LOGIN"Pak... Pak Al?" cicit Arunika lirih, hampir tak percaya dengan penglihatannya.Suara Arunika terputus di tenggorokan. Wanita itu berdiri kaku di tempatnya, mendekap erat Baby Bintang yang masih merengek kecil dalam gendongannya. Kehadiran Altair yang begitu mendadak tanpa kabar sedikit pun benar-benar melumpuhkan kesadarannya sejenak.Altair berusaha keras menetralkan gejolak asing di dalam dadanya. Pria tegap itu mengatur napas, memasang raut wajah sesenang dan setenang mungkin walau sorot matanya tak mampu menyembunyikan binar kehangatan yang tertuju penuh pada sosok di hadapannya.Pandangan Altair tak sengaja bergulir ke arah meja kecil di dekat sofa. Di sana, sebuah hairdryer hitam tergeletak begitu saja dengan kabel yang masih terhubung ke stopkontak. Altair melangkah mendekat, mengulurkan tangan lalu menyambar pengering rambut tersebut."Mau saya bantu?" tawar Altair santai, suaranya terdengar amat dalam namun lembut.Arunika terpaku seketika."Ha... ah... saya bisa sendiri, Pa
Hampir dua bulan telah berlalu sejak badai pengkhianatan itu memuncak di Singapura. Selama rentang waktu tersebut, Altair mengambil langkah tegas dengan meminta Alina dan Nina untuk tetap menetap sementara waktu di salah satu properti mewahnya di Singapura.Bukan tanpa alasan Altair mengisolasi adiknya. Meski Soni adalah suami Alina sekaligus ayah dari Nina, Altair memilih untuk bertindak cermat dan dingin. Sebelum keberadaan Soni berhasil ditemukan dan dijebloskan ke tempat yang seharusnya, ia tidak ingin mempertaruhkan keselamatan adik dan keponakannya sedikit pun. Pria itu ingin meminimalkan segala risiko yang mungkin ditimbulkan oleh tikus yang tengah terdesak.Kini, setelah berminggu-minggu memandu perburuan dari kejauhan, Altair akhirnya menjejakkan kaki kembali di bumi Indonesia.Di dalam kabin mobil mewah yang membelah kemacetan jalanan ibu kota, suasana terasa begitu hening. Altair duduk bersandar di kursi belakang, menyilangkan kaki seraya menatap dingin pemandangan kota di
Beberapa hari lalu, sebelum Alina menginjakkan kaki di Singapura, sebuah kebenaran kelam telah lebih dulu meremukkan dada Altair.Di dalam ruang kerja pribadi Altair yang tertutup rapat, Arjuna menyerahkan sebuah peranti perekam suara dan berkas analisis frekuensi audio. Laporan intelijen itu membawa kabar paling membahayakan yaitu ada keterlibatan Alice di balik pergerakan kotor Soni.Dari hasil pelacakan sinyal dan pengawasan tertutup, kedua orang itu diketahui telah mengadakan beberapa kali pertemuan rahasia di lokasi terselubung.Bukti-bukti itu kian terjalin benderang ketika Altair memutar ulang rekaman percakapan masa lalu, saat Alice menjamin bahwa Altair tidak akan pernah mengadopsi anak yang waktu itu sempat ia dengar rencananya. Ketika Altair mencermati ulang modulasi suara pria yang memberi perintah pada rekaman video tersebut, rahangnya mengeras tajam.Suara itu... murni milik Soni.Pria yang berstatus adik iparnya sendiri itu ternyata bekerja sama dengan Alice, menyusun m
Altair melirik ke arah pintu ruang kerja. Sebelum melangkah lebih jauh, ia memberi isyarat pelan pada Arjuna yang berdiri sigap tak jauh dari mereka."Jun, tolong bawa Nina bermain dulu ke area playground bawah atau belikan dia es krim," pinta Altair dengan nada lembut namun penuh perintah.Arjuna mengangguk patuh. Pria kepercayaan itu melangkah mendekat seraya menyunggingkan senyum ramah pada sang gadis kecil."Yuk, Princess Nina... kita cari es krim yang paling enak di bawah.""Asyik! Es krim!" seru Nina riang, melambaikan tangan mungilnya saat beralih ke dalam tuntunan Arjuna.Begitu derap langkah kaki Nina dan Arjuna menghilang di balik pintu utama suite, keheningan yang mencekam seketika kembali melingkupi ruangan. Altair menuntun Alina menuju meja kerjanya, menyodorkan map tebal bersampul hitam yang sejak tadi berada di atas meja kaca."Buka dan bacalah sendiri, Lin," ujar Altair tenang.Dengan jemari yang gemetar hebat, Alina membuka lembar demi lembar dokumen di hadapannya. Ma
Sebuah suite hotel mewah bertingkat tinggi di jantung kota Singapura menjadi saksi bisu keheningan yang mencekam. Singapura, bukan Jepang seperti alibi yang disampaikan Alina pada sang mama. Alina sengaja menyebarkan informasi palsu demi menjaga kerahasiaan pergerakannya dari jangkauan Soni.Altair berdiri di dekat jendela raksasa yang membingkai pemandangan Marina Bay. Pria tegap itu menempelkan ponsel di telinganya, menatap dingin uap kopi hitam yang mengepul di atas meja kaca.Di seberang panggilan, suara Arjuna terdengar amat lugas dan fokus."Semua transaksi fiktif itu bukan cuma sebatas penggalangan dana gelap operasional cabang, Pak Altair," ujar Arjuna memulai laporannya dengan nada berat."Kami berhasil meretas sistem enkripsi server sekunder milik Soni. Selama enam bulan terakhir, dia memindahkan total dana bersih sebesar empat puluh lima miliar rupiah secara bertahap."Dahi Altair berkerut tajam. Manik matanya menyempit dingin."Ke mana aliran dana itu bermuara, Jun?""Ke t
Seminggu telah berlalu. Namun, Soni yang semula pamit hanya akan pergi selama tujuh hari, nyatanya belum juga menunjukkan tanda-tanda akan kembali ke rumah. Firasat asing yang merayapi benak Alina makin hari makin menguat, meninggalkan rasa mengganjal yang kian sulit diabaikan.Pagi itu, Alina mendatangi rumah orang tuanya untuk berpamitan. Ia beralasan ingin membawa Nina pergi berlibur hanya berdua saja."Apakah tidak repot, Na, membawa Nina sendirian tanpa babysitter?" tanya Maya, sang mama, dengan raut wajah cemas seraya memperhatikan cucu kesayangannya yang sedang sibuk melompat-lompat kecil.Alina menggeleng pelan, mengulas senyum menenangkan."Enggak kok, Ma. Aku ingin menghabiskan waktu berkualitas berdua saja dengan Nina. Lagi pula, aku sudah terlanjur janji mau bawa dia jalan-jalan.""Soni tidak kamu ajak?" tanya Maya lagi."Mas Soni lagi sibuk sekali dengan pekerjaannya, Ma. Sepertinya tidak bisa ikut," jawab Alina berbohong halus. Ia sengaja tidak memberi tahu suaminya peri







