INICIAR SESIÓN"Om, ciumnya lagi dong!"
Darius terkekeh. Gadis ini benar-benar di luar nalar. Bukannya marah atau takut, dia malah minta lagi. Sekali lagi Darius memberikan kecupan pada dahi yang merah akibat terkena sentilannya tadi.
Cup! Sekali lagi, Aurora menunjukkan expresi yang sama.
"Sudah, Om?" tanya gadis itu polos.
"Iya. Mau apa lagi kamu?" tanya Darius.
Aurora menggelengkan kepala. Sebenarnya pikiran nakalnya menjelajah ke banyak hal. Seperti tempat lain untuk dicium atau hal nakal lain yang membuat tubuhnya merasa aneh. Seperti yang dia dudukinya sekarang.
Gadis itu cukup tahu tentang hal yang biasa orang dewasa lakukan tapi dia belum pernah melakukannya. Jadi ketika tadi dia naik di atas tubuh Darius dan merasakan sesuatu yang terus terdorong ke atas menimbulkan rasa nikmat yang aneh. Aurora bisa mengira itu benda apa. Dan juga penasaran akan rasa yang selanjutnya.
"Yasudah sekarang turun! Bahaya kamu duduk di situ. Lain kali jangan langsung begitu!" pinta Darius.
Sedari tadi Darius berusaha menahan. Jika lebih lama lagi entah akan bagaimana bentuk dinding pertahanannya. Terlebih selama duduk Aurora terus bergerak-gerak. Menimbulkan rasa yang enak tapi berbahaya.
"Turun ya, Om?"
Aurora sedikit berat hati pergi dari tempat itu. Sedangkan Darius belum segila itu untuk melakukannya dengan gadis di bawah umur.
"Iya. Dan turunnya pelan-pelan."
Aurora terkekeh. Ide jahil muncul di benaknya ketika gadis itu akan turun dari posisinya. Bukannya pelan-pelan. Tapi Aurora justru menekan dan sedikit menggerakkan tubuhnya ketika akan turun.
Akhh ... Darius mengerutkan dahi. Walaupun umurnya tiga puluh delapan tahun. Tapi dia belum pernah melakukan hal seperti tadi. Rasanya panas dingin tapi tidak ingin berhenti. Andai saja gadis ini lebih dewasa sedikit. Mungkin Darius tidak akan sungkan. Tapi melihat kelakuannya. Aurora sungguh memang berniat menguji imannya.
"Benar kan aku bilang. Nggak semua laki-laki itu brengsek," celetuk Aurora begitu dia turun.
'Belum. Belum jadi brengsek. Kalau diuji terus seperti itu. Siapa yang bisa tahan untuk tidak jadi brengsek,' batin Darius.
"Ra, kamu biasa kayak tadi itu ke teman cowokmu?" tanya Darius.
'Itu bahaya. Jangan seperti itu,' batin Darius.
"Nggak pernah. Om yang pertama tadi. Kiss nya juga."
Aurora menunjuk pada dahinya sekarang. Darius tersenyum. Entah kenapa dia senang mendengar itu. Ada rasa bangga terselip dalam hati. Apa dia benar-benar akan menjadi yang pertama bagi semuanya? Entahlah. Darius tidak ingin berpikir terlalu jauh. Jika sampai dia kebablasan dan gadis ini hamil. Maka akan hancur sudah masa depan Aurora.
"Terus kok bisa tadi langsung main duduk gitu aja di sana?"
Darius sedang berusaha mencari tahu senakal apa Aurora. Dan bagaimana gadis itu bisa memiliki pemikiran seperti ini.
"Di drama-drama kan banyak, Om. Kalau di film itu romantis tapi ternyata kalau di praktekin. Rasanya merinding disko. Punyaku rasanya aneh kena punya Om."
Darius terkejut mendengar pengakuan gamblang Aurora. Gadis ini memang aneh. Tidak takut dan sekarang tidak sungkan. Apa dia juga tidak malu?
"Makanya tadi saya bilang berbahaya kan? Lain kali jangan begitu."
Aurora tersenyum. Dia semakin suka saja pada pria yang ada di depannya. Om bernama Darius ini jelas pria yang baik kan. Tidak apa jika nakal dengan pria ini. Dia pasti akan baik-baik saja.
"Aku nggak menyesal ko, Om. Tadi itu enak. Bahaya yang nikmat."
Darius kehabisan kata-kata menghadapi Aurora. Jika malam ini ia teruskan, mungkin Darius akan menjadi benar-benar gila. Darius tidak tahu akan sampai kapan kewarasannya ini akan tetap terjaga. Aurora yang sejak tadi bersikap sok polos tapi terus-terusan memancingnya.
"Iya enak tapi belum waktunya. Lagi pula jika saya benar-benar melakukannya. Saya jadi seperti pedofil."
"Pedofil itu kalau sama anak balita, Om. Aku kan sudah detik-detik melepas masa remaja dan mulai menjajaki fase dewasa. Aku sudah pernah menstruasi berarti itu menunjukkan kalau sebagai wanita rahimku sehat dan siap diisi seorang bayi. Dan aku juga udah punya SIM. Itu bukti secara dokumen negara kalau aku sekarang udah bener-bener dewasa, Om. Bukan cuma gede badannya doang. Dan banyak umurnya."
Gede badan. Banyak umur. Umur juga belum genap angka dua puluh. Pake acara bilang umur udah banyak segala. Darius terkekeh. Lagi pula, mana ada pembuktian sudah dewasa atau belum hanya dengan punya SIM atau enggak. Terbukti secara dokumen dia bilang. Aurora Aurora. Ada-ada aja.
"Emang kamu udah punya SIM apa? Sepeda roda tiga?" Darius tertawa mengejek. Anak kecil begini sudah punya SIM. Paling setir sepeda motor masih jalan 20km/jam.
"Eiitsss ... ngawur. Mobil dong. Mana bisa aku naik sepeda motor."
Darius makin heran lagi. Bisa jalanin mobil tapi tidak bisa jalanin sepeda motor. Benar-benar unik memang anak ini.
"Ko bisa gitu? Emangnya Ayah kamu nggak ajari naik sepeda motor?"
"Ayah nggak bolehin aku bawa kendaraan sendiri. Ke mana-mana aku diantar sopir, Om."
"Lah terus. Sekarang kok bisa kamu punya SIM mobil. Bohong yaa kamu. Hmm ... berarti belum dewasa nih."
Darius terus saja ikut permainan yang diciptakan Aurora. Mengobrol dengan gadis ini seru juga.
"Eiitsss ... enak aja. Nggak ada yaa di dalam kamus kehidupan Aurora itu berbohong. Mana, mana, tas sama dompet aku."
Aurora mencari-cari keberadaan tasnya. Niatnya untuk membuktikan bahwa dia memang punya SIM. Tapi Aurora lupa kalau dia tidak membawa apa pun saat bertemu Darius kecuali perutnya yang kelaparan.
"Ohh ... iya. Kan ketinggalan di rumah ya. Gini Om ceritanya. Jadi meskipun Ayah nggak bolehin aku bawa kendaraan sendiri. Tapi aku sering minta sopir buat ajarin aku nyetir. Dan akhirnya sampe aku bisa bawa mobil sendiri. Tentunya Ayahku nggak tahu dong. Kalau tau marah-marah dia. Kasihan Pak Sopir kalau dimarahi. Ayah bilang aku nggak boleh bawa kendaraan sendiri takut aku kebut-kebutan. Terus aku langsung buat SIM begitu umurku 17 tahun. Biar gaya dong punya SIM. Hehehe ...."
Aurora ceria sekali bercerita seolah menceritakan kisah petualangan Barbie pada anak TK. Sebagai pria dewasa sejak tadi Darius mendengarkan dengan seksama. Perpaduan kalimat sederhana Aurora diiringi dengan mulutnya yang bergerak-gerak saat berbicara. Terlihat sangat menarik bagi Darius. Gemas rasanya melihat bibir itu.
"Pokoknya gitu deh, Om. Jadi udah jelas kan aku ini benar-benar udah dewasa. Jadi melakukan hal yang orang dewasa lakukan juga nggak apa-apa. Hehehe ...."
Aurora menggerakkan kedua alisnya naik turun memberi Darius kode. Darius keheranan mendengar topik pembicaraan gadis ini. Diawali dengan SIM diakhiri dengan kode.
"Melakukan hal dewasa apa?" Darius berpura-pura tidak tahu.
"Lanjutannya aku naik ke pangkuan Om tadi. Habisnya enak sih, Om. Aku jadi penasaran sama rasa selanjutnya."
Darius menghela nafas besar. Tidak menyangka bahwa Aurora benar-benar ingin melakukannya.
"Terus kalau kamu hamil gimana? Kamu nggak jadi kuliah? Rusak masa depanmu, Ra."
"Kan bisa pakai alat kontrasepsi, Om. Lagian kalau hamil kan tinggal menikah. Om juga udah mapan. Apa yang perlu dikhawatirkan?"
Sekarang Darius yakin bahwa Aurora tidak benar-benar polos. Lebih ke sableng tepatnya. Bisa sampai tahu alat kontrasepsi belajar dari mana coba. Tapi tadi Aurora begitu meyakinkan kalau dirinya masih segelan. Entahlah. Yang perlu dikuatkan oleh Darius sekarang adalah kewarasannya.
"Kewarasan kamu tuh yang perlu dikhawatirkan. Kamu ini belajar dari mana tahu alat kontrasepsi segala."
"Di sekolah lah, Om. Lagian itu kan ilmu pengetahuan umum. Om gimana sih."
Hmmhh ... Darius menghela nafas.
"Udah-udah. Sana kamu tidur aja. Bisa gila saya lama-lama ngobrol sama kamu. Belum waktunya buat melakukan itu, Ra."
"Terus waktunya kapan?" Aurora menatap Darius seperti anak kecil menunggu diberi permen.
Darius benar-benar dibikin pusing. Bisakah mulut itu berhenti bertanya. Sejak terakhir memiliki Kekasih, ini adalah pertama kalinya dia kembali mengecup wanita.
Dari sejak pertama Darius lahir. Belum pernah ada yang duduk di atas pangkuannya seperti tadi. Aurora terus bertanya, juga melakukan hal-hal yang tidak disangka-sangka. Gadis itu tidak tahu akibatnya. Atau memang sengaja menyerahkan diri. Jika Darius kalap lalu akan bagaimana jadinya?
"Menurutmu kapan?" Darius balik bertanya. Ingin tahu apakah Aurora benar-benar tidak tahu.
"Sekarang." Jawab Aurora.
Kedua mata beradu. Wajah Aurora yang begitu cantik. Sekilas mengingatkan Darius pada seseorang yang sudah lama lalu sangat ia damba. Darius rindu akan sosok mendamba itu. Dan Aurora bisa menjadi pelipurnya.
Ancaman melalui email anonim itu ternyata bukan gertakan kosong. Hanya dalam waktu dua belas jam setelah Chika menerima pesan tersebut, mimpi buruk itu menjadi nyata. Saat Chika baru saja turun dari mobil di basemen apartemennya. Tempat yang seharusnya paling aman. Tiga pria bertopeng menyergapnya. Bahkan Rahmat, yang mencoba melawan, tersungkur setelah dihantam gagang senjata api. Chika diseret masuk ke dalam mobil van hitam yang melesat keluar, meninggalkan keheningan mencekam di basemen yang dingin. Dewa, yang saat itu baru saja menyelesaikan panggilan telepon dengan otoritas keuangan, mendapati Rahmat merangkak di lantai basemen dengan pelipis berdarah. Dunia Dewa seolah runtuh saat ia melihat tas tangan Chika tergeletak tragis di samping mobil yang pintunya masih terbuka. "Mereka membawanya, Pak..." rintih Rahmat. "Mereka tidak bicara, tapi mereka sangat profesional." Dewa tidak membuang waktu. Ia segera menghubungi nomor yang paling tidak ingin ia hubungi dalam hidupnya
Jakarta menyambut kepulangan Dewa dan Chika dengan wajah yang berbeda. Tak ada lagi baliho raksasa yang memajang wajah Sherly atau berita utama tentang pengambilalihan paksa oleh Adiwangsa Group.Yang tersisa adalah gedung Dewangga Corp yang berdiri kokoh, menanti pemimpinnya untuk melakukan pembersihan besar-besaran.Dengan dokumen wasiat asli Larasati di tangan, Dewa secara resmi menduduki kursi CEO tanpa ada lagi bayang-bayang Martha. Namun, restrukturisasi total bukanlah perkara mudah. Di hari pertama kembali berkantor, Dewa mengumpulkan seluruh manajer senior di ruang rapat utama.Di sampingnya, Chika duduk bukan lagi sebagai asisten yang membungkuk, melainkan sebagai penasihat strategis dengan hak suara penuh."Mulai hari ini, setiap kontrak yang ditandatangani di bawah tekanan Martha atau Sherly akan ditinjau ulang," suara Dewa bergema, dingin namun penuh wibawa. "Dewangga Corp akan kembali ke nilai intinya: inovasi dan integritas. Siapa pun yang merasa keberatan dengan transpa
Lantai bursa mungkin sudah tenang, namun badai di dalam hati Chika justru baru saja dimulai. Pernyataan Sherly dari balik jeruji ruang interogasi polisi seperti sebuah granat yang dilemparkan ke masa lalu. Ia menyebutkan sebuah nama desa di pesisir Jawa Tengah. Desa Karang Sewu, tempat di mana rahasia antara Larasati, ibu kandung Dewa, dan almarhumah ibu kandung Chika, Saraswati, terkubur bersama dendam Dion Adiwangsa. "Kita harus ke sana, Dewa," ucap Chika saat mereka berdiri di lobi apartemen yang gelap. "Polisi tidak akan bergerak tanpa bukti fisik, dan Sherly bilang bukti itu ada di rumah tua milik keluarga Larasati." Perjalanan delapan jam itu terasa sunyi. Hanya suara deru mesin dan rintik hujan yang menemani mereka menembus kegelapan pantura. Deru ombak di pesisir Karang Sewu terdengar seperti bisikan masa lalu yang menuntut penjelasan. Desa ini adalah tempat di mana Larasati, ibu kandung Dewa, menghabiskan masa kecilnya bersama Saraswati, ibu kandung Chika. Di sinilah
Suara sirene ambulans dan pemadam kebakaran di luar Hotel Gran Melia terdengar seperti latar belakang yang jauh bagi Chika. Ia duduk di dalam ambulans, bahunya dibungkus selimut darurat, namun matanya terpaku pada ponsel Sherly yang masih menyala di genggamannya.Kalimat itu terus berulang di kepalanya seperti kaset rusak. “...karena dia bukan anak kandungmu.”Dewa berdiri di sampingnya, mengabaikan luka bakar ringan di lengannya. Ia menatap Chika dengan cemas. "Chika, kamu harus ke rumah sakit. Paru-parumu perlu diperiksa."Chika mendongak, wajahnya yang terkena jelaga tampak pucat pasi. "Dewa... dengarkan ini."Ia memutar kembali pesan suara itu. Dewa membeku. Keheningan yang janggal tercipta di antara mereka, kontras dengan hiruk-pikuk petugas medis di sekitar mereka."Itu suara Nyonya Martha," bisik Dewa. "Dia bicara pada Papamu."Belum sempat Dewa mencerna informasi itu, sosok Dion Adiwangsa muncul di depan pintu ambulans. Wajah sang raksasa bisnis itu tidak lagi menunjukkan amar
Setelah malam pengakuan di bawah bintang, Chika terbangun dengan perasaan bahwa dunia sedikit lebih ringan. Namun, di dunia korporat yang kejam, ketenangan hanyalah jeda sebelum badai kategori lima menghantam.Pagi itu, kantor Dewangga Corp tidak lagi dipenuhi oleh bisik-bisik soal asisten culun, melainkan oleh kepanikan massal.Layar monitor di lobi menampilkan grafik merah yang menukik tajam. Adiwangsa Group baru saja mengumumkan Hostile Takeover—pengambilalihan paksa—terhadap Dewangga Corp.Dion Adiwangsa tidak lagi bermain di balik bayangan. Ia menyerang jantung pertahanan Dewa dengan membeli saham-saham kecil di pasar terbuka dalam jumlah masif."Papa benar-benar melakukannya," bisik Chika saat ia memasuki ruangan Dewa.Dewa berdiri di depan jendela kaca besarnya, ponsel di telinganya tak henti-henti bergetar. "Dia menyerang saat kita sedang lemah pasca skandal Martha. Dia ingin melumpuhkan operasional kita sebelum kita sempat memulihkan dana taktis yang dicuri kemarin."Namun, s
Dua jam yang diminta Dewa terasa seperti dua abad bagi para penghuni lantai tiga puluh. Ketika pintu ruang komisaris kembali terbuka, suasana tidak lagi dipenuhi teriakan. Heningnya mencekam, seperti udara sesaat sebelum badai besar menghantam pesisir. Chika melangkah masuk lebih dulu. Ia tidak lagi membawa tumpukan map kertas. Ia hanya membawa sebuah tablet tipis. Di belakangnya, Dewa berjalan dengan langkah tegap, matanya lurus menatap Martha yang duduk di ujung meja dengan tangan bersedekap angkuh. "Waktumu habis, Dewa," ujar Martha dingin. "Mana bukti bahwa asistenmu ini tidak merampok perusahaan?" Chika tidak menunggu Dewa menjawab. Ia meletakkan tablet-nya di tengah meja dan mengaktifkan proyeksi layar. "Saya tidak akan membela diri soal IP address atau jejak digital yang bisa dimanipulasi, Nona Sherly," Chika melirik Sherly yang mulai tampak gelisah. "Saya akan bicara soal aliran dana yang sebenarnya." Layar proyektor menampilkan skema rumit. Titik merah menunjukkan dana







