로그인Halo guys, Gimana udah ada yang kangen Arka belum? kira-kira Arka kemana ya? :P Jangan lupa follow aku, untuk terus ngikutin cerita ini dan dapat update terbaru setiap babnya. Stay tuned guys :D
Sesampainya di apartemen, Naura tak lagi mampu menahan ledakan emosinya. Begitu pintu tertutup, ia langsung melempar tas mahalnya ke arah sofa.“ARGHH!”Ia berteriak frustrasi hingga suaranya bergema di ruangan yang sunyi itu. Dengan napas memburu, ia meraih vas kristal di atas meja lalu membantingnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping.PRANGG"Brengsek! Kenapa harus sekarang?! Kenapa kalian semua menyalahkanku hah?!"Tubuhnya ambruk ke lantai, menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang gemetar hebat. Panic attack itu kembali datang, membuat napasnya terasa sesak seolah paru-parunya mengecil.Di tengah napasnya yang kacau, Naura merogoh ponsel dari dalam tas. Dengan jemari gemetar, ia mengetik pesan singkat untuk satu-satunya pria yang paling ia benci sekaligus paling ia butuhkan saat ini.To: ArkaAku menyetujui tawaranmu. Tapi kamu harus membersihkan skandal ini terlebih dulu. Semuanya. Aku ingin karierku kembali.Tak sampai tiga menit, ponselnya bergetar.ArkaPilihan yang bagu
Di dalam mobil, kaca film hitam membatasi pandangan dari luar, tetapi bisikan-bisikan dari pertanyaan tajam para wartawan tadi masih melekat jelas di telinga Naura. Ia menunduk di kursi penumpang sambil memeluk dirinya sendiri, merasa seluruh tenaganya telah terkuras habis.Vanessa mengemudi dengan tenang sambil sesekali melirik Naura yang hanya terdiam, menyandarkan kepala pada jendela dingin di sampingnya.“Ra?” panggil Vanessa pelan.Naura tidak menjawab. Kepalanya terasa berat. Nyeri di pelipisnya berdenyut hebat seperti dihantam palu tanpa henti. Angka-angka tuntutan tadi kembali berputar di benaknya. 100 Miliar. Dipecat. Karir hancur. Dan keluarganya pasti akan malu besar pada dirinya.Ia teringat wajah putus asa Dion saat video call terakhir mereka. Dion sudah berusaha membantunya, namun cara Dion terlalu lambat. Dion tidak memiliki kekuasaan sebesar itu untuk membungkam seluruh media atau membuat brand-brand besar mencabut tuntutan mereka dalam semalam.Naura memejamkan mata se
Langit Jakarta pagi itu tampak kelabu, seolah turut berduka atas reputasi yang sedang hancur lebur di dasar jurang. Gedung agensi Starlight Entertainment yang biasanya menjadi tempat Naura Callista Wijaya merasa seperti ratu, kini terasa seperti tiang gantungan yang siap menjerat lehernya.Naura melangkah keluar dari mobil dengan langkah yang dipaksakan teguh. Ia mengenakan setelan blazer hitam oversized dari Balenciaga untuk menyembunyikan tubuhnya yang semakin kurus karena stres, outfitnya dipadukan dengan kacamata hitam besar yang menutupi matanya yang bengkak akibat kurang tidur. Rambut blonde yang baru saja menjadi kebanggaannya kini justru terasa seperti beban yang menarik kepalanya ke bawah. Di sampingnya, Vanessa berjalan dengan wajah sepucat kertas, jemarinya tak henti mengetik di ponsel yang terus bergetar."Ingat, Ra. Jangan sampai terpancing emosi ya, kita harus tetap tenang. Semua ini pasti bisa kita lewati dengan baik," bisik Vanessa saat mereka sampai di depan pintu jati
Tatkala kesadarannya kembali pulih, Naura berharap semua yang baru saja terjadi hanyalah mimpi buruk. Namun sialnya, apa yang mereka lakukan beberapa menit lalu adalah sebuah kenyataan yang membuatnya ingin menghilang saja dari bumi ini.Saat akhirnya ia memberanikan diri melirik ke bawah, napasnya hampir terhenti. Ia nyaris tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pahanya basah. Cairan itu merembes di antara lipatan kulitnya, menyebar hingga membasahi sofa.Naura memejamkan mata sejenak, tersengat rasa malu yang menyesakkan dada. Ini benar-benar gila. Apa yang baru saja terjadi bersama monster itu adalah hal paling mustahil yang pernah ia bayangkan. Ia menggigit bibirnya kuat-kuat, tidak tahu bagaimana harus bersikap setelah ini.“Sekarang sudah paham, Naura?” Suara rendah Arka mengudara, membelah kekacauan di kepala Naura. “Lain kali, ingat ini sebelum berpikir untuk menjadi pengkhianat kecil!”Sorot puas bercampur gairah masih tercetak jelas di iris gelap pria itu. Arka mengusap pi
“Cincin yang bagus, Naura.” Sarkasnya tajam.Deg…Jantung Naura berdegup kencang. Kalimat itu lebih tajam dari belati yang diam-diam ditancapkan ke dadanya. Reflek matanya melirik ke cincin berlian yang tersemat rapi di jari manisnya pemberian Dion waktu itu.‘Naura bodoh.’ Ia memaki dirinya sendiri dalam hati.Dengan suara yang tenang, ia mencoba mencairkan kecurigaan yang sudah jelas terpancar di mata Arka.“Ah, iya ini salah satu koleksi cincin favoritku. Bagus, kan?” jawab Naura santai. Ia mengangkat dagu sedikit berpura-pura percaya diri.Arka tidak menjawab. Ia mengambil tangan Naura dengan gerakan tiba-tiba, lalu memperhatikan cincin itu dengan tatapan tajam. Jemari Naura menegang saat ia merasa cincin itu dilepas paksa dari jari manisnya.“Arka, kenapa dilepas? Itu cincin kesukaanku. Cepat kembalikan!” serunya, panik mulai merayapi hatinya. Takut pria itu melakukan hal gila.Arka meneliti cincin itu dengan ibu jari dan telunjuknya, bibirnya menyeringai penuh ledekan. “Cincin ke
Di taman belakang mansion yang dipenuhi lampu gantung kecil bernuansa hangat, suasana jauh lebih ringan. Naura duduk bersama Jesslyn dan Tiffany di area gazebo, ditemani teh hangat dan dessert kecil. Tawa ringan sesekali terdengar.Tiffany bahkan merangkul bahu Naura dengan penuh kasih sayang. “Jangan pikirkan berita sampah itu, Ra. Mami tahu kamu anak yang baik. Orang-orang hanya iri dengan kecantikanmu.” Suara Tiffany lembut, tulus.Naura menatap wanita itu sebentar. Ia tidak menyangka akan mendapat dukungan sebesar ini. “Terima kasih, Mami. Sudah percaya denganku.”Tiffany tersenyum hangat. “Pokoknya kamu jangan sampai down, ya. Tenang saja, Arka pasti akan membantumu memulihkan skandal itu.”Naura mengangguk pelan. Ada rasa aneh yang menghangat di dadanya.“Kamu tahu, Mami dan keluarga Wijaya sudah lama sekali menginginkan pernikahan ini. Iya, kan, Jess?” lanjut Tiffany.Jesslyn tersenyum. “Iya, benar sekali. Bahkan kita sudah saling kenal sejak lama. Mungkin dari Rafa dan Arka mas







