INICIAR SESIÓNSabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.
Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap.
"Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi.
"Di atas kulkas! Samping sisa martabak!
Minggu pagi.Cahaya matahari menerobos masuk lewat jendela, menyinari tumpukan uang tunai lima puluh juta rupiah yang berserakan di atas meja tamu.Rangga dan Berlin duduk menghadap tumpukan itu seperti dua penyembah berhala. Kecanggungan pasca ciuman semalam seolah menguap, digantikan oleh hormon dopamin melihat uang cash."Lima puluh juta," gumam Rangga. "Dulu ini cuma harga satu jam tangan gue. Tapi sekarang... ini rasanya kayak APBD satu negara.""Bener," Berlin mengangguk takzim. "Kita kaya, Mas. Kita resmi jadi OKB. Orang Kaya Baru."Rangga menoleh, matanya berbinar licik. "Lin, lo mikirin apa yang gue pikirin?"Berlin menyeringai. "Belanja?""Investasi," koreksi Rangg
Lampu sorot membelah kegelapan ballroom, berputar-putar dramatis sebelum akhirnya berhenti tepat di wajah Rangga dan Berlin yang sedang mengunyah sate kambing tusuk terakhir."Dan pemenang Best Couple malam ini..." seru MC dengan suara menggelegar, "...adalah pasangan yang membuktikan bahwa cinta tidak butuh harta! Pasangan yang tetap glowing meski memakai baju daur ulang sprei hotel! Berikan tepuk tangan untuk... Rangga dan Berlin!"Tepuk tangan membahana. Sebagian tulus, sebagian lagi (seperti Jessica dan Victor) bertepuk tangan dengan sinis."Kita menang?" bisik Berlin, matanya terbelalak menatap Rangga. "Mas, sate lo taro dulu! Kit
Grand Ballroom Hotel Mulia berkilauan oleh ribuan kristal chandelier. Aroma parfum mahal, denting gelas sampanye, dan tawa sopan para elit Jakarta memenuhi udara.Rangga dan Berlin berdiri di ambang pintu masuk. Tangan mereka bertautan erat bukan karena romantis, tapi karena saling menahan agar tidak kabur."Inget," bisik Rangga tanpa menggerakkan bibir. "Senyum. Jangan kelihatan kayak orang yang biasa beli hotel ini. Kelihatanlah kayak orang yang kagum sama hotel ini.""Oke," balas Berlin. Ia melebarkan matanya, memasang ekspresi norak yang dibuat-buat. "Wah! Mas! Lampunya bagus banget ya! Kayak lampu diskotik dangdut di kampung sebelah, tapi versi
Sabtu sore. Rumah Kotak Sabun itu terlihat seperti baru saja diterjang badai kategori lima.Kain-kain berserakan di lantai, sepatu bertebaran di sofa, dan bau hairspray bercampur parfum memenuhi udara yang pengap."Lin! Dasi kupu-kupu gue mana?!" teriak Rangga dari kamar mandi."Di atas kulkas! Samping sisa martabak!" sahut Berlin, yang sedang berjuang menahan napas sambil menarik stocking hitamnya.Rangga keluar dari kamar mandi. Langkahnya terhenti saat melihat pantulan dirinya di cermin retak di lorong.Ia mengenakan Tuxedo hitam velvet dengan potongan
Pukul 02.00 dini hari.Suara dengungan kipas angin dinding yang berisik itu tiba tiba berhenti. Lampu indikator AC (yang sebenarnya cuma pajangan karena tidak pernah dinyalakan demi hemat listrik) ikut mati.Kegelapan total menyelimuti Rumah Kotak Sabun.Hening sejenak. Lalu, erangan frustrasi terdengar dari dua sosok yang terbaring di kasur sempit."Argh... panas..." keluh Rangga, menendang selimutnya. "Ini kenapa? Kiamat?"Berlin meraba raba ponselnya, menyalakan senter. Cahaya menyilaukan menyorot wajah Rangga yang berminyak."Token habis," lapor Berlin setelah mengecek meteran listrik di depan yang berbunyi tit-tit-tit nyaring. "Lo lupa isi ulang?""Gue kira masih ada si
Rangga menatap layar ponselnya dengan horor.Hari kedua sebagai ojek online dimulai dengan bencana. Bukan karena ban bocor atau ditilang polisi, tapi karena nama yang tertera di aplikasi orderan.Penumpang: Clarissa A. (Bintang 4.8) Lokasi Jemput: Salon Mewah Kemang. Tujuan: Apartemen Senopati."Clarissa?" desis Rangga. "Jangan bilang ini Clarissa Andini... mantan gue pas kuliah di London?"Rangga mencoba mengingat ingat. Clarissa adalah model papan atas yang mantannya paling high maintenance. Putu







