pribadi yang mewah







