LOGINjangan lupa follow dan vote yaa :). karena next part konfliknya makin naik loh hihi :P
Sinar matahari menerobos masuk melalui celah tirai jendela, memberikan kehangatan lembut di sudut-sudut ruangan. Di dalam kamar hanya ada Naura dan Vanessa, sementara Jeslyn sedang keluar sebentar untuk mengurus administrasi serta menanyakan hasil pemeriksaan laboratorium Naura ke ruang perawat.Naura menyenderkan punggungnya santai di atas bantal, menyesap sisa jus alpukat dingin dari gelasnya. Vanessa yang duduk di kursi samping ranjang meletakkan ponselnya, kemudian memandang Naura dengan raut serius."Kamu tahu tidak, Ra?" mulai Vanessa seraya menyilangkan tangan. "Waktu kamu koma seminggu di Korea kemarin... keadaan di luar benar-benar kacau."Naura tersentak kecil. Tangannya yang sedang memegang gelas jus mendadak berhenti. "Koma seminggu di Korea?""Iya," sahut Vanessa dengan nada prihatin. "Arka bilang, kamu mengalami kecelakaan mobil parah sewaktu di Incheon. Makanya kamu kritis dan sampai harus dirawat intensif di sana sebelum akhirnya dipindahkan ke Jakarta."Mendengar penu
Malam semakin larut. Di dalam ruangan VVIP ini, bau antiseptik yang menyengat mengendap, berpadu dengan aroma teh herbal yang menguar samar dari sudut meja. Setelah melewati masa kritis yang membayangi nyawanya dan menjalani serangkaian pemeriksaan medis yang ketat, Naura akhirnya dipindahkan dari ruang ICU. Efek obat penenang dan pereda rasa sakit yang diberikan dokter bekerja dengan baik. Wanita itu tertidur lelap di atas kasur berseprai putih bersih. Helaan napasnya terdengar teratur di bawah sinar lampu tidur yang redup.Di sudut ruangan, Jesslyn menjatuhkan tubuhnya ke sofa bed yang berada tak jauh dari ranjang Naura. Sementara itu, Vanessa tampak tertidur di sofa panjang dekat pintu masuk. Suasana kamar begitu tenang. Hanya suara alat pemantau tanda vital di samping ranjang saja yang terdengar nyaring.Cklek.Kenop pintu kamar berputar pelan tanpa suara. Pintu terdorong sedikit, kemudian tertutup kembali dengan sangat hati-hati. Sesosok tubuh jangkung melangkah masuk menembus re
Pagi akhirnya datang. Cahaya matahari menyelinap melalui celah tirai ruang ICU, jatuh samar di atas lantai putih yang masih dipenuhi bayangan peralatan medis.Suara monitor terdengar teratur.Bip... bip... bip...Naura masih terbaring dengan mata terpejam. Kali ini, napasnya jauh lebih stabil. Perlahan, jemarinya bergerak. Kelopak matanya bergetar sebelum akhirnya terbuka sedikit.Cahaya putih dari lampu langsung menyambut pandangannya. Naura mengerjapkan mata berkali-kali. Kepalanya terasa berat. Tubuhnya begitu lemah. Ia mencoba menggerakkan tangan, tetapi selang infus membuat gerakannya terbatas.“Ugh...” Suara kecil itu membuat perawat yang sedang memeriksa monitor langsung menoleh.“Nona Naura?”Naura menoleh perlahan. Wajah perawat terlihat samar di hadapannya.“Nona... Anda sudah sadar?”Naura mencoba berbicara, tetapi tenggorokannya terasa kering dan sakit.“Air...”Perawat segera mengambilkan air dengan bantuan sedotan. Naura meneguk sedikit. Setelah itu, matanya menyapu selu
"SIALAN, JANGAN KABUR KAMU! KEJAR DIA!"Teriakan beringas itu bergema melintasi keheningan malam, disusul derap sepatu berat yang menghantam tanah basah.Naura berlari tanpa arah. Bahu kirinya berdenyut hebat, darah hangat terus merembes dari luka dan membasahi pakaian yang sudah kuyup. Setiap langkah terasa semakin berat, tetapi rasa takut dan kepedihan yang mencengkeram dadanya memaksanya untuk terus bergerak. Ranting-ranting tajam menyabet pipi dan lengannya. Air mata bercampur lumpur melumuri wajahnya yang pucat."Bubu... Bubu..." bisik Naura di antara napasnya yang tersengal.Pandangannya mulai berbayang. Pepohonan raksasa di sekelilingnya seolah berputar, sementara rasa dingin yang menusuk tulang mulai menghilang, digantikan kehampaan yang membakar rongga dadanya. Langkahnya semakin goyah hingga kakinya tersandung akar pohon yang melintang.BRUK!Naura terjerembap ke atas tanah basah. Ia mencoba merangkak, menyangga tubuh dengan tangan kanannya yang gemetaran. Namun, seluruh ten
Dada Naura serasa mau meledak. Air sungai yang pekat dan sedingin es memaksa masuk melalui mulut dan hidungnya, mencekik pasokan udara hingga tenggorokannya terasa terbakar. Di bawah permukaan air yang gelap, pandangannya mulai kabur. Namun, bayangan tubuh kecil Bubu yang terombang-ambing di atas permukaan memacu sisa kesadarannya.GASP!Kepala Naura akhirnya menyembul menembus permukaan air yang bergejolak. Ia terbatuk-batuk hebat, meraup udara sebanyak-banyaknya."BUBU!" panggil Naura, suaranya parau, nyaris tenggelam oleh gemuruh arus sungai.Beberapa meter di depannya, tangan mungil Bubu menggapai-gapai udara sebelum kembali tenggelam, terseret arus."C-Calli... Tolong Bubu..."Naura mendayung kedua tangannya mati-matian. Setiap kayuhan terasa begitu berat saat ia berusaha menembus arus sungai yang mengamuk. Ketika jarak mereka semakin dekat, Naura menjulurkan tubuhnya ke depan dan meraih sejauh yang ia bisa."Pegang tanganku, Bubu!"GREB!Jemari Naura berhasil menyambar pergelanga
Naura masih memeluk anak laki-laki itu. Entah mengapa, berada di dekatnya membuat rasa takut yang sejak tadi memenuhi dadanya perlahan mereda. Ada sesuatu dalam kehadiran anak itu yang membuat Naura merasa aman, seolah-olah tubuhnya mengenali sesuatu yang tidak mampu diingat oleh pikirannya.Beberapa saat kemudian, Naura melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah anak laki-laki di hadapannya yang masih dihiasi lebam dan noda tanah. Ada kesedihan yang terasa terlalu dalam di mata kecil itu."Maafkan aku, jangan menangis lagi, ya," bujuk Naura lembut. "Aku tidak bermaksud melupakanmu. Tapi aku benar-benar bingung... Aku tidak ingat apa-apa."Wajah anak itu berubah sendu. Matanya yang tadi tampak penuh keberanian perlahan meredup, tetapi ia berusaha menyembunyikan kesedihannya dengan menggeleng kecil.“Tidak apa-apa, Calli. Yang penting sekarang Calli sudah aman,” jawabnya pelan.Naura mengernyit. Ada sesuatu dari cara anak itu mengucapkan namanya yang membuat dadanya kembali terasa aneh. I
Hujan mengguyur Jakarta dengan intensitas yang seolah ingin menenggelamkan kota.Di dalam D’Jenama Studio yang luas, hawa dingin dari mesin pendingin ruangan beradu dengan panasnya lampu-lampu tungsten berkekuatan ribuan watt. Aroma hairspray, perhiasan mahal, dan bedak tabur memenuhi udara.Naura C
Kilatan lampu strobo di studio foto itu terasa seperti tembakan beruntun.Di tengah set pemotretan yang didekorasi minimalis namun mewah, Naura Callista Wijaya bergerak dengan presisi seorang profesional. Setiap kemiringan dagunya, setiap gerakan bahunya, setiap tatapan matanya. Semua adalah hasil d
“Mari kita bicara sebentar,” bisiknya lembut.Cengkeramannya di pergelangan tangan Naura mengencang, cukup untuk mengingatkan bahwa ini bukan undangan.Ini perintah.Ia menggiring Naura menuju balkon privat di sisi aula. Begitu pintu kaca tertutup di belakang mereka, suara musik dan percakapan di da
Lampu gantung kristal di aula utama Hotel Grand Mahardika berpendar menyilaukan, memantulkan kilau kemewahan yang hampir terasa menyesakkan bagi siapa pun yang cukup peka untuk mencium bau busuk di baliknya. Udara di dalam ruangan dipenuhi aroma parfum mahal, cerutu impor, dan minuman beralkohol kel







