Home / Romansa / ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA / Chapter 09 (bagian 2)

Share

Chapter 09 (bagian 2)

Author: Nanasshi
last update publish date: 2025-08-27 14:37:58

"Selamat ulang tahun, Kyra Aruma Wahid."

Ditto melihat, laki-laki tinggi dengan hidung yang bangir itu, mendekat pada Kyra lantas berlutut kemudian. Lalu dari balik punggungnya, ia mengeluarkan sebuah buket bunga mawar berwarna merah yang cantik.

Ikri menyodorkannya pda Kyra yang diiringi riuh cie-cie~ dari teman-temannya.

Lalu saat Kyra menerima bunga itu dan Ikri mengecup dahi Kyra singkat, Ditto memutuskan untuk berhenti melihatnya. Ia berjalan berlawanan arah untuk bergegas masuk ke
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 36

    In a sea of people, my eyes will always search for you. Begitu katanya, kalau orang sedang jatuh cinta. Mudah menemukan si dia ketika ia bahkan berada di lautan manusia. Dan itu juga, ternyata, berlaku pada Ditto. Di kantin yang penuh dengan manusia-manusia kelaparan itu, matanya dengan mudah menemukan sosok Kyra Aruma Wahid di sana. Lalu langkah kaki tergesa itu, membawa tubuhnya pergi mendekat pada ramai orang-orang, meminta maaf ketika tanpa sengaja menyenggol, lalu dengan terengah-engah ia sudah sampai di sisi perempuan itu. Dan memeluknya. Erat. "Wow!" Edo yang pertama kali bersuara. Di sisinya, Sesil dan Kinara, tercekat dan hanya memandang dengan mata membulat sempurna. Melihat apa yang terjadi di depan matanya --secara tiba-tiba-- membuat mereka semua untuk sesaat tidak bisa bersuara. Dan hanya saling memandang. "Mas." Kyra --tentu saja-- menjadi bagian orang-orang yang terkejut itu juga. Di kepalanya, tidak pernah terlintas bahwa ia akan dipeluk di depan umum, dengan

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 35

    Teruntuk Mas Ditto Yang aku rindukan Mas ... apa kabar? Bagaimana rasanya setelah berjam-jam lamanya berdiri diam tanpa menyapaku? Apakah Mas baik-baik saja dan merasa happy? Tenang ya suasananya karena aku tidak berisik seperti hari biasanya. Mas, aku doakan semoga kamu tidak suka suasana diam ini. Kamu tidak suka suasana sepi yang timbul karena kita yang tak saling bicara ini. Kamu tidak suka pokoknya. Aamiin. Karena, Mas, aku benar-benar tidak suka keadaan ini. Aku tidak suka dianggap tak kasat mata oleh kamu. Aku tidak suka melihat kamu diam dan memandangku dengan dingin. Ini mengganggu dan sangat tidak nyaman. Oke. Karena Mas tidak ingin bicara sama aku, I'm finally writing this letter. How many years have we known each other? Seven years, eh? Aku rasa sekitar itu. Saat aku pertama kali melihat kamu keluar dari rumah dengan kemeja flanel berwarna cokelat sambil membawa helm. Kamu --kakak tinggi itu-- menatapku dengan kesal sambil mengomel soal jangan memberi pen

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 34

    "Aku tadi nemuin itu di mobil, Ra."Mereka bersitatap. Memandang dengan kecamuk rasa yang sulit diartikan. Rasa bersalah atu benci. Rasa marah atau menyesal. Mereka yang sama-sama tidak mengatakan apapun itu, benar-benar tidak sanggup untuk menegaskan ... sebenarnya kita sekarang apa?Kyra bangkit. Ia meraih benda kecil itu dari tangan Ikri lantas memeluknya erat. Air mata itu --anehnya-- justru semakin deras bercucuran. Padahal barang yang dicari sudah ia temukan. Padahal alasan ia menangis --dan marahnya Ditto-- sudah ia dekap erat-erat."Terima kasih. Aku benar-benar berterima kasih sekali." Di antara isaknya, Kyra mengutarakan terima kasihnya. Ia menggenggam tangan Ikri. Lalu menunduk penuh penyesalan. Matanya menyapu jelas pada cincin yang kini sudah melingkar di jarinya. "Ini cincin yang sangat berarti.""Aku tahu."Kyra mendongak dengan cepat dan mendapati pandangan Ikri yang kini terasa tajam sekali."Itu cincin nikah kamu, kan?"Dan lagi, perempuan itu terhenyak."Bagaimana b

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 33

    CHAPTER 33Kata orang, regret, like a tail, comes at the end. Dia tidak memberi aba-aba di depan apalagi muncul. Selalu, setelah semunya terjadi, ia baru muncul untuk membuat manusia ingin berteriak kencang, mengutuk pada takdir lalu memohon agar waktu bisa diputar. Penyesalan selalu begitu.Kyra menyesal. Sangat.Ia seharusnya --sejak dulu-- tidak pernah mudah melepas pasang cincinnya. Toh, cincin yang dipakai di jari manis tidak selalu dianggap sebagai cincin pernikahan. Jadi sekalipun ia ingin menyembunyikan status pernikahan, ia tetap bisa dengan bebas memakai cincin itu. Sebab nyatanya, tidak ada satupun --dari temannya-- yang pernah menanyakan cincin yang kadang ia pakai dan kadang tidak itu.Benar. Seharusnya begitu."Mobil Ikri. Iya, mobil." Kyra akhirnya bangkit, mengempaskan penyesalan yang bercokol dan memilih berusaha menemukan benda kecil itu. Yang hilang entah di mana, di dunia seluas ini. "Aku harus telepon Ikri."Kyra bergegas turun dari lantai dua. Sesaat sibuk memang

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 32

    CHAPTER 32"Mas tunggu sebentar. Aku mau ngomong."Langkahnya kecil, jelas timpang bila mengejar langkah lebar milik Ditto. Ia tersaruk-saruk, mencoba menyamai laki-laki itu. Karena banyak sekali yang ingin ia ucapkan dan jelaskan, tentu saja. Sayangnya, Ditto memilih diam saja sampai akhirnya keduanya sampai di mana mobil Ditto di parkir."Mas." Kyra masih berusaha. Ia menahan lengan Ditto saat laki-laki itu memilih berjalan memutar dan membukakan Kyra pintu. "Aku harus jelasin sesuatu."Ditto masih diam. Ia hanya membuka pintu mobil menjadi lebih lebar, lalu melihat pada Kyra seolah menyuruh perempuan itu masuk tanpa suara. Dan pada akhirnya, dengan berat hati, Kyra menurut.Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Meniti jalan menuju rumah dengan sepi yang menyelubungi keduanya. Baik Ditto maupun Kyra, pada akhirnya tidak ada yang berusaha untuk menjadikan suasana menjadi ramai. Membiarkan saja satu-satunya suara yang ada di dalam mobil hanya alunan lagu Olivia Rodrigo dengan happier-

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 31

    Menanti seseorang itu sama seperti sedang berjalan di atas batu-batu kecil jalanan dengan bertelanjang kaki. Kulit bertemu permukaan kasar itu secara langsung. Rasanya tidak nyaman sekali.Ditto sedang berada dikeadaan itu detik ini. Dalam keadaan yang bercampur antara gelisah dan rasa was-was, sudah berulang kali ia melihat jam di dinding kafe dan pergelangan tangannya. Memastikan --sekali lagi-- bahwa jam tersebut sama.Sama-sama menunjukkan bahwa ia sudah empat jam lamanya menunggu. Sama-sama menunjukkan bahwa ia sudah menghabiskan dua gelas americano.Sama-sama menunjukkan bahwa Ditto sudah menyelesaikan tiga komik selama kurun waktu tersebut.Sekali lagi, ia menengok ke arah jendela besar yang menghadap ke halaman dan gerbang depan kafe. Di mana orang-orang yang datang dan keluar bisa dilihat dengan jelas. Mereka yang mengenakan kemeja, atau berambut panjang, atau tas berwarna pink.Dari sekian banyak itu, tidak ada satu di antaranya sosok itu adalah Kyra Aruma Wahid. Ia lalu me

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 30

    Hari yang mendebarkan itu datang lebih cepat dari dugaannya. Tahu-tahu, ia sudah berada di panggung sambil memegang gitar bersama dengan Nindy --yang menyanyi-- dan menampilkan perpaduan yang menarik antara musik dan rupawan yang enak dipandang. Keduanya berhasil membawakan dua lagu dan menyeret pe

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 29

    Ia mungkin tidak bisa mengamuk di kampus setelah dengan seenaknya didaftarkan pada seleksi tersebut. Bagaimanapun, ia masih ingin merahasiakan pernikahan itu dari siapapun manusia-manusia kampus, terlebih pacarnya, Zikri Ananda. Jadi setidaknya, butuh tiga jam sampai semua mata kuliah selesai dan i

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 28

    "Hai, i made you breakfast. Kamu hari ini masih belum ke kampus, kan?"Saat itu, ketika Ditto membuka pintu, untuk sesaat ia terpaku. Yang pertama dilakukannya adalah menoleh ke belakang, ke anak-anak tangga menuju lantai dua. Lalu setelah memastikan hal tersebut, Ditto kembali menoleh pada perempu

  • ISTRI RAHASIA DOSEN MUDA   Chapter 27

    Matanya masih nyalang, di antara detak-detak jam yang menunjukkan pukul 1 dini hari. Padahal, sosok yang terlelap di sampingnya --dengan dua guling yang membatasi-- nampak begitu menikmati tidur dengan mimpi di dalamnya. Tidak merasa terganggu sama sekali dengan suara yang ditimbulkan dari geraknya

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status