Dapur di rumah kotak itu sempit. Saking sempitnya, jika Rangga membusungkan dada sedikit saja, punggungnya akan menabrak kulkas, dan perutnya akan menyenggol kompor.Di hadapan mereka, tergeletak dua bungkus mie instan rasa ayam bawang, dua butir telur, dan panci aluminium penyok yang disediakan pemilik kontrakan."Oke," kata Rangga, menatap kompor gas dua tungku itu seolah sedang menatap panel kendali nuklir. "Kamu yang masak, atau aku?"Berlin melipat tangan di dada, berusaha terlihat santai meski jantungnya berdebar. Di rumahnya, koki pribadi bernama Chef Hugo yang selalu menyiapkan makan malam. Berlin bahkan tidak tahu cara menyalakan kompor gas. Ia terbiasa dengan kompor induksi layar sentuh yang bisa bicara."Mas Rangga kan laki-laki," elak Berlin cerdik. "Masa nggak bisa nyalain api? Katanya tadi freelancer serabutan? Pasti sering masak sendiri, dong."Rangga tersudut. Sial. Ia lupa kalau karakter "Rangga si Miskin" seharusnya mandiri."Tentu. Gampang," jawab Rangga dengan perc
최신 업데이트 : 2025-12-27 더 보기